THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Kemarahan dan Kekecewaan Danish



Mendengar penuturan dari Danish, hal itu sontak membuat Evan dan Ibunya serta kakak perempuannya kaget. Mereka tidak habis pikir dari mana Danish tahu hal ini.


"Kenapa? Kalian kaget kalau aku mengetahuinya," seringai Danish menatap sang Papa, Nenek dan Bibinya.


"Kalian manusia iblis. Dan kalian!" Danish menunjuk ke arah sang Nenek dan Bibinya. "Kalian dua wanita yang tidak punya hati. Dengan tega kalian menyakiti ibu kandungku dan memisahkanku dengan adikku yang masih bayi ketika itu. Dengan bejatnya kalian memfitnah ibuku dengan mengatakan kalau ibuku sudah tidur dengan laki-laki lain dan sampai mengandung seorang bayi. Hiks.. Dan kau...!" Danish kembali menatap tajam wajah Papanya. "Kau dengan mudahnya mempercayai semua omongan kedua wanita iblis itu. Dan dengan teganya kau mengusir istri dan anakmu yang masih bayi dari rumah ini. Bahkan saat itu istrimu baru saja habis melahirkan. Kalian sudah memisahkanku dari mereka. Dan kalian sudah membohongiku selama ini dengan menjadikan perempuan itu." Danish menunjuk ibu tirinya. "Menjadi ibuku.. hiks." ucap Danish.


Danish tidak bisa membendung kesedihannya. Tangis Danish pun pecah. Dia menangis terisak dan jatuh terduduk di lantai.


Garry yang tidak tega melihat adiknya yang sudah terisak-isak. Dirinya langsung mendekati adiknya, lalu membawa ke dalam pelukannya.


"Kakak sudah menduga hal ini akan terjadi. Makanya kenapa kita semua merahasiakan ini darimu. Karena kau adalah orang yang tidak bisa menahan emosi. Kau orang yang keras kepala, Danish," hibur Garry.


Danish kembali berdiri dan menatap ayahnya. "Aku tidak peduli apapun alasan kalian. Kalau Papa ingin aku merubah kelakuanku. Kalau Papa ingin aku menjadi anak yang baik dan bisa membanggakan Papa. Bawa pulang Mama dan adikku ke rumah ini. Kalau Papa berhasil membawa mereka pulang. Aku berjanji akan menjadi anak yang baik untuk Papa," ucap Danish sambil menatap tajam wajah ayahnya dengan berlinang air mata.


Setelah itu, Danish beranjak pergi meninggalkan mereka semua di ruang tengah dengan keadaan masih terdiam. Mereka juga tak kalah sedih melihat kondisi putra, cucu, adik dan keponakan kedua mereka.


"Pa," panggil Garry.


"Papa yang salah, Garry. Papa yang sudah membuat adikmu seperti ini," ucap Evan.


"Pa. Sudahlah. Jangan dipikirkan. Kita beri waktu untuk Danish sendiri," hibur Garry.


"Ini semua salah ibu, nak!" seru wanita paruh baya itu kepada putranya Evan. "Coba waktu itu ibu tidak melakukan hal sekeji itu pada Utari istrimu, mungkin Danish tidak akan seperti ini. Maafkan ibu. Maafkan ibu," lirih wanita itu.


"Sudahlah, bu! Semuanya sudah terjadi. Yang jelas sekarang, bagaimana cara kita untuk memperbaiki semuanya ini?" ucap Evan.


"Apa yang dikatakan Papa benar, nek? Kita hanya bisa memperbaiki semuanya," ucap Garry.


^^^


Danish tengah duduk balkon kamarnya. Pikirannya melayang entah kemana? Banyak hal yang dirinya pikirkan sekarang. Disatu sisi dirinya sangat menyayangi Dhira. Dirinya tidak mau melukai perempuan yang sudah menjaga dan menyayanginya selama ini. Disisi lain, dirinya juga sangat merindukan sosok ibu yang sudah melahirkannya.


"Aarrgghh!" teriak frustasi Danish.


