
Adam sudah sampai di depan kampus. Sesampainya di depan kampus, Adam disambut oleh sahabat-sahabatnya. Yah! Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando masih menunggu Adam di depan kampus.
Sekarang ini Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya berada di ruang komputer. Hanya ada mereka saja.
Baik Adam, Melky maupun Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando sedang mengerjakan tugas-tugas untuk presentasi dengan dosen pembimbingnya.
"Dam," panggil Zio.
"Hm!" Adam berdehem sebagai jawabannya dengan tatapan matanya menatap layar komputer.
"Kenapa tadi telat?" tanya Zio yang juga fokus menatap ke layar komputer. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando.
"Dari rumah pukul 8 pagi. Aku bosan di rumah dan berniat untuk ke perusahaan Papa. Dari sana baru aku ke kampus. Ada masalah sedikit ketika aku sudah berada di perusahaan Papa."
Mendengar jawaban dari Adam membuat Zio langsung menghentikan kegiatannya. Kemudian Zio menatap wajah Adam. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando.
"Masalah apa?" tanya Melky.
"Biasalah. Karena aku belum pernah datang ke perusahaan Papa. Dan mungkin juga para karyawan dan karyawati Papa belum tahu siapa aku karena mereka tidak pernah mengenal seperti apa putra kedua dari atasannya itu. Jadi karyawan yang bagian resepsionis menatap tak suka kearah ku ketika aku mengatakan ingin bertemu dengan Papa. Aku tidak ingin ribut. Aku pun menunggu sampai Papa selesai Meeting."
"Terus apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Gino.
"Ada tiga pria yang baru keluar dari ruangan. Dan kemungkinan ruang rapat. Mereka berbicara sambil menyebut nama Papa. Bahkan mereka bilang jika mereka sudah mendapatkan tanda tangan Papa. Dan sebentar lagi perusahaan Papa akan menjadi milik mereka."
"Mendengar perkataan dari tiga pria itu, aku langsung marah dan merampas map yang mereka pegang. Dari situlah keributan terjadi. Wanita yang di resepsionis itu menyalahkan ku dan menyuruhku pergi. Tentu saja aku tidak akan pergi meninggalkan perusahaan Papa sebelum aku bertemu dengan Papa."
"Apa berhasil?" tanya Leon.
"Berhasil. Aku terpaksa menghubungi Papa karena tidak ada satu pun yang percaya padaku kalau aku adalah anaknya. Setelah ketemu Papa aku cerita aja semuanya. Bahkan aku sedikit menambah bumbu didalam biar Papa makin marah terhadap karyawan dan karyawatinya."
Mendengar cerita dari Adam membuat Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando marah. Mereka juga akan sama seperti Adam jika diperlakukan buruk oleh karyawan dari ayahnya.
"Aku sudah selesai! Kalian bagaimana?" tanya Vino.
"Aku juga sudah," jawab Diego.
"Kami juga sudah siap!" Gino dan Zio mengangkat tangannya keatas.
"Selesai!" seru Adam, Melky, Leon dan Vando bersamaan dengan menyenderkan punggungnya di sandaran kursi.
Melky menatap satu persatu wajah ketujuh sahabat-sahabatnya secara bergantian.
"Langsung balik ke kelas atau ke kantin dulu?"
"Kantin!" Adam, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
Setelah itu, mereka semua pun beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan ruang komputer untuk menuju kantin.
***
Nicolaas dan Vigo berada di perusahaan. Keduanya berada di ruang kerjanya masing-masing. Sejak Vigo menjadi seorang CEO di perusahaan ayahnya bersama sang kakak. Perusahaan ayahnya itu makin berkembang pesat.
Di lokasi yang sama, di waktu yang sama dan tempat yang berbeda Nicolaas dan Vigo sama-sama tengah memegang bingkai foto keluarga dimana di dalam bingkai foto itu terlihat kedua orang tuanya, dirinya dan saudaranya.
"Pa, apa kabar? Apa Papa bahagia disana? Aku rindu Papa!"
"Pa! Aku sekarang sudah menjadi CEO di perusahaan Papa. Awalnya kakak Nicolaas meminta untuk memimpin perusahaan cabang. Tapi aku menolaknya karena aku tidak ingin meninggalkan kakak sendirian di perusahaan utama. Aku tidak ingin kakak kelelahan mengurus perusahaan utama sendirian. Maka dari itu aku memutuskan untuk bergabung dengan kakak dan sama-sama memimpin perusahaan utama. Sama seperti kakak dengan Papa dulu."
