
Setelah mengingat dimana dirinya yang saat itu berusaha mendekatkan diri kepada Adam. Danish tersenyum kala mengingat momen itu.
"Ternyata kau masih menyimpan foto ini dengan sangat baik, Dam! Foto ini adalah foto kenangan pertama saat kita jalan-jalan bersama." Danish mengusap dan mengecup foto tersebut. "Kakak merindukanmu. Sangat merindukanmu," ucap Danish tanpa diminta air matanya mengalir membasahi pipinya.
Tanpa Danish sadari. Seseorang masuk ke kamar dan sudah berdiri di sampingnya.
"Kakak juga merindukannya," ucap orang yang berdiri di sampingnya itu.
Danish menolehkan wajahnya ke samping. "Kakak Garry."
Garry tersenyum kearah Danish. Tangannya mengusap lembut rambut adiknya. Lalu kembali menatap foto adik bungsunya. Setelah itu tangannya mengelus foto tersebut.
"Hei, adik manisnya kakak. Apa kabar? Kakak merindukanmu disini. Apa kau juga merindukan kakak di atas sana. Baik-baik di sana ya, manis. Kami disini akan selalu mendoakanmu?" ucap Garry pada foto adik bungsunya. Setetes air jatuh dari mata indahnya.
Garry menghapus air matanya dan juga air mata adiknya. "Ya, sudah. Lebih baik kita turun untuk makan siang. Yang lainnya sudah menunggu."
Mereka pun pergi meninggalkan kamar Adam untuk menuju ruang makan yang berada di lantai bawah.
***
Samsung Group merupakan salah satu perusahaan elektronik terbesar di dunia. Didirikan oleh Robert Abimanyu di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini beroperasi di 58 negara dan memiliki lebih dari 208.000 pekerja. Hingga saat ini, Samsung juga menjadi salah satu merek terbesar di dunia dengan mengeluarkan ponsel cerdas yang menjadi jawara dalam persaingan bursa pasar gawai.
Samsung adalah salah satu konglomerat (chaebol) Jakarta Pusat terbesar yang bermula sebagai perusahaan ekspor dan dengan cepat berkembang ke bidang lainnya. Dan saat ini Yodha Akasha Abimanyu sebagai putra pertama yang memegang kendali perusahaan tersebut. Yodha memiliki tiga orang anak yaitu Bagas Baureksa Abimanyu, Davan Alwan Abimanyu dan Erina Utari Abimanyu.
Ketiga anak-anaknya masing-masing memegang anak perusahaan dari Samsung Group. Renault Samsung Motor, duet Samsung dan Renault dipimpin oleh Bagas. Samsung Life Insurance Co. Ltd. penyedia jaminan asuransi dipimpin oleh Davan. Samsung Electronics Co. Ltd dipimpin oleh Utari.
Saat ini Yodha sedang berada di ruang kerjanya dan tengah sibuk memeriksa berkas yang akan ditandatanganinya.
Saat sedang fokusnya, tangannya tak sengaja menyenggol bingkai foto yang ada di meja kerja dan mengakibatkan bingkai foto itu jatuh dan pecah.
PRAANGG!
Sontak hal itu sukses membuat Yodha terkejut. Yodha menatap bingkai foto yang sudah hancur dan pecah itu di lantai. Air matanya pun mengalir begitu saja saat melihat wajah seseorang yang ada di foto tersebut. Yodha mengambil foto itu.
"Hei, cucu kesayangannya kakek. Kenapa pergi meninggalkan kakek, hum? Apa kamu sudah tidak menyayangi kakek lagi? Apa kamu marah sama Kakek, karena kakek juga ikut membohongi kamu selama ini? Maafkan kakek kalau kakek membohongimu selama ini, sayang." Yodha berbicara sembari menciumi foto Adam.
Yodha menelpon asistennya. Dan menyuruhnya untuk datang ke ruangannya.
"Hallo, Pak."
"Ke ruanganku sekarang."
"Baik, Pak."
Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan pintu dari luar.
TOK!
TOK!
TOK!
"Masuk!"
CKLEK!
"Ada pak?"
Yodha menyerahkan foto cucu kesayangannya pada asistennya itu.
"Tolong kau carikan bingkai foto yang paling bagus untuk foto cucu kesayanganku ini. Lalu pasangkan dengan rapi di bingkai itu."
Asisten itu mengambil foto yang ada di tangan atasannya. "Baik, Pak. Ada lagi, Pak?" ucap dan tanya asisten tersebut.
"Tidak," jawab Yodha.
"Kalau begitu saya permisi dulu." Asisten itu pun keluar dari ruangan atasannya.
