THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Isak Tangis Kerinduan Adam Terhadap Ariel



Seorang gadis cantik dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai indah sebatas punggung itu berdiri di atas bukit sembari mendongakkan kepala menatap indahnya bulan yang seakan terbelah oleh awan.


Langit menghitam dengan udara yang terasa dingin mencekam. Hujan turun begitu deras, membuat beberapa daun layu jatuh berguguran menyentuh tanah.


Gadis cantik itu tersenyum miris dengan tatapan hancur penuh luka.


Tidak akan ada lagi laki-laki yang akan menghapus air matanya ketika menangis. Tidak akan ada lagi laki-laki yang akan memeluknya ketika sendiri. Tidak akan ada lagi laki-laki yang akan menangis ketika dirinya bersedih. Dan tidak ada lagi laki-laki yang selalu overprotektif padanya ketika ada laki-laki hendak mendekatinya.


Tidak akan ada lagi..


Semua berubah...


Gadis itu adalah Jasmine. Dan laki-laki yang dimaksud oleh Jasmine adalah Ariel.


"Riell, kamu tahu nggak? Dua hari yang lalu Adam datang loh. Gue senang banget bisa bertemu dengan Adam. Coba lo nggak pergi, pasti lo ketemu sama Adam."


"Oh iya, Riel! Lo tahu nggak, Adam nembak gue. Dia bilang ke gue kalau dia cinta sama gue. Riel, gue bahagia ketika Adam ngomong gitu ke gue. Apalagi Adam ngomongnya di depan semua anggota keluarga," adu Jasmine kepada Ariel.


Seseorang datang menghampiri Jasmine yang sedang duduk di kursi roda di luar balkon kamarnya. Orang itu adalah Yeni, ibunya Ariel.


Berlahan Yeni mengangkat tangannya lalu mengusap lembut kepala belakang Jasmine, keponakannya.


Jasmine yang merasakan usapan lembut langsung melihat ke samping. Dan dapat Jasmine lihat ibunya Ariel yang tak lain adalah Bibi kesayangannya tengah tersenyum menatap dirinya.


"Masuk yuk. Ini sudah sore. Sebentar lagi mau gelap." Yeni berucap sembari mengusap lembut kepala keponakannya.


"Bi, aku kangen Ariel. Kalau Ariel ada disini, pasti dia bahagia ketika melihat Adam yang nembak aku. Ariel tahu kalau aku suka sama Adam."


"Bibi mengerti perasaan kamu. Bukan kamu saja yang merindukan Ariel. Bibi juga sangat merindukan Ariel."


Tes..


Seketika air mata Yeni jatuh membasahi pipinya. Hatinya benar-benar sakit ketika melihat keponakannya yang begitu merasakan kehilangan putra bungsunya. Yeni tahu bagaimana kedekatan keponakannya ini dengan putra bungsunya Ariel. Keduanya sudah seperti saudara kembar dimana keduanya lahir di hari yang sama, jam yang sama tumbuh dan menjadi pemuda yang tampan dan gadis yang cantik bersama dengan kedua orang tua yang berbeda.


"Ariel! Bunda kangen kamu, sayang!"


***


Adam sudah berada di rumah. Saat ini dia berada di ruang tengah. Adam duduk santai disana sembari sibuk dengan ponselnya. Terlihat dengan tatapan matanya yang tak pernah lepas dari layar layar ponselnya.


Ting..


JASMINE :


Dam, kamu sedang apa?


ADAM :


Lagi ngirim pesan sama kamu.


JASMINE :


Is, Adam! Kalau itu aku tahu. Nggak kamu kasih tahu, aku udah tahu.


Adam seketika tersenyum membaca balasan dari Jasmine. Dirinya senang sekali jika mengirim pesan dengan tulisan yang membuat Jasmine kesal ketika membacanya.


JASMINE :


Dam, jawab! Kamu sedang apa?"


ADAM :


Aku sedang duduk santai di sofa ruang tengah sembari ngirim chat sama seorang gadis cantik.


Tanpa Adam ketahui bahwa Jasmine di seberang telepon seketika tersenyum malu ketika membaca pesan dari Adam.


ADAM :


Kalau kamu sedang apa?


JASMINE :


Aku sedang di kamar. Beberapa menit yang lalu aku habis menatap langit dari balkon kamar aku. Aku kangen Ariel. Kangen banget sama dia.


ADAM :


Kalau kamu kangen sama Ariel. Kamu cukup kirimkan doa buat Ariel. Kamu harus kuat, Jasmine! Sedih boleh, tapi jangan berlebihan sampai hilang akal. Ingat! Kamu sudah janji padaku.


JASMINE :


ADAM :


Ya, sudah! Aku izin untuk mengakhiri Chat ini.


JASMINE :


Baiklah. I Love You!


ADAM :


I Love You To


Ketika Adam sedang tersenyum sembari menatap ke layar ponselnya, tanpa Adam ketahui bahwa kedua orang tuanya dan kedua kakaknya sejak tadi memperhatikan dirinya sejak tadi dari jauh. Mereka ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat wajah bahagia Adam.


