
Adam, Danish, Ardi dan Harsha sudah dalam perjalanan untuk menuju lokasi yang disebutkan oleh Dzaky. Keempatnya menggunakan mobil masing-masing agar lebih mudah menemukan keberadaan Dzaky.
Baik mobil Adam, mobil Danish maupun mobil milik Ardi dan Harsha mengitari di sekitar lokasi pertambangan. Bahkan mereka berbicara berbicara lewat video call dengan Ardi yang terhubung dengan kakaknya. Jadi apa yang dibicarakan oleh Ardi dan kakaknya bisa didengar oleh Adam, Danish dan Harsha.
Ketika mereka fokus mencari keberadaan Dzaky. Tatapan mata Adam melihat mobil milik Dzaky yang dalam keadaan berhenti di sebuah rumah kecil. Melihat itu, Adam langsung mengendarai mobilnya menuju mobil kakak sepupunya itu.
Setelah tiba di dekat mobil kakak sepupunya, Adam langsung keluar dari dalam mobilnya. Setibanya diluar, Adam melihat kearah mobil kakaknya dan seketika Adam terkejut bahwa kakaknya sudah tidak ada di dalam mobilnya.
"Kak Dzaky," lirih Adam.
Danish, Ardi dan Harsha yang masih mengitari Lo lokasi tersebut mencari keberadaan Dzaky seketika terkejut mendengar suara lirih dari Adam ketika menyebut nama Dzaky.
"Adam, kamu dengar kakak!" Ardi memanggil adik sepupunya.
"Adam." kini Danish yang memanggilnya.
"Dam," panggil Harsha.
Adam sama sekali tidak menjawab panggilan dari ketiga kakaknya itu dikarenakan earphone yang dikenakan oleh Adam terjatuh. Adam tak menyadari akan hal tersebut.
Earphone itu terjatuh disaat Adam menyebut nama Dzaky bersamaan tangannya yang mengusap wajahnya hingga menyentuh earphone di telinganya.
^^^
Adam berjalan mengitari lokasi pertambangan itu. Dia berharap bertemu dengan kakak sepupunya.
Ketika Adam sedang berjalan sambil melihat-lihat sekelilingnya, tatapan matanya melihat beberapa orang yang sedang bertarung. Adam berpikir apakah diantara orang-orang itu ada kakak sepupunya?
Setelah memikirkan hal tersebut, Adam langsung berlari menghampiri para orang-orang yang sedang bertarung itu.
Seketika Adam membelalakkan matanya ketika melihat kakak sepupunya yang terlihat kelelahan melawan para kelompok itu.
"Apa mereka yang dimaksud oleh kakak Dzaky?" batin Adam.
Adam melihat kesekitarnya. Dia berharap menemukan sesuatu untuk senjatanya. Karena Adam belum tentu bisa mengalahkan mereka semua yang jumlahnya lumayan banyak.
Seketika tatapan matanya terkunci di sebuah kayu balok. Adam tersenyum, lalu berjalan untuk mengambil kayu balok tersebut.
Setelah mendapatkan kayu balok itu, Adam langsung berlari dan memukul laki-laki berpakaian hitam itu dengan sangat brutal.
Bugh.. Bugh..
Bugh.. Duagh..
Bugh.. Bugh..
Bugh.. Duagh..
Adam memukul bahkan menendang orang-orang itu dengan sangat brutal dan membabi-buta. Dirinya tidak peduli orang-orang itu mau terluka parah, patah-patah tulang atau mati sekalian. Yang ada di pikirannya saat ini kakak sepupunya harus selamat.
"Kakak," panggil Adam.
Dzaky langsung melihat kearah seseorang yang memanggil namanya dengan sesekali Dzaky tetap fokus melawan orang-orang yang hendak menyakitinya.
"Adam."
"Apa kakak masih sanggup bertarung?"
"Masih, Dam!"
"Bagus kalau begitu. Ayo, kita habisi mereka semua!"
"Ayo!"
Dzaky dan Adam pun menyerahkan orang-orang berpakaian hitam itu dengan sangat brutal. Keduanya memberikan pukulan dan tendangan pada setiap tubuh orang-orang tersebut.
"Adam!"
"Kakak Dzaky"!
