THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Membahas Masalah Kerjasama



"Sekarang katakan kepadaku. Kenapa aku disuruh pulang kesini? Padahal aku dan ketujuh sahabat-sahabat aku mau jalan-jalan sampai malam," ucap Adam seenaknya.


Mendengar pertanyaan dan melihat wajah tak mengenakkan dari Adam membuat mereka semua hanya bisa menghela nafas pasrahnya.


Tak..


Ardi yang kebetulan duduk di samping Adam langsung memberikan jitakan gratis di kepala Adam sehingga membuat Adam meringis sembari mengelus kepalanya itu.


"Yak, beruang kutub sialan! Kenapa kau menjitak kepalaku? Kalau aku amnesia untuk kedua kalinya, apa kau mau bertanggung jawab?" ucap dan tanya Adam kesal.


Adam menatap satu persatu wajah anggota keluarganya. Dapat Adam lihat bahwa anggota keluarganya saat ini tengah membahas sesuatu.


"Apa ada masalah?"


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat semuanya menatap kearah Adam. Dapat dilihat oleh mereka tatapan penuh harap.


"Ada yang bermain-main dengan perusahaan Papa dan Papa Davan, sayang!" seru Bagas.


Mendengar perkataan dari Bagas membuat Adam seketika terkejut. Begitu juga dengan Rafig, Ardi, Reza, Harsha dan Danish. Mereka sama terkejutnya dengan Adam kecuali Dzaky, Juan dan Garry yang sudah mengetahui masalah tersebut dari ayahnya/pamannya.


Adam menatap wajah ayahnya, kakak sulungnya, kakak angkatnya sekaligus kakak sepupunya yaitu Nicolaas dan Vigo.


"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa perusahaan kalian mengalami hal yang sama seperti Papa Bagas dan Papa Davan?" tanya Adam.


"Untuk saat ini masih aman, sayang!" jawab Evan.


"Begitu juga dengan perusahaan yang kakak pimpin, Dam! Semuanya masih aman." jawab Nicolaas dan diangguki oleh Vigo.


"Kalau Papa hampir kecolongan!" seru Alex dengan menatap wajah Adam, keponakannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Adam.


Alex tidak langsung menjawab pertanyaan dari Adam. Justru Alex membuka laptopnya, lalu menghidupkan.


Setelah laptop miliknya dalam keadaan hidup dan sudah dalam keadaan semua file email terbuka. Alex kemudian mendorong pelan laptop miliknya kearah Adam.


Adam yang melihat sang Paman mendorong laptop dengan mengarahkan layar laptop kearah dirinya seketika langsung berdiri dari duduknya dan berpindah duduk dekat kakak tertuanya yaitu Garry.


Adam mengambil laptop tersebut dan memangkunya.  Tatapan matanya menatap lekat pada beberapa email yang tertera di layar laptop tersebut.


Dan detik kemudian...


Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya ketika melihat dua nama perusahaan yang ingin mengincar perusahaan anggota keluarganya, termasuk perusahaan ayah dan perusahaan milik kakak tertuanya.


Melihat senyuman di bibir Adam membuat mereka semua meyakini bahwa Adam mengetahui sesuatu.


Setelah puas menatap layar laptop milik Alex sang Paman. Adam meletakkan kembali laptop tersebut di atas meja.


Adam menatap satu persatu wajah anggota keluarganya, dan berakhir menatap wajah ayahnya dan Pamannya.


"Apa perusahaan Papa menjalin hubungan kerja sama dengan perusahaan MD Advertising dan perusahaan MIKRO Advertising?" tanya Adam.


"Iya, sayang. Itu baru perencanaan. Dan besok lusa keputusannya," jawab Evan dengan menatap wajah putra bungsunya.


"Lalu Papa Alex, bagaimana?"


"Sama seperti Papa kamu, sayang!" jawab Alex dengan tatapan matanya menatap wajah Adam.


Adam menatap kearah Bagas dan Davan secara bergantian. "Papa Bagas dan Papa Davan bagaimana? Siapa orang yang sudah mengusik perusahaan kalian?"


"Yang mengusik perusahaan Papa dan Papa Davan adalah perusahaan JJ'AR Corp." Bagas menjawab pertanyaan dari Adam.


Mendengar jawaban dari pamannya membuat Adam tersenyum menyeringai dengan tangan kanannya mengepal.


"Apa yang dilakukan oleh bajingan itu terhadap perusahaan Papa dan Davan?" tanya Adam.