Vigo berbicara dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya. Tatapan matanya tak lepas dari satu sosok orang yang begitu dia rindukan. Siapa lagi kalau bukan ayahnya.
"Pa, maafkan aku yang belum memberikan kebahagiaan untuk Papa, belum menjadi anak yang Papa banggakan, belum membalas semua jasa-jasa Papa padaku. Dan aku belum mengucapkan kata maaf pada Papa atas kesalahan-kesalahanku selama ini."
"Pa! Aku ingin memberitahu Papa sesuatu. Ini tentang Vigo, putra Papa yang nakal itu. Vigo sekarang ini sudah menjadi CEO. Dia benar-benar hebat dan berbakat. Jika Papa ada disini, maka Papa akan langsung memeluknya dan mengucapkan selamat padanya."
"Papa... Hiks... Aku merindukan Papa. Datanglah ke dalam mimpiku."
"Papa... Hiks."
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dan waktu para mahasiswa dan mahasiswi untuk pulang ke rumah masing-masing termasuk Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Dam," panggil Melky.
"Ya," jawab Adam yang sedang merapikan kertas-kertas presentasi kuliahnya di dalam mobil dengan pintu mobil terbuka.
Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando berada di parkiran. Mereka berdiri di mobilnya masing-masing.
"Papi sama Mami ngundang kamu untuk makan malam di rumah. Apa kamu bisa?"
Mendengar pertanyaan dari Melky. Adam langsung menghentikan kegiatannya dari menyusun kertas-kertas presentasi kuliahnya. Kemudian Adam melihat kearah Melky yang juga melihat kearah dirinya.
Adam tidak langsung menjawab perkataan dari Melky. Justru Adam melihat kearah Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
Melihat tatapan mata Adam seketika Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tersenyum. Dan kemudian mereka menganggukkan kepalanya.
"Melky sudah memberitahu kami tadi," ucap Vando.
"Kapan?" tanya Adam.
"Ketika kamu izin ke toilet," jawab Leon.
Adam menatap wajah Melky. Adam seketika tersenyum. "Baiklah. Aku akan datang."
Mendengar jawaban dari Adam membuat Melky seketika tersenyum. Dia tahu jika Adam akan datang dan tidak akan menolaknya.
"Ya, sudah! Ayo kita pulang!" seru Adam.
Setelah itu, Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya pun pergi meninggalkan Kampus untuk pulang ke rumah masing-masing.
***
Adam sudah tiba di depan gerbang kediaman Abimanyu, lalu membunyikan klakson mobil. Tak butuh lama terlihat seorang security berlari menghampiri untuk membukakan pintu gerbang.
"Selamat sore tuan muda Adam!"
"Sore juga Paman," jawab Adam bersamaan dengan memasuki mobilnya ke perkarangan luas kediaman Abimanyu.
Adam keluar dari dalam mobil. Setelah tiba diluar, Adam melihat ada sekitar tiga mobil yang terparkir di halaman luas rumahnya.
"Itu mobil siapa Paman?" tanya Adam yang matanya menatap tiga mobil.
"Oh itu! Tuan Evan kedatangan tamu. Katanya tamunya itu rekan kerja baru tuan Evan."
Adam langsung menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Baiklah Paman. Kalau begitu aku masuk dulu."
"Baik tuan muda."
Setelah itu, Adam melangkahkan kakinya menuju pintu utama.
Cklek..
Terdengar pintu dibuka oleh Adam. Setelah itu, Adam pun melangkah memasuki rumahnya.
^^^
"Bos, saya mengaku salah. Tolong maafkan saya."
Mendengar permintaan maaf dari wanita yang ada di hadapannya membuat Evan makin marah. Begitu juga dengan kedua putranya Garry dan Danish. Serta anggota keluarga Abimanyu lainnya.
Evan sudah menceritakan tentang kejadian di perusahaan dimana Adam yang untuk pertama kalinya datang ke perusahaan miliknya tak disambut dengan baik oleh karyawan dan karyawati padahal Adam datang baik-baik dan berbicara dengan sangat sopan.
"Apa anda bilang, hah?! Memaafkan kamu? Setelah apa yang anda lakukan terhadap adik saya!" bentak Danish.