Terdengar suara panggilan dari beberapa orang sehingga membuat Adam dan Dzaky secara bersamaan melihat kesal suara tersebut. Adam dan Dzaky melihat kedatangan Ardi, Harsha, Danish dan Zelo bersama kelompok Kartel.
Duagh..
"Aakkhhh!"
Salas satu laki-laki berpakaian hitam itu memberikan tendangan tepat di perut Adam disaat Adam sedang lengah.
"Adam!" teriak mereka bersamaan.
Adam terduduk dengan lutut kanannya sebagai tumpuan di tanah dan tangan kanannya memegang perutnya.
Danish, Ardi, Harsha, Zelo dan kelompoknya langsung menyerang secara brutal orang-orang berpakaian hitam itu.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Sreekkk.. Kreekkk..
Jleb.. Duagh..
Baik Danish, Ardi, Harsha maupun Zelo dan kelompoknya menghajar orang-orang berpakaian hitam itu tanpa ampun hingga membuat sekitar 70 orang-orang berpakaian hitam itu tak sadarkan diri. Ada juga yang sudah tak bernyawa lagi.
Kini tersisa 30 orang. Semuanya dalam keadaan luka-luka dan babak belur akibat pukulan, tendangan, sayat-sayatan yang diberikan oleh kelompok Kartel.
"Adam." Danish berlari menghampiri adiknya yang masih memegang perutnya.
"Kita ke mobil ya. Kakak benar-benar mengkhawatirkan kamu," ucap Danish.
"Kalian pergi. Sisanya biar aku yang menyelesaikannya," sahut Zelo.
"Jangan sampai terluka. Kamu harus baik-baik saja. Begitu juga dengan anggota-anggota kamu," ucap Adam.
"Aku janji."
***
Duagh..
Seorang pria paruh baya baru saja memberikan satu tendangan kepada salah satu anak buahnya yang bertugas untuk menculik putra sulung dari Bagas Baureksa Abimanyu yaitu Dzaky Radhitya Abimanyu tidak membuahkan hasil sehingga membuat pria itu marah.
"Bodoh! Melakukan pekerjaan itu saja tidak bisa!"
"Maafkan saya, Bos! Sa-saya sudah berusaha untuk melakukan apa yang Bos perintahkan, namun pemuda itu sangat lihai sehingga kami tidak berhasil menyergapnya."
"Banyak alasan!"
Salah satu anggota yang menyerang Dzaky yang berstatus sebagai pimpinan pergi meninggalkan anggotanya bertujuan untuk memberitahu Bos nya. Pria itu pergi setelah menghubungi anggotanya yang lain untuk bergabung dengan anggotanya yang dia bawa agar bisa lebih mudah membawa Dzaky ke hadapan Bos nya.
Drrtt.. Drrtt..
Ponsel milik pria itu berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Pria itu mengambil ponselnya dan melihat nomor tak dikenal.
Pria itu langsung menjawab panggilan tak dia ketahui karena pria itu penasaran akan si penelepon.
"Hallo."
"Hallo, Bos! Maafkan kami. Kami gagal menangkap putra sulung tuan Bagas Baureksa Abimanyu!"
"Dasar bodoh kalian semuanya!"
"Maaf, Bos! Putra sulung dari tuan Bagas Baureksa Abimanyu itu ditolong oleh ketiga adik sepupunya dan kelompok Kartel."
Mendengar jawaban dari salah satu anggotanya di seberang telepon membuat pria itu terkejut. Dia tidak menyangka jika kelompok Kartel yang dikenal kejam bersedia membantu putra sulung dari Bagas Baureksa Abimanyu.
"Bagaimana dengan keadaan anggota-anggota kamu."
"Tidak selamat Bos! hanya tersisa sepuluh orang. Itu pun kami berhasil meloloskan diri dari kelompok itu."
"Kembalilah kalian."
"Baik, Bos."
Setelah mengatakan itu, pria itu langsung mematikan teleponnya. Dirinya saat ini benar-benar marah karena semua rencananya tidak ada yang berhasil.
Pertama, anak buahnya gagal untuk mencelakai putra bungsu dari Erina Utari Bimantara. Dan sekarang anak buahnya juga gagal menculik putra sulung dari Bagas Baureksa Abimanyu.
"Sial," umpat kekesalan pria itu.
