THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Tugas Praktikum



Adam menatap lurus menembus jendela yang ada di sisi ruangan. Pandangannya kosong, jari telunjuk dan jempolnya terlihat sedang mengapit sebuah pena biru yang nampak mengilap di genggaman, tapi dia tak melakukan apapun dengan pena itu. Tidak ada. Hanya matanya yang menatap dengan pandangan sayu, seolah angan-angannya terbang menembus jendela dan menjelajah keluar perpustakaan menuju langit biru yang terlampau cerah siang itu.


"Berhenti melamun, Adam."


Adam menoleh ke arah rekannya yang duduk di sampingnya. Laki-laki yang tadi menegurnya kini nampak agak gusar. Laki-laki itu menatap Adan sambil berdecak. Sementara Adam menghela nafas panjang.


Lamunannya lantas bubar jalan.


Adam satu tim dengan Melky dan Vando.


"Tulis data-data yang kita kumpulkan tadi. Jangan diam saja."


Melky mengeluh lalu kembali menunduk, berkutat pada kertas-kertas yang sedari tadi menyita perhatiannya.


Tentu saja. Siapa yang tahan menghitung setiap hasil praktikum sampai 3 jam tanpa berhenti? Hal ini tentu akan membuat siapapun mengeluh.


"Aku bosan mengerjakan ini. Sudah berapa jam aku menunduk terus."


Adam menghela nafas mendengar keluhan teman satu kelompoknya sekaligus sahabatnya itu dan hal itu membuat sahabat yang lain yaitu Vando, ikut berbicara.


"Aku juga sama, aku ngantuk melihat angka terus," sahut Vando yang duduk di seberang Adam.


Vando berkulit putih itu memang terlihat agak kusut dibandingkan Adam atau Melky. Dengan headset yang menggantung di telinga kirinya dan kertas yang awut-awutan di mejanya kini lengkap sudah penderitaan Vando.


Gaya belajarnya memang agak sedikit serampangan dibanding Adam dan sahabatnya yang lain. Dan hal itu terlihat jelas dari keadaan meja dan pekerjaan milik Vando saat ini. Tipe mahasiswa pemalas, tapi cerdas.


Baik Adam, Melky maupun Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. Mereka mahasiswa-mahasiswa cerdas. Giliran sifat pemalas dan rasa bosannya keluar. Mereka sama sekali tidak akan mengerjakan tugas-tugas kuliah tersebut.


Adam unggul di beberapa bidang, tipe mahasiswa yang suka dengan diskusi, membahas masalah terkini dan lebih membuka pikiran pada hal-hal nyata.


Adam bukan tipe seperti Melky yang siap berkutat dengan ratusan angka, dan suka dengan hal-hal yang memerlukan ketelitian dan keakuratan. Bagi Adam, angka hanya acuan. Bukan pemecah masalah.


"Kenapa mereka memasang pendingin ruangan segala? Membuat aku ingin tidur." Vando berucap sambil meniupkan angin tak kasat mata dari bibirnya.


Vando menoleh kanan-kiri dengan mata nyaris tertutup. Dia lalu mengepalkan tangannya dan menopang dagu.


Adam tak berhenti menatap ke sebelahnya, melihat setiap detil apa yang ada di dalam diri Vando si manusia santai.


Setiap gerakan yang Vando buat terlihat dua kali lebih lamban dari orang normal. Vando mirip hewan yang gerakannya lamban itu, argh! Adam lupa apa namanya.


"Kau memang selalu tidur. Di kelas pun begitu," ujar Melky tanpa mendongak.


Mendengar perkataan Melky. Adam terkekeh kecil lalu mengalihkan pandangannya kearah layar kalkulator miliknya. Mulai menghitung lagi.


"Van, kau harus minum kopi."


Komentar Adam dan mulai menekan tombol-tombol disana. Adam masih bisa mendengar helaan nafas Vando yang terdengar agak kesal.


"Aku minum kopi dua gelas sehari. Tetap saja setiap mata kuliah matriks aku selalu tidur. Kurasa ini faktor dosen dan materinya, kau tau? Rasa kantukku semakin tidak bisa ditolerir bahkan sebelum 15 menit dia berdiri di depan kelas!" Vando semakin menjadi.


Vando kini sibuk merogoh saku mantelnya, mencari mp3 player nya. Dengan santai Vando mulai mengganti lagu yang diputarnya dengan musik Hip-hop, lalu Vando memejamkan mata dan mulai mengikuti ritmenya.


"Kerjakan lagi! Tidak akan selesai jika kau biarkan terus." Melky protes ketika melihat kelakuan sahabatnya itu.


