
"Berani sekali kau menyakiti adikku. Siapa yang menyuruhmu, hah?!"
"Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau menyebutku sebagai adikmu? Setahuku, aku hanya anak tunggal dan Mama tidak pernah mengatakan apapun padaku apalagi membahas soal aku memiliki kakak. Apa masih ada kebohongan Mama yang belum terungkap?" batin Adam yang sekarang matanya tertuju pada ibunya seakan-akan meminta jawaban dari pertanyaannya.
Utari yang menyadari tatapan putra bungsunya, kembali menatapnya. "Ada apa, hum? Kenapa menatap Mama seperti itu?" tanya Utari.
Adam masih setia menatap ibunya dan tepat dimatanya. "Apa masih ada hal yang tidak aku ketahui, Ma?" tanya Adam.
"Apa maksudmu, sayang?" tanya Utari.
"Apa kebohongan Mama selama ini sudah terungkap semuanya? Apa masih ada lagi yang belum Mama ungkapkan padaku? Apa masih ada lagi yang Mama rahasiakan dariku?" tanya Adam yang masih setia memandangi wajah ibunya.
Utari hanya diam membeku. Dirinya tidak tahu harus menjawab apa? Dirinya benar-benar bingung saat ini.
"Ma, jawab! Jangan diam saja," pinta Adam memohon. Sedangkan Adam masih diam membisu.
"Baiklah. Kalau Mama tidak mau menjawab pertanyaanku. Aku sendiri yang akan mencari tahu. Tapi ingat! Kalau sampai aku mengetahui Mama masih menyimpan rahasia dariku dan aku mengetahui rahasia tersebut. Aku tidak akan pernah sudi memaafkan Mama maupun suami Mama yang bejat itu. Aku akan benar-benar pergi dari kehidupan Mama dan kalian semua untuk selamanya. Dimana kalian semua tidak akan pernah bisa lagi menggapainya!" bentak Adam.
DEG!
Mereka sungguh terkejut mendengar ucapan Adan. Mereka benar-benar takut atas ucapan Adan.
"Sayang. Jangan bicara seperti itu. Jangan pernah meninggalkan Mama. Mama tidak sanggup dan tidak bisa kehilanganmu," tutur Utari yang sudah menangis.
"Mama yang membuatku seperti ini. Bertahun-tahun Mama membohongiku tentang Papa. Mama mengatakan kalau Papa sudah lama meninggal. Tapi pada akhirnya Mama mengakuinya kalau Papa masih hidup. Mama tahu? Apa yang aku rasakan saat Mama mengatakan kalau Papa masih hidup? Aku bahagia, Ma! Aku sangat bahagia. Berarti statusku sama seperti kak Ardi dan kak Harsha yang sama-sama memiliki seorang Papa. Tapi apa yang mama lakukan padaku. Disaat itu juga Mama mengatakan bahwa Papa tidak menginginkanku, Papa membuangku, Papa tidak mau mengakuinya dan Papa mengatakan bahwa aku anak haramnya Mama dengan selingkuhan Mama itu. Mama sudah membuatku terbang saat mendengar Papa masih hidup. Tapi Mama membuatku terjatuh saat mengatakan kebejatan Papa padaku," tutur Adam yang sudah menangis.
"Maafkan, Mama," ucap Utari yang juga menangis.
"Bukan kata maaf yang aku inginkan saat ini, Ma! Yang aku inginkan Mama jujur padaku. Jangan ada rahasia lagi. Aku sudah lelah dengan sikap Mama yang selalu membohongiku. Katakan padaku, apa aku memiliki saudara atau aku hanya anak tunggal didalam keluarga?" tanya Adan dengan nada tingginya.
Semua makhluk yang ada di ruang itu hanya bisa diam melihat kemarahan dan kekecewaan Adam pada ibunya. Lalu Yodha, sang kakek mendekati ranjang cucu kesayangannya.
"Adan," panggil Yodha lembut.
Adan menolehkan wajahnya kearah Kakeknya dengan mata yang memerah karena menangis.
"Apa kau yakin ingin mengetahui satu rahasia lagi yang belum kau ketahui dari mamamu?" tanya Yodha pada cucunya.
