
Celena dan Nicolaas sudah berada di ruang tamu bersama satu orang yang sedang memegang tas dan dua orang berpakaian hitam berdiri diluar, tepatnya di depan pintu.
Celena dan Nicolaas menatap penuh curiga kepada pria yang kini duduk di hadapan mereka.
"Siapa anda? Sepertinya saya tidak mengenali anda," tanya Celena.
"Saya minta maaf sebelum kepada anda dan putra anda. Dengan terpaksa anda dan kedua putra anda harus keluar dari rumah ini. Rumah ini bukan milik kalian lagi."
DEG!
Celena dan Nicolaas benar-benar terkejut ketika mendengar perkataan pria tersebut. Dalam pikiran mereka. Kenapa mereka harus keluar dari rumah ini. Sementara rumah ini adalah milik mereka.
"Maaf, tuan! Apa hak anda menyuruh saya dan kedua putra saya keluar dari rumah ini? Ini rumah kami. Rumah ini dibeli hasil kerja keras suami saya. Jadi kami tidak akan pernah pergi meninggalkan rumah ini!" bentak Celena.
"Maafkan saya Nyonya. Tapi itulah faktanya. Rumah ini bukan lagi milik anda dan juga kedua putra anda. Kalian sudah tidak punya hak lagi atas rumah ini," ucap pria itu.
"Brengsek!" bentak Celena.
BUUKK!
Nicolaas bangkit dari duduknya lalu memberikan pukulan keras kelas pria itu. "Jangan sembarangan kalau bicara. Sampai kapan pun kami tidak akan pergi dari rumah ini!" bentak Nicolaas.
"Kalian," panggil pria itu kepada anak buahnya.
Kedua anak buahnya yang sedang berdiri di depan pintu langsung melangkah masuk dan langsung berdiri di samping pria tersebut.
"Seret mereka berdua keluar dari rumah ini," perintah pria itu.
"Baik, Bos!"
Keduanya pun langsung menarik paksa Celengan dan Nicolaas untuk keluar dari rumah tersebut.
"Tidak! Tidak! Ini rumahku dan kedua putraku. Kau pria brengsek. Kau tidak bisa melakukan ini kepadaku dan putraku!" teriak Celena.
"Lepaskan!" bentak Nicolaas.
BRUUKK!
Kedua anak buah dari pria itu mendorong kuat tubuh Celena sehingga membuat tubuh Celena tersungkur dan mengakibatkan kepala Celena terbentur sudut keramik dan berdarah.
"Mama!" teriak Nicolaas.
Nicolaas menarik kuat tangan orang yang saat ini memegangi tubuhnya, lalu memelintir tangan orang itu sehingga terdengar suara tulang yang patah dan juga suara teriakan kesakitan dari orang itu.
Setelah itu, Nicolaas menendang kuat perut orang itu sehingga membuat orang itu tersungkur.
Nicolaas langsung menghampiri ibunya yang sudah tidak sadarkan diri. "Mama... Mama!" Nicolaas menepuk-nepuk pelan pipi ibunya.
Seketika Nicolaas mendengar suara pria itu yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
"Hallo, tuan. Semuanya beres. Aku sudah berhasil mengusir istrinya dari tuan Levi dan juga putranya dari rumah.
"...."
"Baik, tuan Dennis!"
Mendengar nama Dennis dari mulut pria itu membuat Nicolaas berubah menjadi marah. Nicolaas benar-benar marah dan juga dendam terhadap Liam Dennis Adiyaksa.
"Tunggu pembalasan, Liam Dennis Adiyaksa! Kau sudah membunuh Papaku. Kau sudah merebut Perusahaan Papaku. Dan kau juga sudah merebut rumah kami. Sekarang kau telah berani menyakiti Mamaku. Hari ini kau boleh menang. Nanti disaat tiba giliranku. Aku bersumpah tidak akan memberikanmu ampun. Aku pastikan kau akan mati di tanganku." Nicolaas akan benar-benar melakukan hal itu.
