THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Pasrah



Dua puluh menit kemudian, polisi datang. Dan pria itupun dibawah ke kantor polisi saat setelah mendapatkan laporan dari pihak pelapor.


Cklek!


Pintu ruang rawat Adam dibuka. Terlihat dokter dan perawat keluar dari ruang tersebut.


"Bagaimana keadaan adik saya, Dokter?" tanya Ardi.


"Adik kalian baik-baik saja. Lukanya sudah saya jahit kembali. Dan kami pihak rumah sakit akan memperketat keamanan disini agar hal ini tidak terjadi lagi," tutur Dokter tersebut.


"Terima kasih, Dokter."


"Kalau begitu saya permisi."


Mereka sekarang sudah berada di ruang rawat Adam. Harsha mendekati ranjang Adam dan menggenggam tangannya.


"Dam. Maafkan, kakak. Maafkan kakak yang tadi meninggalkanmu sendiri. Seharusnya saat kakak mau ke kamar mandi, kakak kunci dulu pintunya. Biar tidak ada yang masuk," ucap Harsha.


Para kakaknya yang mendengar ucapan Harsha berusaha untuk tidak tertawa. "Sudahlah, Sha. Kau kan tidak sengaja meninggalkan Adam sendirian. Dan kakak yakin Adam juga tidak akan marah padamu. Lagian sekarang Adam sudah dalam keadaan baik-baik saja," tutur Kenzie.


"Aku heran. Kenapa Danish dan gengnya ingin sekali mencelakakan Adam? Padahal Adam tidak pernah berbuat salah pada mereka," ucap Gala.


"Tapi ini mustahil. Aku yakin orang itu pasti bohong. Tidak mungkin kalau Danish dan gengnya yang menyuruhnya!" seru Sakha.


"Apa maksudmu, Sakha? Jadi kau percaya kalau bukan geng Bruizer yang menyuruh orang itu untuk melukai Adam. Kau tahukan apa yang dilakukan oleh Danish pada Adam?!" bentak Ardi.


"Justru itu, kak. Aku tidak percaya omongan orang itu yang mengatakan bahwa geng Bruizer lah yang telah menyuruhnya. Selama inikan Danish dan gengnya selalu melawan kita secara terang-terangan. Apalagi dengan Adam. Kalau memang Danish ingin menghabisi nyawa Adam. Danish bisa melakukan saat di gudang itu. Dan dia tidak perlu repot-repot menyuruh orang datang ke rumah sakit." Sakha berbicara dengan penuh keyakinan sembari menatap Ardi.


"Apa yang dikatakan Sakha benar, Di? Mungkin saja orang itu ingin memanas-manasi kita agar bertarung dengan mereka. Secara kitakan masih dendam pada Danish atas apa yang dilakukannya pada Adam," sela Arka.


"Aku tidak peduli. Aku akan tetap membalas perbuatan Danish dan gengnya. Ini sudah keterlaluan. Mereka tidak bisa dibiarkan!" teriak Ardi.


"Kalau kau sampai berbuat nekat. Aku akan menjadi musuhmu selanjutnya, Mahanta Ardiya Abimanyu!" seru Adam yang tiba-tiba terbangun mendengar teriakan Ardi.


Mereka semua menatap Adam, terutama Ardi.


"Adam!"


Ardi menatap Adam dan berharap kalau ucapannya itu tidak serius.


Adam menatap Ardi dengan tatapan seriusnya. "Aku tidak bercanda, saudara Ardi!"


Mereka yang melihat Ardi dan Adam saling memberikan tatapan membuat suasana ruangan menjadi tegang. Dan akhirnya Arka membuka suara dan mencairkan suasana.


"Adam. Apa yang kau rasakan sekarang? Bagaimana dengan lukamu?"


Adam mengalihkan tatapannya dan melihat kearah Arka. "Sakit, kak. Bajingan itu terlalu bersemangat menekan lukaku. Oh, ya! Dimana bajingan itu sekarang?" tanya Adam.


"Dia sudah di bawa ke kantor polisi," jawab Gala.


"Adam. Maafkan kakak karena sudah meninggalkanmu sendirian!" lirih Harsha.


"Memangnya kakak pergi kemana?" tanya Adam.


"Ka-kakak hanya pergi ke kamar mandi. Seharusnya kakak mengunci pintu ruang rawatmu terlebih dahulu sebelum kakak masuk ke kamar mandi," jawab Harsha menyesal.


