THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Pelukan Seorang Kakak



Kediaman keluarga Bimantara. Di sebuah kamar yang mewah terlihat seorang wanita cantik yang sedang duduk di sofa.


"Sialan kau Evan. Beraninya kau mempermainkanku. Diam-diam kau bertemu dengan istri pertamamu. Kau anggap apa aku ini?" batin Dhira murka.


"Tunggu saja apa yang akan aku lakukan pada putra bungsumu itu." Areta Dhira Kalyani monolog.


***


Danish saat ini berada di Kampus. Kini dirinya dan keempat sahabatnya sedang berada di markas.


"Danish. Sekarang kau sudah bertemu dengan adikmu. Dan ternyata selama ini yang menjadi musuh bebuyutanmu adalah adikmu sendiri. Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Cakra.


"Yang jelas hal pertama yang akan aku lakukan adalah aku akan mendekatkan diriku padanya. Sebisa mungkin aku akan selalu ada untuknya selama di Kampus," ucap Danish dengan penuh keyakinan.


BRAAKK!


Pintu markas di buka dengan paksa oleh Prana dan disusul oleh Rayan. Mereka memasuki ruang tersebut dengan nafas terengah-engah.


"Hei, ada apa dengan kalian?" tanya Indra.


"Kami baru saja mengetahui sesuatu tentang pengeroyokan waktu itu. Ternyata orang-orang yang waktu itu mengeroyok aku dan Prana ternyata bukan suruhan dari geng Brainer. Orang itu bilang yang menyuruh mereka adalah seorang wanita. Tapi wanita itu tidak menyebutkan namanya," tutur Rayan.


"Bukan itu saja. Masih ingatkan saat Ardi mengatakan kalau ada orang yang menyerang Adam di rumah sakit. Dan orang itu mengatakan kalau kita adalah dalang penyerangan tersebut. Yang membayar orang yang menyerang Adam di rumah sakit itu adalah wanita yang sama," sela Prana menambahkan.


"Brengsek. Siapa wanita itu? Dan apa motifnya sampai melakukan hal ini?" batin Danish.


"Kalian tahu dari mana berita ini? tanya Prana.


"Kami tidak sengaja bertemu dengan salah satu dari mereka. Kebetulan dia hanya sendiri. Ya, sudah kami berdua menghampirinya. Saat dia berusaha lari, Prana melemparkan sesuatu tepat di kakinya dan membuat dia terjatuh. Dan kami membawanya ketempat sepi dan menginterogasinya." Rayan menjawabnya.


"Akhirnya dia mau mengakuinya. Tapi sayangnya, dia tidak mau mengatakan siapa nama wanita itu? Katanya salah satu dari kita mengenalinya!" seru Prana.


"Salah satu dari kita. Memangnya siapa wanita itu?" ujar Kavi penasaran.


"Apa kalian mengenalinya?" tanya Arya. Mereka kompak menggeleng.


"Siapa wanita itu? Kalau sampai aku mengetahuinya. Aku tidak akan memaafkannya. Aku bersumpah akan membalasnya," batin Danish.


"Oh ya! Apa kalian sudah sarapan? Bagaimana kalau kita ke kantin? Aku yang akan traktir kalian. Anggap saja ini hadiah dariku, karena aku sudah bertemu dengan adikku lagi." Danish berbicara dengan raut kebahagiaan terpancar di wajanya.


"Oke!" seru mereka semangat.


Mereka pun pergi meninggalkan markas untuk menuju Kantin.


^^^


Adam sudah selesai urusannya dengan Dekan. Sekarang dirinya berada di lapangan.


"Ach, lelah sekali. Kenapa akhir-akhir ini tubuhku gampang lelah ya? Biasanya tidak seperti ini. Aarrgghh! Sakit ini lagi. Kenapa kepalaku sering sakit? Apa yang terjadi pada tubuhku?" monolog Adam.


Adam memutuskan untuk pergi ke Aula tempat latihan Taekwondo untuk istirahat disana. Tubuhnya benar-benar butuh istirahat.


Ditempat lain dimana Danish dan kelompoknya sedang menuju ke kantin dan tanpa sengaja mereka melihat Adam. Mereka terus memperhatikan gerak-gerik Adam, terutama Danish.


"Danish. Sepertinya adikmu sedang sakit. Coba lihat, sesekali adikmu mengurut tengkuknya dan memicingkan matanya. Bahkan dia juga sempat berhenti sejenak hanya untuk merilekskan tubuhnya." Arya berucap.


"Ya, kau benar Arya." Danish menjawabnya. Danish menatap Adam dengan tatapan panik dan khawatir.


"Apa kau tidak mau menolongnya, Danish?" tanya Cakra.


"Aku.. aku takut, Cakra." Danish menjawab perkataan Cakra.