Yodha melihat jam yang ada di tangannya. "Sebentar lagi waktunya aku pulang," guman Yodha.
***
Allan yang merasa bosan di kamar memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Dia ingin keluar jalan-jalan sebentar, sekalian ingin membeli cemilan di super market.
Saat Allan sedang menuruni anak tangga. Allan melihat kedua kakaknya tengah bersantai di ruang tengah. Dan terlintaslah ide jahil di kepalanya.
1
2
3
"Kakaaaaakk!" Allan berteriak sekencang-kencangnya dan itu sukses membuat Nicolaas yang sedang meneguk minuman tersendat dan Vigo yang sedang tiduran di sofa jatuh nyungsep di lantai.
Sudah membuat kedua kakaknya menderita, Allan pergi begitu saja ke dapur untuk mengambil minuman. Sedangkan kedua kakaknya mendengus kesal atas ulahnya.
"Dasar adik kurang ajar," gerutu Nicolaas
"Untung sayang. Kalau tidak sudah aku ceburkan kecomberan," kesal Vigo.
Allan kembali dari dapur dan menghampiri kedua kakaknya dengan santai dan tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Kalian berdua kenapa kak? Kenapa wajah kalian ditekuk begitu?"
Saat Vigo ingin mengomelinya, Allan langsung memotongnya. "Kakak Nicolaas, kakak Vigo aku izin keluar sebentar ya. Aku ingin jalan-jalan keluar sambil ingin membeli cemilan. Aku bosan di kamar terus." Allan berbicara sembari memperlihatkan wajah memelasnya.
"Ya, sudah. Kakak izinkan. Pulangnya jangan kesorean. Mengerti!" sahut Nicolaas.
"Oke. Makasih kak Nicolaas. Kalau begitu aku pergi dulu. Bye!" Allan pun pergi meninggalkan kedua kakaknya.
***
Allan mengendarai motor sport milik dengan kecepatan sedang. Terukir senyuman manis di bibirnya. Dirinya merasa senang dan bahagia bisa keluar untuk jalan-jalan. Hanya untuk sekedar merilekskan tubuh dan pikirannya.
Saat di persimpangan jalan Allan berhenti. Allan melihat ada sebuah mobil mewah yang berhenti. Tapi bukan itu yang menjadi pusat perhatiannya. Melainkan empat orang laki-laki yang sedang bersikap kasar pada seorang laki-laki tua dan satu orang yang bisa dikatakan sopirnya. Allan pun melajukan motornya kearah mereka.
BRUUMM!
BRUUMM!
BUGH!
Orang itu jatuh dan punggungnya mendarat sempurna di aspal jalan raya. Ketiga temannya langsung melepaskan kera baju laki-laki tua itu dan mengalihkan pandangannya kepemuda yang berada di atas motor tersebut.
"Tuan Yodha. Anda tidak apa-apa?" tanya sopir pribadinya.
"Saya baik-baik saja," jawab Yodha.
"Wooi. Siapa kau? Kenapa mengganggu kesenangan kami?!" teriak salah satu dari ketiga preman itu.
Allan mematikan mesin motornya dan kemudian membuka helm yang menutupi kepala dan wajahnya.
"A-adam, cucuku!" Yodha berucap lirih saat melihat wajah pemuda yang menolongnya itu.
"Kalian tidak perlu tahu siapa aku. Dan maaf kalau aku sudah mengganggu kesenangan kalian. Tapi apa kalian tidak malu mengganggu Pak tua itu. Kalau pak tua itu mati, bagaimana? Apa kalian tidak kasihan dengan keluarganya? Kalau kalian butuh uang, kenapa tidak cari kerja saja dan kenapa harus memalak orang lain?!" teriak Allan.
"Brengsek! Banyak omong nih, bocah." salah satu dari mereka langsung menyerang Allan.
Dengan sigap dan gesit, Allan menghindar dari pukulan-pukulan orang itu. Allan pun tak mau kalah. Satu tendangan berhasil mengenai perut laki-laki itu.
DUUAAGGHH!
"Aakkhh!" ringis laki-laki itu.
Allan turun dari motornya. Dan keempat preman itu langsung menyerang Allan secara bersamaan.
BUGH!
BUGH!!
DUUAAGGHH!
KREEETT!
Allan berhasil membuat keempat preman tersebut terkapar di aspal.
"Kalian semua itu hanya seonggok sampah. Lebih tepatnya sampah masyarakat. Kerjaan kalian itu hanya suka menindas orang lain. Apa tidak ada pekerjaan lain selain menindas orang, hah?!"