"Nah. Itulah letak kesalahanmu, kak. Seharusnya kau kunci dulu pintunya, baru kau ke kamar mandi. Atau kau seharusnya menunggu seseorang datang untuk menggantikanmu menjagaku. Kali ini aku akan memaafkanmu. Lain kali jangan diulangi lagi ya, kak!" Adam berbicara seperti itu karena sedang mengerjai kakak aliennya itu.


Sedangkan yang lainnya berusaha untuk tidak tertawa mendengar ucapan Adam. Sementara Harsha seketika membelalakkan bola matanya dan mulutnya yang menganga saat mendengar ucapan Adam.


"Yak! Dam, kau kejam sekali. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu pada kakak."


Adam yang melihat Harsha yang menekukkan wajahnya menjadi tidak tega. "Wajahmu seperti orang yang berumur enam puluh tahun, kak. Hahahaha." akhirnya tawa Adam pecah


Sedangkan Harsha yang melihat Adan tertawa merasa bodoh, karena adiknya berhasil mengerjai dirinya. Tapi Harsha justru senang, setidaknya adiknya sudah melupakan masalah antara mereka berdua. Dan mereka semua bahagia melihat Adam tertawa lepas yanpa ada beban sama sekali.


"Aakkhh." rintih Adam dan memegang perutnya.


"Adam!" teriak mereka bersamaan saat melihat Adam yang kesakitan.


"Aku tidak apa-apa? Kalian tidak perlu khawatir," ucap Adam.


"Kau yakin, Dam?" tanya Sakha.


"Iya."


"Lebih baik kau istirahat, Dam. Jangan banyak bicara dulu. Lukamu baru saja dijahit, karena jahitan di lukamu terbuka," ucap Kenzie.


***


Adam sudah berada di rumah sekarang. Tepatnya di kamar kesayangannya. Seharusnya Adam masih harus di rawat tiga hari lagi di rumah sakit. Dikarenakan terjadinya perang mulut antara Adam dengan keluarganya yang dimenangkan oleh dirinya, akhirnya si keras kepala Dirandra Adamka Abimanyu diizinkan pulang.


Adam masih tertidur lelap dan enggan untuk membuka mata indahnya. Dan ada seseorang yang tersenyum bahagia memandangi tidur damainya. Orang itu adalah Utari Ibunya sendiri. Utari berniat ingin mengajak putranya untuk sarapan. Dikarenakan tidur putranya begitu lelap, dirinya tidak tega untuk membangunkannya. Utari mengecup kening putranya, lalu pergi meninggalkan kamar putranya.


Sepuluh menit setelah Utari keluar dari kamar Adam. Tiba-tiba Adam terbangun dari tidurnya karena merasakan sakit di perutnya.


"Aakkhh," rintih Adam.


Adam langsung bangun dan menduduki dirinya sejenak di tempat tidur. Setelah merasa cukup, Adam pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Dan sekarang Adam sudah rapi dengan pakaian santainya. Atasan kaos putih dan bawahan celana jeans pendek coklat. Lalu Adam pun turun ke bawah.


Di meja makan anggota keluarga telah berkumpul tanpa si keras kepala Dirandra Adamka Abimanyu bersama mereka.


"Ardi, Harsha. Kalian izinkan Adam untuk tidak masuk kuliah," ucap Utari.


Sedangkan Harsha menatap Ardi, lalu kembali menatap Utari.


Utari yang mengerti arti dari tatapan kedua keponakannya itu hanya tersenyum.


"Mama Utari yakin?" tanya Harsha.


"Mama sangat yakin karena mama baru saja dari kamar adik kalian dan dia masih tidur," jawab Utari


"Baiklah," jawab Ardi dan Harsha bersamaan.


Lalu mereka mendengar suara langkah kaki menuju kearah mereka.


Tap!


Tap!


Tap!


"A-adam!" seru Harsha.


Mereka semua memandangi Adam. Sedangkan yang ditatap memasang wajah bingung. Adam menatap satu persatu wajah anggota keluarganya yang sedang duduk di meja makan.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu? Apa ada yang salah dengan wajahku?" tanya Adam, lalu melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mengambil minuman.


Setelah merasa puas meminum tiga gelas air putih, Adam kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang berada di lantai dua.


Namun, langkahnya terhenti saat ibunya memanggilnya. "Adam. Ayo, sarapan sekalian sayang. Kamu dari semalam belum makan."


"Aku tidak lapar, Ma." Adam menjawabnya dengan singkat.


"Tidak lapar atau malas," Davan sang paman.


