
Adam dalam perjalanan pulang ke rumah. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya. Hanya saja kali ini mereka tidak pergi kemana-mana. Baik Adam, Melky, Vino maupun Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando memutuskan untuk langsung pulang.
Adam melajukan motor sportnya dengan kecepatan sedang. Tatapan matanya menatap ke depan. Sesekali melihat ke samping kiri dan kanan.
Adam terus melajukan motor sportnya tanpa menyadari ada beberapa pengendara motor berpakaian hitam tengah membuntutinya.
"Itu dia pemuda yang dimaksud oleh Bos. Buruan! Jangan sampai kita kehilangan jejak," ucap sang pemimpin.
Bruumm.. Bruumm..
Bruumm..
Para pengendara motor tersebut makin melajukan motor sportnya untuk bisa mengejar motor Adam yang ada di depan.
Adam yang berada di depan mulai merasakan sesuatu. Lalu tiba-tiba Adam melihat ke belakang. Dan seketika Adam terkejut ketika melihat beberapa pengendara motor berpakaian hitam melaju mengikuti motornya.
"Motor-motor itu mengikutiku. Siapa mereka?" tanya Adam pada dirinya sendiri.
Bruummm.. Bruummm..
Bruummm..
Adam menambah laju motornya sehingga motornya melaju dengan kecepatan tinggi di jalan raya.
Melihat target menambah laju kendaraannya membuat sang pemimpin memberikan perintah kepada anggotanya untuk menambah kecepatan laju motornya dan mengejar motor sang target yang berada di depan.
Adam saat ini berusaha terus mengendarai motor sportnya dengan kecepatan tinggi untuk menghindari kejaran dari beberapa motor yang ada di belakangnya.
Adam melihat ke belakang dan seketika dirinya terkejut karena motor-motor tersebut masih terus mengejarnya. Bahkan motor-motor tersebut semakin mendekat.
"Sial!" Adam mengumpat kesal.
Ketika Adam kembali melihat ke depan, Adam terkejut sebuah kendaraan melajukan dengan kecepatan tinggi dari arah depan. Hal itu sukses membuat Adam seketika menabrakkan motornya ke laju kiri hingga menghantam tiang listrik.
Gedebug..
Bruk..
Tubuh Adam seketika terlempar berguling-guling di aspal jalan raya. Begitu juga dengan motornya. Keadaan motornya rusak parah.
Adam meringis merasakan sakit di seluruh tubuhnya. Berlahan Adam membuka helm nya. Setelah helm nya terbuka, Adam melempar helm nya asal.
***
Prang..
Utari yang saat ini berada di dapur tiba-tiba tak sengaja menjatuhkan piring yang dipegangnya. Hati dan pikirannya saat ini benar-benar.
Mendengar benda jatuh dari arah dapur membuat Evan, Garry dan Danish yang sudah pulang dan berada di ruang tengah langsung berlari menuju dapur.
"Adam, " lirih Utari sembari menyebut nama putra bungsunya.
"Utari!"
"Mama!"
Evan langsung memeluk tubuh istrinya yang saat ini tampak bergetar. Dirinya juga melihat ada pecah berserakan di lantai.
"Sayang, ada apa? Katakan padaku."
"Mama, katakan ada apa?" tanya Garry.
"Adam... Adam."
"Kamu merindukan Adam, hum? Kan kamu setiap hari bertemu dengan Adam di rumah. Kita tunggu saja Adam. Sebentar lagi Adam pulang," hibur Evan.
"Bukan itu. Aku... Aku mengkhawatirkan Adam. Perasaanku tidak enak. Adam tidak baik-baik saja diluar sana."
Mendengar perkataan dari ibunya apalagi ketika melihat wajah ketakutannya membuat Garry dan Danish seketika memikirkan adiknya. Tiba-tiba keduanya merasakan bahwa adiknya itu dalam bahaya.
Garry menghubungi Harsha. Sementara Danish menghubungi Ardi dan Vigo secara bergantian.
"Ach, sial! Harsha tidak menjawab panggilan dariku," ucap Garry kesal.
"Hallo, Vigo!"
"Iya, Danish. Ada apa?"
"Lo masih di kampus?"
"Gue udah balik. Sekarang gue udah di rumah. Kenapa?"
"Sebelum lo balik ke rumah. Apa Adam juga sudah pulang atau masih ada di kampus?"
"Eeemm... Gue dan sahabat-sahabat gue pulang duluan karena mau ke perusahaan dulu. Dan sebelum pulang gue pamitan sama Adam, Ardi, Harsha dan yang lainnya."
"Kenapa Danish?"
"Mama tiba-tiba mengkhawatirkan Adam. Bahkan Mama sampai menjatuhkan piring yang dipegangnya. Mama juga bilang jika terjadi sesuatu terhadap Adam."
"Apa lo udah hubungi Adam?"
"Ponsel Adam nggak aktif. Sementara ponselnya Ardi dan Harsha aktif, tapi mereka nggak angkat."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Danish seketika membuat Vigo mengkhawatirkan Adam.
"Lo tenang, oke! Semoga tidak terjadi sesuatu terhadap Adam. Adam adik kita yang paling kuat. Adam akan baik-baik saja,"
***
Setelah berbicara dengan Danish seketika Vigo menangis di dalam kamarnya. Dirinya saat ini benar-benar mengkhawatirkan Allan.
