
Adam sudah berada di ruang kesehatan bersama kakak-kakaknya, para sahabat kakaknya dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka semua menatap khawatir Adam yang masih belum sadar. Mata itu masih tertutup rapat. Selang canula terpasang di hidungnya dan infus yang menancap di tangan kirinya. Bahkan wajahnya yang masih sedikit pucat.
Danish duduk di samping ranjang adiknya dengan tangannya mengusap-usap lembut kepala adiknya itu. Danish menangis karena harus melihat adiknya dalam keadaan tak baik-baik saja.
Sedangkan Ardi dan Vigo yang berdiri di sebelahnya secara bergantian mengusap memberikan ciuman di kening Adam. Mereka menangis melihat kondisi Adam saat ini.
Kavi yang berdiri di samping Danish langsung tangannya mengusap-usap punggungnya untuk sekedar menyalurkan rasa kepedulian dan rasa empatinya terhadap Danish.
Arka dan Crisan mengusap-usap bahu Ardi dan Vigo dengan tujuan memberikan ketenangan kepada Ardi dan Vigo. Mereka tahu dan yang lainnya juga tahu bagaimana rasa sayang Danish, Ardi dan Vigo terhadap Adam.
Baik sahabat-sahabat Danish, sahabat-sahabatnya Vigo, ketujuh sahabatnya Adam maupun Arka, Kenzie, Sakha dan Gala. Mereka semua menatap sedih Adam.
"Adam," lirih mereka semua.
Danish menatap sahabat-sahabatnya, sahabat-sahabatnya Vigo dan sahabat-sahabatnya Ardi. Danish ingin menanyakan mahasiswa-mahasiswa yang sudah menyerang Adam.
"Bagaimana dengan mereka? Apa kalian sudah membuat surat panggilan untuk mereka semua?" tanya Danish.
"Sudah. Mereka semua mendapatkan surat panggilan," jawab Prana.
"Bahkan kami mengancam jika besok orang tuanya tidak datang, kami melarang mereka untuk masuk kuliah!" ucap Nigel.
"Ancaman yang bagus," balas Danish dan Ardi bersamaan.
Ardi melihat kearah Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. Dia ingin menanyakan alasan Aziel dan kesembilan teman-temannya itu selalu mencari masalah dengan Adam.
"Melky dan kalian! Kakak mau nanya. Kenapa Aziel dan kesembilan teman-temannya itu selalu mencari masalah dengan kalian, terutama dengan Adam?"
"Awalnya kami tidak tahu. Tapi kedua kalinya mereka mengganggu kami. Dan pada akhirnya kami tahu alasan mereka selalu mengganggu kami, terutama Adam!" Zio menjawab pertanyaan dari Ardi.
"Apa alasan mereka mengganggu kalian dan Adam?" tanya Vigo.
"Ronny!" Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando menjawab bersamaan.
"Ronny!" seru Danish, Ardi, Vigo dan yang lainnya.
"Ronny adalah sepupu dari Aziel Dipta Karsha," sahut Gino.
"Jadi maksud kalian Aziel balas dendam atas apa yang terjadi terhadap Ronny, begitu?!" tanya Luis.
"Iya," jawab Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
"Lah terus itu si Kishan sama teman-temannya ada urusan apa sama Adam? Kenapa mereka juga ikut-ikutan menyerang Adam?" tanya Rayan.
"Tujuan mereka sama yaitu balas dendam. Dan Adam yang jadi korbannya," ucap Diego.
"Eh, tunggu dulu!" Carlo tiba-tiba bersuara. Dirinya berpikir sejenak.
Sementara sahabat-sahabatnya serta yang lainnya melihat kearah Carlo. Mereka semua penasaran apa yang akan dikatakan oleh Carlo.
"Aku ingat sekarang. Tadi Diego bilang bahwa mahasiswa yang bernama Kishan dan teman-temannya ingin balas dendam. Yang menjadi tumbalnya adalah Adam?"
"Iya, kak!" jawab Vando.
"Kishan dan teman-temannya itu adalah musuhnya Gala dan Harsha. Mereka selalu mencari masalah dengan Gala dan Harsha!" seru Carlo.
Mendengar perkataan dari Carlo membuat Ardi, Danish, Vigo dan yang lainnya terkejut.
"Kenapa mereka balas dendamnya sama Adam, sementara mereka bermusuhan dengan Harsha dan Gala?" tanya Vigo.
"Adam adalah adik sepupunya Harsha. Kishan sudah mengetahui bagaimana besarnya rasa sayang dan kepedulian Harsha terhadap Adam. Jadi, Kishan dan teman-temannya menggunakan Adam untuk balas dendam kepada Harsha sekaligus Gala. Kenapa Gala juga ikut di dalamnya? Karena Gala juga begitu menyayangi Adam." Carlo berucap sembari menjelaskan rencana Kishan dan teman-temannya.
Mendengar penjelasan dari Carlo membuat Danish, Ardi, Vigo dan yang lainnya menganggukkan kepalanya membenarkan apa yang dikatakan oleh Carlo.
"Setelah mereka menyerang Adam, kemungkinan mereka akan memanas-manasi Gala dan Harsha. Setelah itu, terjadilah perkelahian besar diantara mereka." ucap Carlo lagi.
