
Para anggota Rasky, para anggota Ricky dan para anggota Saga telah bersiap di posisi masing-masing dengan senjata di tangan. Sementara untuk kelompok Vagos dan kelompok Lilax sudah berada di dalam bersama anggota keluarga Bimantara, keluarga Abimanyu dan keluarga Palavi.
Untuk Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabat-sahabatnya serta ketujuh sahabat-sahabatnya Adam saat sudah bersiap siaga di luar.
"Kalian jangan lengah!" seru Saga.
"Baik!" jawab semuanya.
Ketika mereka semua sedang bersiap-siap, seketika mereka mendengar suara seseorang berbicara disertai dengan suara teriakan memasuki perkarangan luas kediaman Bimantara.
"Cari pemuda yang bernama Adam! Bunuh dia!" teriak pria itu.
Mendengar perkataan dan teriakan dari seseorang serta langkah kaki beberapa orang memasuki perkarangan luas kediaman Bimantara.
Saga, Ricky, Rasky, Danish, Ardi, Harsha, Vigo, ketujuh sahabat-sahabatnya Adam serta sahabat-sahabat para kakak-kakaknya berdiri menghadang kedatangan laki-laki yang mengincar nyawa Adam.
Seketika pria tersebut terkejut ketika melihat sosok keponakannya berdiri di hadapannya dengan tatapan mata yang tajam.
"Hallo, Paman Torrik! Apa kau merindukanku, hum?" tanya Saga dengan nada mengejeknya.
Laki-laki yang datang menyerang kediaman Bimantara adalah Torrik, Paman dari Saga.
Mendengar ucapan sekaligus wajah mengejek keponakannya itu membuat Torrik mengepal kuat tangannya.
"Apa Paman terkejut ketika melihatku ada disini, hum?"
"Diam kau anak sialan. Kau sama saja seperti ayahmu. Sama-sama brengsek!" teriak Torrik.
"Hahahaha." Saga seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari Torrik. "Apa Paman tidak salah bicara? Paman mengatakan bahwa aku dan Papi adalah pria brengsek. Yang brengsek itu adalah Paman. Tanpa berperasaan Paman tega membunuh suami dari adik perempuan Paman sendiri."
Torrik menatap tajam kearah Saga ketika mendengar ucapan dari Saga. Dirinya benar-benar marah akan sikap Saga yang tak patuh padanya selama ini.
Torrik melihat kearah anak buah bayarannya, lalu memberikan kode untuk menyerang orang-orang yang ada di hadapannya itu.
"Kalian! Serang mereka semua! Bunuh dan dan habisi semuanya!"
Mendapatkan peringkat tuannya, ke lima puluh anggota yang dibayarnya langsung menyerang Saga dan orang-orang yang berdiri di samping Saga.
Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian di halaman luas kediaman Evan Bimantara.
Bagh.. Bagh..
Bugh.. Bugh..
Duagh.. Duagh..
Duagh..
Tak butuh waktu lama, ke lima puluh anggota yang dibawa oleh Torrik terkapar tak berdaya di halaman luas kediaman Evan Bimantara.
Sementara Torry dan tangan kanannya terkejut ketika melihat semua orang-orang yang dibawa tewas seketika. Dan yang membuat Torrik serta tangan kanannya terkejut adalah ketika melihat beberapa orang bersenjata keluar dari persembunyiannya. Orang-orang itu adalah anggota dari Saga, anggota dari Rasky dan anggota dari Ricky.
Torrik dan tangan kanannya terkejut ketika melihat begitu banyak orang-orang berdiri di sekitarnya dengan senjata di tangan masing-masing.
Saga tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat keterkejutan Pamannya. Bagi Saga, inilah yang diinginkan oleh Saga. Melihat keterkejutan serta ketakutan dari Pamannya adalah sebuah kebahagiaan.
"Bagaimana Pamanku sayang? Suka tidak dengan kejutan dariku, hum?" tanya Saga dengan tersenyum menyeringai.
Mendengar ucapan sekaligus ejekan dari Saga membuat Torrik mengepal kuat dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Saga.
"Kau sudah salah menganggapku seorang bocah ingusan dan bocah lemah. Dulu ketika kau ingin membunuhku, itu semua hanya kebetulan saja. Karena pada saat kejadian itu, aku baru pulang dari sekolah. Sekarang sudah waktunya aku membalas kematian ayahku." Saga berucap dengan penuh penekanan dan penuh dendam.
"Dan aku akan menuntut balas atas kematian sahabatku bernama Ariel!" teriak seseorang melangkahkan kakinya menghampiri orang-orang yang ada di halaman luar rumah.
Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta para sahabatnya terkejut. Mereka semua melihat kearah asal suara. Dan mereka melihat Adam yang melangkahkan kakinya menuju halaman.
"Dam," panggil Danish, Ardi, Harsha, Vigo, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para sahabat kakak-kakaknya.
