
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Setelah dinyatakan sembuh oleh sang Dokter yang menanganinya selama beberapa hari di rumah sakit memberikan izin dirinya untuk pulang.
Saat ini Adam sudah berada di ruang tengah bersama dengan semua anggota keluarganya. Baik anggota keluarga dari pihak ayahnya maupun dari pihak ibunya.
Evan, Utari, Garry, Danish menatap penuh kebahagiaan kearah Adam yang saat ini tengah bersandar di bahu Amirah sang nenek. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya. Mereka juga tampak bahagia melihat kondisi Adam sekarang ini.
Sejak Amirah sang nenek meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu kepada Adam. Sejak itulah hubungan mereka tampak harmonis. Amirah sering menghabiskan waktunya bersama semua cucu-cucunya, terutama terhadap Adam dan Nicolaas dan Vigo. Karena mereka lah cucu yang selama ini jauh darinya.
Amirah memberikan perhatian dan kasih sayangnya kepada semua cucunya terutama kepada Adam, Nicolaas dan Vigo.
"Apa kepalanya masih sakit, sayang?" tanya Amirah dengan tangannya mengusap lembut kepala Adam.
"Tidak. Sejak di rumah sakit sampai sekarang. Semuanya baik," jawab Adam jujur.
Mendengar jawaban dari Adam membuat mereka semua tersenyum kebahagiaan dan kelegaan. Yang paling bahagia disini adalah Utari, Evan, Garry dan Danish.
"Nenek senang mendengarnya. Jangan sakit-sakit lagi ya. Sedih lo hati nenek setiap melihat kamu kesakitan," ucap Amirah.
"Kalau aku boleh memilih. Aku nggak mau sakit. Aku ingin sehat selamanya. Aku juga nggak mau merasakan kesakitan di tubuhku. Tapi aku kan bukan Tuhan yang menentukan semua itu." Adam menjawab perkataan dari sang nenek.
Mendengar jawaban dari Adam membuat mereka semua terdiam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Adam bahwa tidak ada seorang pun yang ingin sakit. Semua pasti menginginkan kesehatan.
Ketika mereka semua tengah mengobrol bersama sembari membahas tentang kondisi Adam. Seorang pelayan datang menemui majikannya di ruang tengah.
"Maaf tuan Evan, nyonya Utari!"
Evan dan Utari langsung melihat kearah pelayannya. Begitu juga dengan anggota keluarga lainnya.
"Iya, bi! Ada apa?" tanya Utari.
"Itu diluar ada tamu."
"Tamunya nyari siapa?" tanya Evan.
"Katanya nyari tuan muda Adam."
Adam seketika membulatkan matanya ketika namanya disebut. Kemudian Adam melihat kearah pelayan tersebut.
"Mencariku?"
"Iya, tuan muda."
"Siapa? Tamunya laki-laki atau perempuan?"
"Seorang gadis, tuan. Katanya dia datang dari Bandung. Dan gadis itu tidak sendirian, melainkan dengan seorang wanita paruh baya."
Mendengar penjelasan dari sang pelayan mengenai tamu tersebut membuat Adam berpikir sejenak.
Beberapa detik kemudian, terukir senyuman manis di bibirnya setelah mengetahui siapa tamu tersebut.
Melihat Adam yang tiba-tiba tersenyum membuat Utari, Evan, Garry, Danish dan semua anggota keluarganya seketika paham arti dari senyuman Adam itu.
Adam langsung berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap pelayan tersebut.
"Dimana mereka sekarang?" tanya Adam.
"Mereka masih diluar, tuan muda!"
"Kenapa nggak disuruh masuk. Aish!" Adam berucap kesal.
Setelah mengatakan itu, Adam langsung berlari untuk menemui dua tamu tersebut. Sementara pelayan tersebut seketika menundukkan kepalanya.
Melihat pelayan yang tiba-tiba menundukkan kepalanya membuat mereka semua paham. terutama Evan dan Utari.
"Bibi jangan merasa bersalah begitu karena tidak membawa masuk tamunya. Saya mengerti alasan bibi melakukan hal itu," ucap Evan.
"Tapi bagaimana dengan tuan muda Adam, tuan?"
"Adik saya itu tidak marah sama Bibi. Apa tadi melihat kalau Adam bersikap kasar atau berkata kasar sama Bibi karena Bibi tidak membawa masuk tamunya?" tanya Garry.
"Tidak. Tuan muda Adam tidak berkata kasar kepada Bibi."
"Nah, itu berarti tandanya Adam tidak marah sama bibi. Hanya saja Adam tadi itu kesal karena Bibi tidak langsung membawa masuk tamunya," ucap Garry.
"Jadi lain kali jika Bibi melihat reaksi Adam seperti tadi. Itu tandanya Adam tidak lagi dalam keadaan marah," ucap Danish.
"Baik, tuan muda Danish."
