THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Perasaan Yang Tak Enak



Di sebuah pertokoan terlihat dua orang pemuda yang baru saja keluar meninggalkan toko tersebut. Dua pemuda itu baru selesai berbelanja membeli kebutuhan untuk persediaan mereka di markas selama satu minggu.


"Prana. Apa semua yang kita beli ini sudah lengkap? Tidak ada yang kelupaankan?" tanya Rayan.


"Sepertinya tidak. Karena aku sudah mencatat semua apa yang akan kita beli," jawab Prana.


"Ya, sudah. Lebih baik kita segera ke markas," sahut Rayan.


Lalu tiba-tiba beberapa orang mencegat mereka. "Kalian berdua mau kemana, hah?!"


"Bermain-mainlah dengan kami dulu."


"Kami tidak ada waktu untuk bermain-main dengan kalian!" bentak Prana.


"Minggir kalian!" bentak Rayan.


"Sudah kami katakan. Bermain-mainlah dengan kami dulu, baru kami akan membiarkan kalian pergi."


"Kalau kami tidak mau, kalian mau apa, hah!" bentak Rayan.


"Ooh. Besar juga nyalimu, ya."


Saat orang itu hendak memberikan pukulan pada Rayan, dengan cepat tangan Rayan menahannya dan membalikkan pukulan tersebut ke wajah orang tersebut.


BUUGGHH!


DUUAAGGHH!


Orang itu jatuh tersungkur. Tidak jauh beda dengan Prana. Dirinya telah dikeroyok. Satu banding empat. Prana memberikan pukulan dan tendangan pada lawan-lawannya.


BUUGGHH!


DUUAAGGHH!


Saat Prana lengah, salah satu dari musuh itu tiba-tiba bangkit dan menyerang Prana dari belakang.


DUUAAGGHH!


"Sialan. Main belakang ternyata," umpat Prana dan Prana kembali menghajar mereka tanpa ampun.


Semuanya tumbang. Saat Prana melihat Rayan sedang tersudut, Prana dengan segara membantunya dan memberikan tendangannya tepat di perut musuhnya itu


Satu kali tendangan membuat satu lawan tumbang. Rayan memberikan pukulan dan tendangan dengan sangat kuat secara bertubi-tubi.


Musuh-musuh tersebut ambruk semua akibat pukulan dan tendangan dari Rayan.


Saat Prana ingin memberikan pukulan terakhirnya, salah satu dari mereka berteriak.


"Jangan bunuh kami. Kami hanya menjalankan perintah."


"Siapa yang menyuruh kalian?!" bentak Prana.


"Geng Brainer. Mereka membayar kami dan menyuruh kami untuk mengeroyok kalian. Katanya mereka ingin membalas perbuatan dari salah satu teman kalian karena sudah melukai adik mereka yang bernama Adam."


"Brengsek! Geng Brainer sialan. Kalian mengajak perang rupanya. Okeee! Siapa takut!" ucap Prana.


"Ayo, Rayan kita kembali ke markas!" seru Prana.


Setelah kepergian Prana dan Rayan. Para suruhan Dhira mengirim sebuah pesan pada Dhira.


From :  Alex


Misi Selesai. Mereka tampak marah saat kami mengatakan nama geng Brainer.


To :  Dhira


Bagus. Saya suka pekerjaan kalian.


Aku akan tunggu hasil pertarungan dua kelompok tersebut. Kalau aku puas. Aku akan membayar kalian.


***


Suasana di meja makan tampak hening. Tidak ada yang membuka suara.


"Aku sudah selesai," ucap Danish dan langsung pergi meninggalkan meja makan tanpa menghiraukan keluarganya yang masih berada di meja makan.


"Danish," panggil Evan. Danish pun menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Danish tanpa membalikkan badannya.


"Sampai kapan kau akan mengabaikan Papa? Apa kau sudah tidak menyayangi Papa lagi?" tanya Evan pada putra keduanya.


"Aku akan menegur Papa dan berbicara lagi dengan Papa setelah Mama dan adikku kembali ke rumah ini. Selamanya aku menyayangi Papa. Papa adalah Papaku. Tentang kesalahan Papa pada Mama dan adikku, aku belum bisa memaafkannya selama mereka belum kembali." Danish berbicara dengan penuh penekanan.


Setelah mengatakan itu, Danish berlalu pergi meninggalkan rumah menuju Kampus.


"Aku sudah tidak sabar mendengar kabar perkelahian kedua keturunan Bimantara. Dan kedua-duanya masuk ke rumah sakit," batin Dhira.


***


"Adam, buruan. Ntar kita telat ke kampusnya!" teriak Harsha dari lantai bawah.


"Pergi saja duluan. Siapa juga yang mau barengan sama makhluk jadi-jadian seperti kalian berdua?" teriak Adam yang tak kalah nyaring di kamarnya di lantai dua.


"Apa yang kau katakan, hah? Makhluk jadi-jadian apa maksudmu?" kali ini Ardi yang berteriak.


"Pikir saja sendiri. Kenapa nanya padaku? Kalian kan kuliah? Kalau kalian tidak tahu jawabannya minta tolong saja sama mbah Google!" teriak Adam balik.


"Dirandra Adamka Abimanyu!" teriak Harsha.


Mendengar suara teriakan dari Adam, Ardi dan Harsha. Para anggota keluarga pada berhamburan keluar.


"Hei, ada apa ini?" tanya Bagas.


"Kalian pikir ini di hutan. Pake teriak-teriak gak jelas," omel Rafig.


"Maafkan kami Ma, Pa. Kami bermaksud untuk memanggil Adam dan mengajaknya pergi bareng ke Kampus," jawab Harsha.


