
Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah berada di depan sebuah cafe terkenal di kota Jakarta. Nama cafe itu adalah Anomali Coffee.
"Makan!" seru Vino, Diego, Leon dan Vando bersamaan.
Sementara Adam, Melky, Gino dan Zio tersenyum mendengar seruan semangat dari Vino, Diego, Leon dan Vando.
Setelah itu, Adam dan sahabat-sahabatnya memulai menikmati semua menu yang sudah mereka pesan. Baik makan pembuka, makanan penutup sampai beberapa minuman.
Ketika Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah menikmati makanannya, tiba-tiba tatapan mata Melky tak sengaja melihat sosok wanita paruh baya yang dikenal sebagai bibinya Adam yang tak lain ibunya Harsha.
"Dan," panggil Melky.
"Itu... Itu bukannya Bibi Alin," ucap Melky sembari menunjuk kearah wanita yang disebut Alin.
Adam langsung melihat kearah tunjuk Melky. Begitu juga dengan Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
Seketika Adam membelalakkan matanya ketika melihat Bibinya yang tiba-tiba saja di tampar oleh seseorang pria.
Adam mengepal kedua tangannya bersamaan dengan dirinya beranjak dari duduknya.
Adam melangkahkan menghampiri sang Bibi dengan tatapan amarahnya yang membuncah ketika melihat bibi kesayangannya di tampar oleh seorang pria asing.
Adam merampas sebuah botol minuman yang ada di meja salah satu pengunjung. Adam membuang isinya di lantai. Dia tidak peduli lantai tersebut basah dan kotor.
Setelah botol tersebut dalam keadaan kosong. Adam memegang bagian kepala botol tersebut dengan kuat.
Detik kemudian..
Bugh..
"Aakkhhh!" teriak pria tersebut ketika merasakan sakit di kepala belakang.
Kepala pria itu banyak mengeluarkan darah akibat pukulan tak main-main dari Adam.
Perempuan yang berstatus istri dari pria itu seketika menatap marah Adam.
Yah! Adam langsung memukulkan botol itu ke kepala pria itu setelah tiba di belakang pria itu dengan keras.
Melihat apa yang dilakukan oleh Adam membuat semua pengunjung cafe tersebut terkejut dan syok. Begitu juga dengan Alin.
Alin terkejut ketika melihat kehadiran keponakannya yang tiba-tiba. Dia tidak tahu bahwa keponakannya itu berada di cafe yang sama dengan dirinya.
"Brengsek! Berani sekali kamu menyakiti suami saya!" bentak wanita itu.
Mendengar perkataan serta bentakan dari wanita yang ada di hadapannya membuat Adam menatap penuh amarah.
"Terus lo mau apa? Lo mau balas gue karena sudah nyakitin suami lo? Terus bagaimana nasib Bibi gue yang ditampar sama suami lo?!" Adam balik membentak wanita itu sambil menunjuk wajah wanita itu dengan menggunakan botol yang sudah pecah di tangannya.
Seketika wanita itu ketakutan. Namun ketakutan wanita itu hanya sesaat. Setelah itu, wanita itu kembali menatap tajam Adam dan kembali melawan Adam.
"Wajar jika suami saya menampar perempuan murahan itu. Perempuan itu yang terlebih dahulu mencari masalah dengan saya. Perempuan tidak tahu diri itu berani mengambil milik saya!" bentak wanita itu.
Adam menatap kearah Bibinya yang saat ini masih dalam keadaan syok. Emosi Adam makin naik ketika melihat keadaan sang Bibi.
"Mama Alin," panggil Adam lembut.
Seketika Alin tersadar, lalu menatap wajah keponakannya itu. "A-adam."
"Katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa pria brengsek itu sampai menampar Mama?"
"Mama hendak ke kasir untuk membayar semua pesanan Mama. Setelah semuanya selesai Mama bayar, tiba-tiba perempuan itu datang dan dengan seenaknya perempuan itu mengambil semua pesanan Mama. Kemudian pergi begitu saja."
"Terus apa yang Mama lakukan?"
"Mama langsung mencekal tangannya dan meminta untuk mengembalikan semua pesanan Mama yang dia ambil."
Mendengar perkataan serta penjelasan dari sang Bibi membuat Adam menatap nyalang perempuan itu. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
Sementara perempuan itu yang merasa disudutkan tak terima. Perempuan itu menatap tajam kearah Alin.
"Kamu jangan mengarang cerita ya. Ngaku saja deh kamu. Nggak usah memutar balikkan fakta!" bentak perempuan itu.
Ucapan demi ucapan dari Ali, Adam dan perempuan tersebut didengar oleh para pengunjung dan beberapa pelayan.
"Melky," panggil Adam.
