THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Keberhasilan Adam Merebut Milik Keluarga Bimantara



Adam sudah berada di Perusahaan Ayah angkatnya. Ketika Adam sampai disana. Semua karyawan menyambut hangat Adam. Mereka semua sudah tahu status Adam di dalam keluarga Liam Levi Bimantara.


BRAAKK!


Salah satu anggotanya menendang pintu ruang kerja yang di dalamnya duduk seorang yang telah membunuh Levi.


Ketika pintu sudah dalam keadaan terbuka. Mereka pun melangkah masuk diikuti Adam di belakang.


"Siap kalian?!" bentak Dennis ketika melihat beberapa orang yang masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Aku malaikat mautmu," jawab Adam dengan memperlihatkan wajahnya di depan Dennis.


"Siapa kau? Kenapa kau seenaknya saja masuk ke ruanganku, hah?!" bentak Dennis.


"Benarkah? Aku pikir ada yang salah disini. Anda barusan mengatakan bahwa ruang kerja ini adalah ruang kerja milikmu. Apa anda sedang bermimpi, tuan!" Adam menatap Dennis dengan senyuman menyeringai.


"Aku sedang tidak sedang bermimpi. Ini ruang kerjaku. Kau datang ke Perusahaan milikku," jawab Dennis.


"Oh iya! Setahuku Perusahaan ini adalah milikku. Jadi, sejak kapan Perusahaan ini milikku, hum?"


"Apa kau pikir aku ini bodoh, hah?! Levi hanya memiliki dua anak laki-laki. Jika pun Levi memberikan Perusahaannya kepada anak-anaknya. Maka itu adalah Nicolaas dan Vigo. Sementara kau itu siapa nya Levi, hah?!" bentak Dennis.


Adam tersenyum mendengar ucapan dari Dennis. "Ternyata anda tidak terlalu pintar. Pemikiran anda terlalu dangkal sehingga anda tidak mengetahui bahwa adik angkat anda itu memiliki satu putra angkat. Dan akulah putra angkat dari adik angkat anda itu." Adam tersenyum mengejek menatap Dennis.


Mendengar ucapan dari Adam membuat Dennis benar-benar terkejut dan juga syok.


"Dan anda akan lebih terkejut lagi jika aku memberitahumu sesuatu," ucap Adam dengan menatap remeh Dennis.


"Jangan berbelit-belit. Langsung saja brengsek!" bentak Dennis dengan menatap tajam Adam.


"Eemm. Baiklah! Pertama, aku adalah putra angkat dari Liam Levi Adiyaksa... eeh salah... maksudku adalah Liam Levi Bimantara. Kedua, Ayah angkatku itu adalah Pamanku sendiri yang tak lain adalah putra kandung dari Amirah Lashira Bimantara. Keluarga brengsekmu itu telah menukarnya ketika dilahirkan. Ketiga, Ayah angkatku telah menyerahkan semua kekayaannya atas namaku Dirandra Adamka Abimanyu. Jadi dengan kata lain semua milik Ayah angkatku resmi menjadi milikku. Dan anda sudah berani mengambilnya dariku. Keempat, kau kenal bukan dengan keluarga Abimanyu? Kenalkan aku Dirandra Adamka Abimanyu. Cucu dari Yodha Akasha Abimanyu!"


Dennis benar-benar terkejut ketika mendengar semua penjelasan dari Adam. Dirinya tidak menyangka jika semua kekayaan milik Levi sudah menjadi milik Adam.


"Dan lihatlah ini." Adam memperlihatkan empat berkas. Sama seperti yang Adam perlihatkan kepada istrinya. Namun bedanya ketika dengan Dennis. Adam memperlihatkan empat berkas.


Berkas keempat itu adalah berkas yang berisi surat perjanjian atau surat pernyataan antara keluarga Kalyani, keluarga Adiyaksa dan keluarga Abimanyu. Dalam surat itu dua keluarga itu berjanji tidak akan berulah lagi atau mencari masalah dengan keluarga Abimanyu. Jika hal itu terjadi, maka kepolisian memberikan hak penuh kepada keluarga Abimanyu untuk melakukan apapun terhadap dua keluarga tersebut.