"Kalian kan bisa pergi ke kamarnya. Gak harus teriak-teriak disini," ucap Alin menasehati.


"Mama kayak tidak tahu sifat Adam saja. Adam kan masih marah denganku dan kak Ardi. Siluman kelinci itu belum memaafkan kami berdua. Ditambah lagi kami berdua lupa membelikan apa yang dimintanya dari kami kemarin." Harsha menjawab perkataan ibunya sambil mempoutkan bibirnya.


Mereka tersenyum geli melihat kelakuan anak-anak mereka.


PRAANNGG!


"Suara apa itu?" tanya Davan.


"Sepertinya bunyinya berasal dari kamarnya Adam!" ucap Reza.


Mereka semua berlari menaiki anak tangga menuju kamar Adam.


^^^


Di dalam kamar, Adam tampak tidak tenang. Dirinya saat ini merasakan sesuatu yang aneh.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku tidak enak ya?" tanya Adam pada dirinya sendiri.


CKLEK!


Pintu kamar dibuka. Dan masuklah anggota keluarganya ke kamarnya. Sementara Adam tidak menyadari kedatangan keluarganya di kamarnya.


"Adam," panggil Utari.


Adam tidak merespon panggilan daei ibunya. Saat ini Adam tengah bermain-main dengan pikiran dan perasaannya.


"Dirandra Adamka Abimanyu!" teriak Utari sambil menepuk pelan bahu putranya. Dan itu berhasil membuat Adam sadar dalam lamunannya.


"Ma-ma," ucap Adam terbata dengan menatap wajah cantik ibunya. "Ka-kalian kenapa ada dikamarku?" tanya Adam bingung saat melihat semua anggota keluarganya berada di dalam kamarnya.


"Kami ada disini karena kami mendengar suara benda jatuh, Adam" Juan menjawab pertanyaan dari Adam.


Adam mengalihkan pandangannya kepecahan kaca yang berserakan di lantai.


"Ooh, itu. Aku tadi tidak sengaja menyenggolnya," jawab Adam lembut.


Kemudian Adam meninggikan suaranya saat melihat Harsha dan Ardi dua tersangka utamanya.


"Ini semua karena teriakan si alien gosong dan si beruang kutub itu," ucap Adam sambil menunjuk Ardi dan Harsha. "Gara-gara teriakan mereka gelas kesayanganku pecah," amuk Adam sambil menunjukkan wajah kesalnya.


"Kalian harus ganti gelas kesayanganku itu. Harus mirip dengan yang aslinya. Aku tidak mau ada perbedaan sedikit pun. Kalau tidak aku akan marah selamanya dengan kalian, kak!"


Setelah mengatakan itu, Adam langsung pergi turun ke bawah menuju meja makan.


Ardi dan Harsha melongo. Sedangkan anggota keluarga yang lain hanya tersenyum gemas melihat pertengkaran kecil yang dilakukan oleh anak-anak mereka sebagai penghias suasana rumah agar tampak ramai. Seperti itulah suasana rumah setiap hari yang terjadi. Dan para pelakunya adalah mereka bertiga.


"Mama tidak ikut campur," bisik Utari pada Ardi dan Harsha, lalu pergi menyusul putranya.


"Mama dan Mama Alin juga tidak mau ikut campur. Selesaikan oleh kalian berdua," ejek Kamila dan diangguki oleh Alin, lalu mereka pun pergi turun ke bawah.


"Kami berdua juga sama!" seru Bagas dan Davan, lalu pergi meninggalkan kamar Adam.


"Nikmatilah hari apes kalian Ardi, Harsha. Hadapi kemarahan sikelinci nakal itu!" seru para kakak-kakaknya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambut adik-adik mereka kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Tersisa Ardi dan Harsha di kamar Adam. "Sudahlah, kak. Tidak ada cara lain. Kita harus menggantikan gelas kesayangan sikelinci buntelan itu," jawab Harsha pasrah.


Mereka dengan lesunya pun pergi meninggalkan kamar Adam dan turun ke bawah.


^^^


Sekarang mereka semua sudah di meja makan. "Dam. Kami min..." belum sempat Ardi menyelesaikan ucapannya, Adam sudah memotongnya terlebih dahulu.


"Dilarang berbicara di meja makan. Ini waktunya makan bukan waktu berbicara," ucap Adam yang tetap fokus pada makanannya.


"Haah." Ardi dan Harsha membuang nafas kasar mereka.


"Nanti kakak akan membuka Turnamen adu mulut antara sikelinci buntelan melawan alien gosong dan beruang kutub. Satu lawan dua. Kira-kira siapa yang akan memenangkannya!" seru Rafig menggoda ketiga adik-adiknya.


"Kakak Rafig!" teriak mereka bertiga kompak.


"Waw! Lagi musuhan tapi bisa kompakan disaat neriakin kakaknya," goda Dzaky.


"Aku selesai," ucap Adam dan langsung berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama.


"Dirandra Adamka Abimanyu!" panggil Utari dan Adam pun berhenti. "Mama ingin kau pergi bersama Ardi dan Harsha. Mama tidak izinkan kau pergi naik motor," perintah mutlak Utari pada putranya.


"Tapi, Ma. Aku...!"


"Tidak ada penolakan. Kuliah atau tetap di rumah!" seru Utari yang sengaja menjahili putranya.


Sedangkan Ardi dan Harsha tersenyum puas. Akhirnya mereka bisa pergi bareng dengan sikelinci nakal ke Kampus.


"Buruan. Aku tidak mau terlambat sampai di Kampus!" seru Adam dan kembali melangkahkan kakinya menuju pintu utama. 


"Terima kasih Mama Utari," ucap Ardi dan Harsha, lalu mereka langsung menyusul adik kesayangan mereka.