"Ini semua kesalahan dua perempuan sialan itu. Gara-gara mereka Mama Dhira dan Mama Utari jadi korbannya." Danish benar-benar sangat membenci nenek dan bibinya.


Tiba-tiba terdengar suara pintu dibuka dari luar.


CKLEK!


Orang yang membuka pintu kamar Danish adalah Garry, kakak kesayangannya. Garry bisa melihat sang adik yang tengah melamun di balkon kamarnya. Tanpa harus minta izin terlebih dahulu, Garry langsung masuk dan menuju balkon tersebut. Dan dirinya langsung menduduki pantatnya tepat di samping adiknya.


Sedangkan untuk Danish masih tetep dengan posisinya, pandangan mengarah ke depan tidak ada niat sedikit pun untuk menoleh atau sekedar melihat wajah kakaknya.


itu lebih menarik dari pada pemandangan yang ada disampingmu ini, hum?" tanya Garry menggoda adiknya.


"Kau sudah tahu jawabannya. Kenapa masih bertanya juga, kak?" Danish menjawab dengan ketus.


Garry tahu kalau mood adiknya sedang tidak baik pagi ini. Tapi dirinya harus berusaha untuk tetap membuat adik kembali ceria seperti sedia kala.


"Ayolah! Kau tidak maukan membuat orang tampan yang ada di sampingmu ini terlihat bodoh hanya karena seorang Danelio Danish Bimantara yang mengabaikannya. Paling tidak lihatlah wajah tampan kakakmu ini," tutur Garry yang terus menggoda adiknya.


Danish membolakkan matanya malas. "Kau terlalu percaya diri, kak. Apa kau tidak punya kaca? Mengacalah? Bisa kau bandingkan siapa yang lebih tampan? Aku atau kakak?" Danish menjawab tanpa melihat wajah kakaknya.


Garry terkekeh. Walaupun tatapan adiknya masih tetap fokus memandang ke depan, tapi setidaknya adiknya menjawab pertanyaannya. Pertanyaan konyol dan dijawab dengan jawaban yang konyol pula.


"Danish," panggil Garry.


"Apa," jawab Danish singkat dan juga sedikit ketus.


"Kau masih marah pada Papa? Sudahlah. Kau seharusnya tidak bersikap seperti ini padanya. Asalkan kau tahu, Papa sangat menderita selama ini. Papa sangat menderita dengan kesalahannya terhadap Mama dan adik bungsu kita. Papa benar-benar tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya waktu itu. Yang Papa ketahui waktu itu adalah Papa memergoki Mama yang sudah berduaan dengan laki-laki lain di kamar mereka. Yang pada saat itu, Papa baru pulang dari luar negeri mengurusi pekerjaannya. Dari situlah pertengkaran Papa dan Mama terjadi. Papa mengusir mama tanpa mau mendengarkan penjelasan dan pembelaan dari Mama. Karena menurut Papa. Apa yang dilihatnya itu, sudah cukup membuktikan kalau Mama selingkuh? Papa bahkan mengatakan kalau bayi itu bukan bayinya, melainkan bayi dari selingkuhan Mama. Saat pertengkaran itu terjadi Nenek dan Bibi terus memojokkan Mama, menyalahkan Mama di depan Papa. Lalu Mama dengan beraninya membentak Nenek, karena Nenek terlalu ikut campur dalam pertengkaran mereka dan terus menyalahkan Mama. Tapi tidak dengan Papa. Papa tidak terima Mama membentak Nenek dan langsung menampar Mama. Dan disitulah kesabaran Mama habis. Mama menatap Papa dengan tatapan yang penuh amarah, kekecewaan dan kebencian serta dendam. Bahkan Mama mengancam Papa, kalau Mama tidak akan mau dan tidak akan sudi serta jijik melihat wajah Papa sampai kapanpun. Bahkan Mama tidak akan pernah memberikan kata maaf untuk Papa. Sekalipun suatu saat kebenaran terungkap. Saat Mama ingin pergi, Mama ingin membawa kita. Tapi Nenek dan Bibi dengan cepat merebut kita dan memisahkan kita berdua dari Mama. Lalu Nenek mengatakan hal keji itu pada Mama 'Kau bawa saja anak harammu itu. Jangan kau bawa kedua cucu-cucuku ini."


"Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Nenek membuat Mama membalasnya 'Aku bersumpah, semoga Tuhan membalas semua perbuatanmu dan anak perempuanmu itu dengan sangat-sangat kejam. Bahkan lebih kejam dari perlakuan kalian padaku. Semoga Tuhan mengabulkan doa orang yang teraniaya sepertiku."


"Setelah Mama mengatakan itu, Mama pergi dengan bayinya."


"Kakak adalah saksi semua kejadian itu Danish. Kakak tidak bisa berbuat apa-apa waktu itu. Nenek selalu mengancam kakak. Kalau sampai Papa mengetahui kebenarannya, Nenek akan mengirim kakak keluar negeri dan sekolah di sana. Kakak tidak mau Danis. Kakak tidak mau. Nenek sudah memisahkan kakak dari Mama dan adik bungsu kita dan kakak tidak mau harus berpisah dengan kalian juga. Makanya kakak mematuhi perintah Nenek. Setelah kejadian itu berlalu. Kakak bersumpah seumur hidup, kakak tidak akan pernah memaafkan semua perbuatan Nenek dan Bibi. Kakak tidak pernah menganggap Nenek dan Bibi ada di rumah ini. Bahkan dalam hati kakak sekalipun. Kakak menganggap mereka sudah mati. Sekalipun mereka selalu bersikap baik pada kakak tapi kakak tidak pernah sedikitpun memperdulikan mereka. Kakak mengabaikan mereka. Sampai detik ini." Garry berbicara dengan disertai air mata yang sudah mengalir membasahi wajahnya.


Melihat kakaknya yang sudah menangis dengan segera Danish memeluk tubuh kakaknya itu.


"Kakak," lirih Danish.


"Kau tahu, Danish. Kenapa sekarang Nenek duduk di kursi roda sampai saat ini. Bahkan Dokter memvonisnya tidak akan bisa jalan lagi. Itu adalah hukuman untuk Nenek atas perbuatannya. Nenek dikhianati oleh teman-temannya sendiri. Saat mengetahui kalau dirinya cuma dimanfaatkan oleh teman-temannya, Nenek marah dan menampar salah satu temannya itu. Karena tidak terima atas perlakuan Nenek, temannya itu balik membalas Nenek dengan cara mendorong Nenek sampai Nenek terjatuh. Nenek sempat koma satu minggu dan saat Nenek sadar, Nenek divonis tidak bisa jalan seumur hidupnya. Dari situlah kakak memulai membalas sakit hati kakak selama ini dengan cara kakak tidak mempedulikannya dan mengabaikannya. Kakak sama sekali tidak sudi dan tidak mau membantunya atau pun merawatnya. Sekalipun Papa yang memintanya dan memohon-mohon pada kakak. Kakak tetap tidak sudi merawatnya, menyentuhnya bahkan menatap wajahnya. Jadi yang merawatnya selama ini adalah Mama Dhira, istri kedua Papa dan Bibi, anak perempuannya dan sesekali Papa juga ikut merawat Nenek disaat Papa tidak terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Nenek berulang kali memohon maaf pada kakak, tapi berulang kali pula kakak mengabaikannya. Sampai saat ini." Garry berbicara sambil mengingat kejadian yang dialami oleh ibu kandungnya.


"Kakak. Maafkan aku," lirih Danish.


"Kau tidak salah," ucap Garry.


"Tapi aku tetap kecewa dan marah pada Papa. Keputusanku tetap sama. Aku tidak akan menuruti perintah Papa, sebelum Papa berhasil membawa pulang Mama dan adik kita," sahut Danish.


Garry hanya menghela nafasnya. Dirinya tahu, tidak akan mudah baginya meruntuhkan ego dan melunakkan keras kepala seorang Danish dan mau tidak mau, dirinya harus menuruti kemauan sang adik.


"Oh ya! Kalau kakak boleh tahu. Kau tahu dari mana masalah ini dan kapan kau mengetahuinya?" tanya Garry.