THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Berusaha Untuk Mengingat



Allan berlahan membuka kedua mata bulatnya. Saat matanya sudah terbuka sempurna, Allan melihat ada beberapa orang yang tak dikenalinya.


"Kau sudah sadar?" tanya Sakha memecahkan keheningan antara mereka.


"Aku dimana?" tanya Allan.


"Kau ada di ruang latihan taekwondo adikku," jawab Ardi.


Allan menatap wajah Ardi, begitu juga sebaliknya Ardi menatap wajah Allan.


"Tatapan itu," batin Ardi.


"Maaf. Aku harus ke kelas sekarang. Pasti saat ini kak Vigo sedang mencariku!" seru Allan, lalu bangun dari tidurnya.


Saat Allan ingin berdiri, tiba-tiba sakit di kepalanya datang lagi.


"Aaakkkhhh." Allan memegang kepalanya.


Danish memegang bahu Allan. "Kau tidak apa-apa? Lebih baik kau istirahat dulu disini."


"Oh iya. Ini obatnya. Tadi dokter sudah memeriksamu dan memberikan obat untukmu." Harsha menyodorkan obat tersebut kepada Allan.


"Lebih baik kau minum obatnya dulu," sela Arka. Prana berdiri mengambil air untuk Allan.


"Ini minumnya." Prana memberikan segelas air pada Allan. Allan pun menerima minuman itu.


Allan sempat lama berpikir untuk meminum obat tersebut. Dirinya memandang obat tersebut dengan kening mengerut. "Aish. Apa aku harus minum racun ini?" batin Allan.


Ardi, Harsha, Danish dan yang lainnya terus memperhatikan Allan. Allan yang sedari tadi hanya menatap obat yang ada di tangannya tanpa ada niat meminumnya.


"Hei! Kenapa hanya dilihat saja obatnya?" tanya Arka.


"Apa kau takut meminum obat?" tanya Gala.


Allan hanya membalas pertanyaan dari Gala dan Arka dengan senyuman kikuknya. "A-apa harus ya?" Allan malah balik bertanya.


"Jadi benar. Kau ini takut minum obat?" tanya Gala lagi sembari tersenyum.


"Se-sebenarnya, iya!" Allan mengumpat dirinya sendiri. Wajahnya sudah memerah karena malu.


"Kenapa sifatnya sama seperti Adam? Adam juga penakut kalau sudah berurusan dengan namanya obat," batin Harsha dan Ardi.


Lalu terlintas di ingatan mereka akan tingkah laku dan tingkah konyol adik mereka, Adam.


FLASHBACK ON


"Kakak. Jangan paksa aku meminum racun itu. Apa kalian mau membunuhku, ya?!" Adam berteriak.


"Jangan mulai lagi, Dirandra Adamka Abimanyu! Ini hanya obat. Bukan racun." Ardi menatap kesal adiknya.


"Kau ingin cepat sembuh apa tidak?" Harsha juga ikut kesal kepada Adam.


"Pokoknya aku tidak mau." Adam berlari masuk ke dalam kamar dan tak lupa menguncinya.


FLASHBACK OFF


Harsha dan Ardi tersenyum mengingat tentang kelakuan adik mereka, Adam!


"Kau mirip sekali dengannya," ucap Harsha.


Allan mengerutkan keningnya bingung akan ucapan Harsha.


"Siapa?"


"Adikku," jawab Harsha.


"Wajahnya dan kelakuannya sama sepertimu," ucap Ardi menambahkan.


"Apa jangan-jangan kau itu dia?" tanya Harsha menatap wajah tampan Allan.


DEG!


Allan melotot ketika mendengar perkataan dari Harsha. "Apa? Aku dia?" batin Allan.


"Hei, Kok malah ngelamun!" Cakra menepuk pelan bahu Allan.


"Ach, Maaf!" Allan terkejut.


"Kalau boleh tahu siapa nama adik kalian itu?" tanya Allan.


"Adam," jawab mereka bersamaan.


"Yak! Kenapa kalian semua ikut menjawabnya? Aku kan hanya nanya sama mereka berdua." Allan menunjuk kearah Ardi dan Harsha dengan wajah kesalnya.


"Dan Adam itu adik kandungku," sela Danish.


"Benarkah?" tanya Allan menatap wajah Danish.


"Hm." Danish menjawabnya dengan deheman. "Sebenarnya dia itu adalah kau, Allan! Kakak yakin kau adalah Adam, adik kakak!" batin Danish.


"Kau lihatlah ini." Harsha menunjukkan foto mereka yang ada di galeri ponsel Harsha.


Allan menerima ponsel Harsha dan melihat semua foto-foto Ardi, Harsha dan Adam.