"Ya, Dam!"
"Lo panggil pekerja cafe yang bagian kasir kesini. Kalau perlu sama managernya sekalian."
"Siap."
"Vino, Diego!
"Ya!"
"Ikutlah bersama Melky."
"Siap!"
Setelah itu, ketiganya pergi untuk menemui pelayan bagian kasir dan manager cafe.
Tak butuh waktu lama, ketiganya datang membawa karyawan cafe bagian kasir dan sang manager. Bukan itu saja, semua karyawan cafe juga ikut bersama Melky, Vino dan Diego.
Ketika Adam hendak bertanya, karyawan yang bertugas di bagian kasir langsung bersuara sehingga membuat perempuan tersebut seketika ketakutan. Bukan itu saja, para pengunjung cafe seketika melontarkan kata-kata hinaan untuk perempuan tersebut.
"Nyonya ini sudah membayar semua pesanannya. Saya melihat ketika nyonya ini hendak mengambil semua pesanannya, tiba-tiba perempuan itu datang dan langsung mengambil pesanan nyonya ini."
"Kenapa kamu diam saja?" tanya sang manager.
"Karena saya berpikir kalau perempuan itu adalah saudara Nyonya ini. Karena saya lihat nyonya ini hanya diam saja. Saya nggak tahu kalau ternyata nyonya ini diam karena terkejut semua pesanannya diambil oleh orang lain."
Mendengar ucapan serta penjelasan dari karyawan bagian kasir membuat Adam seketika menatap penuh seringai kearah perempuan tersebut.
"Dasar perempuan nggak tahu malu!"
"Sudah salah, malah menyalahkan orang lain."
"Pake ngadu segala lagi sama suaminya. Ih, dasar perempuan rendahan!"
"Jika tidak punya uang, jangan sok-sokan makan disini. Sampai mencuri pesanan orang lain."
Itulah komentar-komentar yang diberikan oleh para pengunjung cafe kepada perempuan itu.
"Sekarang lo udah tahu dimana letak kesalahan lo, hum? Sekarang lo udah sadar siapa yang salah disini? Dan lo udah tahu kan alasan gue nyakitin suami lo?" Adam memberikan banyak pertanyaan kepada perempuan itu.
"Lo sudah mencari masalah dengan keluarga Abimanyu. Dan lo tahu siapa keluarga Abimanyu, kan?"
Mendengar nama keluarga Abimanyu disebut oleh Adam membuat perempuan itu seketika makin ketakutan. Dia tahu siapa itu keluarga Abimanyu. Begitu juga dengan semua para pengunjung cafe dan para karyawan cafe. Mereka semua sangat kenal dengan keluarga Abimanyu.
"Lo tahu siapa perempuan yang telah lo usik ini?" tanya Adam sambil menunjuk kearah sang Bibi.
Semua melihat kearah tunjuk Adam yang saat ini masih terlihat syok. Mereka tahu apa penyebabnya.
"Dia adalah Kamila Findi Abimanyu. Istri dari Davan Alwan Abimanyu. Putra kedua dari Yodha Akasha Abimanyu!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam membuat perempuan itu semakin ketakutan.
"Dikarenakan lo sudah berani mengusik bibi kesayangan gue hingga berakhir wajah cantik bibi gue ditampar oleh suami lo. Selama ini Paman gue selalu menjaga dengan sangat baik Bibi gue. Bahkan Paman gue nggak pernah main tangan terhadap Bibi gue. Suami lo adalah orang pertama yang sudah berani menyakiti Bibi gue. Tunggu saja apa yang akan terjadi sama keluarga lo dan keluarga dari suami lo."
Setelah mengatakan itu, Adam membuat botol yang sejak tadi dipegangnya. Lalu langkah mendekati sang Bibi.
"Kita pulang sekarang ya. Bibi tidak perlu takut lagi. Ada aku disini."
Adam berlahan membawa Bibinya pergi meninggalkan cafe itu dan diikuti oleh ketujuh sahabat-sahabatnya di belakang.
Setelah kepergian Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Para karyawan cafe, manager cafe dan para pengunjung menatap jijik perempuan tersebut. Bahkan diantara mereka tidak ada yang berniat untuk menolong suami dari perempuan itu yang saat ini pingsan di lantai.
"Pergi kau dari sini. Minta tolonglah sama orang-orang yang berlalu lalang diluar sana!" teriak salah satu pengunjung perempuan.
"Jangan harap kami akan memberikan bantuan padamu!" terima pengunjung kedua.
Mendengar perkataan dari para pengunjung cafe membuat perempuan itu seketika menangis.
Kemudian perempuan itu berusaha mengangkat tubuh suaminya. Setelah berhasil, perempuan itu membawanya keluar meninggalkan cafe.