"Aish! Apaan sih, Papa? Tidak lucu tahu," ucap Adam yang mempoutkan bibirnya.


Utari beranjak dari duduknya dan merangkul sang anak. "Ayolah, sayang kita sarapan bersama. Kamu kan harus minum obat. Sebelum minum obat kan harus sarapan dulu."


"Sudahlah, Ma! Jangan merayuku. Aku bukan anak kecil lagi. Kalau aku mau makan. Aku akan makan di kamar saja," ucap Adam.


"Memangnya kenapa harus makan di kamar, Adam? Apa kamu tidak mau makan bersama kami disini?" tanya Juan.


"Aku mau makan bersama kalian. Tapi...!" perkataan Adam terhenti. Tatapan matanya melihat kearah Harsha dan Ardi.


Harsha dan Ardi yang merasa ditatap oleh Adam memiliki perasaan yang tidak enak. Mereka berdua saling melempar pandangan.


"Sha. Perasaan kakak jadi tidak enak, nih."


"Sama kak. Aku juga," balas Harsha.


"Tapi apa, Dan?" tanya Rafiq.


"Tapi aku tidak mau satu meja dengan dua makhluk abstrak seperti mereka." Adam berbicara sambil menunjuk kearah Ardi dan Harsha.


Sedangkan Ardi dan Harsha membelalakkan mata mereka mendengar perkataan sang adik.


"Yak! Memangnya kami makhluk abstrak apaan? Kami ini murni manusia," protes Harsha.


"Dasar adik menyebalkan. Untung sayang," batin Ardi dan Harsha.


Adam membalas pertanyaan Harsha. "Kak Harsha itu adalah Alien gosong dan kak Ardi adalah manusia pucat dan beruang kutub."


Kemudian Adan melangkahkan kakinya menuju meja makan, lalu duduk tepat didekat Ardi dan Harsha. Adam mengambil satu buah apel yang ada di meja kemudian menggigitnya


Kriiuukkk!


Kemudian Adam berdiri dan mendekati kedua kakak sepupunya itu. Kini Adam sudah berada di belakang mereka berdua. Lalu Adam membungkukkan badannya dan menjajarkan kepalanya tepat di telinga kedua kakaknya itu, lalu membisikkan sesuatu.


"Aku mendengar ucapan kak Harsha dan kak Ardi saat di rumah sakit. Kalian berdua akan melakukan apapun untukku agar aku mau memaafkan kalian berdua." Adam berbicara dengan memperlihatkan senyuman manisnya. "Semoga kakak-kakakku yang tampan ini tidak melupakannya!"


Setelah mengatakan hal itu, Adam pun pergi meninggalkan semua anggota keluarganya menuju kamarnya.


Ardi menepuk jidatnya. Sedangkan Harsha menghembuskan nafas kasarnya. Mereka berdua mau tidak mau harus melakukannya. Lalu bagaimana dengan Adam? Jangan ditanya lagi. Dirinya merasa sangat puas melihat kedua kakaknya masuk dalam permainannya.


Para anggota keluarga yang menyaksikan ketiganya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Mereka berpikir apa yang akan dilakukan oleh Adam kepada kedua kakak-kakaknya itu?


Tepat setelah Adam berada di kamarnya. Ponselnya Ardi dan berbunyi. Menandakan sebuah pesan masuk ke ponsel mereka.


Ardi membuka ponselnya, lalu membaca pesan yang masuk di ponselnya itu.


From : My Bunny


Kakak Ardi. Pulang kuliah nanti aku mau kakak belikan aku Pizza dua kotak.


Ardi hanya bisa pasrah dan menghembuskan nafasnya.


"Haaah!"


Lalu detik kemudian terdengar lagi suara ponsel. Kali ini ponselnya Harsha yang berbunyi. Dari nadanya menandakan sebuah pesan.


Harsha pun mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera.


"Haahh!" helaan nafas Harsha, lalu melirik sekilas kakak pucatnya. Ardi sudah mengerti dari tatapan Harsha. Kemudian Harsha membaca pesan tersebut.


From : Kelinci Nakal


Kak Harsha. Pulang kuliah nanti belikan aku cemilan kesukaanku. Kakak tahukan apa saja cemilan kesukaanku itu?


Setelah mereka berdua membaca pesan yang dikirim oleh adik mereka yang begitu menyebalkan. (Ya. Walaupun menyebalkan mereka tetap sayang). Mereka pun berpamitan untuk berangkat ke Kampus.


"Kami berangkat ke kampus dulu, Pa, ma semuanya!" Ardi dan Harsha berpamitan.