"Baik, nyonya!"
Setelah itu, pelayan itu pun pergi meninggalkan ruang tengah untuk mengerjakan apa yang diminta oleh majikannya itu.
Sementara Utari, Evan dan anggota keluarganya menyusul Adam di ruang tengah.
^^^
Grep..
"Adam, aku kangen kamu!" gadis itu langsung memeluk erat tubuh Adam ketika Adam keluar dari dalam rumah.
Sementara wanita yang berdiri di sampingnya hanya tersenyum melihat tingkah keponakannya itu.
"Aku juga merindukan kamu, Jasmine!" Adam membalas perkataan gadis yang memeluk dirinya.
Tatapan matanya menatap kearah wanita paruh baya yang sejak tadi menatap dirinya dengan senyuman.
"Apa kabar Bibi Yani?"
Perempuan yang bernama Yani itu tersenyum ketika mendengar sapaan dari Adam, sahabat dari putra bungsunya.
Yah! Dua tamu untuk Adam itu adalah Yani dan Jasmine. Keduanya datang mengunjungi Adam dikarenakan mereka mendapatkan kabar mengenai Adam yang masuk rumah sakit.
"Eheemm!"
Seseorang berdehem di belakang Adam sehingga membuat Jasmine langsung melepaskan pelukannya.
Adam melihat keasal suara. Dan dapat dilihat oleh Adam bahwa semua anggota keluarganya pada menyusul dirinya.
"Aish! Kenapa kalian semua pada kesini sih?" kesal Adam yang melihat semua anggota keluarganya menghampiri dirinya.
Sementara semua anggota keluarganya seketika tersenyum tanpa ada rasa bersalah sama sekali mendengar ucapan pertanyaan kesal dari Adam.
Utari mendekati Jasmine yang saat ini tampak malu karena kepergok memeluk Adam. Tangannya kemudian terangkat untuk mengusap lembut kepala Jasmine.
"Mama ingin melihat calon menantu Mama," ucap Utari tersenyum menatap wajah malu Jasmine.
Jasmine merasakan kehangatan di hatinya ketika mendengar ucapan dari ibunya Adam yang mengklaim dirinya sebagai menantunya.
Sementara Yani yang melihat bagaimana ibunya Adam memperlakukan Jasmine keponakannya merasakan kebahagiaan di hatinya. Yani berharap keponakannya itu mendapatkan kasih sayang dari ibunya Adam. Keponakannya itu yatim piatu sekarang. Dia menginginkan kebahagiaan untuk keponakannya itu.
Setelah membuat Jasmine tersenyum dan malu akan perkataannya. Kini Utari menatap kearah wanita yang berdiri tak jauh dari Jasmine. Utari tahu dan kenal wanita itu.
"Hallo Yani. Apa kabar?"
"Aku baik, kak!" jawab Yani lembut.
" Lebih baik kita masuk ke dalam. Dan melanjutkan obrolan di dalam saja," ucap Evan selaku kepala keluarga.
Setelah itu, Utari menggandeng tangan Yani dan Jasmine bersamaan lalu membawanya masuk ke dalam rumah dan meninggalkan putra bungsunya yang saat ini menatap dengan wajah kesal.
"Itukan tamu aku. Kenapa justru Mama yang bertindak seolah-olah Mama yang menerima tamu," ucap Adam dengan mempoutkan bibirnya.
Garry dan Danish tersenyum ketika mendengar ucapan serta melihat wajah kesal adiknya akan ulah ibunya. Begitu juga dengan Dzaky, Rafig, Ardi, Juan, Reza, Harsha, Nicolaas dan Vigo.
"Sudah. Jangan ngambek gitu," ucap Garry.
"Wajah kamu sudah jelek jangan dibuat jelek lagi. Tambah jelek nantinya," ledek Danish dengan tersenyum.
"Nah, jika wajah kamu jelek. Ntar Jasmine kabur ninggalin kamu," sela Vigo.
"Dan Jasmine bakal nyari cowok ganteng yang melebihi dari kamu," goda Ardi.
"Sehingga berakhir kamu nangis kejang-kejang ketika melihat Jasmine bersama cowok lain," goda Ardi.
Mendengar ucapan demi ucapan dari kakak-kakaknya membuat Danish menatap tajam satu persatu wajah kakak-kakaknya itu.
"Kalian benar-benar menyebalkan ya!" teriak Adam keras sehingga membuat semua kakak-kakaknya menutup telinga masing-masing.
Setelah mengatakan itu sembari berteriak, Adam langsung melangkah masuk ke dalam rumah dengan menghentakkan kakinya.
"Hahahahahaha."
Seketika tawa Garry, Danish, Dzaky, Rafig, Ardi, Juan, Reza, Harsha, Nicolaas dan Vigo pecah ketika melihat wajah kesal Adam bersamaan dengan kaki mereka melangkah memasuki rumah.