
"Bagaimana? Apa kalian setuju dengan permintaanku? Kalian hubungi polisi yang bertugas mengecek sidik jari sekarang juga! Suruh polisi itu datang kesini. Kita bisa buktikan sama-sama tentang kejadian hari ini. Setelah itu, kalian semua bisa mengetahui siapa yang korban dan siapa yang tersangka?!"
Gadis baik itu berbicara sambil tatapan matanya menatap tajam ke semua orang-orang yang ada di dalam toko buku itu termasuk para karyawan.
Sementara para pengunjung toko buku, termasuk karyawan dan tiga gadis jahat itu seketika terdiam. Tidak ada yang bersuara. Mereka justru saling memberikan tatapan satu sama lainnya.
"Sebelumnya, aku akan menagih sesuatu dari kalian. Jangan harap aku akan mudah memberikan maaf kepada kalian. Apalagi sampai melupakan kejadian hari ini!" seru gadis baik itu.
"Jika terbukti aku tidak bersalah. Jika terbukti bahwa ada seseorang yang memasukkan buku-buku itu ke dalam tasku sehingga aku dipermalukan. Aku akan menutut balas kalian. Aku akan membuat hidup kalian kesusahan. Tanpa kalian ketahui, aku sudah mengambil foto wajah-wajah kalian. Dengan begitu, aku bisa mengincar hidup kalian dan keluarga kalian."
Mendengar perkataan dari gadis itu membuat para pengunjung toko buku itu terkejut. Begitu juga dengan tiga gadis jahat tersebut.
"Alah! Jangan bohong kamu. Mana mungkin kamu menyimpan foto kami!" teriak gadis jahat itu.
"Kita tidak lihat kamu mengambil foto-foto kami!" teriak gadis jahat kedua.
"Mana buktinya!" teriak gadis ketiga menantang.
Mendengar ucapan dari ketiga gadis yang sudah menyebabkan dirinya malu, seketika tersenyum di sudut bibirnya.
"Apa anda meragukan saya, nona?! Dan apa kalian ingin saya memperlihatkan apa yang saya katakan tadi kepada kalian bertiga?" tanya gadis baik itu.
Ketiga gadis jahat itu hanya diam, tapi tatapan matanya menatap tajam kearah gadis baik itu.
"Sial. Kenapa jadi dia yang bersikap seperti ini?" batin gadis yang menjadi dalang utamanya.
"Baiklah. Aku akan buktikan kepada kalian apa yang aku katakan tadi. Tapi ingat! Kalian tidak akan bisa menghindar dari masalah ini."
Setelah mengatakan itu, gadis baik itu memperlihatkan apa yang telah tersimpan di galeri albumnya yang ada di ponselnya.
"Lihatlah ini!" seru gadis itu dengan mengarahkan layar ponselnya kepada semua orang yang ada di dalam toko buku itu termasuk para karyawan. "Ini adalah video. Aku mengambil rekaman ini ketika aku datang sampai aku mencari buku. Hanya ketika aku ke kasih, aku tidak mengambilnya. Di dalam video jelas terlihat wajah-wajah kalian semua!"
Deg..
Semuanya terkejut ketika melihat video itu. Mereka tidak menyangka jika gadis itu melakukan hal itu.
"Saya mengambil video itu untuk story' Instagram saya. Setiap saya berpergian kemana pun saya selalu melakukan pengambilan video atau mengambilan gambar. Kadang saya memvideokan atau mengambil foto saya sendiri. Dan kadang orang-orang di sekitarnya bermaksud bahwa saya sedang melakukan perjalanan."
Gadis itu kembali menatap semua orang-orang yang ada di hadapannya itu.
"Bagaimana? Siapa diantara kalian yang akan menghubungi polisi? Jangan lama-lama dong berpikirnya. Saya nggak punya waktu banyak. Saya masih punya pekerjaan yang harus saya selesaikan. Bukan skak disini saja!"
Tidak ada yang bersuara. Semuanya diam, termasuk tiga gadis jahat itu dan para karyawan toko.
Namun detik kemudian...
"Tidak perlu menghubungi polisi! Saya memiliki video dimana ada tiga orang gadis yang memasukkan buku-buku itu ke dalam tas gadis itu!"
Adam seketika berseru dengan lantangnya sembari berjalan menghampiri tiga gadis jahat itu dan satu gadis baik.
Mendengar seruan seseorang, semuanya melihat kearah orang itu. Mereka dapat melihat delapan pemuda tampan yang berjalan menghampiri keempat gadis tersebut.
Kini Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando sudah berada diantara tiga gadis jahat dan satu gadis baik.
Adam menatap wajah gadis baik itu, lalu beralih menatap semua orang-orang yang ada di dalam toko buku. Dan terakhir Adam melihat kearah tiga gadis jahat itu.
"Rencana yang sangat murahan, nona-nona! Tapi sayangnya permainan kalian harus berakhir sampai disini." Adam berucap dengan tatapan matanya menatap tajam ketiga gadis jahat itu.
"Leon!"
Leon yang mengerti langsung mengeluarkan ponselnya, kemudian Leon membuka Aplikasi galeri di ponselnya.
