THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Obat-Obatan Cabean



Adam sudah kembali pulang ke rumah. Adam pulang dengan wajah ceria dan bahagia.


Sementara untuk para kakak-kakaknya masih di kampus dan untuk Gerard ikut ke kantor polisi.


Adam bahagia akhirnya masalah yang di hadapi oleh sahabatnya Balin Melky Pramana dan keluarganya selesai.


Kini semuanya berada di ruang tengah. Termasuk keluarga Pramana. Keluarga Pramana masih berada di kediaman Abimanyu, kecuali Danish, Ardi dan Harsha.


"Dam, bagaimana?" tanya Melky ketika melihat kepulangan Adam.


Adam yang baru menduduki pantatnya di sofa langsung diserang pertanyaan dari Melky.


"Bagaimana apanya?" tanya Adam yang pura-pura tidak mengerti maksudnya pertanyaan dari Melky.


"Jangan pura-pura seperti kura-kura dalam perahu anak kelinci?!" Melky berucap dengan kejamnya.


Mendengar perkataan sarkas dari Melky membuat Adam mendengus. Dan jangan lupakan tatapan matanya yang tajam dan mulutnya yang bergerak-gerak mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Melky.


"Udah sana lo pulang. Ngapain juga masih di rumah gue. Betah banget lo nginap disini," ucap Adam kesal. Terlihat jelas dari wajahnya yang tampak manyun.


Sementara anggota keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara dan keluarga Pramana tersenyum ketika mendengar ucapan dari Adam.


"Lo ngusir gue?"


"Menurut lo gue ngomong apa tadi?"


Melky menatap wajah Adam dengan matanya yang melotot dan mulut yang mengeluarkan kata-kata indahnya.


"Ngapain lo liatin gue segitunya? Biasa aja kali," sahut Adam.


"Dasa siluman kelinci buluk."


"Dasar hitam tengil."


Mendengar perkataan serta ejekan dari Adam dan Melky semuanya hanya bisa tersenyum sembari geleng-geleng kepala.


Ketika Melky hendak membalas perkataan Adam, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang memasuki ruang tengah.


Mendengar suara langkah kaki seseorang, semua yang ada di ruang tengah secara bersamaan langsung melihat keasal suara.


"Kakak Gege!"


Yah! Orang yang melangkah memasuki ruang tengah itu adalah Faas Gerard Pramana, putra sulung dari Olaf Jordan Pramana.


"Kakak, bagaimana?" tanya Melky tidak sabaran ketika melihat kakaknya datang. Padaha kakaknya itu belum duduk sama sekali.


Bugh..


"Aakkhhh!"


Adam melempari Melky dengan menggunakan bantal sofa. Dan lemparannya itu tepat sasaran mengenai wajah tampan Melky.


"Lo tuh kebiasaan ya hitam. Tadi sama gue lo nanya ketika gue baru duduk. Padahal jelas-jelas gue lelah banget. Sekarang sama kakak lo," ucap Adam kesal.


Sedangkan Melky menatap tak kalah kesal kearah Adam. Ditambah lagi ketika Adam yang seenaknya saja nimpuk wajahnya pakai bantal sofa.


Sementara Gerard dan yang lainnya hanya tersenyum tanpa bersuara sama sekali hanya untuk sekedar melerai keduanya.


"Memangnya kenapa? Nggak boleh gue nanya sama kakak gue sendiri?!" sahut Melky dengan menatap kesal Adam.


"Yang bilang nggak boleh itu siapa, hah?! Kakak lo tuh baru pulang. Bahkan kakak lo tuh belum duduk sama sekali. Dan lo seenaknya langsung menyerang kakak lo dengan pertanyaan nggak bermutu dari lo itu," jawab Adam dengan menatap tak kalah kesal.


"Dan gue heran sama lo. Dulu ketika pertama kali bertemu dan menjalin hubungan persahabatan dengan lo. Sifat lo dewasa banget. Tapi sekarang....." Adam sengaja menghentikan perkataannya sembari menatap wajah Melky dengan tatapan intimidasi.


"Sejak otak lo kembali normal. Sifat lo berubah kayak anak monyet yang gelantungan sama induknya. Apalagi ketika lihat wajah lo. Ih... Jijik gue!"


Seketika Melky membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan kejam dari Adam.


"Hahahahaha."