Namun isi surat itu sudah diperbarui oleh pihak kepolisian. Isinya dirubah sedikit dengan memasukkan anggota keluarga Bimantara disana.


Setelah membaca secara teliti dari keempat berkas-berkas itu membuat Dennis benar-benar terkejut. Dirinya tidak menyangka jika keluarga Abimanyu masih menyimpan surat tersebut dan juga masih mengingat kejadian dimasa lalu.


Dennis sangat tahu betul bagaimana watak dan kerasnya keluarga Abimanyu. Keluarga Abimanyu adalah keluarga yang tidak mengenal ampun jika ada yang berani mencari masalah dengan keluarga itu.


"Bagaimana, tuan? Sudah tahu sekarang. Oh iya! Tolong sampaikan kepada wanita murahan itu untuk tidak menyentuh Papaku, Evan Hara Bimantara atau kedua kakakku yaitu Ayden Garry Bimantara dan Danelio Danish Bimantara. Kau tahukan maksud dari perkataanku yang mengatakan tentang wanita murahan? Wanita murahan itu adalah Areta Dhira Kalyani, adik sepupumu!"


"Aku tahu rencana perempuan busuk itu. Perempuan itu ingin menyakiti ayahku. Dia ingin membalaskan sakit hatinya kepada ayahku. Ini peringatan dariku. Jika perempuan itu dan juga kakak laki-lakinya masih tetap dengan rencananya. Jangan salahkan aku dan juga keluargaku untuk menghabiskan kalian semua tanpa tersisa. Kau dan dua manusia busuk itu telah salah bermain-main denganku dan keluargaku." Adam berbicara dengan menatap tajam Dennis.


"Jadi aku minta padamu. Tinggalkan Perusahaanku ini secara baik-baik. Jika kau masih tetap ingin mempertahankan Perusahaan ini. Maka kau akan kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupmu."


Adam menatap tajam Dennis sambil menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh laki-laki itu.


Dennis balik menatap tajam Adam. "Aku cukup takjub padamu bocah. Tapi aku tidak akan melepaskan apa yang sudah aku dapatkan. Perusahaan ini sudah menjadi milikku." Dennis berbicara dengan nada menantang.


Adam tersenyum menyeringai. "Em. Baiklah kalau begitu. Jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu kepada istri tercintamu," sahut Adam.


BRAAKK!


Dennis menggebrak meja kerjanya dengan keras, lalu bangkit dari duduknya. "Jangan pernah kau menyentuhnya, brengsek!"


"Aku tidak peduli. Aku sudah berbicara baik-baik padamu. Tapi perkataanku sama sekali tidak kau iyakan. Maka aku akan mulai permainannya."


Adam melihat kearah anggotanya. "Kalian. Bawa bajingan ini ke markas milik Zelo dan kurung dia."


"Baik, Bos!"


Lalu dua orang langsung membawa paksa Dennis untuk keluar dari ruang kerja dan pergi meninggalkan Perusahaan.


Di kediaman Abimanyu seluruh anggota keluarga tampak khawatir. Pasalnya sudah tiga jam Adam pergi. Namun mereka sama sekali belum mendapatkan kabar dari Adam. Bahkan berulang kali mereka menghubungi Adam, tapi hasilnya tetap sama. Panggilan mereka selalu gagal.


"Bagaimana ini sayang? Putra bungsu kita belum pulang." Utari menatap suaminya dengan tatapan khawatir.


Evan menatap wajah istrinya, lalu menarik istrinya ke dalam pelukannya. "Semoga putra bungsu kita baik-baik saja. Percayalah!"


"Ardi, Harsha dan kalian semua." Danish melihat kearah Ardi, Harsha dan sahabat dari kedua sepupunya itu.


Ardi, Harsha, Arka, Kenzie Sakha dan Gala melihat kearah Danish.


"Ada apa Danish/kak Danish?" tanya mereka secara bersamaan.


"Kalian kenal Zelo kan?" tanya Danish.