Setiap mendapatkan apa yang dia cari. Leon pun segera memperlihatkan video yang dia ambil beberapa menit yang lalu.
"Ini kalian lihatlah. Kalian akan tahu yang sebenarnya!" seru Leon dengan mengarahkan layar ponselnya kepada para pengunjung.
[Wah! Benar-benar menjijikan]
[Ternyata mereka bertiga pelakunya. Dan seenaknya mereka menuduh gadis itu]
[Mereka keterlaluan sekali]
[Dasar murahan]
Itulah beberapa ucapan sekaligus hinaan yang diberikan oleh beberapa pengunjung. Sedangkan ketiga gadis jahat itu seketika ketakutan.
Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando seketika tersenyum mengejek kearah tiga gadis jahat itu.
"Oh, ternyata kalian bertiga yang telah memasukkan buku-buku itu ke dalam tasku? Wah! Hebat-hebat! Kalian yang memasukkan buku-buku itu ke dalam tasku. Dan kalian juga yang bertindak sebagai super hiro disini karena telah menangkap maling!"
Gadis baik itu berbicara sembari tatapan matanya menatap tajam kearah tiga gadis jahat itu.
"Nona sudah tahu sekarang pelakunya. Apa nona tidak akan membalas mereka?" tanya Melky.
Masih dengan menatap wajah ketiga gadis jahat itu. Gadis baik itu menjawab pertanyaan dari salah satu pemuda tersebut.
"Tentu saya akan membalas mereka. Bukan hanya mereka, tapi para pengunjung toko buku ini juga. Sebagian dari mereka tadi ikut menuduhku dan menghinaku."
Gadis baik itu menatap semua orang-orang yang ada di dalam toko buku itu, kecuali Adam dan ketujuh sahabatnya dengan tatapan dendam.
"Seperti yang aku katakan beberapa menit yang lalu. Apa yang aku rasakan hari ini, disini! Maka itu juga yang akan kalian rasakan ketika tiba diluar atau dimana pun kalian berada. Tunggu saja kejutaan dariku. Persiapkan saja mental kalian untuk menerima kejutan dariku."
Setelah mengatakan itu, gadis baik itu berjongkok bertujuan untuk memasukkan barang-barang miliknya yang berserakan di lantai, kecuali buku-buku itu ke dalam tas miliknya.
Selesai memasukkan barang-barang miliknya ke dalam tasnya, gadis baik itu pergi meninggalkan toko buku tersebut.
Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando menatap kepergian gadis itu. Kemudian Adam dan ketujuh sahabatnya menatap sekilas semua orang-orang termasuk tiga gadis jahat itu.
Setelah itu, Adam dan ketujuh sahabatnya memutuskan untuk pergi meninggalkan toko buku itu setelah membayar buku-bukunya.
***
Alex dan istrinya dan kedua anak perempuannya sudah berada di kediaman Abimanyu. Tujuan Alex datang mengunjungi keluarga Abimanyu adalah untuk membahas tentang kerja sama dengan beberapa perusahaan. Salah satunya adalah perusahaan yang berasal dari kota Yogyakarta.
Di kediaman Abimanyu tersebut juga ada Evan, Utari dan kedua putranya yaitu Garry dan Danish.
"Utari, Adam mana? Kenapa dia tidak datang bersama kalian?" tanya Yodha ketika tidak melihat cucu kesayangannya.
Mendengar pertanyaan dari ayahnya, ditambah lagi ada rasa rindu yang terlihat di manik hitam ayahnya itu membuat Utari menjadi tidak tega. Utari tahu bagaimana besarnya rasa sayang dan perhatian ayahnya itu terhadap Adam putra bungsunya itu. Bukan berarti ayahnya itu tidak menyayangi dan tidak perhatian terhadap cucu-cucunya yang lain. Ayahnya itu begitu menyayangi semua cucu-cucunya.
Ayahnya itu begitu menyayangi putra bungsunya itu dikarenakan sejak kecil ayahnya itu ikut andil menjaga dan merawat Adam putra bungsunya. Sejak kecil putranya itu tidak mengenal sosok ayah, sejak kecil putranya itu tidak tahu wajah ayahnya. Selama ini ayahnya dan kedua kakak laki-lakinya yang mengambil peran sebagai seorang Paman/kakek sekaligus ayah untuk putra bungsunya itu.
"Adam masih diluar bersama ketujuh sahabat-sahabatnya, Pa!"
"Ini sudah pukul 5 sore loh, Utari! Seharusnya Adam sudah pulang. Begitu juga dengan ketujuh sahabat-sahabatnya Adam!" seru Kamila.
Mendengar seruan dari Kamila membuat Utari dan Evan seketika mengkhawatirkan Adam. Begitu juga dengan Garry, Danish dan anggota keluarga lainnya.
"Aku akan coba hubungi Adam!" seru Garry.
"Di loudspeaker panggilannya sayang!"
"Baik, Papa!"
"Oh iya! Ardi, kamu hubungi Mama Celena, Nicolaas atau Vigo. Suruh mereka kesini!" perintah Bagas kepada putra bungsunya.
"Baik, Papa!"
Setelah itu, Garry menghubungi Adam adiknya. Sementara Ardi memilih menghubungi Vigo.