Ini bukanlah hanya sekedar ucapan semata. Nicolaas benar-benar akan membunuh Dennis.
"Kemana aku harus pergi? Apa aku harus ke rumah Allan?" batin Nicolaas.
Dan pada akhirnya, Nicolaas memutuskan untuk ke rumah Allan adiknya. Nicolaas menggendong tubuh ibunya dan membawanya pergi meninggalkan rumah tersebut.
Namun seketika langkahnya terhenti kala mendengar panggilan dari tiga pelayannya.
"Tuan muda Nicolaas, tunggu!"
Nicolaas membalikkan badannya dan dilihat olehnya tiga pelayannya berlari menghampirinya.
"Ada apa, Bi?"
"Izinkan kami ikut dengan anda tuan muda," sahut kepala asiten rumah tangga.
"Tapi aku dan ibuku tidak memiliki rumah lagi. Saat ini aku dan ibuku akan pergi ke rumah adik angkatku," jawab Nicolaas.
"Tidak masalah tuan. Kami akan tidur dimana pun asal kami bisa terus bersama nyonya," sahut pelayan yang lainnya.
"Iya, tuan muda!"
Nicolaas menatap ketiga pelayannya itu. Dapat Nicolaas lihat ada kesungguhan dan ketulusan terpancar di mata mereka.
"Apa kalian yakin? Untuk beberapa bulan ke depan. Aku dan Mama tidak bisa menggaji kalian," ucap Nicolaas menangis.
"Tuan muda Nicolaas tidak perlu membahas masalah gaji. Asal kami bisa makan dan memiliki tempat tinggal. Dan yang paling penting kami tetap bersama nyonya. Itu sudah lebih dari cukup tuan muda." kepala asisten rumah tangga itu ikut menangis ketika melihat majikan yang menangis.
"Baiklah. Kalian boleh ikut denganku. Untuk tiga bulan ini aku masih punya uang," ucap Nicolaas.
"Jangan terlalu dipikirkan tuan," ucap pelayan itu.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan rumah mewah keluarga Levi untuk menuju rumah keluarga Abimanyu.
Danish, Ardi, Harsha dan para sahabat berada di Kantin. Setelah dua jam mereka berperang dengan materi kuliah mereka dan akhirnya mereka bisa bernafas lega.
Sementara Adam saat ini tidak bergabung dengan para kakaknya. Adam saat ini bersama dengan Melky dan juga bersama dengan semua sahabatnya yang datang dari Amerika, termasuk Vando. Vando telah sembuh dari pasca kecelakaan yang menimpanya.
Adam sudah memperkenalkan sahabat-sahabatnya itu kepada Melky. Dan hanya butuh dua hari, baik Melky maupun sahabat-sahabat Adam sudah akrab.
Keenam sahabatnya Adam memutuskan pindah kuliah di Jakarta. Dan mereka juga akan menetap di Jakarta dan tidak akan balik ke Amerika, kecuali kalau mereka liburan.
Walau Adam tidak bergabung dengan para kakaknya, bukan berarti tempat duduk mereka berjauhan. Justru tempat duduk mereka berdekatan. Hanya saja mereka berkumpul dengan sahabatnya masing-masing.
Mereka berbicara banyak hal. Mulai tentang kuliah, hobi, makanan, cita-cita dan hal-hal menarik lainnya.
Yang bersemangat dalam bercerita hanya para sahabatnya saja. Sementara Adam dan Vigo hanya berbicara seperlunya saja.
Ketika mereka sedang asyik bercerita, tiba-tiba ponsel milik Vigo berdering menandakan panggilan masuk.
Vigo langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Ketika ponselnya sudah ada di tangannya. Dapat Vigo lihat nama 'Kak Nicolaas' kakak kesayangannya tertera di layar ponselnya.
"Ada apa? Kenapa kakak Nicolaas menghubungiku? Kakak Nicolaas tidak pernah menghubungiku jika aku berada di Kampus," batin Vigo.
"Siapa kak Vigo?" tanya Adam.