"Iya. Kami kenal. Tapi kami hanya sebatas kenal doang. Adam yang lebih dekat dengan Zelo selama ini. Setiap informasi yang di dapatkan oleh Zelo dan kelompoknya. Mereka akan melaporkannya langsung kepada Adam bukan kepada kami. Walau Zelo dan kelompoknya tahu siapa kami, tapi tetap saja mereka tidak pernah memberikan sedikit pun informasi yang mereka dapatkan kepada kami." Ardi menjawab pertanyaan dari Danish.


"Berarti kalian tidak tahu berapa nomor ponsel Zelo?" tanya Danish lagi.


Dengan kompaknya Ardi, Harsha, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala menggelengkan kepalanya.


"Bahkan Adam menyimpan nomor ponsel milik Zelo tanpa menuliskan namanya," sahut Harsha.


"Lalu bagaimana caranya Zelo akan menghubungi kalian. Dan kalian menghubungi Zelo jika tidak ada Adam bersama kalian? Contoh saat seperti sekarang ini. Adam tidak bersama kita sekarang." ucap dan tanya Reza.


Ketika Ardi ingin menjawab pertanyaan dari Reza, tiba-tiba ponsel milik Ardi berbunyi menandakan panggilan masuk.


Ardi yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Kini ponselnya sudah di tangannya. Tertera di layar ponselnya 'nomor tak dikenal'. Ardi mengerutkan keningnya ketika menatap layar ponselnya.


"Ada apa sayang? Kenapa tidak diangkat panggilannya?" tanya Kamila, ibunya.


"Nomornya tidak aku kenal Ma," jawab Ardi.


"Angkat saja Di. Siapa tahu itu dari salah satu anggotanya Zelo? Zelo pasti akan menyuruh salah satu anggotanya untuk menghubungi salah satu dari kita kalau sudah berurusan dengan Adam!" seru Arka.


Arka baru mengingat tentang kebiasaan Zelo dan para anggotanya. Zelo akan menyuruh salah satu anggotanya untuk menghubungi salah satu orang terdekat Adam. Nomor itu akan mereka dapatkan dengan membuka ponselnya Adam dan mencarinya didaftar kontak Adam.


Mendengar seruan dari Arka. Ardi pun langsung menjawab panggilan tersebut. Disaat Ardi ingin menekan tombol hijau, Utari berseru.


"Loudspeaker panggilannya Ardi!" Ardi mengangguk.


"Hallo, Bos! Saya salah satu anggotanya Bos Zelo."


"Oh iya. Ada apa?"


"Begini, Bos! Ini pesan dari Bos Adam. Bos Adam saat ini bersama Bos Zelo di markas. Bos Adam sudah berhasil merebut kembali Perusahaan dan juga rumah mewah milik tuan Levi. Bukan itu saja. Saat ini bajingan itu bersama istrinya berada di penjara yang ada di markas Bos Zelo.


Anggota keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara, para sahabatnya Adam, para sahabatnya Ardi dan Harsha, para sahabatnya Danish dan para sahabatnya Vigo merasakan kebahagiaan di dalan hati mereka masing-masing ketika mendengar kabar dari salah satu anggotanya Zelo.


"Lalu bagaimana keadaan adikku? Dia baik-baik sajakan? Adikku tidak terlukakan?" Ardi memberikan pertanyaan secara beruntun.


"Bos tidak perlu khawatir. Bos Adam baik-baik saja. Bos Adam tidak mengalami luka-luka apapun. Hanya saja Bos Adam terlihat sedih setelah berhasil merebut kembali milik tuan Levi. Bos Adam sepertinya sedang merindukan tuan Levi."


Mendengar perkataan dari salah satu anggotanya Zelo membuat seluruh anggota keluarga dan para sahabatnya menjadi sedih.


"Bos Adam akan pulang satu jam lagi."


"Baiklah. Terima kasih informasinya."


"Sama-sama Bos. Kalau begitu saya tutup teleponnya."


Setelah itu, baik Ardi maupun anggotanya Zelo sama-sama mematikan ponselnya.