Sementara Adam tidak mempedulikan panggilan dari orang-orang terdekatnya. Tatapan matanya menatap tajam kearah Torrik Paman dari Saga.
Kini Adam sudah berdiri tepat di samping Saga yang mana Saga menatap penuh dendam kearah Pamannya.
Adam melirik sekilas kearah Saga yang ada di sampingnya. Begitu juga dengan Saga. Keduanya saling memberikan lirikan serta senyuman di sudut bibirnya. Sementara Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya menatap Adam dan Saga dengan tatapan khawatir dan juga takut. Khawatir jika terjadi sesuatu terhadap salah satunya serta takut ketika melihat tatapan mata Saga dan Adam. Tatapan mata keduanya tak biasa.
Setelah saling memberikan tatapan melalui mata masing-masing. Adam dan Saga kembali melihat kearah Torrik yang juga menatap mereka. Torrik hanya berdua dengan tangan kanannya. Semua anggota yang dibawanya sudah tewas ditangan anggota Ricky, anggota Rasky dan anggota Saga.
"Apa kau siap untuk membalaskan kematian ayahmu, saudara Saga?" tanya Adam dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Torrik.
"Sudah sejak dulu kesiapanku untuk melenyapkan bajingan ini dari muka bumi ini. Hanya saja aku saat itu masih berpikir bahwa dia adalah Pamanku, kakak laki-laki ibuku. Aku berusaha untuk menghormati. Namun nyatanya aku salah."
"Disaat aku berbaik hati memberikan umur panjang padanya. Justru dia ingin membunuhku ketika aku masih SMA dulu."
Saga berbicara dengan tatapan matanya menatap penuh amarah dan dendam kearah Torrik.
"Saat kejadian itu, kau dan kedua temanmu datang memberikan bantuan kepadaku dan Reres sehingga aku dan Reres selamat dari kematian," ucap Saga.
"Namun sayangnya, nyawa kamu harus digantikan dengan nyawa sahabatku Ariel dan gadisku Jasmine," ucap Adam dengan tak kalah menatap penuh dendam kepada Torrik.
Adam dan Saga mengepal kuat kedua tangannya disertai tatapan matanya yang penuh dendam. Keduanya ingin membunuh laki-laki yang berdiri di hadapannya itu.
"Kau siap Adam?"
"Aku sangat siap!"
Tanpa melihat orang-orang yang ada di belakangnya, Adam berucap sebagai tanda peringatan.
"Kalian semua minggirlah. Aku dan Saga yang akan melawan laki-laki tua ini," ucap Adam.
Setelah mengatakan itu, Saga dan Adam kemudian melangkah mendekati Torrik sehingga membuat semuanya khawatir dan juga takut terutama Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.
Melihat Saga dan Adam yang melangkah maju membuat tangan kanannya Torrik langsung memberikan perlawanan dengan menyerang Adam dan Saga.
Dengan gerakan cepat Adam langsung memberikan satu tendangan kuat tepat di perut sang tangan kanan Torrik.
Duagh..
Bruukkk..
"Aakkhhh!" teriak tangan kanannya Torrik akibat mendapatkan tendangan kuat di perutnya. Tubuhnya tersungkur di halaman luas kediaman Evan Bimantara.
Adam dan Saga menatap penuh amarah dan dendam kearah Torrik. Keduanya sudah sangat siap untuk membunuh laki-laki yang berdiri di hadapannya.
Tanpa aba-aba yang siap dari Torrik. Saga dan Adam langsung memberikan tendangan kuat di perutnya Torrik sehingga membuat tubuh Torrik terhuyung ke belakang dan terjatuh dengan lutut kanannya sebagai tumpuan di tanah serta tangan memegang perutnya.
"Sial. Tendangan mereka benar-benar kuat. Aku tidak menduga bahwa mereka memiliki kekuatan yang luar biasa," batin Torrik.
Torrik berdiri dari duduknya. Dia akan berjuang untuk melawan Adam dan Saga. Setelah dirinya sudah dalam keadaan berdiri, Torrik menatap marah kearah Adam dan Saga.
Dan detik kemudian, Torrik menyerang Adam dan Saga dan langsung dibalas oleh Adam dan Saga. Dan terjadilah pertarungan antara Saga dan Adam melawan Torrik.
Sementara Danish, Ardi, Harsha, Vigo, ketujuh sahabat-sahabatnya, para sahabat-sahabat kakaknya serta yang lainnya menatap pertarungan itu dimana Adam dan Saga begitu membabi-buta menyerang Torrik.
Mereka semua bahkan khawatir terhadap Adam dan Saga, terutama terhadap Adam. Bagaimana pun mereka tahu bagaimana kondisi Adam saat ini. Mereka semua berharap rasa sakit di kepala Adam tidak muncul disaat pertarungan itu.