Vigo melihat kearah Adam. "Kak Nicolaas," jawab Vigo.
"Kalau gitu angkat," ujar Adam.
Vigo pun langsung menjawab panggilan dari kakaknya itu.
"Hallo, Go."
Vigo seketika terkejut kala mendengar suara dari kakaknya itu. Suara kakaknya itu sedikit aneh. Tidak seperti biasanya.
"Ada apa kak?"
"Vigo. Maafkan kakak. Kakak gagal lagi."
Vigo total ketakutan ketika mendengar nada dan ucapan dari kakaknya. Dalam hatinya pasti telah terjadi sesuatu.
Sementara Adam dan yang lainnya menatap Vigo khawatir. Dalam hati mereka merasakan telah terjadi sesuatu.
"Kenapa kakak bicara seperti itu? Kakak adalah kakak kesayanganku. Putra Papa dan Mama. Ada apa kak?"
"Hiks... Vigo."
Mendengar isakan dari kakaknya membuat Vigo benar-benar diambang ketakutan. Dan tanpa diminta air matanya lolos begitu saja membasahi wajahnya.
Melihat Vigo yang tiba-tiba menangis membuat mereka semua juga ikut merasakan kekhawatiran terhadap Vigo.
"Kakak. Katakan padaku ada apa? Jika kakak tidak mengatakan apapun padaku. Aku tidak akan pernah tahu kak."
"Vigo. Laki-laki sialan itu telah merebut Perusahaan Papa dan juga rumah kita... Hiks."
"Apa?!"
Vigo langsung berdiri dari duduknya dan air matanya makin deras mengalir membasahi wajahnya.
"Maksud kakak...?"
"Liam Dennis Adiyaksa. Pria brengsek itu datang ke Perusahaan dan membawa sebuah berkas. Dan di berkas itu ada tanda tangan Papa. Bajingan itu bilang kalau Papa sudah memberikan Perusahaan itu padanya. Begitu juga rumah kita, Go! Dia juga merebutnya. Bahkan anak buahnya berani menyakiti Mama."
"Go. Maafkan kakak. Lagi-lagi kakak gagal. Kakak gagal melindungi Papa. Kakak gagal melindungi Perusahaan dan rumah kita. Dan sekarang kakak juga gagal melindungi Mama. Maafkan kakak, Go!"
"Hiks.. kakak jangan bicara seperti itu. Kakak tidak salah. Kakak tidak pernah gagal dalam hal apapun. Kakak adalah putra terhebat yang dimiliki oleh Papa dan Mama. Mereka bangga padamu kak."
Danest dan Luis yang kebetulan duduk di samping Vigo mengusap-ngusap lengan dan bahu Vigo. Mereka berusaha menenangkan Vigo.
"Sekarang kakak dan Mama ada dimana?"
"Kakak dan Mama berada di rumah keluarga Abimanyu. Dan kakak juga sudah cerita semuanya dengan mereka. Mereka semua marah, terutama Paman Evan."
"Baiklah, kak. Aku akan segera pulang ke rumah keluarga Abimanyu."
Setelah selesai berbicara dengan kakaknya. Vigo pun mematikan ponselnya.
"Ada apa, Vigo?" tanya Cakra.
"Laki-laki sialan itu sudah mulai bertindak Cakra," jawab Vigo.
"Liam Dennis Adiyaksa!" seru Adam.
"Apa yang dilakukannya oleh bajingan itu, Vigo?" tanya Danish.
"Dia telah merebut Perusahaan milik Papa dan juga rumah kami," jawab Vigo.
"Apa?" mereka semua terkejut.
"Brengsek! Ternyata bajingan itu benar-benar melakukannya," ucap Adam.
Setelah itu, Adam langsung beranjak dari duduknya dan pergi begitu saja. Melihat Adam yang pergi dalam keadaan emosi membuat mereka semua takut.
Mereka semua pun beranjak dari duduknya dan pergi menyusul Adam. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Adam. Terutama Danish, Ardi dan Harsha.