
Adam berjalan menyusuri koridor kampus untuk menuju kelasnya. Beberapa menit yang Melky mengirimkan pesan padanya untuk langsung ke kelas.
Ketika Adam fokus melihat ke depan. Dari arah berlawanan seorang gadis melangkah menuju kelasnya dengan tatapan matanya menatap ke layar ponselnya sembari sesekali menyeruput minuman yang ada di tangannya.
Dan detik kemudian..
Bruk..
Gadis itu menabrak tubuh Adam. Minuman yang ada di tangan gadis itu mengenai wajah dan bajunya Adam sehingga membuat baju Adam yang berwarna putih menjadi merah seketika.
Sementara gadis itu terjatuh ke lantai dengan pantat yang terlebih dahulu mencium lantai.
"Aww!" gadis itu kesakitan sembari mengusap-usap pantatnya.
Kejadian itu disaksikan oleh beberapa mahasiswa dan mahasiswi.
Gadis itu melihat sekelilingnya guna mencari ponsel miliknya tanpa disadari tatapan tajam yang diberikan oleh Adam padanya.
"Itu dia ponselku!" seru gadis itu.
Gadis itu kemudian berdiri dari jatuhnya, kemudian tangannya meraih ponselnya itu.
Namun ketika tangannya sedikit lagi menyentuh ponselnya, tiba-tiba sebuah kaki langsung mendarat di atas ponselnya, lalu kaki tersebut dengan kuat menginjak ponsel miliknya itu hingga layarnya pecah.
Gadis itu kemudian melihat kearah seseorang yang berdiri di hadapannya dengan tatapan mata orang itu menatap tajam dirinya.
Gadis itu seketika berdiri dengan balik menatap pemuda yang sudah menghancurkan ponselnya.
"Lo apa-apaan, hah?! Kenapa lo injak ponsel gue?!" bentak gadis itu.
"Terus lo mau apa? Mau minta ganti rugi, hah?!" Adam balik membentak gadis yang ada di hadapannya itu.
"Sudah seharusnya lo ganti ponsel gue karena lo yang udah hancurin ponsel gue!" bentak gadis itu dengan menunjuk wajah Adam.
Adam tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan dari gadis itu.
"Lo minta gue buat ganti ponsel lo. Terus bagaimana dengan baju gue. Apa mata lo nggak lihat baju gue sampai berubah merah kayak gini akibat ulah lo yang jalan nggak lihat ke depan. Mata lo sibuk menatap ke layar ponsel!" Adam tak kalah membentak gadis itu sehingga membuat tubuh gadis itu tersentak.
Tatapan mata gadis itu seketika melihat kearah baju pemuda yang ada di hadapannya. Dan benar baju pemuda itu sudah menjadi merah putih sekarang.
"Itu masalah baju. Lo kan bisa ganti. Sementara ponsel gue. Lo......."
"Apa lo bilang!" teriak Adam dengan menatap nyalang gadis tersebut sehingga membuat nyali gadis itu menciut seketika.
"Enak banget kalau ngomong ya. Udah salah, tapi nggak mau ngaku salah. Jangan lo pikir karena lo cewek, gue bakal lemah lembut sama lo. Nggak akan! Lo ganti baju gue. Setelah itu, baru gue ganti ponsel lo!"
"Lo nggak tahu berapa harga baju gue ini. Dan lo juga nggak tahu baju ini gue dapetnya dari mana. Jadi gue mau lo ganti baju gue, sekarang!" bentak Adam tepat di wajah gadis itu.
"Dan satu lagi. Gue nggak butuh uang lo. Yang gue butuhkan adalah lo beli baju buat gue sama seperti baju yang gue pakai ini. Merek baju gue ini Gucci. Lo tahu kan harganya. Lebih mahal baju gue dibanding ponsel lo itu. Dan baju ini adalah hadiah dari kakak gue!" bentak Adam.
Setelah mengatakan itu, Adam langsung pergi meninggalkan gadis itu sendirian.
Sementara untuk gadis tersebut tampak membeku di tempat ketika mendengar ucapan demi ucapan dari pemuda yang dia tabrak.
"Mampus gue. Mau cari uang dimana buat gantiin baju dia. Ponsel gue itu aja dibeliin sama kakak gue seminggu yang lalu." Gadis itu berucap lirih.
^^^
Adam saat ini berada di toilet. Untungnya Adam bawa baju cadangan setiap pergi ke kampus.
"Dasar gadis sialan. Gara-gara dia baju yang dibeli sama kakak Garry jadi rusak. Gue yakin warna merah ini nggak bakal bisa hilang walau dicuci berulang kali," ucap Adam dengan wajah amarahnya.
