
"Hallo, mantan ibu tiri!" Adam menatap penuh amarah kearah Areta Dhira Kalyani.
DEG..
Dhira benar-benar terkejut ketika mendengar dan melihat Adam yang saat ini telah berdiri tak jauh dari hadapannya.
FLASHBACK ON
Areta Dhira Kalyani melihat kearah jam tangannya. Lalu dirinya tersenyum.
"Sebentar lagi," batin Dhira.
"Dhira. Aku mohon hentikan semua ini. Aku mencintaimu dan aku juga mencintai Utari. Kalian berdua sangat berharga dalam hidupku. Aku kembali pada Utari, bukan berarti aku tidak peduli lagi denganmu. Kita akan tetap bersama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dhira! Aku mohon lepaskan Adam. Dia tidak bersalah." Evan Hara Bimantara memohon pada Dhira.
"Tapi permainannya sudah dimulai, Van! Dan aku tidak bisa menghentikannya," jawab Dhira.
"Masih ada waktu tiga menit lagi dan istrimu ini bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan putramu sendiri. Tapi...!" perkataan Dhira terhenti.
"Tapi apa, Dhira?" tanya Evan.
"Aku tidak yakin kalau istrimu ini akan berhasil masuk ke dalam," jawab Dhira santai.
DEG..
Mereka semua terkejut mendengar penuturan Dhira.
"Kau tidak akan berhasil menyelamatkan putra kesayanganku, Utari!" batin Dhira.
"Aku akan melakukannya. Aku akan menyelamatkan putraku!" seru Utari.
"Baiklah. Silahkan masuk ke dalam gudang itu. Dan segera selamatkan putramu," sahut Dhira tersenyum.
Utari melangkahkan kakinya menuju ke arah gudang dimana putranya disekap. Sedangkan Dhira sudah mulai menghitung mundur.
3
2
1
DUUAAAARRRRR!
"ADAAAAMMM!" teriak histeris mereka.
Gudang tersebut meledak dengan ledakan yang amat dahsyat.
FLASHBACK OFF
"Ti-tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Bagaimana dia bisa selamat dari ledakan itu? Padahal saat itu dia dalam keadaan terikat," batin Dhira.
Adam tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat wajah terkejut dan juga wajah syok mantan ibu tirinya itu. Begitu juga dengan Danish. Danish menatap penuh kebencian kepada perempuan yang dulu pernah menjadi ibunya.
"Kenapa mantan ibu tiri? Apa kau kaget melihatku masih hidup, hum?" tanya Adam dengan nada mengejeknya.
Mendengar perkataan dari Adam membuat Dhira mengepalkan kuat kedua tangannya. Dhira menatap tajam kearah Adam. Sementara Danish menatap remeh Dhira dan kakak laki-lakinya.
Untuk yang lainnya sedang bertarung melawan tiga puluh anak buah Yohanes yang bertugas menjaga kediamannya.
"Hahahaha." Dhira tertawa. "Aku tidak menyangka jika kau bisa selamat dari ledakan itu Dirandra Adamka Bimantara," ucap Dhira.
"Aku juga tidak menyangka jika perempuan murahan sepertimu juga bisa selamat dari tembakkan yang diberikan oleh mantan ibu mertuamu itu," ejek Adam.
"Jaga ucapanmu brengsek! Jangan sebut adikku perempuan murahan!" bentak Yohanes.
"Terus aku mau menyebut apa untuk adikmu itu, hah?!" teriak Adam.
"Tapi menurut kakak nggak ada sebutan lebih bagus lagi selain perempuan murahan untuk perempuan seperti dia, Dam!" seru Danish menatap nyalang Dhira dan Yohanes.
"Brengsek!" bentak Yohanes.
Yohanes langsung berlari kearah Danish dan menyerangnya dengan pukulan dan tendangan. Danish yang mendapatkan pukulan dan tendangan dari Yohanes dengan semangatnya membalas setiap pukulan dan tendangan dari Yohanes.
Di luar rumah dimana Arka, Kenzie, Sakha, Gala, Ardi, Harsha, Rayan, Indra, Arya, Kavi dan kelompok Vagos yaitu Achilleo, Dante, Diego, Elio, Gino, Gavin dan Lino sedang bertarung melawan tiga puluh anak buahnya Woobin.
BUGH..
JLEB..
DUAGH..
SREETT..
KREETT..
