THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Benar-benar Mirip



Allan masih memegang kepalanya. Saat ini kepalanya benar-benar sakit.


"Kepalaku sa-sakit sekali?" lirih Allan.


Melihat Allan yang sedang kesakitan, membuat Lucky dan James tidak membuang-buang kesempatan. Mereka berdua langsung menyerang Allan dengan pukulan dan tendangan.


BUUGGH!


DUUAAGGHH!


"Aakkhh!" Allan terhuyung ke belakang dan terjatuh dengan posisi lutut kirinya menumpu pada tanah dan kaki kanannya berpijak dengan tangan menopang di atas lututnya serta tangan kirinya memegang perutnya yang terasa nyeri.


"CUIH! Brengsek! Dasar payah, pecundang. Beraninya menyerang orang yang sedang lengah," ejek Allan.


Allan ingin bangkit, tapi lagi-lagi kepalanya terasa begitu sakit.


"Serang!" teriak Lucky.


Donny dan Rocky menyerang Allan secara bersamaan.


BUUGGHH.. DUUAAGGHH..


"Aakkhh!" teriak Donny dan Rocky.


Mereka jatuh tersungkur di tanah dengan perut yang terlebih dahulu mendarat. Mereka mendapatkan serangan mendadak dari orang tak dikenal.


"Siapa kalian? Kenapa kalian ikut campur dalam urusan kami?" teriak Lucky.


"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas kami disini tidak suka melihat orang ditindas. Apalagi di depan kami," jawab Danish.


"Dasar cemen kalian semua. Beraninya cuma keroyokan. Kalau berani lawan satu-satu. Dan aku yakin kalian belum tentu bisa mengalahkannya!" teriak Ardi.


Yang menyerang Donny dan Rocky adalah Danish dan Ardi. Sedangkan yang lainnya berusaha menolong Allan.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Harsha lembut.


Sedangkan Allan hanya diam dan tidak berniat untuk menjawabnya. Allan saat ini mati-matian menahan rasa sakit di kepalanya.


"Awas, kalian! Tunggu pembalasan kami." Lucky mengacungkan jari tengahnya kearah Ardi dan Danish beserta yang lainnya.


"Oke! Dengan senang hati kami akan menunggunya!" teriak Cakra dengan mengibas-ngibaskan tangannya seraya menyuruh mereka pergi.


"Ayo, pergi!" mereka pun pergi meninggalkan Danish, Ardi dan yang lainnya.


Ardi, Danish dan Cakra membalikkan badan mereka untuk melihat kearah Allan yang saat ini bersama Harsha dan yang lainnya.


Harsha dan Gala membantu Allan untuk berdiri. Saat Allan ingin berdiri, dirinya merasakan sakit di perutnya.


"Aakkhh." Allan meringis kesakitan dan hal itu membuat Harsha dan yang lainnya khawatir.


"Lepas." Allan menarik kedua tangannya yang dipapah oleh Gala dan Harsha dengan kasar. "Aku bisa sendiri dan aku tidak butuh bantuan kalian. La-lagian aku tidak mengenali kalian dan aku tidak mau punya hutang budi dengan kalian."


Setelah itu, Allan melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kedua kelompok tersebut. Baru beberapa langkah Allan meninggalkan dua kelompok tersebut. Tubuh Allan ambruk dan tak sadarkan diri.


"Allan!" teriak mereka, lalu berlari menghampiri Allan yang tak sadarkan diri di tanah.


"Dasar keras kepala," gumam Ardi.


"Kita bawa ke ruang latihannya Adam saja," usul Harsha.


Mereka semua mengangguk tanda setuju. Dan kemudian mereka pun membawa Allan ke ruangan latihan Adam. Dan di ruangan itu juga tersedia alat-alat kesehatan.


Di tempat lain. Vigo yang kini tengah mencari keberadaan adiknya, Allan. Vigo sudah berulang kali menyusuri setiap koridor Kampus dan juga kantin bahkan perpustakaan, tapi keberadaan adiknya tak kunjung ditemukan.


"Kau dimana Allan," gumam Vigo yang sudah mulai khawatir.


Disaat Vigo sedang dalam keadaan pikiran yang kacau memikirkan keberadaan adiknya, tiba-tiba dirinya ditabrak oleh tujuh pemuda yang memang dasar suka membuat keributan di kampus. Ya! siapa lagi kalau bukan LION.


"Yak! Kau punya mata tidak, hah?! Kalau jalan pake mata, bukan pake dengkul!" bentak Lucky di depan Vigo.


"Maaf," jawab Vigo, lalu pergi meninggalkan kelompok LION.


"Sialan! Kau mau pergi begitu saja setelah menabrak kami, hah!" teriak James, lalu menendang punggung Vigo dengan kuat.


BUUGGHH...