Mendengar perkataan terakhir dari Carlo membuat Ardi, Danish, Vigo marah.
"Benar-benar brengsek mereka!"
Ketika mereka tengah membahas kelompok Aziel dan kelompok Kishan, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara igauan dari Adam.
"Ka-kakak."
"Adam!" panggil mereka semua.
Danish menggenggam tangan Adam dengan tatapan matanya menatap wajahnya.
Berlahan Adam membuka kedua matanya dan itu membuat Danish dan semuanya tersenyum bahagia.
Mata Adam kini sudah terbuka sempurna. Tatapan matanya menatap semua orang yang berdiri di hadapannya dengan menatap khawatir padanya.
"Aku dimana?" tanya Adam.
"Apa yang terjadi? Kenapa aku disini?"
"Aziel dan teman-temannya nyerang kamu," jawab Danish.
"Bukan hanya mereka saja. Kelompok yang selalu mencari masalah dengan Gala dan Harsha juga ikut menyerang kamu hingga aku kalah dan berakhir di ruangan ini," jawab Vigo.
"Terus bagaimana dengan mereka?" tanya Adam.
Seketika Danish, Ardi, Vigo dan sahabat-sahabatnya serta ketujuh sahabat-sahabatnya melongo tak percaya akan pertanyaan dari Adam.
Disini Adam yang kesakitan. Disini Adam yang dikeroyok, tapi kenapa justru Adam menanyakan kabar musuh-musuhnya.
Adam yang melihat wajah terkejut dan tak percaya akan pertanyaan darinya seketika tersenyum.
"Aku hanya nanya, bagaimana nasib mereka! Mati, hidup, sekarat atau bagaimana?"
Mendengar perkataan dari Adam seketika mereka tersenyum dengan tatapan matanya masih menatap wajah Adam.
"Kamu maunya mereka bagaimana, hum?" tanya Danish.
"Sekarat dengan kata lain koma di rumah sakit. Dengan begitu aku bisa sedikit tenang," jawab Adam.
Mendengar jawaban santai dan enteng dari Adam membuat mereka semua tersenyum sembari geleng-geleng kepala.
Melky tersenyum dengan matanya yang berkaca-kaca ketika melihat Adam. Dirinya ingin mengatakan sesuatu, tapi takut harinya terluka karena Adam melupakannya.
Sedangkan Adam yang kini menatap kearah Melky yang juga menatap dirinya seketika tersenyum. Adam tahu bahwa sahabatnya itu ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak berani karena memikirkan kondisinya.
"Kenapa lo lihat gue kayak gitu? Naksir lo ya, Tam?" tanya Adam sarkas.
Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Melky terkejut dan sekaligus bahagia. Di dalam hatinya Melky berkata 'Apa gue nggak salah dengar tadi'
"Dam."
"Apa? Lo suka sama gue. Ogah! Jijik gue sama lo."
Tes..
Seketika air mata Melky mengalir membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan dari Adam. Nangisnya Melky bukan karena perkataan Adam, melainkan Adam nya telah kembali padanya.
"Eh, lo kenapa? Tumben lo sensitif dengan perkataan gue sampai mewek gitu. Biasanya kan telinga lo tuh udah kebal mendengar ucapan-ucapan manis dari gue?" tanya Adam merasa bersalah.
Melky langsung menghapus air matanya. "Gue nangis karena bahagia."
Sementara Danish, Ardi, Vigo dan para sahabatnya serta keenam sahabatnya Adam tersenyum bahagia ketika melihat reaksi yang diberikan oleh Adam kepada Melky. Mereka semua berpikir bahwa ingatan Adam yang hilang itu sudah kembali.
Adam melihat kearah kakaknya yang duduk di samping kanannya yang kini tengah menatap dirinya sembari tersenyum.
"Ada apa?"
"Aku mau pulang, boleh? Perut aku sakit banget mau istirahat di rumah aja."
Danish tersenyum lalu mengacak-acak rambut adiknya itu gemas.
"Kalau kamu pulang. Yang jagain kamu di rumah siapa? Rumah sepi loh!"
Adam tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakaknya. Justru Adam melihat kearah ketujuh sahabat-sahabatnya itu.
"Tuh ada para oncom!" Adam menjawab perkataan dari kakaknya itu sambil menunjuk kearah Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. "Mereka akan jadi babu sehari gue di rumah."
Seketika Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Adam.
Sementara Adam yang melihat reaksi ketujuh sahabat-sahabatnya hanya memperlihatkan cengiran khasnya.
Adam kembali menatap wajah Danish kakaknya. "Boleh ya?"
"Baiklah."
"Izinkan mereka sekalian," ucap Adam sembari melihat kearah ketujuh sahabat-sahabatnya.
"Oke!"
"Eemm... Nanti jika sudah selesai urusannya di kampus atau nanti di kantor. Kakak Danish, kakak Ardi dan kakak Vigo ke rumah ya. Bawakan aku beberapa makanan dan minuman. "
"Siap pangeran!" jawab Danish, Ardi dan Vigo bersamaan.
"Kalian juga!" seru Adam menatap kearah Arka, Kenzie, Sakha, para sahabat-sahabatnya Vigo dan para sahabat-sahabatnya Danish.
"Siap!"