Baik Ardi, Harsha dan yang lainnya menyerang para anak buahnya Yohanes secara membabi buta. Mereka memukul, menendang, mematahkan dan juga menggores-goreskan anggota tubuh para anak buahnya Yohanes dengan senjata tajam sehingga anggota tubuh mereka terpisah-pisah.
Danish dan Yohanes masih bertarung. Pertarungan kedua sama-sama seimbang. Namun, walaupun begitu. Yohanes berulang kali mendapatkan tendangan kuat dari Danish sehingga berulang kali juga memuntahkan darah segar dari mulutnya.
DUUAAGGHH..
Danish memberikan tendangan kuat tepat di perut Yohanes sehingga tubuh Yohanes terlempar dan membentur sebuah dinding dengan sangat kerasnya dan menimbulkan teriakan keras dari Yohanes.
BRUUKK..
"Uhuukk." darah keluar banyak dari mulut Yohanes.
"Kakak!" teriak Dhira ketika melihat kakak laki-laki dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
"Dhira, lari! Selamatkan dirimu!" teriak Yohanes.
"Tapi kak..."
"Lari Dhira. Jika kau selamat. Maka kau bisa membalaskan dendam untukku," ucap Yohanes lirih.
Adam yang mendengar perkataan dari Yohanes menatap dengan senyuman sinisnya. "Kalian berdua akan mati hari ini," batin Adam.
Dhira mundur beberapa langkah dan kemudian membalikkan badannya. Setelah itu, Dhira pun berlari menuju pintu samping.
Ketika Dhira hendak berlari, Adam langsung menembakkan empat peluru kearah Dhira dan tembakkannya itu mengenai punggung Dhira dan bahkan menembus jantung Dhira.
DOR.. DOR..
DOR.. DOR..
"Aaakkkhhh!" teriak Dhira.
BRUUKKK..
"Tidak! Dhira!" teriak Yohanes ketika melihat adik perempuannya tergeletak di lantai dengan darah yang keluar dari punggungnya.
Peluru yang ditembakkan oleh Adam bukan peluru biasa. Peluru itu sudah diisi dengan racun yang mematikan.
Adam memang sengaja meminta kepada Zelo untuk dibuatkan peluru khusus untuk membunuh Dhira. Adam tidak ingin kecolongan lagi seperti kejadian beberapa yang lalu dimana Dhira berhasil selamat dari tembakkan yang diberikan oleh sang Nenek.
Adam melangkahkan kakinya menghampiri tubuh Dhira. Setibanya didekat Dhira. Adam menendang tubuh Dhira sehingga membuat Dhira berteriak.
Adam menatap tajam Dhira. "Aku pastikan kali ini kau tidak akan bisa hidup lagi, Areta Dhira Kalyani!" Adam mengarahkan senjatanya tepat di dada kiri Dhira.
DOR.. DOR..
"Dua tembakan itu untuk perbuatanmu di masa lalu terhadapku." Adam menatap penuh dendam kepada Dhira.
DOR.. DOR..
Adam kembali menembakkan dua peluru di perut Dhira. "Itu untuk niatmu yang ingin membunuh kedua orang tuaku dengan menyuruh kelompok SCORPION menculik mereka."
Mendengar perkataan dari Adam membuat Yohanes dan Dhira terkejut. Mereka tidak menyangka jika rencananya diketahui oleh Adam.
Sedangkan Danish menatap penuh amarah Yohanes dan Dhira ketika mengetahui bahwa Dhira dan Yohanes berencana ingin menculik kedua orang tuanya, lalu membunuh keduanya.
Danish menendang kuat perut Yohanes sehingga membuat Yohanes berteriak.
DUUAAGGHH..
"Aakkkhhh!"
"Kalian benar-benar menjijikkan!" teriak Danish.
"Dan ini yang terakhir," ucap Adam dengan mengarahkan senjatanya tepat di kepala Dhira. "Ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, Areta Dhira Kalyani!"
DOR.. DOR..
Dua peluru menembus kepala Dhira. Adam tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Tubuh Dhira tergeletak tak bernyawa dengan bermandikan darah dan dengan sepuluh peluru yang bersarang di tubuhnya.
"Tidak! Dhira!" teriak Yohanes ketika melihat adik perempuannya sudah tidak bernyawa lagi.
"Brengsek. Kalian benar-benar iblis!" teriak Yohanes.
"Iblis melawan iblis. Bukankah itu sangat menarik. Kalian sudah menyusun rencana ini dengan sangat matang. So! Aku dan adikku hanya menggagalkan rencana kalian saja dan tidak lebih." Danish menjawab dengan santainya.