Keempat preman itu bangkit dan menatap tajam kearah Allan. "Awas kau. Tunggu pembalasan dari kami."
"Ayo, pergi!"
Keempat kawanan preman itu pun pergi meninggalkan Allan dan Yodha.
Allan mendekati Yodha. "Anda tidak apa, Tuan?" tanya Allan.
Yodha menatap wajah Allan dengan tatapan kerinduan. Dan tanpa sadar air matanya mengalir membasahi wajahnya. Tangannya terangkat menyentuh wajah tampan Allan.
"Cucuku. Adam cucuku. Kakek merindukanmu. Kau kemana saja selama ini? Kenapa tidak pulang ke rumah?" ucap dan tanya Yodha.
Sedangkan Allan menatap laki-laki tua yang ada di hadapannya dengan tatapan bingung.
"Adam? Siapa Adam? Kenapa dia memanggilku dengan sebutan Adam?" batin Allan.
"Maaf Tuan. Anda salah orang. Saya bukan Adam, cucu anda. Saya Allan. Allan Liam Adiyaksa," jawab Allan lembut. Bagaimana pun Allan sangat menghormati orang tua. Dia tidak mau membuat orang yang berdiri di hadapannya itu takut.
Yodha tiba-tiba memeluk tubuh Allan. "Kau cucuku. Kau itu Adam. Dirandra Adamka Abimanyu. Aku yang merawatmu dari kau lahir. Seluruh anggota keluarga Abimanyu ikut menjagamu dan merawatmu sampai kau tumbuh dewasa," tutur Yodha yang menangis sambil memeluk Allan.
Allan melepaskan pelukan dari laki-laki tua itu. Dan dengan lembut berkata. "Maaf tuan. Sekali lagi aku katakan. Aku bukan Adam. Aku Allan. Allan Liam Adiyaksa."
Setelah mengatakan hal itu, Allan langsung menaiki motornya. Memakai helmnya dan menghidupkan mesin motornya. Allan pun pergi meninggalkan Yodha dan sopirnya dengan masih menatap kepergiannya.
"Dia cucuku. Aku tidak mungkin salah. Aku bisa merasakannya saat aku memeluknya," ucap Yodha pelan.
"Lebih baik kita pulang sekarang, Tuan!" seru sang sopir.
***
Seluruh anggota keluarga Abimanyu sedang berkumpul di ruang tengah sembari menunggu kepulangan sang kepala keluarga Yodha.
"Utari," panggil Bagas.
"Ya, kak. Ada apa?"
"Bagaimana keadaan kantormu? Apa semuanya baik-baik saja?"
"Semuanya baik-baik saja, kak. Begitu juga dengan Kampus milikku. Semuanya masih bisa aku atasi," jawab Utari.
"Syukur kalau begitu."
"Kakak tidak perlu khawatir padaku. Walau aku masih terus merindukan putra bungsuku dan terus memikirkannya. Aku masih tetap semangat menjalani hari-hariku. Itu semua karena kalian masih berada di sampingku. Terutama suami dan kedua putra-putraku." Utari berbicara sembari menatap suaminya dan kedua putranya dengan tersenyum.
"Utari. Bagaimana kalau kau tinggal disini lagi? Kalau perlu ajaklah suami dan kedua putramu untuk tinggal di rumah keluarga Abimanyu. Kakka merasa rumah ini sepi tanpamu dan Adam. Pertama Adam yang pergi meninggalkan kita semua untuk selamanya. Lalu disusul olehmu. Kau pergi ikut suamimu dan tinggal bersama suami dan kedua putramu. Kakak merindukan saat kita masih bersama Adam dulu," tutur Davan yang sudah meneteskan air matanya.
"Papa," lirih Harsha dan langsung memeluk ayahnya.
"Biasanya rumah ini selalu ramai itu dikarenakan suara teriakan dari sikelinci nakal itu. Ditambah dengan suara teriakan dari Harsha yang selalu mengusilinya," kata Kamila.
"Tidak tahu tempat dan waktu. Baik itu siang, sore maupun malam. Pasti ada saja keributan yang dilakukan oleh Adam dan Harsha," ujar Alin menambahkan.
"Kalau sudah masuk Ardi, maka keributan dan teriakan akan makin besar," sela Kamila lagi.
"Semenjak kepergian sikelinci nakal itu. Rumah ini benar-benar sepi," kata Dzaky.
Saat mereka tengah merasakan kerinduan akan sikelinci nakal kesayangan mereka. Terdengar suara klason mobil diluar.
TIN!
TIN!
"Itu Kakek pulang!" seru Ardi.