Vigo beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju meja kerjanya. Tangannya langsung menyambar kunci mobilnya yang terletak disana.
Setelah itu, Vigo keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga sembari berlari kecil.
"Vigo, kamu mau kemana?" tanya Nicolaas.
"Aku mau mencari Allan, kak?"
"Apa? Apa yang terjadi? Kenapa dengan Allan?" tanya panik Nicolaas.
"Allan tidak bisa dihubungi. Mama Utari tiba-tiba mendapatkan firasat buruk terhadap Adam."
"Kakak akan ikut mencari Adam. Banyak yang mencari Adam, maka besar kemungkinan menemukan Adam," ucap Nicolaas.
"Hm!"
"Ayo," ajak Vigo.
***
Ardi, Harsha, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala saat ini berada di rumah sakit. Mereka menunggu dengan wajah panik dan juga takut di depan ruang operasi.
Harsha tak henti-hentinya menangis. Hatinya benar-benar terluka ketika melihat kondisi Adam yang tidak baik-baik saja.
Sakha yang duduk di samping Harsha seketika menarik tubuh Harsha dan membawanya ke dalam pelukannya. Begitu juga dengan Arka yang saat ini tengah menenangkan Ardi. Kedua kakak adik sepupu itu tampak tak baik-baik saja karena memikirkan adik kesayangannya yang berada di dalam ruang operasi.
"Adam, kakak mohon sama kamu. Kamu harus baik-baik saja," batin Harsha.
"Dam," lirih Ardi.
"Kak Ardi, apa kakak sudah menghubungi bibi Utari dan Paman Evan?" tanya Kenzie.
"Belum," jawab Ardi.
"Ada baiknya kabari bibi Utari dan Paman Evan. Pasti mereka saat ini memikirkan Adam. Apalagi Bibi Utari. Insting seorang ibu itu tidak pernah salah. Pasti Bibi Utari memiliki firasat yang buruk terhadap Adam," Gala berucap.
Setelah itu, Ardi mengambil ponselnya dan menghubungi ponsel Garry.
Ardi memutuskan untuk menghubungi Garry karena kakak sepupunya itu sedikit lebih tenang jika mendengar kabar buruk. Jika dia menghubungi sang Bibi. Sudah dipastikan sang Bibi pasti akan langsung histeris.
***
"Hiks... Adam sayang. Kamu dimana, nak?"
"Sayang." Evan makin mengeratkan pelukannya kepada istrinya. Hatinya sakit ketika melihat istrinya yang begitu mengkhawatirkan putra bungsunya.
Tak bisa dipungkiri. Evan sejak tadi merasakan hal yang sama seperti istrinya. Hanya saja Evan berusaha kuat di hadapan istri dan kedua putranya. Di dalam hatinya, Evan sangat yakin jika putra bungsunya itu baik-baik saja.
"Adam, putra bungsunya Papa. Papa yakin kamu baik-baik saja sayang."
Drrtt..
Drrtt..
Ponsel milik Garry tiba-tiba berbunyi. Garry yang mendengar suara ponselnya langsung melihat ke layar ponselnya. Dapat Garry lihat nama 'Ardi' disana.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Garry langsung menjawab panggilan dari adik sepupunya itu.
"Hallo, Ardi. Kamu dimana? Apa Adam bersama kamu dan Harsha?"
"Hiks... Kak," isak Ardi.
Seketika Garry terkejut ketika mendengar isak tangis Ardi di seberang telepon. Ketakutannya makin bertambah akan adik bungsunya.
"Ardi, kamu kenapa? Kenapa kamu nangis?"
"Kak, Adam... Hiks."
"A-adam? Ke-kenapa dengan Adam?"
Mendengar suara gugup Garry ketika menyebut nama Adam membuat Utari langsung melepaskan pelukan suaminya. Setelah itu, Utari langsung merebut ponsel putra sulungnya itu.
"Ardi ini Mama! Katakan pada Mama. Kenapa dengan Adam? Apa terjadi sesuatu terhadap Adam?"
Deg..
Ardi seketika terkejut ketika mendengar suara bibinya. Ditambah lagi suara bibinya yang serak dan bergetar.
"Mama."
"Ardi, jawab sayang! Kenapa dengan adikmu? Adikmu baik-baik saja kan?"
"Mama... Hiks. Aku tidak bisa menceritakan secara detailnya. Bisa nggak Mama dan Papa ke rumah sakit. Aku benar-benar takut."
Mendengar perkataan dari Ardi membuat tubuh Utari seketika terhuyung ke belakang.
"Tidak, Adam... Hiks," isak Utari.
Garry kembali merebut ponsel miliknya yang ada pada ibunya. Ketika Garry hendak berbicara dengan Ardi. Ardi sudah terlebih dulu mematikan panggilannya itu.
"Evan kita ke rumah sakit sekarang. Putra bungsu kita masuk rumah sakit lagi."
"Baiklah sayang. Kita ke rumah sakit sekarang."
"Garry, Danish. Hubungi anggota keluarga yang lain. Kabari bahwa Adam masuk rumah sakit."
"Baik, Pa!"