THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Ikatan Batin



Sekarang mereka sudah berada di rumah sakit, tepatnya di ruang rawat Adam. Sejak kejadian perkelahian antara geng Brainer dan geng Bruizer yang mengakibatkan Adam dan Danish tak sadarkan diri dan berakhir masuk rumah sakit.


Adan sudah dua hari tidak sadarkan diri setelah kejadian perkelahian di kampusnya dua hari yang lalu.


"Dam, kapan kau akan bangun, hum? Apa kau tidak merindukan kakak?" tanya Ardi saat memandangi wajah damai adik sepupunya itu.


"Hei, kelinci nakal. Bangunlah! Kau jangan seperti kak Ardi yang tukang tidur!" seru Harsha.


PLETAK!


"Yak! Kak Ardi. Kenapa menjitakku?" protes Harsha.


"Itu salahmu sendiri. Kenapa kau berani menghinaku?" ucap Ardi tak terima dikatakan tukang tidur.


"Tapi memang kenyataan begitukan kalau kakak itu tukang tidur," ejek Harsha.


"Yak!" Ardi hendak melayangkan jitakannya lagi, tapi sebuah suara menghentikan niatnya.


"Sudah, sudah. Ini rumah sakit bukan arena adu mulut!" seru Rafig.


"Kak Ardi duluan," sela Harsha.


"Kau duluan yang menghinaku. Dasar bodoh!" umpat Ardi.


"Kakak yang bodoh."


"Kau yang bodoh alien busuk."


"Dasar beruang kutub."


"Kurap."


"Vampir."


"Alien nyasar, hitam, bau, tengil."


PLETAK!


PLETAK!


Dzaky memberikan satu jitakan masing-masing di kening adik-adiknya. Dan hal itu sukses membuat kedua adik-adik meringis.


"Disuruh diam malah makin ribut." kesal Dzaky.


Sementara Ardi dan Harsha hanya memperlihatkan wajah masam mereka.


"Adam. Ini Mama, sayang. Bukalah matamu. Sudah dua hari kamu tertidur. Apa kamu tidak merindukan Mama?" Utari berucap dengan menitikkan air matanya dan tangannya menggenggam tangan putranya.


^^^


Ditempat yang lain, dan di rumah sakit yang sama. Kondisi serupa dirasakan oleh Danish. Dirinya juga sudah dua hari tidak sadarkan diri. Evan dan Garry menangis melihat kondisi Danish.


"Apa yang terjadi sebenarnya padamu, Danish? Kenapa kamu selalu membuat Papa khawatir? Dan kenapa kamu selalu berkelahi?" lirih Evan.


"Rencanaku berjalan mulus. Kedua kakak beradik ini pasti bertarung mati-matian sampai membuat keduanya sama-sama tergeletak tak sadarkan diri di rumah sakit. Rencana selanjutnya aku akan membuat Evan marah dan memukul putranya sendiri Dirandra Adamka Abimanyu di depan semua orang. Tepatnya di Kampus," batin Dhira.


"Sayang. Kau harus sabar. Mungkin Danish sampai berkelahi karena hasutan orang lain atau ada orang yang sengaja membuat Danish sakit hati. Kitakan tidak tahu. Jadi, kau jangan memarahinya. Aku yakin Danish itu anak yang baik," tutur Dhira pada suaminya.


"Mungkin apa yang dikatakan oleh Mama Dhira ada benarnya juga, Pa? Papa jangan memarahi Danish. Aku mohon sama Papa." Garry berbicara sembari memohon pada ayahnya.


"Kamu tidak perlu khawatir, Garry. Papa tidak akan memarahi adikmu," jawab Evan.


***


Ke esokkan harinya di hari yang ketiga. Di ruang rawat Adam telah berkumpul anggota keluarga dan sahabat-sahabatnya. Mereka berharap orang yang mereka rindukan mau membuka matanya.


"Adam. Kami datang lagi. Kami mohon bukalah matamu, Dam." Arka terlebih dahulu bersuara.


"Hei, Dam. Apa kau tidak lelah tidur terus, hum? Ayolah, buka mata bulatmu itu." Kenzie berbicara sambil membelai rambut Adam.


"Ternyata sibiang rusuh keluarga Abimanyu masih enggan untuk bangun," lirih Dzaky.


Utari yang menggenggam tangan putra bungsunya merasakan tangannya digenggam balik oleh Adam.


"Adam," panggil Utari.


Semua memandanginya. Mereka berharap Adam mau membuka matanya setelah dua hari tidak sadarkan diri.


Dan detik kemudian, Adam berlahan membuka kedua matanya.


"Akhirnya," ucap mereka semua.


"Sayang," Utari mengelus rambut putranya. "Apa yang kamu rasakan sekarang, hum?" tanya Utari sambil mengelus wajah tampan putra bungsunya.


"Kepalaku sedikit sakit," keluh Utari.


Lima menit kemudian, Reza datang bersama seorang Dokter, lalu Dokter tersebut memeriksa kondisi Adam. Sedangkan yang lainnya menunggu diluar.


"Apa ada keluhan, Adam?" tanya Dokter tersebut.


"Kepalaku di bagian belakang terasa sakit, Dok." Adam menjawabnya.


