
Setelah mengikuti dua materi kuliah. Dan setelah selesai memberikan materi kuliah kepada para mahasiswa dan mahasiswi. Baik Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya, Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya saat ini berada di kantin. Mereka memutuskan untuk makan siang bersama.
"Yak! Kalian kenapa duduk berdesakan disini?! Di dekat gue lagi! Cari bangku lain sana!" teriak Adam melengking sehingga membuat semua orang yang duduk di samping dan di hadapannya langsung menutup telinga masing-masing.
Bagaimana Adam tidak berteriak kencang? Secara Danish dan Vigo berebut ingin duduk di samping Adam. Secara bangku yang lain banyak yang kosong. Bahkan keduanya tidak ada yang mau mengalah. Dan berakhir terdengar suara indah dari Adam.
"Kakak Danish! Kakak Vigo! Berhenti atau aku yang akan pergi dari sini. Jika sampai aku pergi, maka kalian tidak akan bisa bertemu aku lagi!"
Seketika Danish dan Vigo berhenti untuk rebutan duduk di samping Adam. Keduanya menatap wajah Adam dengan wajah memelas.
"Jangan perlihatkan tampang menjijikkan kalian itu padaku. Bentuk apapun tampang kalian. Aku Dirandra Adamka Bimantara tak akan terluluhkan."
"Hahahaha!"
Seketika tawa para sepupunya, para sahabat-sahabatnya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Adam pecah ketika mendengar ucapan kejam Adam untuk Danish dan Vigo. Apalagi ketika melihat wajah syok keduanya.
"Biar adil dan nggak ada yang saling menatap cemburu dan saling mengumpat. Kalian duduk di tempat yang lain. Jangan duduk di dekatku," ucap Adam.
"Baiklah," jawab Danish dan Vigo dengan wajah pasrahnya.
Danish duduk di samping Ardi. Sementara Vigo duduk di samping Juna.
Sementara yang lainnya tersenyum geli melihat sikap patuh Vigo dan Danish. Apalagi melihat wajah keduanya. Benar-benar lucu.
"Keputusan yang sangat baik, Dam!" seru Nigel bersamaan dengan mengacungkan ibu jarinya kearah Adam.
Ketika mereka semua tengah menikmati makan siangnya sembari mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Sakha berbunyi menandakan panggilan masuk.
Mendengar bunyi ponselnya, Sakha langsung mengambil ponselnya yang kebetulan ada di hadapannya. Matanya melihat nama sang kakak tertuanya 'Sandy' di layar ponselnya.
"Kak Sandy," ucap Sakha.
Dan ucapannya itu didengar oleh sahabatnya dan yang lainnya. Mereka semua melihat kearah Sakha.
"Hallo, kak Sandy. Ada apa?"
"Hallo, Sakha. Kamu dimana?"
"Aku masih di kampus. Dua kelas lagi mater ngajarku. Kenapa kak?"
"Gini Sakha. Papi berulang kali menghubungi kakak. Ini kakak baru ngecek ponselnya kakak. Banyak panggilan dari Papi. Sepertinya kakak nggak bisa menghubungi balik Papi. Bisa nggak kamu yang hubungi Papi lalu tanyakan sama Papi kenapa menghubungi kakak. Nanti jika kamu sudah tahu permasalahannya. Kabari kakak secepatnya."
"Disatu sisi Kakak ingin menghubungi Papi dan berbicara lama-lama dengan Papi. Tapi disisi lain, Kakak lagi ada Meeting dengan sepuluh perusahaan. Kakak benar-benar sibuk hari ini. Sejujurnya hati kakak benar-benar khawatir terhadap Papi. Tidak biasa Papi menghubungi kakak sebanyak itu."
Mendengar ucapan demi ucapan sekaligus penjelasan dari kakak tertuanya itu membuat Sakha menjadi tidak tega. Apalagi ketika mendengar suara lirih sang kakak.
"Kakak tidak perlu khawatir, oke! Aku akan hubungi Papi dan bicara sama Papi."
"Hubungi sekarang ya Sakha. Setelah itu, kabari kakak. Biar cepat kirim pesan saja. Nanti setelah selesai, kakak bisa cek langsung."
"Baik, kak! Aku akan hubungi Papi sekarang. Setelah itu, aku akan kirim pesan sama kakak."
"Baiklah kalau begitu. Kakak tutup teleponnya."
Tutt..
Sandy langsung mematikan panggilannya setelah mengatakan itu kepada adik bungsunya.
Setelah berbicara dengan sang kakak. Sakha mencari nomor kontak ayahnya. Dirinya ingin segera menghubungi ayahnya agar kakaknya bisa tenang.
Setelah mendapatkan nomor kontak ayahnya, Sakha langsung menekan nomor tersebut. Dan terdengar nada panggilan di seberang telepon.
"Hallo, sayang!"
Seketika terukir senyuman manis di bibir Sakha ketika mendengar suara ayahnya.
"Papi dimana?"
"Papi sudah di kantor sayang. Kenapa?"
"Papi baik-baik saja kan?"
"Maksud kamu? Papi tidak mengerti."
"Barusan kakak Sandy menghubungiku. Katanya Papi berulang kali menghubungi kakak Sandy. Sementara kakak Sandy tidak menjawab panggilan Papi sama sekali. Kakak Sandy bilang padaku bahwa ponselnya dalam mode hening, jadi tidak mendengar panggilan dari Papi. Dan saat kakak Sandy menghubungiku, terdengar suara bergetar dan lirihnya kak Sandy. Kak Sandy mengkhawatirkan Papi."
Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari putra bungsunya membuat Rafan menjadi kepikiran putra sulungnya itu.
