THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Penyesalan Danish



Di sebuah kamar yang mewah terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik. Wanita tersebut menatap sebuah foto dimana foto tersebut adalah foto keluarga Evan bersama istri dan ketiga putra-putranya. Wanita itu sangat marah.


"Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu. Aku akan membunuh istrimu dan putra bungsumu itu, Evan! Kalau perlu aku akan menghancurkan kalian semua kalau aku tidak bisa memilikimu sepenuhnya."monolognya.


Wanita itu mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang. Panggilan tersambung..


"Halloo," jawab seorang pria di seberang telepon.


"Halloo. Aku ingin kau melakukan sesuatu untukku."


"Apa itu, Bos?"


"Kau pergi ke kampus dimana anak tiriku Danish berkuliah. Kau culik adiknya yang bernama Adam. Lalu kau bawa dia kesebuah gudang yang tak terpakai dan jauh dari jangkauan orang-orang."


"Baik Bos!"


"Kerjakan dengan baik dan rapi. Dan aku tidak mau menerima kegagalan. MENGERTI!"


"Siap, Bos."


Panggilan berakhir..


"Tunggu kejutan dariku, Evan!" batin Dhira dengan senyuman seringainya.


***


Adam sekarang ini berada di ruang latihan beladiri. Dia memilih tempat tersebut untuk menenangkan pikirannya yang benar-benar kacau. Dia benar-benar tidak tahu harus percaya dengan siapa? Sampai akhirnya


FLASBACK ON


(Pertengkaran Adam dan Ibunya)


"Papamu tidak menginginkan keberadaanmu. Dia tidak mengakuimu sebagai anak. Dia mengatakan kau adalah anak haram. Bahkan keluarganya. Nenekmu dan Bibimu, mereka membenci Mama dan juga dirimu. Mereka sudah mengusir kita berdua dari rumah mereka, karena Nenek dan Bibimu menganggap Mama wanita miskin yang sudah berani menikah dengan seorang pria kaya raya. Dan Mama tidak sebanding dengan mereka. Apa kau masih menginginkan pria brengsek itu menjadi papamu? Dan apa kau masih tetap menganggapnya sebagai papa untukmu?!" teriak Utari dan tubuh lemahnya merosot ke lantai.


(Pertemuan Adam dengan seorang perempuan di jalan)


"Begini Adam. Sebenarnya Ayahmu itu sudah bosan padamu ibumu. Saat ayahmu memiliki putra kedua ayahmu sudah bermain perempuan lain di belakang ibumu. Dengan kata lain selingkuh. Ayahmu selalu pulang malam dan selalu membentak ibumu. Setiap malam mereka bertengkar. Tapi ayahmu memiliki rencana agar bisa terlepas dari ibumu itu dan menjadikan ibumu pihak yang bersalah. Pada saat itu ibumu sedang mengandung dirimu dan ayahmu mengetahuinya. Ayahmu dibantu oleh Nenek dan bibimu membayar seseorang laki-laki untuk tidur dengan ibumu. Dan rencana ayahmu berhasil. Saat itu juga ayahmu mengusir ibumu dari mansion mewahnya tanpa mempedulikan bahwa ibumu sedang mengandung anaknya." wanita itu berbicara dengan senyuman di sudut bibirnya.


FLASBACK OFF


"Aarrgghhh!" teriak Adam. "Apa yang harus aku lakukan? Dan siapa yang harus aku percayai saat ini? Papaku, Mamaku atau perempuan itu?" tanya Adam pada dirinya sendiri.


"Hiks.. apa yang harus aku lakukan? Dan kenapa jadi begini? Apa aku memang ditakdirkan untuk selalu merasakan kesedihan? Apa aku tidak pantas untuk bahagia.. hiks?" Adam berbicara dengan isakannya yang keluar dari mulutnya. Adam membenamkan kepalanya di kedua lututnya.


"Siapa bilang? Kau pantas untuk bahagia. Dan kau pantas dan sangat pantas mendapatkannya, Adam," ucap Ardi, lalu menghampiri adiknya.


Ardi duduk di samping adiknya, lalu tangannya mengusap lembut rambutnya.


Tanpa Adam sadari. Geng Brainer, Geng Bruizer, Geng Vagos dan Geng Lilax datang ke ruang latihannya. Tujuan mereka ingin menghibur Adam karena mereka sangat khawatir terhadap kondisi Adam. Adam baru sembuh dari sakit paska pengeroyokan itu. Dan mereka tidak mau Adam kembali masuk ke rumah sakit lagi.


Adam mendongakkan kepalanya. Dapat mereka lihat wajah Adam yang sedikit pucat, mata yang sembab, hidung yang memerah. Hati mereka benar-benar sakit melihat wajah Adam, terutama Danish.


"Aku bingung kak. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang ini?" lirih Adam dan air matanya kembali jatuh.


Danish berjalan kearah Adam. Dan duduk di sampingnya. Tanpa ada rasa ragu dan dirinya tidak peduli akan amukan adiknya. Danish menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya.


"Kakak berjanji akan membuatmu bahagia. Kakak akan menggantikan semua kesedihanmu selama ini atas ulah mereka," ucap Danish, lalu Danish mengecup pucuk kepala adiknya.


