
[Kota Surabaya]
Seorang pria paruh baya tengah duduk di kursi kebesarannya. Pria itu saat ini tengah memegang sebuah foto sepasang suami istri dan dua anak laki-lakinya. Pria paruh baya itu tersenyum menyeringai.
"Satu putramu sudah pergi untuk selamanya. Tersisa satu putramu lagi. Tunggu kejutan dariku Jordan," ucap pria paruh baya itu dengan tersenyum di sudut bibirnya sembari menatap foto keluarga.
"Aku akan menghancurkanmu. Sejauh apapun kau pergi untuk membawa putra bungsumu. Aku akan tetap mengejarmu. Aku tahu kau dan keluargamu sekarang berada. Jangan berpikir kau bisa lolos dari pengawasanku," ucap pria itu lagi.
Pria itu kemudian mengambil ponselnya yang ada di sampingnya. Setelah itu, pria tersebut menekan nomor seseorang bermaksud hendak menghubungi seseorang itu.
Klik..
Pria itu menekan tombol telepon berwarna hijau. Dan beberapa detik kemudian..
"Hallo, tuan!"
"Bagaimana? Apa kau sudah melakukan apa yang aku minta beberapa hari yang lalu?"
"Sudah, tuan! Sekarang ini putra bungsu tuan Jordan tengah ketakutan ketika aku mengatakan akan menyakiti sahabatnya yang ada di Jakarta jika dia tidak menuruti perintah dariku."
Mendengar jawaban dari tangan kanannya membuat pria itu seketika tersenyum penuh kemenangan.
"Apa kau yakin dia benar-benar ketakutan?"
"Benar tuan. Saat aku mengatakan hal itu kepadanya. Aku mengirimkan foto sahabatnya yang ada di Jakarta itu langsung padanya agar dia tahu bahwa saya tidak main-main. Dan saya juga meminta pada untuk tidak lagi berkomunikasi dengan sahabatnya itu. Dan dia langsung menurutinya."
"Bagus. Ini yang aku mau. Aku suka hasil kerjamu. Pantau terus keluarga, terutama putra bungsunya.
"Baik, tuan!"
Setelah selesai berbicara dengan tangan kanannya, pria itu pun langsung mematikan panggilannya.
***
Di kediaman Abimanyu tampak ramai dimana semua anggota keluarga baik itu keluarga Abimanyu yang sebagai tuan rumah maupun keluarga Bimantara dan keluarga Palavi berkumpul di ruang tengah.
Sementara Adam masih di dalam kamarnya. Utari, Celena dan Zaina sudah berulang kali berusaha membujuk Adam untuk keluar dari kamarnya, namun usaha mereka tidak membuahkan hasil apapun.
Semua anggota keluarga sudah mengetahui tentang Adam yang mengurung diri di dalam kamar karena Utari sudah menceritakannya.
"Bagaimana sekarang? Apa kita akan membicarakan Adam terus di kamarnya?" tanya Alex suami dari Zaina.
"Setidaknya kita harus berusaha untuk membujuk Adam untuk mau membukakan pintu kamarnya. Ingat! Adam itu baru pulih dari pasca komanya. Jangan sampai Adam jatuh sakit hanya karena terlalu lama mengurung diri di dalam kamar," ucap Alex sembari menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
Mendengar perkataan Alex mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dengan mereka berhasil membuka pintu kamar Adam atau berhasil membuat Adam mau membuka pintu kamarnya. Masalah Adam mau cerita itu urusan belakangan.
"Adam seperti ini karena mendapatkan telepon dari Melky!" seru Vigo tiba-tiba.
Mendengar seruan dari Vigo seketika semua anggota keluarga melihat kearah Vigo termasuk Celena dan Nicolaas. Mereka semua tidak mengerti ucapan Vigo.
"Ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?" tanya Celena.
"Ardi!"
"Harsha!"
Davan dan Bagas memanggil putranya masing-masing.
Mendengar panggilan dari para ayahnya seketika Ardi dan Harsha langsung melihat kearah ayahnya masing-masing.
"Iya, Pa!" Ardi dan Harsha menjawab bersamaan.
"Apa kalian tahu sesuatu?" tanya Bagas.
"Tolong ceritakan," sahut Davan.
