THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kerinduan Danish 2



Jam kuliah sudah selesai. Dan saat ini Danish, Ardi dan teman-temannya sudah berkumpul di halaman kampus.


"Rencananya aku ingin mengajak Adam untuk jalan-jalan bersamaku. Tapi..." ucapan Danish terhenti.


"Tapi kenapa, Danish?" tanya Arka.


"Tapi aku ragu untuk mengajaknya. Takut kalau Adam menolak ajakanku," jawab Danish lesu.


PLETAAKK!


Cakra memberikan satu jitakan di kening Danish.


"Kenapa kau menjitakku sialan," kesal Danish sembari mengelus keningnya.


"Kau itu mau mengajak adikmu jalan-jalan. Bukan mau berkencan, dodol." Cakra berucap kesal.


"Aku tahu badak. Justru itu yang membuatku takut. Ini pertama kalinya aku mengajak adikku pergi bersamaku. Ditambah lagi hubungan kami baru saja membaik. Bisa dikatakan hanya aku yang mengetahui kalau dia adalah adikku. Sedangkan Adam belum mengetahui masalah ini," sahut Danish.


"Sudah begini saja. Kita semua pulang tapi tidak benar-benar pulang. Biarkan Danish tetap berada di kampus. Ardi akan mengirim pesan pada Harsha untuk ikut rencana ini. Dan untuk Danish bersembunyilah. Nanti disaat Adam keluar dari kelasnya, selang beberapa menit kemudian baru Danish keluar dari persembunyiannya. Jadi seakan-akan Danish juga baru selesai kelasnya dan tak sengaja bertemu dengan Adam. Lalu kalian berdua sama-sama berjalan menuju halaman kampus." Arka memberikan ide dan saran kepada teman-temannya.


"Manfaatkanlah waktu buat bisa mengambil hati adikmu itu. Tawari dia pulang bersamamu. Kalau perlu ajak jalan-jalan dulu, seperti rencana awalmu tadi," kata Cakra.


"Baiklah," jawab Danish.


"Good Luck," ucap mereka bersama.


Mereka semua pun pergi meninggalkan Danish sendirian. Setelah kepergian saudara sepupunya dan teman-temannya. Danish pun memutuskan untuk bersembunyi.


Adam dan Harsha sudah selesai dengan materi kuliahnya. Mereka berdua tengah membereskan buku-buku mereka.


"Adam," panggil Harsha.


"Hm."


"Kakak dapat pesan dari Dekan. Dekan meminta kakak untuk menemaninya ke kampus Bina Sakti University. Nanti kalau kakak Ardi bertanya, katakan saja seperti itu," sahut Harsha.


"Baiklah."


"Kalau begitu kakak duluan ya." Harsha pun pergi meninggalkan Adam. Tapi sebelum pergi, Harsha menyempatkan mengecup kening Adam. "Berbahagialah bersama kakak kandungmu, Adam." Harsha berbicara di dalam hatinya.


Setelah kepergian Harsha. Tinggallah Adam sendiri. Setelah selesai memasuki semua buku-bukunya. Adam pun pergi meninggalkan kelasnya itu.


Adam berjalan menyelusuri koridor kampus. "Aish. Kenapa aku tidak melihat manusia-manusia berkeliaran di setiap koridor kampus ya? Apa mereka semua udah pada pulang? Apa hanya kelasku saja yang terlalu pintar sampai paling terakhir kelarnya?" Adam menggerutu sepanjang jalan.


Adam terus melangkahkan kakinya dengan bibir yang terus menggerutu. Dan tanpa sengaja, Adam menabrak seseorang.


BUGH!


BRUUKK!


Orang yang tak sengaja ditabraknya terjatuh dan juga kesakitan


"Maafkan aku," sahut Adam.


"Tidak apa-apa, Adam." orang yang ditabraknya itu menjawab.


"Danish!" seru Adam yang melihat orang yang ditabraknya.


"Hai," sapa Danish kikuk sembari melambaikan tangannya dan juga menahan sakit di pantatnya.


