
Danish yang mendengar penuturan dari Ayahnya menjadi terkejut. Kemudian Danish melihat wajah Ayahnya.
"Pa."
Evan melihat kearah putra keduanya itu. "Ya, sayang!"
"Tadi Papa bilang jika Adam sudah mulai bersikap baik pada Nenek?"
"Iya, sayang! Itu memang benar. Tanyakan pada kakakmu."
Danish mengalihkan pandangannya melihat kearah kakaknya. "Kakak.."
"Iya, Danish. Adik kita berusaha menunjukkan sikap baiknya pada Nenek."
"Adam," batin Danish.
"Sekarang jawab pertanyaan Papa tadi," ucap Evan.
Danish, Ardi dan Harsha menunduk. Mereka tidak tahu harus mulai dari mana.
Para orang tua dan para kakaknya yang melihat ketiga adik dan putranya yang hanya menunduk makin yakin jika ada masalah, terutama Celena.
Celena sangat yakin jika Allan putra angkatnya sudah melihat isi flashdisk itu.
"Apa Allan sudah melihat isi flashdisk itu, sayang?" tanya Celena pada Vigo.
"Iya, Ma. Allan sudah melihat isi flashdisk itu," jawab Vigo.
"Jadi ini alasan Adam yang tiba-tiba marah?" tanya Bagas.
"Iya, Pa!" jawab Harsha.
"Lalu kenapa Adam marahnya dengan nenek kalian?" tanya Kamila.
"Karena masalah yang menimpa keluarga Bibi Celena ada sangkut pautnya juga dengan masalah keluarga kita," sahut Ardi.
Para orang tua dan para kakaknya saling menatap satu sama lainnya. Mereka benar-benar bingung akan ucapan dari Ardi.
Saat Fahreza Rahka Abimanyu ingin berbicara, namun Danish sudah terlebih dahulu bersuara.
"Wanita sialan itu masih hidup!" seru Danish.
"Wanita sialan?" ucap mereka bingung.
"Areta Dhira Kalyani," sahut Ardi dan Harsha bersamaan.
"Apa?!" teriak Evan, Utari dan Amirah.
"Iya. Dhira masih hidup," sela Danish.
"Dalang penculikan Papanya dan kakaknya Vigo ada hubungan nya dengan Dhira. Areta Dhira Kalyani dan Liam Dennis Adiyaksa adalah Kakak adik sepupu," ujar Harsha.
"Ba-bagaimana bisa perempuan itu masih hidup?" tanya Amirah.
"Bukankah perempuan itu terkena tembakan dua kali dari nenek," ucap Garry.
"Tapi kenyataannya perempuan itu memang masih hidup. Kemungkinan perempuan itu berhasil tertolong saat dibawa ke rumah sakit," pungkas Harsha.
"Kita kan tidak tahu apa yang terjadi setelah nenek Amirah menembak perempuan itu. Saat itu kita langsung pergi meninggalkan mayatnya tergeletak disana karena pikiran kita sedang kacau dan juga sedih akan kepergian Adam." Ardi berbicara sambil mengingat kejadian itu.
Mereka semua terdiam, terutama Evan dan Utari . Mereka sangat terpukul saat itu sehingga melupakan tubuh Dhira yang tergeletak di tanah.
"Danish," panggil Yodha.
"Iya, kek!" jawab Danish.
"Kakek mohon padamu. Tolong jangan ribut atau pun bertengkar dengan adikmu," mohon Yodha.
"Maksud kakek?" tanya Danish yang benar-benar tidak mengerti.
Danish terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Kakeknya. Danish juga membenarkan apa yang dikatakan oleh sang kakek, jika dirinya terlalu gampang emosi saat berdebat dengan adiknya.
Melihat keterdiaman cucunya itu, Yodha menjadi tidak tega. Tapi Yodha harus melakukannya. Yodha tidak ingin kedua cucunya saling bertengkar satu sama lain.
"Adam baru saja kembali dan berkumpul lagi dengan kita setelah selama lima bulan lebih dinyatakan meninggal dalam ledakan di dalam gudang itu. Saat itu kita terlalu bodoh karena mempercayai jasad itu adalah jasad Adam. Padahal itu bukanlah jasad Adam karena kesedihan dan keterpurukan kita, kita sampai lupa untuk melakukan tes DNA dan otopsi. Baru beberapa hari Adam kembali. Baru beberapa hari Adam merasakan kebahagiaannya. Masalah kembali datang. Tak masalah jika itu masalah baru atau masalah yang datang dari orang baru. Tapi justru masalah kembali datang adalah masalah yang berlanjut akan dendam dimasa lalu. Areta Dhira Kalyani, dia kembali. Bahkan dia kembali bersama dengan kedua Kakaknya." Ardi berbicara dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Dan disini yang akan menjadi korbannya adalah..." Harsha menghentikan ucapannya.
"Adam," jawab para kakak-kakaknya.
"Iya, Adam! Adam pasti akan tertekan dengan masalah ini. Apalagi dia akan kembali berurusan dengan perempuan itu untuk yang kedua kalinya. Pasti saat ini Adam merasa ketakutan. Takut jika perempuan itu kembali menyakitinya dan juga menyakiti Mama Utari. Ditambah lagi dengan Paman Levi dan kak Nicolaas. Keduanya juga sangat berarti dalam hidup Adam," kata Harsha.