"Aakkhh, sial!" tubuh Vigo terhuyung ke depan dan untungnya Vigo bisa menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


Vigo membalikkan badannya dan menatap tajam kelompok LION. "Brengsek. Apa mau kalian, hah?!"


"Kau harus melayani kami semua sebagai gantinya kau sudah menabrak kami," sahut Rocky.


"Jangan mengharapkan sesuatu yang belum tentu bisa kalian dapatkan," ejek Vigo.


"Bajingan. Serang dia!" teriak Lucky.


Kelompok LION memberikan pukulan dan tendangan secara bertubi-tubi kearah Vigo. Mereka menyerang Vigo tanpa ampun. Begitu juga dengan Vigo. Vigo dengang gesit selalu berhasil menghindar dari pukulan dan tendangan yang diberikan oleh kelompok LION. Vigo memberikan pukulan dan tendangan keras kepada kelompok LION secara bertubi-tubi.


BUUGGHH... DUUAAGGHH...


"Aakkhh!"


James dan Rogert tersungkur dan perutnya mendarat dengan sempurna di lantai koridor Kampus.


Saat Donny ingin menyerangnya, Vigo dengan sigap terlebih dahulu memberikan tendangan tepat pada perutnya.


DUUAAGG..


Donny jatuh dengan tidak elit. Punggung membentur dinding sehingga membuat Donny berteriak kesakitan.


"Aakkhh, sial!"


Vigo tersenyum menyeringai kearah Lucky dan Rocky. "Tinggal kalian berdua. Mau melanjutkan perkelahian ini?"


Saat Vigo dan Lucky ingin memberikan pukulan mereka masing-masing, terdengar suara seseorang berteriak.


"Vigo! Lucky!" Itu suara dari Dosen pembimbing mereka.


"Pak," sapa mereka bersamaan.


"Kalian semua ikut bapak ke ruangan. Sekarang!" teriak Dosen tersebut.


^^^


Saat ini Allan berada di ruangan latihan bersama Ardi, Harsha, Danish dan teman-teman yang lainnya. Keadaan Allan saat ini masih belum sadarkan diri.


Mereka semua menatap dan memperhatikan wajah Allan yang pucat. Allan sudah diperiksa oleh Dokter yang memang bekerja di Kampus tersebut.


"Ka-kakak," lirih Harsha.


"Ada apa, Sha?" tanya Ardi.


"Benar kata Kakek. Wajahnya benar-benar mirip Adam. Bahkan bisa dikatakan sangat sempurna. Apa benar dia, Adam? Apa benar dia Adam kita, kak?" tanya Harsha.


"Kakak berharap Sha! Kakak berharap Allan adalah Adam," sahut Ardi.


Mereka terus memperhatikan wajah Allan, terutama Ardi dan Harsha karena mereka yang selama ini dekat dengan Adam. Mulai Adam masih bayi sampai Adam tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Mereka memperhatikan secara detik seluruh wajah dan tubuh Allan.


"Bekas luka di pipi kirinya Allan sama dengan bekas luka di pipi kiri Adam karena luka itu, aku yang tak sengaja membuatnya. Tahi lalat di leher kirinya dan tahi lalat di bawah bibirnya juga sama dengan yang dimiliki Adam." Harsha menatap lekat wajah Allan. Harsha menangis.


Danish yang sedari tadi memperhatikan wajah Allan, tiba-tiba tangannya bergerak menyingkapi ke meja biru Allan ke atas. Tujuan Danish melakukan hal itu hanya ingin melihat luka yang ada di perut Allan.


"Apa yang kau lakukan, Danish?" tanya Cakra saat melihat tangan Danish ingin menyingkap ke meja Allan ke atas.


"Aku hanya ingin memastikan. Apakah Allan adalah Adam adikku?" jawab Danish.


"Apa hubungannya dengan kau ingin menyingkapi ke meja Allan?" tanya Prana bingung.


"Aku ingin melihat bekas luka di perutnya. Kalau di perutnya itu ada bekas luka. Berarti Allan adalah Adam, adikku! Tapi kalau luka itu tidak ada. Berarti Allan bukan Adam," jawab Danish.


"Bekas luka? Perut?" mereka berusaha mencerna perkataan Danish.


"Maksudmu... Bekas...!" ucapan mereka terhenti.


"Ya. Bekas luka yang aku buat saat aku menusuk perutnya Adam." Danish menganggukkan kepalanya.


Danish kembali menyingkapi ke meja Allan untuk memastikan bekas luka itu ada atau tidak.


Saat Danish berhasil menyingkapi ke meja Allan, lalu terdengar suara lenguhan dari bibir Allan. Reflek Danish menarik kembali tangannya dari ke meja Allan. Dan mereka semua fokus menatap wajah Allan, tanpa melihat bagian perut Allan yang sudah terekspos.


"Eeuugghh."


"Ach. Sial!" Danish mengumpat di dalam hatinya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka gagal melihat bekas luka tersebut.