Beberapa detik kemudian, terdengar dengkuran halus dari deru nafas adiknya yang menandakan bahwa adiknya sudah tertidur.


"Sepertinya Adan tertidur!" seru Arya.


"Biarkan saja Adam tidur. Mungkin dia lelah karena habis menangis. Ditambah lagi wajahnya sedikit pucat," ucap Cakra.


Danish dibantu oleh Ardi mengangkat tubuh Adam, lalu membaringkannya di sofa. Setelah membaringkan tubuh Adam di sofa. Danish membuka jacket miliknya, lalu menutupi tubuh Adam bagian atas. Mereka semua menatap wajah pucat Adam. Mereka sedih dan juga khawatir akan kondisi Adam saat ini.


"Adam dirawat di rumah sakit dan tidak sadarkan diri selama tiga hari setelah bertarung denganmu Danish. Setelah dia keluar dari rumah sakit. Saat itulah Adam mulai merasakan sakit di kepalanya. Aku sering mengamati gerak geriknya. Bahkan aku sering memperhatikan wajahnya. Wajahnya selalu pucat tidak biasanya. Tapi Adam tidak pernah mau bercerita," ucap Ardi menambahkan.


"Saat pertarungan terakhir kita waktu itu. Kau dan Adam seakan-akan seperti orang kesetanan. Ada aura saling membunuh terpancar dari wajah kalian berdua. Saat itu kalian hanya berpikir siapa diantara kalian yang akan mati? Atau bisa saja kalian berdua yang mati. Saat pertarungan kalian berdua, banyak kendala dan hambatan yang mengganggu kalian." Kavi berucap ketika mengingat kejadian pertarungan tersebut.


"Ya. Kau benar, Kavi. Saat pertarungan Adam dan Danish banyak kejadian aneh. Seperti cuaca yang tiba-tiba mendung dan berubah gelap. Disusul angin kencang dan hujan yang begitu lebat. Serta suara-suara petir yang amat dasyat," ucap Cakra.


"Seharusnya saat itu aku berhenti dan tidak melanjutkannya. Saat kejadian itu, mungkin Tuhan sudah memberikan teguran berupa angin kencang, hujan lebat dan suara petir. Tapi kami tetap melanjutkan pertarungan tersebut. Dan pada akhirnya Tuhan pun marah dan menunjukkan kekuasaannya untuk menghentikan pertarungan kami. Dan membuat tubuh kami terlempar kuat ke belakang. Dan berakhir di rumah sakit." Danish berbicara ketika mengingat kejadian perkelahian tersebut.


Arka menepuk pelan bahu Danish. "Sudahlah. Semuanya sudah terjadi. Dan sekarang kau sudah mengetahui kebenaran soal siapa musuhmu itu  sebenarnya, eoh!" ejek Arka sambil tersenyum.


"Aish. Apaan sih?" ucap Danish kesal sambil mendorong pelan tubuh Arka.


Detik kemudian mereka pun tertawa melihat tingkah Arka dan Danish.


"Hahahahah."


Saat mereka tertawa. Mereka dikejutkan dengan suara igauan dari Adam.


"Papa.. Papa." Adam mengigau.


Mereka menatap wajah Adam yang masih terlelap. Terukir senyuman dari wajah Danish.


"Danish. Sebaiknya kau hubungi papamu. Suruh papamu kesini!" seru Prana.


"Baiklah," jawab Danish.


Danish merogoh ponselnya di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Danish menekan nama kontak Ayahnya, lalu menekan nya.


Panggilan tersambung..


"Hallo, Danish. Ada apa sayang? Apa ada hal penting, hum?"


"Hallo, Pa. Papa ada dimana? Sibuk tidak?"


"Papa ada di Kantor. Tidak terlalu sibuk. Memangnya ada apa, sayang?"


"Bisa tidak papa ke kampus, sekarang?"


"Eeemmm! Ada apa, sayang? Kau tidak buat ulah lagikan?"


"Aish, Papa. Jadi Papa tidak percaya padaku kalau aku sudah menjadi anak yang baik."


"Hehehe. Papa bercanda, sayang. Baiklah, baiklah. Papa akan ke kampusmu sekarang."


"Terima kasih, Pa! Aku tunggu. Jangan lama-lama. Ini juga untuk papa, kok!"


"Iya. Ini papa langsung berangkat!"


"Ya, sudah pa. Aku tutup teleponnya!"


PIP!


***


Setelah menerima telepon dari putra keduanya. Perasaannya berubah jadi bahagia saat mendengar kata terakhir putranya itu 'Ini juga untuk papa, kok'.


"Untukku?" batin Evan.


"Ach, sudahlah. Aku harus segera ke kampus untuk menemui kedua putraku Danelio Danish Bimantara dan Dirandra Adamka Bimantara. Aku tidak mau membuat mereka menungguku." Evan monolog.


Evan pun langsung pergi meninggalkan ruang kerjanya dan menuju parkiran di lantai bawah. Dia harus bergegas menuju kampus putra-putra kesayangannya.


Dua puluh lima menit kemudian, Evan sudah sampai dikampus kedua putranya.