
Di kediaman Abimanyu semua anggota keluarga telah berkumpul, termasuk Celena dan Nicolaas.
Sejak Celena dan Nicolaas datang ke kediaman Abimanyu. Celena tak hentinya menangis. Celena menangis karena semua yang telah dimilikinya hilang tak berbekas.
Mulai dari kehilangan suami tercintanya, kehilangan pegangan hidup yaitu Perusahaan yang dipimpin oleh putranya saat ini, dan terakhir Celena kehilangan rumah. Rumah dimana dirinya, suaminya, dan kedua anak-anak tinggal selama ini.
"Hiks... Nicolaas. Mama tidak rela pria itu merebut milik kita. Perusahaan dan rumah itu milik kita, Nak! Papamu selama ini bekerja keras untuk mencukupi kebutuhan kita dan seenaknya saja pria itu merebut semuanya... Hiks," isak Celena di dalam pelukan putra sulungnya.
Mendengar isakan dan ucapan dari ibunya membuat hati Nicolaas sakit. Dirinya benar-benar marah. Terlihat dari tatapan matanya.
Anggota keluarga Abimanyu yang melihat dan mendengar ucapan dari Celena juga ikut merasakan kesedihan. Mereka menangis melihat kondisi Celena saat ini.
"Levi. Kakak berjanji padamu akan menjaga istri dan anak-anakmu. Selama ini kita telah dipisahkan oleh keluarga bajingan itu. Dan sekarang kita dipisahkan lagi untuk selamanya sebelum kita diberi kesempatan untuk saling berpelukan dan mengungkapkan hubungan persaudaraan kita." Evan berbicara di dalam hatinya.
"Nak Celena. Kamu tidak perlu khawatir apalagi takut. Apa yang sudah menjadi milik kalian akan kembali lagi pada kalian. Percayalah!"
Ketika mereka tengah bersedih, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil ibu dan kakaknya.
"Mama, kakak!"
Vigo, Danish, Ardi, Harsha memasuki rumah keluarga Abimanyu dan berlari menuju ruang tengah diikuti oleh para sahabatnya.
Celena melepaskan pelukan dari putra sulungnya dan melihat kearah putra keduanya yang berjalan menghampirinya.
GREP!
Vigo langsung memeluk ibunya dengan erat. Dan tanpa diminta air matanya lolos begitu saja membasahi wajahnya.
"Vigo... Hiks." Celena kembali terisak.
"Tenang, oke! Semuanya akan baik-baik saja. Untuk beberapa hari ini kita biarkan saja dulu bajingan itu merasakan kebahagiaan karena sudah berhasil membuat kita hancur. Setelah itu barulah kita bertindak. Yang aku minta saat ini adalah Mama tetap tenang dan jangan banyak pikiran. Aku tidak mau Mama sakit." Vigo berucap sembari memberikan ketenangan pada ibunya.
Mendengar ucapan dari putra keduanya seketika hati Vigo sedikit tenang. Di dalam hatinya, Celena menyetujui apa yang dikatakan oleh putranya itu.
Utari yang sedari tadi memperhatikan disekitarnya dan menyadari sesuatu. "Danish. Adikmu mana?"
Mendengar pertanyaan dari ibunya, Danish langsung melihat sekitarnya. Begitu juga dengan yang lainnya. Dan benar saja. Mereka tidak melihat keberadaan Adam.
"Eh, iya! Adam mana?" tanya Kenzie yang tidak melihat keberadaan Adam.
"Apa kalian tidak bersama dengan Adam saat di Kampus?" tanya Davan.
"Kami selalu bersama Adam selama di Kampus, Pa!" Harsha menjawab pertanyaan dari ayahnya.
"Justru kami menyusul Adam yang pergi begitu saja ketika mendengar Vigo mengatakan bahwa Perusahaan dan rumahnya direbut oleh saudara angkat Paman Levi." Nigel menjelaskan.
"Kami pikir Adam langsung pulang ke rumah," ucap Rayan.
"Tapi kenyataannya Adam tidak ada di rumah," sahut Alin.
"Pasti Adam datang menemui pria itu!" seru Yodha tiba-tiba.
Mendengar seruan Yodha membuat mereka semua melihat kearahnya. Mereka menatap khawatir.
"Maksud Kakek?" tanya Vigo.
"Adikmu pergi menemui pria itu untuk merebut kembali Perusahaan dan rumah milik kalian," jawab Yodha.
Mendengar jawaban dari Yodha membuat mereka khawatir. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu pada Adam, terutama Celena, Nicolaas dan Vigo.
"Apa? Bagaimana bisa Adam pergi menemui bajingan itu sendirian? Apa yang ada di otak anak itu? Apa dia tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri?" Danish benar-benar marah akan sikap ceroboh adiknya.
Mendengar pertanyaan dan amarah Danish membuat mereka semua hanya bisa diam. Di dalam hatinya mereka masing-masing juga membenarkan apa yang dikatakan oleh Danish. Tapi disisi lain mereka mengerti dan paham atas apa yang dilakukan oleh Adam. Adam melakukan semua itu untuk orang-orang yang disayanginya.
"Kakek Yodha," panggil Nicolaas.
"Iya, sayang!"
"Kenapa Kakek bisa seyakin itu jika Allan pergi menemui pria itu?" tanya Nicolaas.
Seketika Yodha tersenyum begitu juga dengan yang lainnya.
"Karena adikmu itu memang kesana. Dan tujuannya untuk merebut kembali milik kalian," jawab Yodha.