"Perusahaan itu telah menipu Papa dan Papa Bagas. Dia kabur setelah mendapatkan uang banyak dari perusahaan Papa dan juga dari perusahaan Papa Bagas," jawab Davan.


Mendengar jawaban dari Davan membuat semua anggota keluarga terkejut. Mereka tidak menyangka jika perusahaan JJ'AR Corp dengan keji berbuat seperti itu.


"Tindakan apa yang sudah Papa Bagas dan Papa Davan ambil setelah mengetahui masalah tersebut?" tanya Danish.


"Papa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh perusahaan itu terhadap perusahaan Papa dan perusahaan Papa Bagas," jawab Davan.


"Aku sarankan pada Papa Davan dan Papa Bagas. Percepat rencana itu. Rebut perusahaan JJ'AR Corp itu. Jadikan perusahaan itu menjadi milik kalian," pinta Adam.


"Lalu bagaimana dengan perusahaan Papa dan perusahaan Papa Davan, sayang?" tanya Utari.


Adam tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari ibunya. Adam mengerti dan sangat paham bagaimana sedihnya ibunya jika melihat kedua kakak laki-lakinya harus kehilangan perusahaannya tersebut.


"Mama tidak perlu khawatir akan hal itu. Putra Mama yang tampan ini sudah mengatur semuanya."


Mendengar jawaban dari putranya, apalagi ketika mendengar ucapan terakhir dari putranya itu membuat Utari tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.


"Dan satu lagi. Mama tidak lupakan siapa keluarga Abimanyu? Keluarga Abimanyu itu tidak kenal kata takut. Keluarga Abimanyu dilindungi pihak hukum. Jika ada yang berani mengusik keluarga Abimanyu, maka bersiap-siaplah mereka mendapatkan balasan dari kita."


"Mama mengerti sayang."


"Adam sayang," panggil Bagas.


Adam langsung melihat kearah Paman tertuanya itu. "Iya, Pa!"


"Kalau Papa boleh tahu. Tadi kamu bilang kalau kamu sudah mengatur semuanya. Apa maksudnya sayang? Papa dan Papa Davan belum mengatakan apapun kepada siapa pun. Dan hari inilah semuanya baru mengetahuinya," ucap dan tanya Bagas.


"Aku memang sudah tahu kalau perusahaan Papa dan perusahaan Papa Davan dalam masalah. Bahkan orang itu dan beberapa orang lainnya juga tengah mengincar perusahaan EVN Corp, perusahaan PLV Corp dan perusahaan LV Corp."


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Adam. Mereka tidak menyangka jika Adam mengetahui semua itu.


Ketika Alex hendak bertanya, tiba-tiba ponsel milik Bagas dan Davan berbunyi.


Drtt..


Drtt..


Bunyi panggilan masuk ke ponsel milik Bagas dan Davan. Baik Bagas maupun Davan langsung mengambil ponselnya.


Setelah itu, Bagas dan Davan melihat nama dari kepercayaan di perusahaannya. Baik Bagas maupun Davan sama-sama menjawab panggilan dari kepercayaan di perusahaannya.


"Hallo."


"...."


"Apa?"


"...."


"Benarkah?"


Seketika Bagas dan Davan membelalakkan matanya tak percaya atas informasi yang diberikan oleh kepercayaannya itu mengenai perusahaan miliknya. Orang kepercayaan di perusahaannya itu mengatakan bahwa perusahaannya dalam keadaan baik-baik saja, padahal sebelumnya dalam keadaan yang tak baik-baik saja.


"...."


"Kamu yakin?"


"...."


"Ya, kalau begitu. Terima kasih atas informasinya."


Selesai mengatakan itu, baik Bagas maupun Davan sama-sama mematikan panggilannya.


Bagas melihat kearah Davan. Begitu juga dengan Davan yang melihat wajah kakak laki-lakinya. Sedangkan anggota keluarganya menatap keduanya dengan tatapan bingung.


Bagas dan Davan menatap kearah Adam, lalu kemudian mereka berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Adam.


Melihat kedua pamannya menghampiri adiknya dan sepertinya ingin duduk di samping adiknya, Garry bergeser untuk memberikan salah satu Pamannya untuk duduk di samping adiknya itu. Sedangkan di samping adiknya sudah diisi dengan Pamannya yang lain.


Grep..


Sementara anggota keluarganya yang lain tersenyum gemas ketika melihat wajah Adam yang pasrah dan juga terkejut ketika mendapatkan pelukan mendadak dari kedua Pamannya.