Mendengar ucapan dari Harsha membuat mereka semua benar-benar merasakan ketakutan. Bukan takut akan nyawa mereka, tapi takut akan kondisi kesehatan Adam yang sewaktu-waktu down.
Saat mereka tengah memikirkan kondisi Adam, tiba-tiba mereka mendengar suara benda jatuh dari lantai dua.
PRAANNGG!
GEDEBUM!
Anggota keluarganya yang mendengar suara pecahan dari lantai dua pun terkejut.
"Ma, Pa, kakak. Itu suaranya berasal dari kamarnya Adam!" seru Ardi.
Tanpa pikir panjang lagi, mereka semua berlari menuju kamar Adam.
^^^
Adam saat ini bersandar di sudut tempat tidurnya. Adan menangis. Dirinya benar-benar terpuruk saat ini.
"Kenapa? Kenapa masalah selalu datang menghampiriku dan keluargaku. Apa belum cukup aku dan Mama menderita selama ini? Mama menjagaku, merawatku dan membesarkanku sendiri tanpa ada Papa yang ikut serta membantunya. Aku dibesarkan oleh Mama dan juga seluruh anggota keluarga Abimanyu. Mereka yang selalu ada untukku. Mereka menyayangiku, peduli padaku, dan perhatian padaku. Disaat aku dipertemukan kembali dengan Papa dan kedua kakakku. Disaat aku sudah merasakan kebahagiaan yang begitu besar dalam hidupku, kenapa justru aku harus berpisah lagi dari mereka? Bahkan aku berpisah dengan seluruh anggota keluargaku selama lima bulan lebih."
"Pertama sinenek tua itu yang menyebabkan aku dan Mama berpisah dengan Papa dan kedua kakakku. Kedua perempuan sialan itu yang membuatku berpisah dengan semua anggota keluargaku. Sekarang disaat aku telah kembali dan berkumpul lagi dengan keluargaku, justru masalah datang lagi. Mereka benar-benar licik. Mereka bermain-main dengan cara menekan titik kelemahanku, Mama dan juga Papa. Dan aku rasa mereka sudah tahu apa hubungan Papa Levi dan Papa."
"Atau jangan-jangan Papa Levi adalah adik kandung Papa."
Tanpa Adam sadari, seluruh anggota keluarganya saat ini telah berdiri di depan pintu kamarnya. Awalnya, mereka ingin masuk karena panik mendengar suara benda-benda jatuh dan juga pecahan kaca di dalam kamar Adam. Bahkan mereka semua terkejut saat melihat kondisi kamar Adam yang berantakan.
Kebetulan pintu kamar Adam tidak dikunci, jadi Utari membukanya secara pelan-pelan. Mereka semua mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Adam.
Mereka semua yang mendengar ucapan-ucapan dari Adam benar-benar terkejut. Apalagi saat Adam mengatakan bahwa Levi adalah adik kandung Evan Hara Bimantara.
Amirah menatap wajah putra sulungnya. "Van. Ibu juga memikirkan hal yang sama seperti putra bungsumu. Ibu sangat yakin jika Levi, suami nak Celena adalah putra bungsu ibu. Adik kandungmu, Van!" Amirah berucap lirih.
"Aarrgghhhh!"
PRAANNGG!
Adan berteriak sembari melempar bola golf yang berserakan di lantai kamarnya kearah cermin yang ada di hadapannya sehingga membuat cermin itu pecah dan hancur berserakan di lantai.
Anggota keluarganya yang masih melihatnya dari luar kamarnya terkejut. Terutama keluarga Abimanyu. Selama hidup mereka, selama mereka menjaga dan merawat Adam. Mereka tidak pernah melihat Adam seperti ini.
"Areta Dhira Kalyani!" teriak Adam. "Aku bersumpah. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu membunuhku untuk yang kedua kalinya. Kali ini kau boleh berbahagia karena kau selamat dari kematianmu. Sama halnya denganku. Aku bahagia bisa selamat dari kematianku. Tapi kita lihat nanti, siapa diantara kita yang akan mati? Aku mati ditanganmu atau kau yang mati ditanganku. Tapi aku bisa pastikan, jika kaulah yang akan mati ditanganku, Dhira! Kau sudah salah bermain denganku. Semua rencanamu bersama kedua kakakmu itu sudah aku ketahui. Aku hanya mengikuti alurmu saja. Dan pada saat endingnya, kau dan kedua kakakmu akan mati!" Adam berbicara dengan penuh emosi dan disertai teriakannya.
Beberapa detik kemudian...
"Aakkkhhh." tiba-tiba saja sakit kepalanya datang lagi. Adam meremat kuat rambutnya.
BRUUKK!
Seketika tubuh Adam ambruk ke samping. Pandangannya mulai memburam dan kemudian matanya tertutup sempurna.
"Adam!" teriak mereka semua.
Mereka semua masuk ke dalam kamar Adam dengan wajah panik. Apalagi Utari. Utari sudah menangis melihat keadaan putra bungsunya.
Kemudian Garry mengangkat tubuh adiknya keatas tempat tidur. Juan langsung menghubungi Dokter pribadi keluarga mereka.