Tanpa mereka sadari, para sahabat dan sepupu mereka tengah tertawa melihat interaksi kedua kakak adik ini.


"Sabar Danish. Demi adikmu," kata Cakra.


"Berkorban sedikit juga ngak masalah. Toh demi adik sendiri," ucap Prana.


"Hahahahaha." mereka tertawa.


Adam membalikkan badannya dan berniat pergi meninggalkan Danish yang kesakitan. Saat ingin melangkah, Adam berpikir sejenak.


"Apa aku tidak keterlaluan? Danish jatuh gara-gara aku. Pasti saat ini dia sedang kesakitan," batin Adam.


Adam membalikkan badannya kembali untuk menatap wajah Danish. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Danish berdiri.


"Maafkan aku."


Danish melihat Adam yang mengulurkan tangan padanya. Tanpa buang kesempatan, Danish menerima uluran tangan dari adiknya itu.


"Tidak masalah. Lagian kau kan tidak sengaja?"


"Nah. Itu baru benar. Jangan main kabur aja," kata Gala.


"Itu tandanya sikelinci kita itu masih punya hati. Dia tidak mau meninggalkan orang yang sedang kesakitan. Apalagi penyebabnya dirinya sendiri," ujar Ardi.


Ardi mengirim sebuah pesan pada Danish.


FROM : Ardi


Ajak Adam makan. Makanan favoritnya Spaghetti dan minuman favoritnya banana milk. Aku jamin pasti dia akan senang.


Adam dan Danish berjalan menuju halaman kampus.


TING!


Sebuah pesan masuk ke ponsel Danish.


To : Ardi


Ajak Adam makan. Makanan favoritnya Spaghetti dan minuman favoritnya banana milk. Aku jamin pasti dia akan senang.


Mereka telah sampai di halaman kampus. Tanpa menyadari adanya Danish di sampingnya, Adam mengedumel tak jelas.


"Aish. Kenapa sepi? Apa mereka sudah pulang? Kenapa kakak Ardi tidak menungguku?" gerutu Adam.


"Awas saja. Kalau sampai aku mengetahui kalian semua sengaja meninggalkanku sendiri disini. Selama satu bulan aku akan menjauhi kalian," kesal Adam.


Danish dan para hyungnya yang sedang bersembunyi bisa mendengar omelan dari Adam.


"Wah. Gaswat nih. Kalau sikelinci nakal itu benar-benar menjauhi kita selama satu bulan, dunia kita para kakak akan hancur," celetuk Sakha.


"Alah. Itu mah gampang. Tidak usah dipikirin. Tinggal kita sogok saja sikelinci itu dengan makanan, minuman kesukaannya. Beres!" Arka berseru semangat.


"Atau kalau perlu kita penuhi satu permintaan darinya," ujar Kenzie.


"Yang penting saat ini Danish harus berhasil pulang bersama dengan Adam. Masalah Adam bakal menjauhi kita selama satu bulan, itu urusan belakangan," sela Indra.


"Adam," panggil Danish.


"Ya."


"A-ku pulang denganmu?"


Danish mengangguk. "Kau mau kan? Aku tidak mau kau pulang sendirian, Dam."


Adam menatap mata Danish. Dapat dilihat olehnya, ketulusan dan kekhawatiran.


"Baiklah. Aku akan ikut pulang bersamamu," jawab Adam.


"Yes." Danish sangat bahagia bahwa adiknya mau pulang bersama dengan dirinya.


Adam melirik sekilas kearah Danish. Dapat dilihat Danish yang begitu bahagia bisa pulang bersama dengannya.


"Senyuman yang begitu manis," batin Adam dan Adam pun mengukir senyuman manis di bibirnya.


"Jangan senang dulu. Aku mau pulang bersamamu karena terpaksa. Dikarenakan siberuang kutub dan sialien bodoh itu meninggalkanku sendirian disini," ucap Adam yang sempat-sempat mengumpat kedua kakaknya itu.


"Hahahahaha." tawa mereka semua pecah saat mendengar ucapan frontal dari Adam untuk Ardi dan Harsha.