Vando membuka sebelah matanya begitu mendengar tembakan kalimat berisi keluhan dari sahabatnya itu, Vando menghembuskan nafas tenang.


"Kau ini benar-benar…"


Adam mengulum senyum mendengar balas-balasan diantara kedua sahabatnya itu. Setidaknya, ada yang membuat Adam tersenyum ditengah suasana menjemukan ini.


Sejujurnya Adam lelah, tapi mengeluh pun rasanya tak berguna kecuali gaya mengeluhmu seperti Melky.


Melky mengeluh sambil meneruskan pekerjaannya. Semakin hari Melky semakin mirip robot atau mesin pabrik. Bekerja tanpa henti.


"Melky, kau tidak lelah? Kau menunduk terus dan memandang ke kertas laporan itu dari tadi! Istirahatlah!" seru Adam sambil menuliskan hasil hitungannya.


Bagaimana kalau perhitungannya salah? Masa bodoh. Sudah bagus dia mau kerjakan.


"Tidak bisa. Setidaknya biarkan aku selesaikan sampai bab 5."


"Jangan paksa dia Adam. Dia laki-laki keras kepala."


Vando berkata tanpa membuka matanya. Kini Vando mirip kukang pengantuk. Persis sekali.


"Rasanya aku ingin kembali ke SMA."


Adam bergumam terlebih pada dirinya sendiri, tapi tak disangka dua sahabatnya juga bergumam setuju.


"Dulu, saat aku SMA. Aku merasa selalu lelah, menulis pun malas, aku selalu merasa SMA adalah hal yang mengerikan. Tapi nyatanya, sekaranglah yang mengerikan."


Vando mulai ngomel, nampaknya topik pembicaraan ini cukup menarik dibandingkan waktu tidur siang miliknya. Kini kedua mata Vando mulai terbuka, dia mendengus.


"Tidak ada yang namanya laporan dengan berat kertas dan jenis tulisan yang ditentukan. Tidak ada yang namanya mencuri waktu tidur saat makan siang. Kenapa aku merasa sekarang begitu melelahkan?"


"Apa semua mahasiswa di seluruh dunia juga menjalani kehidupan sesulit kita ini ya?" tanya Adam.


Melky yang sedari tadi menunduk dan berkutat pada pekerjaannya, kini menoleh. Dia merengut, memasang wajah bingung khasnya. Adam kini menatap balik.


"Aku tak tahu hal itu Adam. Tapi mungkin saja memang kehidupan mahasiswa ya begini." Melky mengedikkan bahu, tapi dia tak yakin dengan jawabannya sendiri.


Adam lantas bergumam, lalu kembali menulis beberapa rumus diatas kertas, merasa jawaban Melky sangat tidak meyakinkan.


"Ah, tidak juga! Kakakku saat kuliah dia santai sekali. Dia hanya kuliah selama 3 hari dalam seminggu. Kerjanya cuma jalan-jalan," ucap Vando sambil memperhatikan tumpukan kertas di hadapannya. Vando kembali bekerja.


Melky dan Vando menatap kearah Adam. Dapat dilihat oleh Melky dan Vando wajah lelah Adam. Keduanya menatap Adam kasihan.


"Bukankah kau memiliki banyak kakak?! Bahkan mereka semua menjadi dosen di kampus ini. Coba tanyakan kepada salah satu kakak-kakak kamu tentang dunia perkuliahan," sahut Vando dan diangguki oleh Melky.


"Sudahlah! Jangan terlalu dipikirkan. Kita kan satu tim. Kerjakan bagian kita sampai dimana kita mampu menyelesaikannya. Nanti sisanya kita akan kerjakan bersama-sama," ucap Melky sembari memberikan semangat kepada Adam.


"Hm!" Vando berdehem sembari menganggukkan kepalanya tanda setuju akan perkataan dari Melky.


Mendengar perkataan dari Melky dan juga semangat yang diberikan oleh Melky dan Vando membuat Adam sedikit bersemangat. Dirinya tersenyum menatap kedua wajah sahabatnya itu. Begitu juga dengan Melky dan Vando.


Di ruangan lain di dua tempat yang berbeda dimana Vino, Diego, Gino, Zio dan Leon juga sama seperti Adam, Melky dan Vando. Mereka juga pusing, stress, malas dan bahkan banyak tidur-tidur di ruangan tersebut dari pada menyelesaikan tugas-tugas praktikum nya.


Vino, Zio dan Leon satu tim. Sementara Diego dan Gino satu tim. Dikarenakan satu tim berjumlah tiga orang, maka masuk satu teman sekelasnya dan bergabung dengan Gino dan Diego.