Ardi dan Harsha saling memberikan tatapan mautnya. Mereka saling memberikan kode satu sama lainnya. Dan detik kemudian, terlintas satu ide untuk menjahili adik sepupunya itu.


"Papa! Yang putra kandung Papa itu aku. Kenapa Papa begitu bersemangat memeluk anak orang lain? Siluman kelinci pula!" seru Harsha.


"Aku sebagai anak kandung merasa tersisihkan oleh anak kelinci itu. Papa lebih sayang dan lebih peduli terhadap anak kelinci itu dari pada anak kandung Papa sendiri," sahut Ardi.


Mendengar ucapan demi ucapan dari kedua kakak sepupunya itu membuat Adam mendengus kesal. Kemudian Adam berusaha untuk melepaskan pelukan kedua Pamannya itu.


"Aish, Papa lepaskan! Tuh lihat anak-anaknya Papa menatapku seperti ingin memakanku hidup-hidup. Lebih baik Papa Bagas dan Papa Davan hampir mereka. Papa tidak mau kan jika terjadi perang saudara di rumah ini?"


Mendengar perkataan dari Adam membuat Bagas dan Davan tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Termasuk Ardi dan Harsha.


"Sekarang katakan pada Papa dan Papa Davan. Bagaimana cara kamu membobol sistem keamanan perusahaan lalu menggantinya dengan yang baru?" tanya Bagas sembari tersenyum.


"Disini yang tahu itu hanya Papa selaku pemilik perusahaan dan kakak kamu Juan. Begitu juga dengan Papa Bagas dan kakak kamu Dzaky," ucap Davan.


Baik Bagas maupun Davan menatap penuh penasaran akan keponakan manisnya ini.


Sementara untuk anggota keluarganya yang mendengar perkataan dari Davan dan Bagas juga terkejut. Mereka semua menatap kearah Adam untuk meminta jawaban sekaligus penjelasan.


Adam seketika memperlihatkan senyum manisnya di hadapan kedua pamannya itu sembari menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal.


"Ayolah, sayang!


"Sebelum aku menjawab pertanyaan Papa dan Papa Davan. Aku minta sama Papa dan Papa Alex untuk menghentikan kerja samanya dengan perusahaan MIKRO Advertising dan MD Advertising. Begitu juga dengan kalian jika kalian. Jika belum bekerja sama dengan dua perusahaan itu, sebaiknya hindari kedua perusahaan tersebut."


Mendengar perkataan dari Adam membuat Evan, Alex, Garry, Nicolaas dan yang lainnya langsung menganggukkan kepalanya.


"Bagaimana dengan perusahaan yang berasal dari Yogyakarta itu, sayang?" tanya Alex.


"Apa Papa mencurigai perusahaan itu?"


"Iya, sayang! Papa mencurigai perusahaan itu. Sepertinya dia sama seperti perusahaan JJ'AR Corp."


"Kalau begitu batalkan jika Papa sudah terlanjur membuat janji. Putuskan jika sudah terjalin kerjasama."


"Baiklah, sayang!"


Adam melihat kearah kedua orang tuanya. "Papa, Mama!"


"Ya, sayang!"


"Nginap disini malam ini ya."


Evan dan Utari seketika tersenyum ketika mendengar permintaan putra bungsunya itu.


"Sesuai keinginan kamu," jawab Utari dan Evan bersamaan.


"Ya, sudah kalau begitu. Aku mau ke kamar aku. Kamar aku masih ada kan? Kalian nggak jadikan kamar aku gudang kan?" tanya Adam menatap anggota keluarganya.


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat semua anggota keluarga Abimanyu tersenyum.


Setelah mengatakan itu, Adam beranjak dari duduknya. Namun ketika hendak berdiri dari duduknya, tiba-tiba Adam merasakan sakit di kepalanya sehingga tanpa sadar Adam mengerang kesakitan.


"Aakkhhh!" Adam meremat kuat rambutnya.


"Adam!" teriak mereka semua ketika mendengar erangan serta melihat Ada yang menarik rambutnya.


Mereka semua menghampiri Adam yang saat ini tengah kesakitan di bagian kepalanya. Mereka semua menangis melihat Adam yang kembali merasakan kesakitan, terutama Utari.


"Sayang, jangan ditarik rambutnya." Utari tidak bisa membendung lagi air matanya ketika putra bungsunya kesakitan.


"Adam, lepaskan rambutnya." Danish berucap sembari membantu ibunya untuk melepaskan tangan adiknya dari rambutnya. Begitu juga dengan Bagas.


