
Di tempat lain pada kakak-kakakny dan sahabatnya sedang memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Di pikiran mereka hanya Adam. Mereka harus segera sampai di lokasi tersebut. Mereka tidak mau sampai terjadi sesuatu pada adik kecil kesayangan mereka.
"Bertahanlah, Adam. Kakak mohon padamu," batin Garry Dan Danish.
Dan beberapa menit kemudian, akhirnya mereka pun sampai di lokasi penyekapan Adam.
"Lihatlah penjaganya banyak sekali. Bagaimana kita bisa masuk ke dalam gudang itu?" tanya Prana.
"Kita bagi tugas. Kita ambil bagian masing-masing dalam melawan mereka. Siapapun yang berhasil mengalahkan mereka dan ada cela untuk masuk ke dalam gudang itu, lakukanlah dan selamatkan Adam. Jangan pikirkan yang lainnya." Garry berbicara.
"Eeemm," jawab mereka kompak sambil mengangguk tanda mengerti.
"Ayo, tunggu apalagi. Kita serang sekarang!" seru Arya.
Dan mereka pun memutuskan untuk menghampiri para penjaga sedang berjaga-jaga di sana.
"Hei. Siapa kalian dan mau apa kesini?" tanya salah satu penjaga.
"Kami mau menjemput adik kami," jawab Arka.
"Hahahaha. Adik? Adik yang mana?" tanya penjaga pria itu.
"Ooh, jadi pemuda bodoh yang tak berdaya sama sekali itu adik kalian ya. Kasihan sekali nasibnya," ejek penjaga lainnya.
Garry Dan Danish mengepalkan tangannya kuat saat mendengar adiknya dihina.
"Tutup mulut kotormu itu. Jangan sekali-kali kau berani menghina adikku!" teriak Danish.
"Memangnya kenapa, hah? Inikan mulutku dan aku bebas mau bicara apa tentang adik kalian itu."
"Aku sudah tidak tahan mendengar ocehan bajingan sialan ini. Ingin rasa aku menyumpal mulutnya yang kotor itu!" ucap Gala.
"Tunggu apa lagi. Ayo, kita serang sekarang!" kata Rayan.
Dan akhirnya terjadi pertarungan antara dua kubu.
BUGH!
DUAGHH..
BUGH!
DUAGHH!
KREETT!
Garry dan Danish memberikan pukulan-pukulan dan tendangan. Bahkan mereka juga mematahkan tangan para penjaga tersebut secara membabi buta dan mengakibatkan lima penjaga tumbang.
Setelah mereka tumbang, Garry dan Danish memberikan satu tendangan keras tepat di perut mereka.
DUAGHH!
Lima penjaga tersebut memuntahkan darah segar dan setelah itu mereka tak sadarkan diri. Kakak beradik itu tersenyum puas.
"Itu untuk adikku! CUIH!" ucap Danish, lalu meludahi tubuh pria itu.
Sama halnya dengan Garry dan Danish. Arka, Kenzie, Sakha, Gala juga membabi buta. Bahkan seperti orang kesetanan melawan para penjaga tersebut.
BUGH!
DUAGHH!
BUGH! DUAGHH!
KREETT!
Sepuluh penjaga berhasil mereka kalahkan. Sama seperti Garry dan Danish, mereka berempat juga mematahkan tangan musuhnya.
"Itu hukuman untuk kalian yang sudah menculik adik kami," ucap Sakha.
"CUIH!" Gala meludahi tubuh mereka.
Arya, Prana, Rayan, Indra, Kavi dan Cakra. Mereka juga ganas menghadapi para penjaga. Ada dua puluh penjaga yang menyerang mereka.
BUGH! BUGH!
DUAGHH!
KREETT!
BUGH! DUAGHH!
KREETT!
"Itu untuk Adam sahabat kami sekaligus adik bagi kami," ucap Cakra. "CUIH." Cakra meludahi tubuh mereka.
Sahabat-sahabatnya Garry juga tak kalah ganasnya. Mereka juga sama ganasnya dengan teman-temannya Danish dan Adam. Mereka menghajar tanpa ampun dua puluh penjaga.
BUGH! DUAGHH!
BUGH! DUAGHH!
Mereka memukul, menendang secara brutal mengakibatkan para penjaga tersebut tersungkur dan memuntahkan darah.
KREETT!
Mereka dengan tega mematahkan kedua tangan para penjaga tersebut
Danish memperhatikan sekitar lokasi. Dapat dilihat olehnya kakanya dan para sahabatnya sedang bertarung demi menyelamatkan adik kesayangannya.
