THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Membuat Momen Baru



Di sebuah rumah mewah terlihat seorang pria paruh baya. Dia terlihat bahagia karena pengganggunya masuk rumah sakit. Yang lebih bahagia lagi adalah karena si pengganggu itu tidak ingat apa yang terjadi. Dengan kata lain sang pengganggu tidak mengingat hal itu lagi.


"Sudah aku katakan. Jangan coba-coba melawanku. Apalagi mencoba untuk menggagalkan semua rencanaku. Ini akibatnya jika kau tak mendengarkan perkataanku." pria itu berbicara dengan angkuhnya dan juga sombong.


"Aku akan segera mendapatkan tiga perusahaan besar itu. Dua perusahaan dari keluarga Abimanyu dan satu perusahaan Bimantara," ucap pria itu lagi.


***


Adam sudah berada di rumah. Dia saat ini berada di ruang tengah tengah melamun.


Adam tengah memikirkan sesuatu. Kenapa ibunya mengajaknya tinggal di kediaman Bimantara dan bukan di kediaman Abimanyu? Setiap Adam berusaha untuk mengingatnya, rasa sakit di kepalanya akan muncul.


Flashback On


Di rumah sakit Adam merengek kepada ibunya. Dirinya ingin pulang. Berulang kali Adam meminta pulang sang ibu tetap menolaknya.


Namun karena keras kepalanya dan sifat keinginannya itu harus segera dipenuhi, maka Adam mengeluarkan kartu mati kepada ibunya.


"Kalau Mama tetap mengurungku disini, Maka selamanya aku tidak akan mau bicara dengan Mama. Bukan itu saja, aku tidak akan mau menyentuh makanan apapun. Biar aja mati sekalian."


Setelah mengatakan itu, Adam memejamkan matanya. Dia tidak ingin melihat wajah ibunya dan anggota keluarganya.


Deg..


Mendengar perkataan serta ancaman dari Adam membuat Utari terkejut dan syok. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka tidak menyangka jika Adam akan berbicara seperti itu.


Utari berlahan menyentuh pipi putih putranya itu. Di dalam hatinya benar-benar takut jika putranya itu nekat melakukannya. Dia sangat hafal tabiat putra bungsunya itu jika sudah kesal.


"Sayang," panggil Utari.


Adam tidak memberikan reaksi apapun. Dia masih memejamkan matanya.


"Adam, dengar Mama!"


Sama! Adam masih tidak menunjukkan reaksi apapun. Adam masih setia memejamkan matanya.


"Hah!" Utari seketika menghela nafas pasrahnya melihat sikap putranya itu. "Baiklah, kamu boleh pulang!"


Detik itu juga Adam membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah cantik ibunya.


Sementara semua anggota keluarganya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala akan sifat Adam.


"Benarkah?" tanya Adam.


"Iya, Mama izinkan kamu pulang."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Adam ketika mendengar ucapan dari ibunya.


"Terima kasih Mama sayang. Mama yang terbaik," ucap Adam.


Setelah itu, Utari dibantu oleh Celena memberesi semua barang-barangnya Adam. Mereka akan pulang ke rumah sesuatu permintaan dari si keras kepala Adam.


***


Setelah menempuh perjalanan selama dua jam. Akhirnya mobil yang dibawa oleh Evan dan anggota keluarga lainnya sampai di depan gerbang tinggi kediaman Bimantara.


"Lah, Mama! Kok kesini? Inikan bukan rumah kita. Kitanya kan tinggal di rumahnya kakek," ucap dan tanya Adam.


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Utari diam. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Jika dirinya salah jawab, bisa-bisa putranya kenapa-kenapa.


Utari melihat kearah suaminya meminta izin untuk berbicara. Utari seperti itu agar suaminya tidak bersedih ketika melihat putranya yang tidak ingat dengannya.


Evan yang melihat tatapan mata istrinya seketika paham. Dan dia langsung menganggukkan kepalanya.


"Sayang, kita tinggal disini. Bukan di kediaman Abimanyu lagi. Kita kesana jika lagi kangen atau datang berkunjung."


Mendengar perkataan dari ibunya membuat Adam bingung. Di dalam hatinya Adam berkata, kapan dia dan ibunya tinggal di kediaman Bimantara? Dan sejak kapan ibunya akrab dengan pria yang telah membentaknya ketika di kampus demi membela putranya itu.


"Adam," panggil Utari ketika melihat putranya tak merespon sama sekali.


"Terserah Mama!" Adam menjawab perkataan ibunya itu dengan tak ikhlas.


Sementara Utari hanya bisa pasrah. Lalu kembali duduk dan menghadap ke depan. Sedangkan Evan mengusap-usap lembut bahu istrinya. Dia ingin membantu, tapi tidak tahu harus melakukan apa karena putranya tak mengenali dirinya sebagai ayahnya, melainkan putra bungsunya itu mengenalinya sebagai ayah dari musuhnya yang tak lain kakaknya sendiri.


Flashback Off


Ketika Adam sedang melamun di ruang tengah, tiba-tiba Garry dan Danish datang. Mereka menatap dengan tatapan sedih kearah Adam yang saat ini terlihat tak baik-baik saja. Wajahnya yang masih terlihat pucat, walau tak terlalu pucat.


"Adam, kakak sayang kamu. Kakak nggak akan berkecil hati melihat kamu yang tidak ingat dengan kakak. Kakak tidak akan marah melihat kamu yang menganggap kakak sebagai musuh kamu. Kakak tahu ini bukan kemauan kamu. Kamu sedang sakit. Kakak janji akan membuat kenangan baru yang indah bersama kamu," batin Danish.