Adam tidak mengindahkan perkataan dari ibu, kakaknya dan anggota keluarganya untuk melekatkan rambutnya. Saat ini yang dirasakan oleh Adam adalah sakit yang luar biasa di kepalanya.


Dan detik kemudian, Adam menjatuhkan kepalanya di pelukan Utari. Seketika kesadaran mengambil kesadarannya.


"Adam!"


Mereka semua berteriak ketika melihat Adam yang tak sadarkan diri.


"Lebih baik bawa Adam ke kamar. Lihatlah, wajah Adam pucat sekali!" seru Zaina.


"Angkat Adam dan naikkan ke punggung Papa," pinta Bagas yang kebetulan berada di dekat Adam.


Davan, Garry dan Danish berlahan mengangkat tubuh Adam lalu meletakkannya di atas punggung Bagas.


Setelah dipastikan aman, Bagas pun berdiri lalu membawa Adam menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


^^^


Semuanya sudah berada di kamar Adam. Dan Adam sudah dibaringkan di tempat tidur. Mereka menatap dengan tatapan sedih kearah Adam.


"Apa ini ada hubungannya dengan ingatan Adam," sahut Danish tiba-tiba.


Mendengar perkataan dari Danish membuat mereka semua menatap kearah Adam.


"Apa maksud kamu sayang?" tanya Evan.


"Ingatan Adam yang hilang itu sudah kembali," jawab Danish.


"Apa yang dikatakan oleh Danish benar. Ingatan Adam yang hilang itu sudah kembali. Apa kalian tidak menyadari hal itu ketika beberapa menit yang lalu berbicara dengan Adam ketika membahas perusahaan?" ucap dan tanya Ardi.


Mendengar perkataan dari Ardi seketika membuat mereka terkejut. Seketika mereka tersadar ketika berbicara dengan Adam saat membahas masalah perusahaan. Adam dengan mantapnya menyebut semua anggota keluarganya. Bagaimana Adam yang memanggil ayah kandungnya, Adam yang memanggil suami dari Zaina.


"Benar kata Ardi dan Danish. Putra bungsuku kembali ingat padaku. Terlihat jelas bagaimana dia berbicara padaku," ucap Evan.


"Aku juga seperti itu. Aku bahagia Adam sudah ingat padaku. Tidak seperti saat pertama kali bertemu," sahut Alex.


"Kenapa kita tidak menyadari bahwa ingatan Adam sudah kembali?" tanya Yodha dengan tatapan matanya menatap wajah cucu bungsunya itu.


"Bukan kita sengaja tidak menyadarinya Papa. Karena kita berpikir bahwa Adam baik-baik saja. Apalagi ketika melihat bagaimana Adam yang berbicara dengan kita semua, terutama kepada Evan dan Alex!" sahut Davan.


"Bukan kita saja yang tidak sadar bahwa ingatan sudah kembali. Adam sendiri saja juga tidak menyadari hal itu karena memang Adam berpikir dia baik-baik saja, walau kepalanya sering sakit!" Ardi berucap dengan tatapan matanya menatap wajah Adam.


Cklek..


Pintu kamar Adam dibuka seseorang. Semua anggota keluarga yang berada di dalam kamar Adam langsung melihat kearah orang tersebut.


"Nurman!"


"Paman!"


Nurman langsung melangkahkan kakinya menghampiri tempat tidur Adam. Tatapan matanya menatap kearah Adam yang wajahnya terlihat pucat.


Nurman mengambil alat kedokterannya dari dalam tas, lalu langsung memeriksa Adam.


Beberapa detik memeriksa Adam. Nurman memasukkan kembali alat kedokterannya itu ke dalam tasnya.


"Bagaimana Nurman? Putra bungsuku baik-baik saja kan?" tanya Evan.


Nurman tersenyum. "Semuanya baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Masalah sakit di kepala Adam itu karena ingatan tersebut belum kembali semua. Jika ingatan tersebut belum kembali semua, Adam akan terus merasakan sakit di kepalanya."


"Untuk mencegah agar sakit di kepalanya itu tidak kambuh. Atau dengan kata lain mengurangi rasa sakitnya. Buat Adam nyaman. Jangan buat Adam banyak pikiran."


"Baiklah, kami mengerti!"


"Ini resep obat dan vitamin untuk Adam. Tebuslah segera."


"Baik, Paman!" Garry mengambil resep obat tersebut.


Setelah selesai dengan urusannya, Nurman pun pamit untuk kembali ke rumah sakit.