"Wah! Di, Sha. Julukan yang bagus sekali untuk kalian," ejek Kavi.


"Sikelinci nakal itu benar-benar pintar memberikan julukan untuk kalian berdua," sahut Rayan.


"Sialan kalian berdua," kesal Ardi dan Harsha bersamaan.


Adam dan Danish sudah berada di dalam mobil. Dan mobil tersebut pergi meninggalkan perkarangan Kampus.


Setelah kepergian dua kakak beradik itu. Keluarlah para pembuat ide. Mereka semua tersenyum bahagia melihat kedua kakak beradik itu pulang bersama.


"Yeeeaayyy! Rencana kita berhasil!" teriak mereka bahagia.


"Ya, sudah. Lebih baik kita pulang sekarang!" seru Cakra.


Dan mereka semua pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


***


Di perjalanan keduanya tampak hening. Tidak ada yang bersuara. Lalu Danish memutuskan untuk memulai obrolan terlebih dahulu.


"Adam."


"Hm."


"Sebelum kita pulang. Bagaimana kalau kita makan dulu?"


"Terserah kau saja."


Danish tersenyum. Dan Danish membawa mobilnya menuju sebuah cafe.


Lima belas menit kemudian mereka pun sampai di Cafe tersebut.


***


Mereka telah berada di dalam CAFE DE JAKARTA. Mereka duduk paling pojokan.


"Kau mau pesan apa, Dam?"


"Terserah. Apa saja yang penting enak dan bisa dimakan?"


Danish hanya tersenyum menanggapi jawaban dari adiknya itu. Lalu Danish memanggil pelayan.


"Pelayan," panggil Danish sembari melambaikan tangannya.


Dan pelayan itu pun datang. "Mau pesan apa, Tuan?"


"Saya pesan Spaghetti, Stik Daging, Banana Milk, Honey Citron Sparkling Iced Tea, Kepiting Saus, Royal Hot Chocolate, Frappuccino. Itu saja. Terima kasih."


"Baiklah, Tuan." pelayan tersebut berucap dan berlalu pergi meninggalkan Adam dan Danish.


"Kenapa kau mesannya banyak sekali?" tanya Adam.


"Tidak ada masalahkan?" jawab Danish santai.


"Lalu siapa yang akan menghabiskan semua pesanan itu?"


"Ya, tentu saja kau. Siapa lagi?"


"Aish. Kau pikir aku ini makannya banyak apa?" Adam mempoutkan bibirnya kesal.


Sedangkan Danish tersenyum gemas melihat bibir manyun adiknya itu.


Lima belas menit kemudian, pesanan pun datang. Saat Adam memperhatikan satu persatu jenis makanan dan minuman diatas meja. Matanya berbinar-binar dan terukir senyuman manis dibibirnya ketika melihat makanan dan minuman kesukaannya ada di atas meja tersebut. Danish yang melihat pemandangan indah itu pun tersenyum bahagia.


Adam mengambil minuman dan makanan kesukaannya yaitu banana milk dan Spaghetti.


"Ini untukku?" tanya Adam.


"Tentu," jawab Danish.


Tanpa ragu-ragu Adam langsung meneguk banana milk tersebut. Setelah itu baru Jungkook menyantap Spaghetti kesukaannya.


"Terima kasih," ucap Adam disela makannya.


"Sama-sama."


"Kakak bahagia bisa melihatmu seperti ini, Dam. Kakak menyayangimu," batin Danish.


"Adam," panggil Danish.


"Hm."


"Boleh tidak aku mengambil fotomu? Atau maukah kau foto berdua denganku?" tanya Danish.


Adam mengalihkan pandangannya melihat wajah Danish. Lalu terukir senyuman manis di bibir Adam.


"Tentu. Mari duduk di sampingku."


Danish pun berpindah duduk di samping adiknya. Dan mereka pun berfoto bersama dengan senyuman manis di bibir mereka masing-masing.


CIIISSS!


"Terima kasih, Adam." Danish berucap.


"Sama-sama," jawab Adam.


FLASBACK OFF