"Selain sakit di kepala. Apa ada keluhan lain yang kau rasakan?" tanya Dokter itu lagi.


"Tidak. Hanya kepalaku saja," jawab Adam.


"Baiklah. Aku akan memberikanmu obat untuk menghilangkan rasa sakit di kepalamu itu. Kalau begitu saya permisi dulu."


Setelah itu, Dokter itu pun pergi meninggalkan ruang rawat Adam.


CKLEK!


Dokter itu sudah berada diluar dan bertemu dengan anggota keluarga Adam.


"Bagaimana keadaan putra saya Dokter?" tanya Utari.


"Pasien mengeluh sakit di bagian kepala belakangnya. Dan saya akan memberikan obat untuk menghilangkan rasa sakit itu untuk satu minggu. Setelah obat itu habis, kita lihat perkembangannya dalam satu atau dua minggu ini. Apabila sakit itu kambuh lagi, kita harus melakukan ST scan." Dokter itu berucap sambil menatap satu persatu anggota keluarga Adam.  


"Baiklah, Dok."


"Kalau begitu saya permisi dulu."


"Terima kasih, Dokter."


Mereka semua kembali masuk ke ruang rawat Adam.


^^^


Tidak jauh beda dengan Adam. Danish juga sudah dalam kondisi baik-baik saja. Hanya sedikit nyeri bagian punggungnya.


"Papa bahagia sekali melihatmu sadar, Nak! Papa Benar-benar khawatir saat kau tidak sadarkan diri selama dua hari." Evan berbicara sambil mengusap lembut kepala putra keduanya itu.


"Kakak tidak ke kantor?" tanya Danish.


"Kakak akan menemanimu sampai kamu pulang ke rumah," jawab Garry.


Terukir senyuman di bibir Danish. "Benarkah? Kakak akan menemaniku disini dan tidak akan meninggalkanku?"


"Eeemmm," jawab Garry disertai anggukkan kepalanya.


"Terima kasih, kak!"


Setelah lima hari dirawat di rumah sakit Adam sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Begitu juga dengan Danish. Dan sekarang mereka berada di rumah masing-masing.


***


Adam berada di kamarnya saat ini. Dirinya sedang duduk di sofa sembari memeluk boneka kelinci hadiah ulang tahun dari kakak aliennya itu. Pikirannya saat ini tertuju pada saat perkelahiannya dengan Danish.


"Apa yang terjadi sebenarnya? Disaat-saat terakhir perkelahianku dengannya, tiba-tiba cuaca yang tadinya cerah dan panas menjadi gelap serta angin berhembus dengan kencang. Lalu detik kemudian suara petir menggelegar dan disusul hujan yang turun dengan lebatnya." ucap Adam.


"Bagaimana keadaannya sekarang ini? Apakah nasibnya sama sepertiku?" tanya Adam pada dirinya sendiri.


"Aaaaaa! Kenapa aku malah memikirkan sibodoh itu, sih!" teriak Adan frustasi.


***


Danish berada di dalam kamarnya. Dirinya kini tengah duduk bersandar di kepala tempat tidur. Sama seperti yang dirasakan oleh Adam. Danish juga tengah berpikir tentang perkelahiannya dengan Adam.


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa saat bertarung dengannya ada perasaan aneh dalam diriku ini? Setiap kali aku ingin memberikan pukulan, tapi ada dorongan dalam diri untuk menghentikan gerakan tanganku. Tanganku terasa berat untuk melayangkan pukulan padanya." Danish bertanya pada dirinya sendiri.


"Bagaimana keadaannya sekarang? Aish! Kenapa juga aku harus memikirkannya? Memangnya dia siapa?" batin Danish.


***


Setelah satu minggu istirahat di rumah Adam sudah diizinkan untuk kuliah. Yaa! Walau ada perdebatan kecil antara dirinya dengan ibunya. Dengan menggunakan taktik ancaman Adam berhasil mengalahkan ibunya itu. Karena dia sangat tahu bahwa ibunya sangat lemah kalau sudah mendapatkan ancaman darinya.


Tidak jauh beda dengan Danish. Danish juga sudah diizinkan untuk kuliah. Walau awalnya Evan tidak mengizinkan putranya untuk kuliah dulu, tapi apa boleh buat keras kepala putranya tidak bisa dilawan. Dan dia juga tidak mau ribut dengan Danish, putra keduanya itu.


Dhira yang berada di kamarnya sedang menjalankan rencana berikutnya. Dia mengambil ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.


From : Dhira


Hari ini suamiku ada pertemuan orang tua di Kampus. Dan suamiku Evan akan hadir. Kau harus bisa memanas-manasi suamiku dan mengatakan padanya bahwa dia harus menjaga putranya Danish dari Adam sipreman Kampus. Kalau perlu kau katakan padanya apa yang terjadi pada putranya sampai tidak sadarkan diri selama dua hari di rumah sakit itu adalah ulah Dirandra Adamka Abimanyu. Kau harus bisa membuat suamiku murka dan memukuli Adam didepan semua mahasiswa dan mahasiswi di Kampus.


To : Alex


Baik! Akan aku lakukan dengan baik.


"Aku akan menghancurkan kalian. Aku tidak akan membiarkan kalian bersatu kembali," batin Dhira.