"Anda tidak menghormati adik saya. Padahal adik saya datang baik-baik dan adik saya juga bicara baik-baik. Bahkan adik saya sudah berulang kali mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan ayahnya. Anda masih saja tidak mempercayainya!" bentak Garry.
"Ayah saya berusaha bersikap adil dan bijak kepada karyawan dan karyawati yang melakukan kesalahan. Ayah saya sampai marah kepada anda dan beberapa karyawan dan karyawati lainnya adalah karena ayah saya melihat dengan jelas kejadian sejak kedatangan adik saya ke perusahaan melalui rekaman cctv. Di dalam rekaman cctv itu anda yang memulainya sehingga karyawan dan karyawati lainnya mengikuti anda!"
Danish berbicara dengan menatap tajam wanita yang menjabat sebagai resepsionis di perusahaan ayahnya yang menyebabkan adiknya dipandang rendah oleh karyawan ayahnya.
"Dan untuk kalian bertiga tuan-tuan!" seru Evan.
Mendengar seruan dari Evan membuat ketiga laki-laki yang sejak awal memiliki niat busuk terhadap perusahaan Evan seketika takut.
"Kalian bertiga sangat menjijikkan. Saya tulus menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan kalian. Tapi kalian membalasnya dengan menipu saya menggunakan berkas kerja sama palsu yang mana isi berkas itu ditulis dengan tinta yang bisa hilang dengan sendirinya. Setelah tulisan di dalam berkas itu hilang, maka kalian mengganti dengan isi bahwa perusahaan saya resmi menjadi milik kalian bertiga."
Deg..
Mendengar perkataan dari Evan membuat semua anggota keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara dan keluarga Palavi terkejut. Mereka semua tidak menyangka jika tiga laki-laki yang ada di hadapannya itu melakukan hal serendah itu.
"Aku bersyukur perusahaanku terselamatkan. Dan itu semua berkat putra bungsuku yang mendengar ucapan kalian bertiga. Putraku merampas map milik kalian lalu melaporkannya padaku!" bentak Evan.
Ketika semua orang tengah menatap marah kearah satu wanita dan tiga laki-laki, Alia putri pertama Zaina dan Alex melihat sosok Adam yang berdiri tak jauh dari ruang tengah.
Mereka semua berada di ruang tengah, bukan ruang tamu. Evan dan anggota keluarga Abimanyu membawa tamunya ke ruang tengah.
"Adam!" Alia seketika langsung memanggil Adam.
Mendengar Alia yang memanggil nama Adam. Semuanya langsung melihat kearah Adam dimana tatapan mata Adam tertuju kearah mereka semua.
"Sayang," panggil Evan yang langsung berdiri dari duduknya dan diikuti Garry dan Danish.
Adam kemudian melangkahkan kakinya menghampiri semua orang yang berkumpul di ruang tengah dengan tatapan matanya menatap tiga orang.
Grep..
Evan langsung memeluk tubuh putranya setelah putranya berdiri di sampingnya.
Beberapa detik kemudian, Evan melepaskan pelukannya lalu menatap wajah tampan putra bungsunya itu. Tangannya mengusap-usap lembut pipi putih putranya lalu kemudian beralih mengusap kepalanya sehingga memperlihatkan kening putih putranya.
Setelah itu, Evan membubuhi ciuman di kening putih putranya itu dengan penuh sayang.
Adam menatap tajam kearah wanita yang bekerja di perusahaan ayahnya itu dan juga tiga laki-laki yang akan bekerjasama dengan perusahaan ayahnya sehingga membuat ketiganya menunduk takut.
Melihat tatapan mata Adam membuat Evan, Garry dan Danish langsung paham. Begitu juga dengan Utari dan anggota keluarga lainnya.
Utari berpindah posisi dengan suaminya. Setelah itu, Utari mengusap lembut pipi putih putranya itu sehingga membuat putranya itu mengalihkan tatapan matanya.
Adam langsung melihat wajah cantik ibunya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat ibunya yang tersenyum manis kepadanya.
"Kamu pasti lelah kan. Sekarang kamu pergi ke kamar lalu bersih-bersih. Mama akan buatkan makanan spesial untuk kamu."
Adam tersenyum manis ketika mendengar ucapan lembut dari ibunya. Lalu berlahan Adam menganggukkan kepalanya.
"Baiklah."
Setelah itu, Adam pun langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Melihat kepatuhan dari putra bungsunya itu membuat Utari tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Evan, Garry, Danish dan anggota keluarga yang lainnya.