"Awas aja lo. Gue bakal buat hidup seperti di neraka selama berada di kampus ini," ucap Adam.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, Adam pun keluar meninggalkan toilet dan langsung menuju kelasnya.
^^^
Sementara ketujuh sahabat-sahabatnya yang berada di dalam kelas sudah seperti cacing kepanasan menunggu kedatangan Adam. Terakhir Melky mengirim pesan dan menanyakan keberadaan Adam. Dan Adam membalas pesan tersebut dengan mengatakan sudah sampai di parkiran kampus.
"Adam kenapa lama sekali?" tanya Leon.
"Jika tadi Adam membalas pesan dari Melky yang mengatakan sudah sampai di parkiran kampus. Seharusnya sejak tadi Adam sudah sampai disini," ucap Diego.
"Kelayapan kemana dulu tuh anak," ujar Vino.
Brak..
Tiba-tiba salah satu teman sekelasnya memasuki dengan cara membuka pintu kelas secara kasar sehingga membuat seisi kelas mengumpatinya.
"Dasar sialan, kampret, bodoh, tengil, busuk, bau, keturunan gorila!"
Mendengar kata-kata indah yang keluar dari mulut semua teman-teman cowoknya membuat mahasiswa itu membelalakkan matanya syok.
Sementara untuk teman-teman ceweknya tertawa keras ketika mendengar kata-kata indah dari teman-temannya dan melihat wajah syok dari salah satu teman cowoknya.
"Dasar teman-teman laknat!"
"Lo yang laknat!" semua teman-temannya menjawab perkataan itu.
Laki-laki itu melihat kearah Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
"Eh, kalian! Tadi aku lihat Adam lagi bertengkar dengan salah satu mahasiswi. Mahasiswi itu dari fakultas kedokteran."
"Apa?!" teriak Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
"Sekarang Adam dimana?" tanya Zio.
"Apa dia masih sama anak fakultas itu?" tanya Diego.
"Apa....?"
"Aku lihat dia ke toilet tuh. Bajunya kotor banget akibat tersiram minuman dari mahasiswi itu."
"Apa Adam marah sama mahasiswi itu?" tanya Vando.
Kenapa Vando bertanya seperti itu? Karena Vando dan juga kelima sahabatnya tahu watak Adam seperti apa. Dia akan langsung memarahi lawannya jika lawannya itu mencari masalah dengannya. Apalagi kalau masalah tersebut karena ceroboh.
"Jangan ditanyakan lagi. Adam sangat marah sekali sama mahasiswi itu. Bahkan Adam dengan kejamnya menginjakkan ponsel mahasiswi itu hingga layar ponselnya hancur."
Mendengar perkataan dari temannya itu membuat Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando terkejut. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando saling lirik. Setelah itu, mereka menganggukkan kepalanya.
Kemudian mereka berdiri dari duduknya. Mereka hendak menyusul Adam yang masih di toilet.
Ketika mereka hendak melangkah, tiba-tiba Adam datang dengan wajah yang tak mengenakkan.
"Nah, itu Adam!" seru salah satu mahasiswi.
Mereka semua melihat kearah Adam yang melangkah masuk ke dalam kelas. Termasuk ketujuh sahabatnya.
Adam menghentikan langkahnya sejenak ketika semua teman-teman sekelasnya termasuk sahabat-sahabatnya menatap dirinya.
Beberapa detik kemudian..
"Ngapain pada liatin gue? Nggak pernah lihat orang ganteng ya?"
Setelah mengatakan itu, Adam dengan tampang santainya melangkah menuju mejanya.
Sementara semua teman-teman sekelasnya termasuk ketujuh sahabat-sahabatnya menatap tak percaya Adam ketika mendengar ucapan penuh percaya diri dari Adam.
"Gue dengar lo habis adu jotos sama anak fakultas kedokteran!" seru Melky.
"Iya, kenapa? Apa lo mau berantem sama gue? Sini! Kebetulan tadi pas gue berantem sama tuh cewek. Gue mati-matian nahan tangan gue buat nggak nonjok wajahnya. Dikarenakan emosi gue masih belum reda. Bagaimana kalau gue jadikan wajah lo Samsat gue?"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam membuat semua teman-teman sekelasnya tertawa. Begitu juga dengan Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
Sementara untuk Melky, seketika memberikan pelototan tajamnya kepada Adam.
"Dam," panggil Vando.
"Iya."
"Ada masalah apa? Kenapa lo sampai ribut dengan seorang cewek?"
"Gue kesal. Tuh cewek jalan tatapan matanya menatap ke layar ponselnya dia sembari tangan satu memegang minuman. Nah, terus dia nabrak gue! Dan lo, lo dan lo semua tahu apa yang terjadi. Minumannya itu kena baju gue."