"Aku bahagia melihat Adam yang sekarang Pa, Ma!" seru Garry.


"Papa juga merasakan hal yang sama sayang."


"Apalagi Mama. Mungkin Mama yang paling bahagia disini."


"Aku terlebih lagi, Ma!" seru Danish.


Mereka terus menatap kearah Adam yang saat ini masih sibuk dengan dunianya sendiri.


Setelah puas memperhatikan Adam yang sibuk dengan dunianya sendiri di ruang tengah, akhirnya mereka memutuskan untuk menghampiri Adam.


^^^


"Asyik sendiri nih. Kita-kita diabakan," ucap Garry tersenyum menatap wajah tampan adik bungsunya itu.


Mendengar seruan dari kakak tertuanya membuat Adam langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya lalu menatap kearah kedua orang tuanya dan kedua kakaknya.


"Sedang apa sih. Papa lihat kamu senyam-senyum sembari mengetik sesuatu di layar ponsel kamu?"


"Eemmm... Mama tahu nih. Pasti kamu lagi chattingan sama Jasmine, iya kan?" tanya Utari sembari menggoda putra bungsunya.


"Mama sok tahu. Siapa juga yang sedang chattingan sama Jasmine. Nggak kok," elak Adam.


"Nggak bohong sama Mama. Kamu nggak bisa sama Mama. Tuh kelihatan dari manik coklat kamu itu. Kamu terlihat begitu bahagia ketika chattingan sama Jasmine."


Utari menatap lekat wajah putra bungsunya itu sembari senyam-senyum. Dirinya sengaja melakukan hal itu untuk membuat putranya kesal padanya.


"Mama kamu sudah tahu seperti apa wajah gadis yang bernama Jasmine. Sementara Papa belum tahu sama sekali. Kapan kamu memperkenalkan Jasmine sama Papa, hum?" Evan juga ikut menggoda putra bungsunya itu.


"Kakak juga belum melihat wajah calon adik iparnya kakak itu. Mau juga dong diperkenalkan," sahut Garry yang juga ikut menggoda adik bungsunya.


Ketika Danish hendak mengeluarkan kata-katanya untuk menggoda adiknya itu, sang adik sudah terlebih dahulu bersuara sehingga membuat Danish langsung mingkem.


"Nggak usah nambah. Aku sudah tahu kakak mau ngomong apa. Lagian kakak sudah tahu bentuk wajahnya Jasmine," sahut Adam.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Utari, Evan dan Garry tersenyum gemas. Sementara Danish seketika mencebik kesal mendengar ucapan dari Adam.


"Sekarang Mama serius. Bagaimana kondisi Jasmine ketika kamu lagi chattingan tadi?"


"Udah mendingan, Ma! Jasmine sudah mulai ceria lagi, walau masih merindukan Ariel."


Seketika ekspresi wajah Adam berubah setelah menyebut nama Ariel. Dia dengan mudah memberikan nasehat kepada Jasmine. Sementara dirinya sendiri jauh lebih hancur dari pada Jasmine.


Melihat perubahan mimik wajah Adam membuat Utari, Evan, Garry dan Danish seketika paham. Mereka meyakini bahwa antara Adam dan Jasmine. Adam lah yang merasa kehilangan. Secara Adam sudah lama tidak bertemu dengan Ariel dan Jasmine, namun ketika mendapatkan kabar dari Jasmine dan Ariel, justru Adam mendapatkan kabar duka.


Adam berpisah dengan Jasmine dan Ariel sejak lulus SMA. Adam memutuskan untuk kuliah di Amerika karena pertengkarannya dengan ibunya. Adam begitu kecewa dengan ibunya. Mereka dipertemukan untuk pertama kalinya dalam keadaan tak baik-baik saja dimana Adam sedang mengalami Amnesia.


Disaat Adam telah sembuh, permasalahan baru datang sehingga tidak ada waktu untuk Adam untuk mencari keberadaan Jasmine dan Ariel. Ketika semuanya selesai, ketika Adam berniat untuk mengunjungi Jasmine dan Ariel karena dia sudah tahu keberadaan kedua sahabatnya itu.


Namun Tuhan berkata lain. Adam mendapatkan informasi dari Ricky yang mengatakan bahwa Ariel mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Bukan itu saja, kondisi Jasmine yang lumpuh akibat mengalami kecelakaan beberapa bulan yang lalu.


Grep..


Evan yang kebetulan duduk di samping putra bungsunya itu langsung menarik tubuh putranya itu dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Menangislah jika kamu ingin menangis. Jangan ditahan," ucap Evan yang tahu bahwa putra bungsunya itu tengah berusaha untuk tidak menangis.


"Hiks... Hiks... Papa, aku merindukan Ariel. Aku benar-benar merindukan dia... Hiks."


Mendengar isak tangis putra bungsunya membuat hati Evan sesak. Begitu juga dengan Utari, Garry dan Danish.