Diam-diam Yohanes melirik senjata yang di pegang oleh Danish. Dengan sisa-sisa tenaga, Yohanes menendang kuat kaki Danish sehingga membuat Danish terjatuh dan dengan sigap Yohanes merebut paksa senjata itu. Dan berhasil. Yohanes kemudian mengarahkan senjata itu kearah Danish.
"Kakak!" teriak Adam.
Yohanes menatap nyalang Danish. "Ucapkan selamat tinggal kepada adikmu, Danish! Setelah aku membunuhmu. Barulah aku akan mengirimkan adikmu untuk bertemu denganmu," ucap Yohanes.
"Silahkan jika itu maumu. Semoga kau tidak menyesal," ucap Danish.
"Aku tidak akan pernah menyesal. Kalian berdua harus mati," jawab Yohanes dengan bangganya.
Yohanes menekan pematik senjata yang ada di tangannya. Dan bersiap-siap untuk menembakkan peluru itu kearah Danish. Danish memejamkan matanya.
DOR..
BRUUKK..
Seketika Danish membuka kedua matanya. Dan sontak membuat Danish terkejut saat melihat tubuh adiknya sudah tergeletak di hadapannya dengan tembakkan tepat di dada kirinya.
"Tidak, Adam!" teriak Danish.
Danish meraih tubuh adiknya, lalu mengangkat kepala adiknya dan meletakkan di atas pahanya.
"A-adam... Hiks... Bangunlah." Danish menepuk pelan pipi adiknya itu.
"Hahahahaha. Bagaimana Danish? Sakit bukan kehilangan orang yang kita sayangi. Begitulah denganku. Adikmu telah membunuh adikku," ucap Yohanes.
Sementara Danish menangis menatap wajah pucat adiknya sambil tangannya menekan luka tersebut.
"Bodoh. Kau bodoh Adam. Hiks... Kenapa kau lakukan ini, hah?! Kenapa kau mengorbankan nyawamu untuk kakak." Danish menangis dengan memeluk tubuh adiknya.
Yohanes tersenyum bahagia melihat Danish menangis akan adiknya. "Bagaimana Danish? Kau sedih bukan karena melihat adikmu tak bernyawa lagi. Itulah yang aku rasakan saat ini dimana aku harus kehilangan adik perempuanku akibat ulah adikmu. Sekarang terimalah ajalmu."
Yohanes mengarahkan senjatanya tepat ke kepala Danish. Ketika Yohanes menekan pematiknya. Yohanes seketika terkejut. Senjatanya sama sekali tidak memiliki peluru lagi. Berulang kali Yohanes menekan, tapi tetap saja. Tidak ada peluru sama sekali.
"Kenapa? Kehabisan peluru, hum?" ejek Danish.
"Sial," umpat pelan Yohanes.
Yohanes membuang senjatanya itu, lalu beralih mengambil sesuatu. Dan seketika matanya menatap kearah sebuah pemukul bisbol yang terletak di sudut lemari hias tersebut.
Setelah mendapatkan pemukul bisbol tersebut. Yohanes kembali menghampiri Danish yang saat ini sudah tidak berdaya. Pergelangan kaki Danish terkilir akibat tendangan dari Yohanes.
"Matilah kau Danish!" teriak Yohanes dengan mengangkat pemukul bisbol itu ke atas.
Dan detik kemudian...
DOR.. DOR..
DOR.. DOR..
DOR.. DOR..
BRUUKKK..
Yohanes mendapatkan bertubi-tubi tembakkan dari Ardi, Harsha dan yang lainnya. Empat peluru menembus kepala dan jantung Yohanes.
Setelah itu, mereka berlari menghampiri Danish dan Adam. Mereka semua terkejut saat melihat wajah pucat Adam dan juga luka tembak di dada kiri Adam.
"Angkat Adam dan naikkan ke punggung kakak," pinta Arka.
Sakha, Gavin dan Dante mengangkat tubuh Adam dan meletakkannya di atas punggung Arka.
Setelah itu, mereka pun langsung pergi membawa Adam ke rumah sakit.
Sementara Diego dan Ardi membantu Danish untuk berdiri, lalu memapah keluar meninggalkan kediaman keluarga Kalyani.
"Maafkan aku, Di... Hiks. Aku gagal melindungi Adam," lirih Danish. Dan jangan lupa air matanya yang mengalir membasahi wajahnya.
"Tidak Danish. Kau tidak gagal. Semoga Adam baik-baik saja, oke!" Ardi berusaha untuk menenangkan Danish.