"Penjaganya terlalu banyak. Kalau begini caranya bagaimana bisa masuk ke dalam untuk menyelamatkan Adam," batin Danish.
Tanpa disadari oleh Danish. Ada dua orang yang ingin menyerang dirinya dari belakang.
DUAGHH! DUAGHH!
"Aakkhh!" teriak dua penjaga tersebut saat mendapatkan tendangan keras dari Ardi dan Harsha yang datang tiba-tiba saat melihat ada dua penjaga yang ingin menyerang Danish.
Danish membalikkan badannya dan dilihat Ardi dan Harsha yang sudah datang bergabung. Dan dirinya terkejut melihat dua orang yang tersungkur di tanah.
"Kalau mau menyerang seseorang itu dari depan. Bukan dari belakang. Kalau dari belakang itu namanya pecundang," sindir Ardi.
"Memalukan," ucap Harsha.
Dua penjaga itu bangkit dan berusaha melawan Ardi dan Harsha. Dua penjaga itu langsung menyerang kedua dan dengan sigap kedua saudara sepupu ini menghindar. Dan detik kemudian mereka berdua memberikan tendangan keras pada perut dua penjaga tersebut.
DUAGHH! DUAGHH!
Dua penjaga tersebut lagi-lagi tersungkur dan kali ini memuntahkan darah dari mulut mereka.
"Dasar payah," ejek Harsha.
Semua orang suruhan Dhira terkapar di tanah dengan wajah babak belur. Dan tanpa mereka sadari, detik kemudian terdengar suara tepuk tangan dari arah pintu masuk gudang.
PROK!
PROK!
PROK!
"Wah-wah. Ada perusuh ternyata. Ada hal apa kalian membuat keributan disini?" tanya Dhira sinis.
Dan tatapan Dhira beralih pada dua putra kesayangannya. "Hei, ternyata dua putra kesayangan Mama ada disini juga, hum!"
"Jangan basa-basi dan berpura-pura baik pada kami. Mana adikku?!" bentak Garry.
Dhira hanya tersenyum menanggapi pertanyaan dari putra sulungnya itu. "Eeemmm! Adikmu itu ada di dalam. Dia sedang tertidur pulas karena lelah bermain!"
Garry dan Danish mengepalkan tangannya kuat. Mereka tidak bodoh untuk mengetahui maksud dari perkataan ibu tiri mereka. Ibu tirinya ini pasti sudah menyiksa adik mereka.
"Kalau adikku sampai lecet sedikit pun. Aku akan membunuhmu, Dhira!" teriak Danish.
"Jaga ucapanmu, Danish. Aku ini mamamu. Orang yang sudah merawatmu dan menjagamu!"
"Tapi kenyataannya kau bukan Mama kandungku. Kau hanya perempuan pengganggu dalam rumah tangga kedua orang tuaku!" teriak Danish.
"Brengsek! Dasar anak tidak tahu diri. Kalau bukan aku yang merawat dan menjaga kalian. Kalian tidak akan menjadi seperti ini!" bentak Dhira.
"Tapi aku waktu itu tidak menginginkan kehadiranmu dalam keluargaku. Bahkan aku tidak memintamu untuk merawat dan menjaga kami!" teriak Garry.
"Kalau kau ingin marah. Kenapa kau tidak marah dengan ibu mertuamu saja? Bukankah dia yang sudah membohongimu selama ini. Tapi kenapa kau justru marah pada Mama dan adikku." Garry berucap sinis dan menatap tajam Dhira.
"Kalian sudah berani melawanku sekarang, hah! Apa kalian tidak memikirkan nasib adik kalian yang saat ini masih berada di dalam? Dan kalian tidak tahukan bagaimana kondisinya saat ini? Akan aku pastikan kalian semua tidak akan pernah bertemu lagi dengan adik kalian. Orang yang paling kalian sayangi!" teriak Dhira.
"Apa maksudmu, Dhira?" teriak Utari yang melangkahkan kakinya menuju kearah Dhira.
Sekarang mereka sudah berhadapan. Dhira dan Utari. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Aku tanya sekali lagi. Apa maksud dari perkataanmu tadi, Dhira?"
"Maksudku. Permainan sudah dimulai. Dan kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan putra kesayanganmu itu, Erina Utari Abimanyu!"
"Jangan berani-beraninya kau menyakitinya, Dhira! Dia tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Kalau kau ingin marah padaku, silahkan. Asalkan kau lepaskan putraku!"
"Mama!" teriak Garry, Danish, Ardi dan Harsha bersamaan.