"Itu tadi jalan mobil Papi tiba-tiba berhenti. Ketika Papi hidupkan lagi, tidak bisa. Padahal Papi harus buru-buru ke bank untuk menyetor uang. Papi keluar dari dalam mobil dan tidak lupa mengunci mobilnya karena di dalam mobilnya banyak uang."
"Papi pergi bersama siapa? Jangan bilang kalau Papi pergi sendiri lagi."
Mendengar nada tak mengenakkan dari putra bungsunya membuat Rafan seketika gugup. Baik putra bungsunya itu maupun putra sulung dan putra keduanya itu selalu mengingatkan dirinya jika pergi ke bank dengan membawa uang banyak harus ada beberapa orang yang ikut.
Namun Rafan tidak mengindahkan peringatan dan perkataan dari ketiga putra-putranya itu. Dia tetap nekat pergi sendirian.
"Papi."
"Maafkan Papi sayang. Papi mengaku salah. Benar, Papi pergi sendirian ke bank dengan membawa banyak uang."
Mendengar pengakuan dan nada menyesal ayahnya membuat Sakha hanya bisa menghela nafas pasrahnya. Mau marah, tapi Sakha tidak tega. Bagaimana pun orang yang akan dia marahi adalah ayahnya sendiri.
"Pasti terjadi sesuatu sehingga Papi menghubungi kakak Sandy. Dan bukan kak Sandy saja, pasti Papi menghubungi kakak Tarra juga kan?"
"Iya, sayang. Papi menghubungi kedua kakak kamu. Papi menghubungi mereka untuk datang menjemput Papi."
"Lalu apa yang terjadi ketika Papi berusaha untuk menghubungi kakak Sandy dan kakak Tarra?"
"Ada empat laki-laki yang datang menghampiri Papi. Keempatnya menawarkan bantuan untuk menghidupkan mesin mobil Papi."
"Yakin hanya empat orang? Apa Papi tidak melihat mereka membawa beberapa orang lagi?"
"Maaf sayang. Papi hanya fokus sama empat orang itu saja."
Mendengar jawaban dari ayahnya membuat Sakha seketika geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya ayahnya itu hanya fokus pada empat orang itu.
"Jadi Papi nggak fokus sama keadaan sekitarnya, salah satunya jika ada seseorang yang berusaha mencongkel mobilnya Papi?"
"Tidak sayang."
Sakha memijit keningnya ketika mendengar jawaban dari ayahnya. Bisa-bisanya ayahnya ceroboh seperti itu.
"Apa yang terjadi selanjutnya?"
"Papi tidak tahu. Yang jelas keempat laki-laki itu terlihat bersungguh-sungguh ingin memperbaiki mesin mobilnya Papi. Tidak ada niatan buruk sama sekali. Namun beberapa detik kemudian, kelompok Vagos datang dan langsung menyerang keempat laki-laki itu."
"Kelompok Vagos?"
"Iya, nak! Awalnya yang datang hanya empat saja. Lalu beberapa detik kemudian, datang tiga lagi. Yang tiganya itu mengatakan kepada Papi bahwa tiga laki-laki yang sudah kabur akan ulah mereka sejak tadi berusaha untuk mencongkel mobil Papi. Sementara yang empatnya sebagai pengecoh."
"Disitulah letak kesalahan Papi. Papi terlalu sibuk dengan empat orang itu sehingga melupakan keadaan sekitarnya yang mana tanpa Papi ketahui mobil Papi sedang dirusaki oleh seseorang."
"Sakha," ucap Arka sembari mengusap lembut punggung Sakha.
"Maafkan Papi, Sakha! Papi mengaku salah. Lain kali Papi tidak akan pergi sendirian."
Mendengar ucapan maaf dari ayahnya membuat hati Sakha sakit dan sesak. Dirinya merasa bersalah karena terang-terangan menyalahkan ayahnya itu.
"Maafkan aku yang sudah memarahi dan menyalahkan Papi. Aku seperti ini karena aku sayang sama Papi. Untuk kelompok Vagos datang tepat waktu. Jika tidak, apa yang terjadi sama Papi. Bukan hanya uang Papi yang hilang, nyawa Papi juga bisa melayang."
"Iya, sayang! Papi mengerti. Sekali lagi maafkan Papi."
"Aku maafkan. Tapi jangan diulangi lagi. Aku tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Papi."
"Iya, sayang. Papi janji ini yang terakhir."
"Ya, sudah. Aku tutup teleponnya. Aku mau mengabari kakak Sandy. Aku tidak ingin membuat kakak Sandy khawatir akan Papi."
"Tidak usah sayang. Biarkan Papi saja yang menghubungi kakak kamu itu."
"Papi kirim pesan saja, karena kakak Sandy sedang ada rapat."
"Baiklah."
Setelah berbicara dengan ayahnya di telepon. Sakha pun langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan ayahnya.
"Seharusnya kamu tidak bicara seperti itu kepada ayah kamu. Kasihan Paman Rafan," ucap Arka.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin berbicara seperti itu kepada Papi. Tapi Papi ngeyel kalau dibilangin. Aku, kakak Sandy dan kakak Tarra sudah berulang kali bilang jika ingin ke Bank dengan membawa uang banyak. Jangan pergi sendirian. Bawa beberapa orang kepercayaan. Namun Papi tetap pergi sendirian."
Mendengar perkataan Sakha membuat mereka menjadi tak tega. Arka, Ardi, dan Kenzie dan Gala tahu bagaimana sifat Sakha. Sakha orangnya begitu menyayangi keluarganya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu terhadap anggota keluarganya