
"Bagaimana keadaan kamu, Adam?" tanya Yani kepada Adam.
"Seperti yang bibi lihat. Aku baik-baik saja," jawab Adam.
Adam menatap wajah cantik Jasmine. Setelah itu, Adam menatap pada kakinya Jasmine dengan senyum kebahagiaan.
"Aku turut bahagia melihat kamu bisa jalan lagi. Selamat ya," ucap Adam.
"Tapi..." seketika Jasmine menundukkan kepalanya.
"Ariel." Adam langsung menyebut nama Ariel.
"Jika Ariel ada disini. Pasti dia yang terlebih dahulu memeluk aku. Bahkan dia akan berdebat dengan kamu dan menyuruh kamu jauh-jauh dari aku."
Yani yang duduk di samping Jasmine langsung mengusap-usap lembut punggung keponakannya itu. Dia sangat tahu bagaimana kedekatan Jasmine dengan putra bungsunya. Mereka sudah seperti anak kembar.
"Sekali pun Ariel tidak ada disini. Tapi Ariel masih bisa melihat kita dari atas. Aku sangat yakin jika Ariel sedang tersenyum melihat kamu bisa jalan lagi," ucap Adam.
"Apa yang dikatakan oleh Adam benar sayang. Sekali pun Ariel tidak bersama kamu dan Adam. Tapi Ariel bisa melihat kamu dari atas," ucap Utari
Ketika Adam, keluarganya tengah berbincang-bincang dengan Jasmine dan bibinya, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi. Baik Adam maupun semuanya langsung melihat kearah layar ponsel milik Adam yang berbunyi. Terlihat disana nomor yang tak dikenal oleh Adam.
"Nomor siapa ini? Apa aku harus menjawabnya?" batin Adam.
Sementara anggota keluarganya, Jasmine dan Yani memperhatikan ekspresi wajah Adam yang bingung ketika menatap layar ponselnya.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Nicolaas.
*Nomor tidak dikenal," jawab Adam.
"Jawab saja. Siapa tahu penting," ucap Dzaky.
"Ach, baiklah." Adam pun memutuskan untuk menjawab panggilan dari nomor yang tidak dia kenal.
Namum panggilan tersebut seketika mati ketika Adam hendak menjawabnya sehingga membuat Adam mengumpat kesal.
"Sialan! Baru mau diangkat, malah dimatiin!"
Mendengar ucapan serta umpatan dari Adam membuat semuanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
Drrtt.. Drrtt..
Ponselnya kembali berbunyi. Dan terlihat nomor yang sama kembali menghubungi dirinya.
"Buruan angkat! Ntar ngumpat lagi ketika panggilannya dimatikan," ejek Harsha sembari tersenyum.
"Cerewet banget sih lo kak," ucap Adam kesal.
Setelah mengatakan itu, Adam pun langsung menjawab panggilan tersebut. Dia benar-benar penasaran si pemilik nomor tersebut. Dan juga alasan orang itu menghubunginya.
"Hallo."
"...."
"Iya. Saya Adam. Anda siapa dan dari mana anda mendapatkan nomor saya?"
"...."
"...."
Deg..
Seketika Adam terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari seseorang di seberang telepon yang mengatakan bahwa dia mendapatkan nomornya dari seseorang yang sedang koma di rumah sakit. Orang itu mengigau menyebut namanya.
"...."
"Iya, saya ada WhatsApp."
"...."
"Baiklah kalau begitu. Saya tutup teleponnya."
"...."
Pip..
Adam langsung mematikan panggilannya. Dan Adam akan menunggu apa yang akan dikirimkan oleh orang itu melalui WhatsApp miliknya.
Ting..
Terdengar notifikasi WhatsApp dari ponselnya Adam sehingga Adam langsung melihat notifikasi tersebut.
Adam membuka Aplikasi WhatsApp lalu melihat isi dari pesan WhatsApp tersebut.
Detik kemudian..
Deg..
Adam terkejut dan juga syok bersamaan dirinya bangkit dari duduknya ketika tatapan matanya menatap ke layar ponselnya itu.
Melihat Adam yang terkejut sembari beranjak dari duduknya membuat semuanya menatap Adam khawatir.
"Dam," panggil Garry dan Danish bersamaan.
Adam tidak mendengarkan panggilan dari kedua kakaknya karena pikirannya berpusat pada gambar di layar ponselnya. Lebih tepatnya di pesan WhatsApp miliknya.
"A-ariel." Adam berucap dengan nada bergetar dan terbata.
Drrttt... Drrttt..
Ponselnya kembali berdering dan Adam langsung menjawabnya.
"Dari orang itu saya mengetahui nama anda. Dan saya menemukan ponselnya lalu saya mencari nama anda di kontak ponselnya itu."
Tes..
Seketika air mata Adam jatuh membasahi pipinya sehingga membuat semua yang ada di ruang tengah itu benar-benar mengkhawatirkan dirinya.
"Sayang," panggil Utari.
"Dimana lokasi anda sekarang?"
"...."
"Baiklah. Tolong jaga sahabat saya baik-baik. Saya akan kesana, tapi bukan saya melainkan sahabat saya yang lain. Nama sahabat saya itu adalah Ricky. Dia akan datang dengan beberapa anggotanya."
"...."
Setelah mengatakan itu, Adam langsung mematikan panggilannya.
Adam mencari kontak Ricky. Dia akan meminta Ricky untuk mendatangi lokasi yang disebutkan oleh orang itu.
Adam mengirimkan pesan WhatsApp kepada Ricky dengan menyertakan foto yang dia terima dari orang tersebut. Setelah itu, Adam memberikan alamat dari orang itu kepada Ricky. Adam meminta Ricky untuk mendatangi lokasi itu lalu membawa sahabatnya yang berada disana ke rumah sakit yang ada di Jakarta Pusat.