Evan melihat kearah putra keduanya yang saat ini hanya diam sembari menyimak pembicaraan anggota keluarganya.
"Danish, apa kamu juga mengetahui sesuatu yang menyebabkan adikmu mengurung diri di dalam kamarnya?"
"Tolonglah! Jika kalian tahu sesuatu tentang masalah Adam kasih tahu kami," sahut Dzaky.
"Apa kalian mau Adam masuk rumah sakit lagi karena memikirkan masalahnya sendirian?" sahut Juan.
"Dan jelaskan apa yang dimaksud oleh Vigo barusan?" tanya Garry.
Ardi, Harsha, Danish dan Vigo saling memberikan tatapan matanya. Setelah itu, mereka kembali menatap satu persatu anggota keluarganya yang saat ini menatapnya.
"Adam mendapatkan panggilan dari Melky. Tapi...." Ardi seketika menghentikan perkataannya karena tidak sanggup untuk melanjutkannya.
"Tapi apa Ardi? tanya Bagas.
"Ketika Melky menghubungi Adam. Melky meminta pada Adam untuk tidak menghubungi dia lagi," jawab Ardi.
"Bahkan Melky mengatakan kepada Adam bahwa dia tidak ingin berhubungan lagi dengan Adam," ucap Harsha meneruskan perkataan Ardi.
Deg..
Mendengar jawaban dari Ardi dan Harsha membuat mereka semua terkejut. Mereka tidak menyangka jika Melky akan berbicara seperti itu terhadap Adam. Padahal selama ini yang mereka tahu Melky begitu menyayangi Adam.
"Apa kalian yakin jika itu suara Melky?" tanya Nicolaas.
"Kita tidak mendengarnya langsung!" seru Danish, Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.
"Lah, terus kalian tahu dari mana masalah ini?" tanya Reza.
"Dari keenam sahabatnya Adam yang dari Amerika itu," jawab Danish.
"Bahkan mereka ikut mendengarkan apa yang diucapkan oleh Melky," sahut Vigo.
Mereka semua terdiam ketika mendengar ucapan demi ucapan sekaligus jawaban dari Danish, Ardi, Harsha dan Vigo tentang perkataan Melky untuk Adam. Sejujurnya mereka tidak percaya jika Melky mengatakan itu kepada Adam terutama keluarga Abimanyu.
Ketika mereka sedang membahas masalah Adam, tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki seseorang menuruni anak tangga.
Mereka semua dengan kompaknya langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat bahwa Adam yang telah dalam keadaan rapi lengkap dengan ransel di punggungnya.
Seketika mereka semua terkejut atas apa yang mereka lihat. Di dalam hati mereka masing-masing berkata, "Apakah Adam mau pergi? Mau pergi kemana?"
"Adam," panggil Utari dan Evan bersamaan.
Namun Adam tak mengindahkan panggilan dari kedua orang tuanya itu. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Melky... Melky dan Melky. Dirinya ingin mencari tahu apa penyebab Melky berkata seperti kepada dirinya.
"Adam!"
Kini semuanya ikut memanggil Adam. Bahkan suara mereka menggema di ruang tengah karena mereka semua berteriak memanggil Adam.
Sama saja, Adam tetaplah Adam. Dirinya terus melangkah menuju pintu utama.
Srekk..
Danish dan Vigo berhasil menangkap Adam dengan cara Danish yang berhasil mencekal pergelangan tangan Adam. Sedangkan Vigo yang menarik tas yang ada di punggung Adam sehingga membuat tubuh Adam tertarik ke belakang.
Setelah itu, Danish dan Vigo sedikit bergeser ke depan dan berdiri di hadapan Adam.
Ardi dan Harsha berdiri dari duduknya dan bergabung dengan Vigo dan Danish.
"Mau kemana? Kabur? Apa begini cara menghadapi masalah?" tanya Danish dengan tatapan matanya menatap wajah adiknya yang tanpa ekspresi sama sekali.
"Kakak sudah tahu apa yang membuat kamu seperti ini. Kakak sangat paham. Paham sekali Adam!" seru Vigo.
"Tapi tidak begini caranya. Dengan kamu pergi. Masalah tidak akan selesai," ucap Vigo lagi.