Adan mengangguk sebagai jawabannya. Dia benar-benar ingin mengetahuinya. Dirinya sudah lelah dengan semua ini.
"Tapi kau harus berjanji pada kakek. Apapun yang kakek katakan nanti. Kakek minta padamu untuk mau menerima semuanya. Kakek tidak mau ada kebencian dalam dirimu," ucap Yodha berharap.
"Akan aku usahakan," jawab Adam.
Yodha hanya tersenyum mendengar jawaban dari cucunya. Lalu Yodha berdiri tepat diantara Evan, Garry dan Danish.
Adam melihat Kakeknya yang berdiri diantara Evan, Garry dan Danish.
"Adam. Mereka ini adalah keluargamu. Ini Evan, Papa kandungmu. Ini Garry, kakak sulungmu dan ini Danish, kakak keduamu. Dan kau adalah putra bungsu dari Papamu." Yodha berbicara sambil menatap wajah cucunya.
Adan masih menatap ketiga wajah-wajah laki-laki yang berdiri di depannya. Sedangkan Utari menatap putra bungsunya takut. Takut akan kemarahannya, takut akan kekecewaannya dan takut kehilangan putra bungsunya. Tak terkecuali anggota keluarganya yang lain. Seperti Paman, Bibi dan sepupu-sepupunya. Mereka tahu bagaimana watak dan keras kepala seorang Dirandra Adamka Abimanyu?
"Adam," panggil Evan.
Adam hanya diam dan tidak menunjukkan reaksi apapun.
"Ini Papa, nak! Papa kandungmu. Kau boleh marah pada Papa. Kau boleh memukul Papa. Kau boleh menampar Papa. Kau boleh melakukan apa saja pada Papa. Tapi.. tapi jangan pernah membenci Papa. Jangan pernah menjauhi Papa. Berikan kesempatan pada Papa untuk menebus semuanya." Evan berbicara sambil menatap wajah tampan putra bungsunya. Dan jangan lupakan air matanya yang sudah jatuh membasahi wajahnya.
Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Adam. Adam memilih diam.
"Sa-sayang," panggil Utari.
"Aku mau pulang," ucap Adam.
"Tapi kau masih sakit, Dam," kata Harsha.
"Aku mau pulang sekarang!" ucap Adam lagi.
"Baiklah. Paman akan bicara pada dokter dulu!" seru Davan, lalu pergi meninggalkan ruang rawat Adam .
"Adam. Apa kau serius mau pulang?" tanya Ardi.
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, kak." Adam berucap dengan ketus.
"Tapi kau baru saja masuk rumah sakit, Adam dan kau belum ada dua jam dirawat! Kondisimu masih lemah," kata Juan.
"Aku tidak peduli. Mati sekalipun aku rela," jawab Adam tanpa mempedulikan tatapan keluarganya.
"Adan. Jaga ucapanmu. Ucapan itu doa asal kau tahu!" bentak Dzaky.
CKLEK!
Pintu ruang rawat Adam di buka. Dan masuklah Davan.
"Bagaimana?" tanya Bagas pada adiknya.
"Adam diizinkan pulang. Dengan syarat Adam harus istirahat selama satu minggu!" tutur Davan.
"Bagaimana, Adam? Apa kau mau melakukannya?" tanya Bagas pada keponakannya yang keras kepala.
"Baik," jawab Adam singkat.
Mereka hanya bisa pasrah dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan Adam kalau sedang marah.
"Aku tidak akan pulang ke rumah. Aku akan pulang ke Apartemen Kakek dan tinggal sendiri disana dan aku tidak mau kalian menggangguku!" Adam berbicara dengan datar dan dingin.
"Ta-tapi sayang," Utari berubah panik.
"Mama dan kalian semua tidak perlu khawatir. Aku kesana hanya ingin menenangkan pikiranku. Aku pasti akan pulang lagi ke rumah," jawab Adam.
Lagi-lagi mereka hanya bisa pasrah. Sekeras apapun mereka memaksa. Seorang Dirandra Adamka Abimanyu tidak suka dengan pemaksaan. Dan mereka pun membantu Adam untuk bangun dari tempat tidurnya dan segera pergi meninggalkan rumah sakit sesuai keinginan Adam.