
Garry terkejut saat melihat foto-foto adik bungsunya dan foto-foto ibunya yang terpajang di dinding ruangan tersebut. Foto-foto tersebut penuh coretan dan kata-kata yang kasar. Yang membuat Garry benar-benar terkejut adalah terdapat sebuah pisau yang tertancap di foto adiknya.
"Apa Mama Dhira benar-benar ingin membunuh adikku?" batin Garry.
"Kalau kau sampai melukai adikku dan adikku tidak selamat. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu juga perempuan sialan," ucap Garry penuh emosi.
Garry mengambil ponselnya. Lalu Garry memoto semua apa yang ada di dinding di dalam ruangan tersebut sebagai bukti kalau selama ini Dhira sudah mengetahui keberadaan ibu kandungnya dan adik bungsunya.
Setelah selesai mengambil foto-foto yang terpajang di dinding ruangan tersebut, Garry pun pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Bakar rumah ini. Jangan lupa pakai sarung tangan agar tidak meninggalkan sidik jari," ucap Garry.
Ketiga teman-temannya hanya menurut apa yang diinginkan oleh Garry. Mereka pun membakar rumah mewah milik Dhira.
Setelah selesai melakukan tugas mereka, mereka pun pergi meninggalkan lokasi tersebut.
***
Kelompok Lilax dan kelompok Vagos
sedang melakukan tugas mereka masing-masing. Seperti biasa. kelompok Vagos dan kelompok Lilax sedang menyelusuri jalanan kota Jakarta. Dibantu oleh kelompok Brainer dan kelompok Bruizer.
Mereka membagi menjadi delapan kelompok. Mereka terus menyelusuri setiap jalanan kota Jakarta. Dan juga menyelusuri setiap cafe, rumah makan, hotel, apartemen dan tempat-tempat yang lainnya yang akan dijadikan tempat berkumpulnya Dhira atau orang-orang suruhannya. Bahkan gang-gang sempit juga mereka telusuri untuk menemukan keberadaan orang-orang suruhan Dhira.
Tersisa Danish, Ardi dan Harsha. Mereka masih berada di Apartemen bersama Utari. Danish sibuk dengan laptopnya dan sedang melacak nomor ponsel milik ibu tirinya. Ardi sedari tadi sibuk dengan media sosialnya. Ardi mengirimkan sebuah foto di media sosial miliknya. Foto milik Dhira yang menjadi sasaran empuknya di media sosial dan tak lupa dengan kata-kata yang menarik perhatian para pembaca.
Ardi.31
LIKE 1.766.981
Disukai oleh Harsha, Arka dan 1800 lainnya.
Ardi : Bagi yang bertemu dan melihat perempuan ini, hubungi nomor yang tertera dibawah ini 0813xxxxxxxx. Karena perempuan ini sedikit gila dan juga perempuan ini sudah menyekap adik kami. Mohon bantuannya!
Lihat semua komentar
Ele.m.98 Wah. Cantik-cantik kok gila. Pake nyekap anak orang segala. @Ardi kalau aku melihat dan tak sengaja bertemu dengan perempuan gila ini, aku bakal segera hubungi nomor kamu. Sabar, ya!
Lightonight Idih. Amit-amit dech. Cantik masa gila dan main nyulik anak orang lagi. @Ardi aku akan menghubungi nomor kamu, apabila aku melihat perempuan gila ini.
Hatri_dewi Wooi, kalau gila. Gila aja sendiri. Jangan pake nyulik anak orang.
Findryindry @Ardi Aku akan menghubungi nomor kamu kalau aku melihatnya.
Debian ^ 2
Monikaarumayu ^ 3
Tashakiyah ^ 4
Ridwan9167 ^ 5
"Semoga dari media sosial tersebut, ada yang melihat perempuan gila itu. Dan secepatnya mereka mengabariku," batin Ardi.
"Dam. Kakak mohon bertahanlah sampai kami berhasil menemukan keberadaanmu dan membawamu pulang." monolog Ardi.
Utari tak henti-hentinya menangis dan terus merapatkan doa untuk putra bungsunya.
***
Tak jauh beda dengan Utari. Evan juga tampak gelisah. Berulang kali dirinya melakukan kesalahan dalam bekerja. Dirinya benar-benar tidak fokus saat ini. Yang ada dipikiran saat ini adalah Adam, putra bungsunya. Evan sudah berulang kali menghubungi istrinya Dhira, tapi berulang kali pula ponsel milik istrinya tidak aktif.
BRAAKK!
Evan seketika memukul keras meja kerjanya. "Brengsek kau, Dhira! Kalau sampai putraku kenapa-kenapa, aku tidak akan pernah memaafkanmu."
Lalu tiba-tiba ponsel miliknya berbunyi.
DRTT!
DRTT!
Evan segera melihat siapa yang menghubunginya.