Baik Danish maupun Vigo menatap sedih wajah adiknya. Hati mereka kembali sakit jika sudah menatap wajah Adam jika sedang sedih.
"Dam," panggil Harsha yang langsung mengusap lembut pipi putih Adam. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Kamu tidak perlu pergi," ucap Harsha.
Adam menatap satu persatu wajah keempat kakak-kakaknya dengan tatapan dingin dan datar.
"Apa sudah selesai ngomongnya? Jika sudah tidak ada lagi. Biarkan aku pergi."
Deg..
Mereka terkejut ketika mendengar ucapan dari Adam. Mereka tidak menyangka jika Adam akan berbicara seperti itu. Bahkan tatapan matanya begitu tajam.
Bukan hanya Danish, Ardi, Harsha dan Vigo saja yang terkejut. Semua anggota keluarganya juga terkejut.
"Adam," lirih Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.
"Minggir!"
Adam mendorong tubuh Danish dan Harsha yang memang saat ini menghalangi jalannya sehingga tubuh keduanya terhuyung ke belakang.
Setelah itu, Adam pulang langsung pergi begitu saja meninggalkan keempat kakak-kakaknya.
"Adam!" teriak Danish, Ardi, Harsha dan Vigo lalu mengejar Adam.
Srekk..
Danish kembali berhasil mencekal pergelangan tangan Adam. Dan kali ini Danish menggenggamnya kuat agar tidak terlepas lagi.
"Lepaskan!" bentak Adam.
Danish menatap lekat wajah adiknya terutama manik coklat adiknya itu. Terlihat kesedihan, kerinduan dan rasa takut disana.
"Kak....."
"Lepaskan tanganku Danelio Danish Bimantara!" teriak Adam.
Deg..
Semuanya terkejut ketika mendengar ucapan dari Adam yang menyebut nama kakaknya dengan disertai teriakannya. Terutama Danish! Danish seketika tersentak ketika mendengar ucapan dan teriak dari adiknya.
"Lepaskan aku!" teriak Adam.
Plak..
"Akh!"
"Danish!"
"Kak Danish!"
Semuanya berteriak ketika melihat Danish yang tiba-tiba menampar pipi Adam. Semua anggota keluarga berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah Adam, Danish, Ardi, Harsha dan Vigo.
Seketika air mata Adam jatuh membasahi wajahnya ketika merasakan sakit di pipinya akibat tamparan yang cukup keras dari kakaknya.
Sedangkan Danish langsung tersadar dari apa yang sudah dia lakukan terhadap adiknya. Tatapan matanya seketika menatap tangannya yang tadi habis digunakan untuk menampar pipi adiknya itu.
Danish kembali menatap wajah adiknya yang saat ini dalam keadaan menangis.
"Adam, ma-maafkan kakak. Kakak benar-benar tidak sengaja tadi," ucap Danish yang seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya.
"Aku benci kakak. Kakak sudah berani menamparku."
"Kakak nggak sengaja. Kakak benar-benar nggak sengaja. Kakak hanya ingin membuatmu sadar dan tidak jadi pergi."
Danish menangis ketika mengatakan hal itu di hadapan adiknya. Di dalam hatinya, Danish merutuki kebodohan karena tidak bisa menahan emosinya. Padahal dirinya sudah berjanji akan selalu sabar ketika menghadapi sifat keras kepala adiknya itu.
"Dam, kakak mohon. Jangan benci kakak. Dan jangan pergi. Tetaplah di rumah."
Grep..
Danish seketika langsung memeluk tubuh adiknya. Dan detik kemudian, terdengar isak tangis Danish ketika berhasil memeluk tubuh adiknya.
"Hiks.. Hiks.. Hiks."
Seketika tubuh Adam menegang ketika mendengar isakan dari kakaknya. Dan detik kemudian, Adam merasakan penyesalan karena sudah membuat kakaknya menangis karena dirinya.
Sementara anggota keluarganya ikut merasakan kesedihan ketika mendengar isakan Danish di pelukan Adam. Mereka semua yakin jika Danish menyesal telah menampar Adam. Dan mereka semua juga yakin bahwa saat ini Adam juga menyesal telah membuat kakaknya menangis.
"Ka-kakak," lirih Adam tiba-tiba.