Seketika semua orang yang ada di ruang tengah tersebut tertawa keras ketika mendengar ucapan sarkas dari Adam untuk Melky. Tak jauh beda dengan kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Mereka juga ikut tertawa nista akan putranya/adiknya.


"Memangnya salah ya kalau gue manja atau apalah itu sama kakak gue, hah?! Lo aja kalau di rumah berubah kayak anak itik yang selalu nempel sama kakak-kakak lo!"


"Kalau gue udah biasa kali. Sementara lo! Lo baru hari ini bersikap layaknya seorang adik yang tengah bermanja dengan kakaknya. Selama ini otak lo lagi konslet. Jadi lo ngelupain itu semua."


"Sejak otak lo kembali normal sehingga berakhir lo bersikap seperti adik yang sedang bermanja-manja dengan kakaknya. Gue lihatnya mau muntah. Lo nggak ada pantas-pantasnya bersikap seperti itu."


Utari, Evan dan anggota keluarga lainnya geleng-geleng kepala mendengar ucapan demi ucapan dari putra bungsunya. Mereka tak habis pikir dengan cara bicara putranya itu.


Bukan hanya Utari dan Evan saja yang dibuat geleng-geleng kepala akan gaya bicara Adam. Para Paman, para Bibi, para kakak-kakak sepupunya dan kakak kandungnya juga dibuat geleng-geleng kepala akan ucapan Adam tersebut. Begitu juga dengan kedua orang tuanya Melky dan Gerard.


Menurut Jordan dan Ghiska, kelakuan Adam sebelas dua belas dengan putra bungsunya jika sudah beradu mulut dengan seseorang. Ucapan putranya itu akan semakin parah jika putranya itu kesal berkali lipat.


Bagaimana dengan Melky? Sudah jelas saat ini Melky benar-benar kesal akan sikap dan juga ucapan dari Adam.


"Lo benar-benar ya Dam! Makin kesini ucapan lo makin pedas. Pedasnya parah banget. Apa itu efek samping dari koma lo selama 4 bulan ya? Atau jangan-jangan dokter menyuntikkan obat-obatan yang semuanya dari bahan cabe sehingga ketika lo ngomong, yang keluar dari mulut lo itu semuanya pedas. Nggak ada manis-manisnya sama sekali!" ucap Melky kesal.


"Sok tahu lo," jawab Adam langsung. "Gue ngomong pedas cuma sama lo doang. Apalagi ketika lihat wajah lo yang butek dan apek. Nggak enak dipandang."


"Tapi jika gue ngomong sama keluarga gue apalagi sama kedua orang tua gue. Yang keluar dari mulut gue ini manis-manis semua!"


Melky seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Adam yang menyebut wajahnya yang butek dan apek. Dirinya menatap dengan mata yang besar kearah Adam.


Sementara Adam yang melihat wajah super kesal Melky seketika tersenyum manis bak anak kecil yang tak berdosa.


Sementara yang lainnya masih tetap sama. Tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar perseteruan antara Adam dan Melky. Tidak ada diantara mereka untuk melerai keduanya.


Adam seketika berdiri dari duduknya. Dirinya melirik sekilas kearah kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya. Lalu menatap semua anggota keluarga dan berakhir menatap keluarga Pramana.


"Pa, Ma, kak, semuanya! Aku ke kamar ya. Tubuhku benar-benar lelah. Sejak di kampus tubuh tidak bisa diajak berdiskusi."


Mendengar perkataan dari putra bungsunya seketika membuat Utari khawatir. Dirinya tidak ingin putranya itu kembali sakit.


"Apa kamu demam, nak?"


"Tidak Mama! Aku baik-baik saja."


"Apa kamu yakin, hum? Kamu tidak bohongkan?" tanya Evan.


"Tidak Papa. Aku benar-benar lelah dan ingin tidur."


"Baiklah, Papa percaya! Pergilah, tapi jangan lupa bersih-bersih dulu."


"Iya, Pa!"


Setelah itu, Adam pun langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Utari, Evan dan anggota keluarga Abimanyu lainnya beserta keluarga Pramana menatap punggung Adam yang menaiki anak tangga dengan tatapan khawatir. Mereka khawatir kalau Adam dalam keadaan tak baik-baik saja.


"Dam, semoga lo baik-baik saja." Melky berucap di dalam hatinya.


"Sayang," lirih Utari menatap suaminya.


"Kamu tenang, oke! Nanti kita ke kamar Adam untuk mengeceknya. Sekarang ini biarkan dulu," ucap Evan.