"Ibu," batin Evan.
Evan pun segera mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo, Bu."
"Hallo, Van. Kau ada dimana, Nak?"
"Aku masih di kantor. Ada apa, Bu?"
"Dhira pulang ke rumah. Ibu sekarang ada di depan pintu kamar ibu. Awalnya ibu mau turun ke bawah, tapi ibu mendengar suara seseorang yang sedang berbicara. Saat ibu lihat ternyata suara itu suaranya Dhira istrimu. Dia sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Lebih baik kau segera pulang."
"Baiklah, nak. Hati-hati di jalan!"
TUTT!
TUTT!
Panggilan dimatikan oleh ibunya.
Setelah mendapatkan telepon dari ibunya. Evan segera pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dan tak lupa dirinya mengabari kedua putranya Garry dan Danish.
***
Danish masih berkutat dengan laptopnya. Tapi dirinya masih belum berhasil menemukan keberadaan ibu tirinya itu.
"Aarrgghh!" Danish berteriak frustasi. "Dimana perempuan sialan itu berada sekarang ini? Kenapa susah sekali melacak keberadaannya?"
Utari yang mendengar teriakan putranya menjadi khawatir dan kemudian mendekati putranya keduanya itu dan memeluknya.
"Kita akan menemukannya, sayang. Bersabarlah." Utari berusaha menghibur putra keduanya itu, padahal di hatinya sudah teramat khawatir akan sibungsu.
DRTT!
DRTT!
Ponsel milik Danish berbunyi. Danish segera merogoh ponselnya yang ada di saku celananya dan dapat dilihat oleh Danish nama 'Papa' tertera di layar ponselnya. Danish segera menjawab panggilan tersebut.
"Hallo, Pa."
"Hallo, sayang. Kau pulanglah sekarang dan jangan lupa bawa tiga temanmu bersamamu dan suruh mereka menunggu di luar saat sudah sampai di rumah."
"Ada apa, Pa?
"Dhira ada di rumah sekarang. Nenekmu menelepon Papa dan mengatakan bahwa Dhira pulang ke rumah."
Danish tersenyum menyeringai. Dirinya mengerti maksud dari omongan sang Papa yang menyuruhnya membawa tiga temannya.
"Baiklah, Pa. Aku mengerti."
PIP!
Utari yang melihat putra tersenyum menjadi bingung. Tadi putranya marah-marah dan sekarang malah tersenyum. "Ada apa, sayang? Siapa yang barusan meneleponmu?"
"Kita tidak perlu repot-repot lagi mencari keberadaan perempuan sialan itu, Ma! Sekarang dia ada di rumah," ucap Danish.
"Apa?!" teriak Utari, Ardi dan Harsha bahagia.
"Benarkah itu, sayang?" tanya Utari.
"Eeemmm," jawab Danish menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana, bisa? Kau tahu dari mana kalau ibu tirimu itu ada di rumahmu?" tanya Ardi.
"Papa yang memberitahuku barusan di telepon. Dan Papa dapat kabar dari nenek," jawab Danish.
"Lalu papamu bilang apa padamu?" tanya Utari.
"Papa menyuruhku pulang sekarang juga dan menyuruhku membawa tiga temanku bersamaku. Dari situ aku sudah mengerti dari ucapan Papa tersebut," jawab Danish.
"Aku akan menghubungi Prana, Arya dan Kavi karena mereka bertiga ahli dalam pekerjaan ini!" seru Danish lalu menghubungi ketiga temannya dan detik kemudian terdengar suara di seberang telepon.
"Hallo, Danish."
"Hallo, Arya. Kau ada dimana dan bersama siapa?"
"Kebetulan aku bersama Prana dan Kavi. Dan kami berada di jalanan menyelusuri sekitaran cafe. Ada apa Danish?"
"Kebetulan sekali kalian bertiga. Aku butuh bantuan kalian sekarang ini. Kau, Prana dan Kavi sekarang juga ke rumahku karena perempuan sialan itu pulang ke rumah. Rencana kita sekarang ini adalah untuk melacak dan mengikuti kemana perempuan itu akan pergi. Karena aku yakin sekali, perempuan itu tidak akan lama berada di rumah dan dia pasti akan pergi lagi. Saat perempuan itu berada di dalam rumah. Kalian pasang alat pelacak dan alat penyadap di mobilnya."
"Baiklah. Aku mengerti. Aku, Prana dan Kavi segera ke rumahmu."
TUTT!
TUTT!
"Ya, sudah. Ma, aku pulang sekarang," pamit Danish.
"Hati-hati, sayang."
"Semoga berhasil!" seru Ardi dan Harsha.
"Aku titip Mamaku pada kalian," ucap Danish.
"Kami akan menjaga Mama Utari dengan baik," balas Ardi.
Danish pun pergi meninggalkan Apartemen kakeknya.