Garry dan Danish sudah duduk di sofa. Jika Garry duduk di samping kanan Adam. Sedangkan Danish duduk di samping kiri Adam.


Adam yang menyadari kedatangan Garry dan Danish langsung melihat kedua pemuda itu.


"Hei," sapa Garry.


Seketika Garry merasakan sesak di dadanya ketika menyapa adiknya sendiri. Seharusnya dia memeluk adik bungsunya ini karena adik bungsunya baru keluar rumah sakit akibat kecelakaan.


Dikarenakan ingatan adik bungsunya tentang dirinya, adik pertamanya dan ayahnya hilang. Dan ingatan adik bungsunya itu kembali ke masa-masa dimana adik bungsunya ini mengenalinya ketika dirinya menolongnya ketika jatuh dari motor.


Apa yang dirasakan oleh Garry, itu juga yang dirasakan oleh Danish. Adiknya tidak ingat dengan dirinya sebagai kakaknya. Justru adiknya ingat dirinya sebagai musuh.


"Ka-kakak Garry." Adam berucap sembari tersenyum. Lalu Adam melihat kearah Danish. "Dan.... Ka-kakak Danish adiknya kakak Garry," ucap Adam.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Garry dan Danish menangis. Air matanya seketika turun membasahi wajahnya.


"Kamu adiknya kakak juga, Dam!" batin Garry.


"Kamu adiknya kakak. Kakak adalah kakak kamu," batin Danish.


Adam yang melihat Garry dan Danish yang tiba-tiba menangis menjadi bingung. Dia tidak mengerti kenapa dua kakak beradik ini tiba-tiba menangis.


"Ke-kenapa? Apa aku ada salah bicara?" tanya Adam sembari menatap Garry dan Danish bergantian.


Mendengar pertanyaan dari adiknya seketika Garry dan Danish langsung menggelengkan kepalanya. Setelah itu, mereka langsung menghapus air matanya masing-masing.


"Terus?" tanya Adam.


"Kita bahagia kamu ada di rumah ini," jawab Danish.


"Tinggallah disini. Dan tetaplah bersama kakak dan Danish," ucap Garry.


"Ini rumah kamu, Adam! Rumah kita bersama," batin Garry.


"Mau ya kamu tinggal disini dan menjadi bagian dari keluarga Bimantara?" tanya Danish memohon.


Danish ingin membuat momen baru dengan adiknya. Jika dulu dia tidak berkata jujur bahwa dia adalah kakak kandungnya sehingga adiknya mengetahuinya sendiri.


Sekarang Danish akan berkata jujur siapa dirinya sebenarnya di hadapan adiknya. Dia ingin membawa adiknya itu ke dalam pelukannya.


Danish berlahan dan pasti memberanikan diri menggenggam tangan Adam. Dan detik kemudian, Danish kembali menangis.


Sedangkan Adam yang melihat Danish yang tiba-tiba memegang tangannya sembari menangis hanya diam tanpa menolak apa yang dilakukan oleh Danish. Bahkan tatapan matanya menatap wajah Danish.


"Dam, aku adalah kakak kandung kamu. Dan kamu adalah adik kandung kakak. Kita bertiga adalah saudara kandung. Kamu adalah putra bungsu dari Evan Hara Bimantara." Danish berucap sambil tangannya menggenggam erat tangan adiknya.


Adam seketika terkejut ketika mendengar pengakuan dari Danish yang tak lain adalah musuhnya di kampus. Kemudian Adam melihat kearah Garry.


Garry yang ditatap oleh adik bungsunya seketika tersenyum. Tangannya mengusap lembut pipi putih adik bungsunya itu.


"Apa yang dikatakan oleh Danish benar. Kamu adalah Dirandra Adamka Bimantara, putra bungsunya Evan Hara Bimantara. Kakak dan Danish adalah kakak kandung kamu. Kamu adik kandung kita." Garry berucap dengan lantangnya.


"Tapi... Tapi.... Mama tidak mengatakan apa-apa padaku."


Garry dan Danish tersenyum ketika mendengar ucapan dari adiknya. Mereka mengerti bahwa adiknya saat ini masih bimbang.


"Bukan Mama tidak mau menceritakan semuanya padamu. Mungkin Mama takut kamu kembali marah sama Mama karena Mama tidak menceritakan semuanya dan masih menyimpan rahasia dari kamu." Garry berbicara lembut kepada adiknya dengan tangannya mengusap lembut kepalanya.


"Dan mungkin juga Mama sengaja tidak menceritakan tentang kita sama kamu biar kita sendiri yang mengaku di hadapan kamu. Setelah itu, barulah Mama yang akan membenarkan semuanya." Danish ikut meyakinkan adiknya.


Adam yang mendengar ucapan dari Garry dan Danish hanya memberikan tatapan secara bergantian kearah Garry dan Danish.


"Tapi menurutku, kakak Danish pantasnya menjadi musuhku bukan kakakku. Wajahnya kakak Danish nggak pantas jadi kakakku," ucap Adam seenaknya.


"Hahahaha." Garry seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan kejam dari adik bungsunya yang ditujukan untuk adik keduanya.


Sementara Danish seketika memberikan tatapan horornya kepada adiknya itu. Namun detik kemudian, Danish tersenyum menatap wajah adiknya itu.


Tanpa diketahui oleh Adam, Garry dan Danish. Evan dan Utari sejak tadi melihat dan mendengar setiap apa yang dikatakan oleh Garry danĀ  Danish kepada Adam. Keduanya tersenyum bahagia melihat ketiga putra-putranya.


"Sekarang giliranmu sayang," ucap Utari.