***
Danish, Ardi, Harsha sudah berada di kediaman Abimanyu dengan membawa pulang Dzaky dengan selamat, namun membuat Adam terluka. Semua anggota keluarga sudah berkumpul termasuk Celena, Nicolaas, Vigo, Zaina, Alia, Adila dan Alex.
Saat ini mereka berada di ruang tengah dengan Adam yang bersandar di bahu ayahnya sembari memejamkan matanya dan di samping ada Utari, ibunya yang sejak tadi menatap dirinya khawatir.
"Sayang, kita ke rumah sakit ya!" bujuk Utari.
"Nggak," jawab singkat Adam dengan matanya masih terpejam.
Semuanya menatap khawatir Adam, terutama Dzaky. Dia yang benar-benar khawatir akan Adam. Adik sepupunya itu terluka demi melindungi dirinya.
"Sebenarnya siapa orang-orang yang ingin menculik Dzaky? Dan apa motifnya?" tanya Bagas.
"Mereka orang-orang yang ingin merebut perusahaan keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara!" Adam berucap dengan lantang.
"Mereka melakukan itu untuk menyingkirkan keluarga Abimanyu dari dua bisnis dan merebut posisi pertama yang selama ini selalu keluarga Abimanyu yang menempatinya."
Mereka semua terkejut mendengar perkataan dari Adam yang mengatakan bahwa orang-orang itu ingin menghancurkan dan ingin menyingkirkan keluarga Abimanyu dari dua bisnis.
"Adam, sayang!" panggil Davan.
"Iya, Papa Davan!"
"Dari mana kamu tahu semua ini?" tanya Davan.
"Aku mendengar langsung apa yang dibicarakan oleh mereka ketika aku tak sengaja bertemu langsung dengan mereka di sebuah cafe. Kecelakaan yang menimpaku beberapa hari yang lalu juga perbuatan mereka."
Deg..
Semuanya terkejut ketika mendengar pengakuan dari Adam tentang orang-orang itu. Mereka tidak menyangka jika para musuh-musuhnya sudah mengincar anak-anaknya.
"Orang itu tidak lagi mengincarku karena berpikir bahwa aku melupakan kejadian tersebut. Dengan kata lain, mereka berpikir bahwa aku Amnesia. Mereka salah besar jika berpikir seperti itu. Aku justru ingat semuanya. Dan sebentar lagi aku akan membuat mereka hancur tanpa sisa. Termasuk semua anggota keluarganya."
Adam bangun dari posisi bersandarnya, lalu memposisikan tubuhnya untuk duduk. Tatapan matanya menatap satu persatu anggota keluarganya yang juga tengah menatap dirinya.
"Apa yang mereka lakukan padaku dan pada kakak Dzaky. Itu juga yang akan aku lakukan terhadap keluarga bajingan itu. Aku berencana akan menghabisi semua anggota keluarganya tanpa sisa satu pun."
"Jadi kamu sudah mengetahui semua tentang mereka, sayang?" tanya Yodha.
"Tentu. Kalau aku tidak tahu apa-apa. Mana mungkin aku menceritakan semua ini kepada kalian. Hanya tunggu waktu saja. Aku mau melihat rencana apa kali ini yang akan mereka lakukan. Jika mereka kembali melibatkan kalian, maka aku akan memerintahkan orang-orangku untuk menghabisi tiga anggota keluarga dari kedua bajingan itu tepat di hadapannya."
"Orang-orangku? Apa anggota KARTEL?" tanya Harsha.
"Bukan. Zelo dan anggota Kartel tidak mengetahui masalah ini," jawab Adam.
"Jadi siapa?" tanya Danish, Ardi dan Vigo bersamaan.
"Nanti kalian akan tahu sendiri siapa orang-orang yang aku maksud itu."
Setelah mengatakan itu, Adam beranjak dari duduknya. Setelah itu, Adam langsung pergi begitu saja menuju kamarnya di lantai dua.
"Ada sesuatu yang disembunyikan Adam. Salah satunya adalah orang-orang yang dimaksud oleh Adam," sahut Alex.
"Aku juga berpikir seperti kak. Putraku sedang menyembunyikan sesuatu," ucap Evan.
Mereka semua berpikir hal yang sama tentang Adam bahwa Adam menyembunyikan sesuatu dari mereka semua.
Namun mereka tidak ingin mencari tahu apa yang disembunyikan oleh Adam karena mereka tidak ingin menyakiti Adam.