"Bagaimana bisa Kek? Kami saja gagal mempertahankan Perusahaan dan rumah itu. Bagaimana bisa Allan akan merebutnya. Aku justru takut jika bajingan itu menyakiti Allan." Vigo benar-benar khawatir akan adiknya itu. Vigo tidak ingin adik mengorbankan dirinya untuknya dan keluarganya.
Yodha tersenyum tulus kearah Vigo dan Nicolaas. "Papa kalian sudah menyerahkan kepemilikan Perusahaan dan rumah kalian menjadi milik Adam. Jadi sekeras apapun bajingan itu merebutnya dari kalian itu tidak berlaku. Dan Adam akan lebih mudah untuk merebutnya kembali karena menurut Adam, Perusahaan dan rumah itu adalah miliknya."
Mendengar ucapan dari Yodha membuat Nicolaas dan Vigo terkejut. Begitu juga dengan Celena.
"Ja-jadi Papa..."
"Papa," batin Nicolaas dan Vigo.
"Sayang," batin Celena.
***
Adam saat ini sedang berada di depan gerbang rumah keluarga angkatnya. Adam tidak sendiri. Adam bersama dengan tiga puluh anggota. Mereka adalah anggota dari kelompok Zelo.
"Kalian siap?" tanya Adam.
"Kami siap, Bos!"
"Baiklah. Sekarang kita masuk."
Setelah itu, Adam dan ketiga puluh anggotanya Zelo pun memasuki perkarangan rumah keluarga angkatnya.
Adam dan ketiga puluh anggotanya Zelo sudah berada di depan pintu utama. Salah satu dari mereka membuka pintu itu.
CKLEK!
Pintu itu terbuka. Setelah melihat pintu terbuka. Adam melangkah masuk dan diikuti oleh anggotanya.
"Siapa kalian?!" bentak seseorang.
"Malaikat mautmu," jawab Adam menatap orang itu tajam.
"Pergi kau dari rumahku!" bentak orang itu.
"Hahahahaha." Adam tertawa keras. "Hei, Nyonya! Sejak kapan rumah ini adalah rumahmu, hah?! Suamimu yang brengsek itu sudah berani merebut rumahku. Asal kau tahu. Rumah ini milikku dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merebutnya dariku!" teriak Adam sembari jarinya menunjuk kearah perempuan itu.
Perempuan itu adalah istri dari Liam Dennis Adiyaksa. Setelah Dennis berhasil merebut rumah milik Levi. Dennis memberikan rumah itu kepada istrinya sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya.
"Jangan bercanda kau bocah!" bentak perempuan itu.
"Hm! Jadi anda tidak percaya padaku, hum? Baiklah! Sekarang kau lihat ini. Kau baca dan kau pahami sendiri." Adam memperlihatkan beberapa berkas kepada perempuan tersebut.
Perempuan itu melihat berkas-berkas itu. Membuka dan membacanya satu persatu. Berkas pertama masih milik Levi. Berkas kedua atas nama Nicolaas dan Vigo. Dan berkas ketiga atas nama Dirandra Adamka Abimanyu.
Setelah membaca semua isi berkas-berkas itu. Perempuan itu seketika terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.
"Bagaimana Nyonya? Sudah percaya? Kalau anda masih belum percaya. Aku bisa membawa masalah ini ke pengadilan. Dan setelah itu, kau dan suamimu akan mendapatkan hukuman yang berat karena telah merebut milikku."
Mendengar ucapan dari Adam membuat perempuan itu ketakutan. Tapi setelah beberapa menit kemudian. Rasa takut dari wajah perempuan itu hilang. Perempuan itu tiba-tiba berdiri dan memberikan tamparan keras di wajah Adam sehingga membuat wajah Adam berbekas dan sedikit terluka.
PLAAKK!
Perempuan itu menatap tajam Adam. "Aku tidak peduli. Sekarang ini aku dan suamiku pemilik rumah ini!" bentak perempuan itu.
Adam menatap nyalang perempuan itu. Dan tanpa diduga-duga. Adam mengangkat tangannya dan mengarahkannya ke leher perempuan itu.
"Aaakkhhh!" teriak perempuan itu karena merasakan sakit di bagian lehernya.
"Kau sudah salah bermain-main denganku, Nyonya!" Adam mencekik kuat leher perempuan itu sehingga membuat perempuan itu kesulitan bernafas.
"Le-pas." perempuan itu berbicara terbata-bata dan juga kesulitan bernafas.
"Ini adalah hukuman untukmu, sialan! Kau sudah berani menamparku," jawab Adam.
Adam yang fokus dengan istri Dennis. Sementara anggotanya sedang berkelahi dengan beberapa anak buahnya Dennis yang memang diperintahkan untuk menjaga rumah tersebut.
"Bos," panggil salah satu anggotanya.
Adam melirik ke samping. "Semua anak buahnya Dennis sudah kami bunuh semuanya. Bajingan itu hanya menempatkan sekitar dua puluh anak buahnya.
Mendengar ucapan dari anggotanya membuat Adam tersenyum bahagia.
"Kerja bagus."
Adam melepaskan cekikannya dan mendorong kuat tubuh perempuan itu.
BRUUKK!
Tubuh perempuan itu tersungkur di lantai. Perempuan itu meringis kesakitan.
"Buang semua mayat-mayat itu," ucap Adam. "Dan untuk perempuan itu. Sekap dia di markas Zelo agar aku bisa leluasa bermain dengan suaminya."
"Baik, Bos!"
Setelah mengatakan hal itu, Adam bersama lima belas anggotanya pergi ke Perusahaan Ayah angkatnya. Sepuluh anggota membereskan mayat-mayat dari anak buahnya Dennis. Dan lima anggota yang tersisa langsung membawa istri Dennis ke markas.