"Apa yang kau takutkan, Danish? Bukannya kemarin kau sudah berhasil mendekatinya. Bahkan kau juga sudah berhasil memeluknya. Dan Adam tidak menolaknya sama sekali," kata Rayan.


Mereka terus memperhatikan Adam. Dan tiba-tiba saja tubuh Adam pun oleng dan ambruk.


BRUUKK!


"Adam!" teriak Danish dan keenam sahabat-sahabatnya. Dan mereka berlari menghampiri Adam yang sudah jatuh pingsan.


Danish mengangkat tubuh adiknya dan menidurkannya di pahanya. Air matanya jatuh membasahi wajah tampannya.


"Adam, ini kakak. Kakak kandungmu. Maafkan kakak yang selama ini selalu menyakitimu." Danish berbicara sambil memeluk tubuh lemah adiknya dan sesekali mengecup kening adiknya itu.


"Ayo, bawa Adam ke markas kita, Danish! Soal kelompok Brainer nanti saja kita beritahu. Pikirkan dulu adikmu!" seru Kavi.


Danish pun segera mengangkat tubuh Adam dan membawa pergi ke markasnya.


Sedangkan para mahasiswa dan mahasiswi yang melihat kejadian itu sangat amat terkejut. Setelah sepeninggalan kelompok Bruizer. Terdengar omongan-omongan antara mahasiswa dan mahasiswi di lapangan kampus.


"Jadi mereka itu adik kakak ternyata!" ucap salah satu mahasiswi.


"Iya, ya! Siapa sangka mereka selama ini bermusuhan sesama saudara?" ucap salah satu mahasiswa.


"Pantasan saja. Saat pertarungan terakhir mereka dua minggu yang lalu suasana berubah menjadi seram. Seperti cuaca yang awalnya cerah tiba-tiba mendung. Lalu datangnya angin kencang. Lalu suara kilat petir padahal hujan sama sekali belum turun. Itu berarti Tuhan tidak mengizinkan dua bersaudara itu saling membunuh!" ucap salah satu mahasiswa dan diangguki oleh mahasiswa dan mahasiswi lainnya.


"Setelah pertarungan terakhir mereka itu. Kita tidak melihat mereka berkelahi lagi!"


"Itu baguslah. Tidak mungkinkan mereka tetap berkelahi sesama saudara."


"Apa Adam juga sudah mengetahui perihal Danish itu kakak kandungnya?" tanya salah satu mahasiswi tersebut


"Kalau menurutku Adam belum tahu dech. Karena kemarin saat Adam berhadapan dengan Danish. Masih ada tatapan amarah di matanya Adam."


"Sudahlah. Jangan ikut campur urusan mereka. Kita berdoa saja agar hubungan mereka membaik. Dan semoga dengan semua ini kampus kita aman damai tidak ada yang namanya kekerasan lagi."


^^^


Ardi, Harsha dan yang lainnya sedang berada di kantin. Mereka sedang menunggu Adam.


"Kenapa Adam lama sekali bertemu dengan Dekan? Memangnya masalah apa sih yang sedang mereka bicarakan?" tanya Gala.


"Ini sudah satu jam loh," ujar Kenzie.


"Kak Ardi. Coba hubungi ponselnya Adam!" pinta Harsha.


"Baiklah," balas Ardi.


Dan Ardi pun segera menghubungi ponselnya Adam. 'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif'


"Ach. Sial! Ponselnya tidak aktif," kesal Ardi.


"Lebih baik kita mencari Adam sekarang!" seru Arka.


Mereka pun pergi meninggalkan kantin untuk mencari keberadaan Adam. Saat mereka berada di lapangan, mereka dikejutkan oleh beberapa mahasiswa.


"Kalian mencari Adam?" tanya salah satu mahasiswa tersebut.


"Ya, benar. Apa kalian melihat Adam?" tanya Ardi balik.


"Terima kasih informasinya," jawab Sakha.


"A-apa? Pingsan? Danish?" ucap Harsha bingung.


"Ya, sudah. Tunggu apa lagi. Ayo, kita kesana!" ajak Gala.


Mereka pun pergi menuju markas Infinite.


^^^


Di markas Bruizer, Adam dibaringkan di tempat tidur yang sangat besar. Sampai detik ini Adam masih belum sadar.


Beberapa detik kemudian terdengar igauan dari bibir Adam.


"Papa! Aku sangat amat membencimu. Tapi aku juga sangat menyayangimu. Rasa benciku lebih besar dari pada rasa sayangku padamu. Kau jahat. Kau sangat jahat padaku. Kau tega membuangku." Adam mengigau disertai air matanya yang mengalir.


Danish yang mendengar igauan dari adiknya tak kuasa menahan tangisnya. Tangis Danish pecah.


"Adam.. hiks," isak Danish.


BRAAKK!


Pintu di buka paksa oleh Ardi. Dan terlihat kelompok Brainer memasuki markas Bruizer.