Adam menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya. "Yang bikin gue marah. Pertama, dia nggak langsung minta maaf sama gue. Kedua, dia malah enak-enaknya mikirin ponselnya yang tergeletak di lantai. Ya, udah! Gue injak aja tuh ponsel dia."
"Tapi nggak gitu juga Adam! Kasihan kan dia udah nggak punya ponsel lagi. Kalau misalkan dia mau menghubungi keluarganya atau keluarganya mau hubungi dia bagaimana?" ucap dan tanya Diego.
Adam seketika langsung menatap kearah Diego. Terlihat dari tatapan matanya, tatapan tak suka ketika mendengar ucapan dari Diego.
"Lo belain dia?"
"Bukan gitu, Dam! Gue....."
"Lo tahu nggak yang buat gue emosi sama cewek sialan itu? Baju yang gue pakai adalah baju hadiah ulang tahun gue dari kakak Garry. Kakak Garry sudah lama sekali ingin membelikan gue baju itu. Tapi gara-gara cewek sialan itu, baju pemberian kakak gue jadi kotor. Minuman cewek sialan itu udah buat baju pemberian kakak gue rusak! Gue yakin jika dicuci berapa kali pun nggak akan hilang warnanya!"
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam membuat Melky, Vino, Diego, Gino, Zio Leon dan Vando sedih. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.
"Seandainya dia jalan nggak bawa minuman. Gue nggak permasalahkan hal itu. Gue juga nggak akan marah besar sama dia."
"kalian tahu nggak? Baju yang dibeli sama kakak Garry baru dibeli kemarin. Dan pagi ini gue pakai. Dan ini adalah untuk pertama kalinya kakak kandung gue beliin gue baju mahal. Selama ini kakak-kakak sepupu gue yang selalu beliin gue baju termasuk kak Ardi dan kak Harsha."
Melky yang duduk di samping Adam langsung mengusap-usap lembut punggung Adam.
"Yang sabar ya. Gue tahu perasaan lo."
"Sebenarnya gue nggak mau kasar sama dia, Melky! Tapi lo tahu kan. Baju ini adalah baju pemberian kakak gue. Setidaknya biarkan gue merasakan kebahagiaan ketika memakai baju baru dari kakak gue."
Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam. Serta melihat wajah sedih Adam membuat ketujuh sahabatnya menjadi tidak tega. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya. Mereka semua ikut sedih mendengar alasan Adam yang marah terhadap mahasiswi tersebut.
^^^
Di ruangan para dosen dimana berkumpul Danish, Vigo, Ardi dan para sahabatnya. Mereka saat ini tengah mengoreksi tugas-tugas dari mahasiswa dan mahasiswinya.
Ketika mereka semua tengah fokus memeriksa tugas-tugas para mahasiswa dan mahasiswinya. Secara kompak ponsel mereka berbunyi menandakan sebuah pesan grup WhatsApp masuk.
Ting.. Ting..
Ting..
Danish, Ardi, Vigo dan para sahabatnya langsung membuka pesan grup WhatsApp tersebut. Dan seketika mereka semua terkejut ketika melihat Adam yang ribut dengan seorang cewek.
Ketika melihat wajah Adam yang begitu marah apalagi ketika mendengar ucapan dari Adam membuat mereka paham, terutama Danish.
"Baju yang dipakai Adam itu baju yang dibelikan oleh kakak Garry kemarin. Dan pagi ini Adam memakainya. Wajar kalau Adam begitu marah kepada gadis itu," sahut Danish.
"Dan lagian gadis itu juga salah disini. Kenapa dia jalan sambil bermain ponsel? Seharusnya dia kalau jalan lihat-lihat ke depan. Jangan fokus ke ponsel aja. Dan ditambah lagi gadis itu bawa minuman lagi di tangannya," ucap Arka panjang lebar ketika tatapan matanya melihat ke layar ponsel miliknya.
"Gue kalau di posisi Adam juga bakalan marah juga. Gara-gara ponsel, orang lain jadi korbannya!" ucap Kenzie.
"Dan untungnya gadis itu tidak kena bogem mentah sama Adam. Coba kalau dapat, habis tuh wajah cantiknya!" celetuk Nigel.
"Ya, sudah. Kita selesaikan memeriksa tugas-tugas para mahasiswa dan mahasiswi kita ini. Setelah itu, kita temui Adam!" seru Kavi.
"Hm!" mereka semuanya berdehem sebagai jawabannya.
Setelah itu, mereka semua melanjutkan memeriksa tugas-tugas para mahasiswa dan mahasiswinya.