"Wajahnya mirip denganku. Siapa dia? Apa benar yang di foto ini aku? Apa benar aku adalah Adam?" Allan terus melihat foto-foto tersebut.


"Dia adik sepupu kami," kata Ardi.


Allan masih setia melihat semua koleksi foto-foto kebersamaan Ardi, Harsha dan Adam lalu bayangan-bayangan dimana orang-orang yang tak dikenalnya memanggil dirinya dengan sebutan Adam.


FLASHBACK ON


"A-adam," lirih Ariel dan langsung memeluk tubuh Allan. "Hiks... Lo masih hidup, Dam! Gue bahagia banget bisa bertemu lo lagi."


"Lo gak kenal ama kita berdua, Dam?" tanya Jasmine. "Gue Jasmine dan yang barusan meluk lo tuh Ariel. Kita berdua sahabat lo. Awal persahabatan kita itu terjalin saat kita duduk di bangku kelas 1 SD sampai lulus SMP. Hanya SMA saja yang kita tidak satu sekolah, tapi kita masih menjalin hubungan melalui komunikasi dan media sosial."


"Cucuku. Adam, cucuku! Kakek merindukanmu. Kau kemana saja selama ini? Kenapa tidak pulang ke rumah?"


FLASHBACK OFF


"Aakkhhh." Allan meremas rambutnya.


Melihat Allan yang kesakitan membuat mereka semua khawatir dan panik.


"Allan. Kau tidak apa-apa?" tanya Danish.


"Ach. Aku tidak apa-apa? Aku memang sering seperti ini disaat aku berusaha untuk memikirkan sesuatu. Makin keras aku berusaha. Sakit ini makin kuat di kepalaku," jawab Allan


Beberapa detik kemudian, mereka dikejutkan dengan suara ponsel milik Allan. Mendengar bunyi ponselnya. Allan langsung merogoh ponselnya yang ada di saku celananya


Setelah ponselnya ada di genggamannya, terlihat nama 'Melky' yang baru dua minggu menjadi sahabatnya tertampang di layar ponselnya.


Tanpa Allan sadari dan tanpa sengaja, Allan membuang begitu saja obat yang ada di tangannya guna ingin menjawab panggilan dari Melky.


"Yah! Kenapa dibuang obatnya?" Arya, Rayan dan Indra berteriak bersamaan.


"Maaf, reflek!" Allan menjawabnya tanpa dosa.


Setelah itu, Allan pun langsung menjawab panggilan telepon dari Melky. Sedangkan yang lainnya hanya menghembuskan nafas kasar mereka melihat kelakuan Allan.


"Huuff!"


"Hallo, kedelai hitam. Ada apa?"


"Brengsek! Sialan! Aku punya nama. Bisa tidak kau memanggil namaku!"


"Waw! Itu mulut apa kotoran comberan? Bagus banget kata-katanya. Belajar dari mana, tuh? Yang boleh berbicara seperti itu hanya aku. Kau masih kecil dan anak kecil dilarang bicara seperti itu."


"Terlalu banyak omong lo. Sekarang lo ada dimana? Ini kakak lo udah seperti cacing kepanasan nyariin lo dari tadi."


"Hah! Cacing kepanasan? Suruh saja si cacing itu berteduh atau nyebur ke kolam renang. Dijamin nanti sicacing itu tidak bakal kepanasan lagi."


Baik Melky, Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya, mereka semua menepuk jidat mereka dan juga geleng-geleng kepala mendengar ucapan Allan.


"Yak! Allan Liam Adiyaksa. Aku serius!" teriak Melky di seberang telepon.


Allan reflek menjatuh ponselnya saat mendengar teriakan dari Melky. Untung Allan masih di atas kasur. Tangannya mengelus-elus telinganya.


"Uuhhh," mulut Allan bergerak berkomat-kamit mengeluarkan sumpah serapah untuk Melky. "Dasar hitam sialan. Setan!"


Mereka semua tersenyum gemas melihat wajah kesal Allan. "Kenapa kelakuan dan sifatnya sama seperti Adam. Seratus persen benar-benar mirip," batin Ardi.


"Allan Liam Adiyaksa. Kau dengar tidakk!" teriak Melky.


Suara teriakan Melky kedengaran oleh mereka semua, walau Allan tidak menloundspeaker panggilan tersebut.


"Hei, kampret! Aku masih bisa mendengar dengan jelas suara jelekmu itu. Jadi tidak usah teriak-teriak."


"Elo ada dimana? Buruan jawab!"


"Di hatimu."


Setelah mengatakan itu. Allan langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak.


"Berisik lu, Mingtem! Rasain lu," ucap Allan menatap ponselnya.