"Mana Adam?" tanya Ardi berteriak.


"Tenanglah, Ardi. Adam baik-baik saja. Kami hanya menolongnya dan kami tidak menyakitinya," tutur Cakra.


"Adam sekarang ada di kamar. Dia belum sadar sampai sekarang," ucap Arya.


Ardi, Harsha dan yang lainnya menuju kamar tempat Adam berada. Saat mereka sudah berada di dalam kamar. Dapat mereka lihat, kondisi Adam yang pucat.


"Adam," panggil Harsha.


"Kenapa dengan adikku? Kalian apakan dia, hah?!" bentak Harsha.


"Kami tidak melakukan apapun terhadap Adam selain menolongnya," jawab Indra.


"Kalian bohong. Selama ini kalian selalu mencari gara-gara dengan adikku. Jadi mana mungkin kalian tiba-tiba menjadi baik begini!" bentak Harsha lagi.


"Ya. Kau benar, Harsha. Aku memang selalu mencari gara-gara dengan Adam. Tapi itu kemarin sebelum aku mengetahui siapa Adam sebenarnya. Dan sekarang aku sudah mengetahui siapa dirinya sebenarnya?" ucap Danish.


"Apa maksudmu, Danish?" tanya Ardi.


"Adam itu adalah adik kandungku. Aku adalah putra kedua dari Mama Utari yang tak lain adalah Bibi kalian." Danish menjawab dengan penuh penekanan.


"Apa?" teriak mereka kompak.


"Kau jangan mengarang cerita. Kau berbohongkan, Danish?" tanya Harsha.


"Aku tidak berbohong. Aku serius. Kalau aku berbohong. Untuk apa aku repot-repot menolong musuhku sendiri?" tutur Danish.


"Dan untuk membuktikannya. Kalian bisa tanyakan pada Mamaku, Mama Utari." Danish berucap mantap.


Mereka terdiam. Mereka menatap manik coklat Danish untuk mencari sebuah kebohongan. Tapi yang mereka temukan adalah sebuah kejujuran.


"Eeuugghh." terdengar lenguhan kecil dari bibir Adam.


Mereka yang mendengarnya langsung menatap Adam dengan rasa khawatir, terutama Danish, Ardi dan Harsha.


Harsha mendekati ranjang Adam. Dan membelai rambutnya.


"Adam."


Berlahan Adam membuka kedua mata bulatnya. Dapat dilihatnya kalau dirinya berada di suatu tempat yang berbeda.


"Aku dimana, kak?" tanya Adam.


"Kau ada dimarkas Bruizer," jawab Harsha.


"A-apa?" lirih Adam dan Adam langsung bangun dari tidurnya. "Aarrgghh!" teriak Adam saat merasakan sakit di kepalanya.


"Adam!" teriak mereka panik.


"Apa kepalamu sakit lagi?" tanya Ardi yang mendekat pada Adam.


"Sa-kit sekali kak," jawab Adam lirih. "Kak Ardi. Kenapa aku ada di markas Bruizer?" tanya Adam.


"Kau tadi pingsan di lapangan. Kebetulan Danish dan teman-temannya lewat dan melihatmu. Jadi, mereka menolongmu dan membawamu kesini," jawab Ardi.


Adam menolehkan wajahnya menatap wajah Danish. Tak jauh beda dengan Danish. Dirinya juga menatap wajah adiknya.


"Terima kasih," jawab Adam tulus.


Danish tersenyum. "Sama-sama. Aku ikhlas menolongmu," jawab Danish tulus.


"Kak Ardi, kak Harsha. Aku mau pulang. Bisa tidak kalian mengantarkanku pulang? Kak Arka, kak Gala kalian bawa mobilku ya. Aku akan pulang bersama kak Ardi dan kak Harsha ." Adam berbicara sembari melihat kearah Arka dan Gala.


"Baik, Dam." Arka dan Gala menjawab secara bersamaan.


"Ayo, kita pulang." Harsha berucap, lalu membantu Adam untuk bangkit dari tempat tidur dibantu oleh Ardi.


Saat Adam dan yang lainnya sudah berada di ruang tengah menuju pintu keluar, suara Danish menghentikan langkah mereka.


"Tunggu."


Danish dan yang lainnya membalikkan badan mereka dan menatap kearah Danish.


"Ada apa, Danish?" tanya Ardi lembut.


Danish berjalan mendekati Adam dan menatap wajah tampan adiknya.


"Adam," panggil Danish.


"Apa aku boleh meminta sesuatu darimu?" tanya Danish berharap. Mereka saling menatap satu sama lain.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Adam lembut.


"Boleh aku memelukmu?" tanya Danish lagi.


Adam mengerutkan keningnya bingung dan detik kemudian Adam mengangguk.


Terukir senyuman di bibir Danish dan juga yang lainnya. Danish pun langsung memeluk tubuh adiknya.


GREP!