THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Siluman Kingkong



"Sebentar lagi aku akan menjadi nyonya Gennaro. Dan untukmu Yoga. Ucapkan selamat perpisahan dengan istrimu. Aku tidak ingin tinggal satu rumah dengan istrimu itu," ucap wanita yang mengaku hamil anak dari Yoga.


Wanita itu saat ini tengah berdiri bersandar di samping mobilnya dengan tatapan matanya menatap rumah besar tingkat dua, luas dan mewah.


Ketika sedang asyik menatap rumah besar dan mewah keluarga Gennaro, tiba-tiba wanita itu dikejutkan dengan suara seorang laki-laki yang tak lain adalah security di rumah itu.


"Nyonya siapa?"


"Ach, iya maaf. Saya Monica Gautama. Saya adalah istri kedua dari tuan Prayoga Gennaro. Jika anda tidak percaya. Silahkan masuk dan tanyakan sendiri kepada majikan anda," ucap Monica.


Mendengar perkataan dari wanita yang ada di hadapannya membuat security itu tidak langsung mempercayai wanita itu. Security itu menuju ruangannya dan menghubungi majikannya untuk memberitahu.


Security itu menekan nomor kontak majikannya. Setelah selesai, security itu pun berbicara.


"Tuan."


"Ada apa?"


"Diluar ada seorang wanita. Dia mengaku sebagai istri keduanya tuan. Nama wanita itu Monica Gautama, tuan!"


"Dia hanya orang gila. Ya, sudah! Biarkan saja dia masuk."


"Tapi tuan!"


"Kau tidak perlu khawatir. Siapkan satu senjata untuk melindungi dirimu jika gila wanita itu kumat."


"Ach, baiklah tuan."


Setelah mengatakan itu, security itu mematikan panggilannya. Kemudian security itu langsung menemui wanita tersebut.


"Bagaimana? Sudah percaya?" tanya Monica dengan bangganya.


"Majikan saya bilang kalau anda sedang sakit jiwa. Jadi saya diminta untuk mempercayai anda," jawab security itu.


Seketika Monica mengepal kuat tangannya ketika mendengar jawaban dari security tersebut yang mengatakan dirinya sedang sakit jiwa.


"Saya tidak gila. Saya sehat dan normal!" bentak Monica.


"Yang bilang anda gila siapa? Saya tadi bilang kalau anda sakit jiwa. Bukan menyebut anda gila," jawab security itu.


"Itu sama saja bodoh!"


"Ya, beda lah! Dari mana samanya? Sakit jiwa dan gila. Dari tulisannya saja sudah berbeda," jawab security itu lagi.


Monica menatap penuh amarah dengan kedua tangannya mengepal kuat kearah securindo tersebut.


Sementara security tersebut hanya bersikap acuh dan santai.


"Tidak usah menatap saya seperti itu! Nyonya mau masuk atau tetap berdiri disitu? Waktu nyonya berpikir hanya dua detik saja. Waktu habis, silahkan nyonya pergi. Jika tidak, saya akan telepon polisi."


Monica sudah benar-benar habis kesabaran menghadapi kelakuan aneh security dari Yoga. Dirinya kemudian masuk ke dalam mobil. Menghidupkan mesin mobilnya lalu menjalankan mobilnya memasuki perkarangan luas kediaman keluarga Gennaro.


"Hahahahaha."


Seketika tawa security itu pecah karena sudah berhasil membuat Monica marah dan kesal akan ulah dan ucapan-ucapannya.


"Emangnya enak dipermainkan," ucap security itu tersenyum.


***


Adam, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando saat ini berada di kelas. Mereka bersiap-siap untuk pulang karena sepuluh menit yang lalu mereka sudah selesai mengikuti materi kuliah yang terakhir. Mereka tengah memberes-bereskan buku-bukunya untuk di masukkan ke dalam tas.


Setelah selesai dengan urusannya, Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya pun langsung pergi meninggalkan kelas untuk menuju parkiran. Mereka akan langsung pulang ke rumah tanpa ada niat untuk jalan-jalan dulu.


Adam, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor sekolah yang mereka lalui. Begitu juga dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi lainnya yang juga terlihat baru keluar dari kelasnya masing-masing.


Ketika Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya sudah sampai di halaman Kampus dan hendak menuju kendaraan mereka masing-masing, beberapa mahasiswa menghadang jalannya.


Baik Adam, Melky maupun Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando menatap intens ke sepuluh teman-teman kampusnya yang berdiri dengan tatapan menatap nyalang kearah dirinya dan sahabat-sahabatnya.


"Nggak ada kerjaan lain ya?" tanya Zio.


"Lebih baik kalian minggir. Kita mau lewat," ucap Diego.


"Kita buru-buru nih," ucap Vino.


Sementara Adam, Melky, Gino, Leon dan Vando menatap tajam ke sepuluh teman-teman kampusnya yang berdiri di hadapannya.


Dikarenakan melihat ke sepuluh teman-teman kampusnya tetap berdiri menghadang jalannya membuat Adam berusaha untuk sabar.


Hari ini dirinya benar-benar tidak ingin berkelahi atau menonjok wajah orang-orang yang ada di hadapannya. Tubuhnya benar-benar lelah dan dia ingin segera pulang ke rumah. Ditambah lagi pikiran tertuju kepada kakaknya yang sedang sakit.


Danish sudah menghubungi Adam dan memberitahu Adam bahwa dirinya harus istri selama satu minggu untuk penyembuhan kakinya yang terkilir tersebut. Setelah satu minggu, Danish dilarang untuk banyak bergerak apalagi di bagian kakinya.


Namun tiba-tiba saja tiga dari sepuluh teman-teman kampusnya itu menyerang dari belakang. Kebetulan yang berada di belakang adalah Vando, Leon dan Zio sehingga membuat tubuh ketiga terhuyung ke depan.


"Brengsek!" teriak Vando, Zio dan Leon bersamaan.


"Vando! Leon! Zio!" teriak Adam, Melky, Vino, Diego dan Gino bersamaan.


Adam, Melky, Vino, Diego dan Gino menghampiri Vando, Leon dan Zio. Mereka menatap khawatir ketiganya.


"Kalian nggak apa-apa?" tanya Melky.


"Kita tidak apa-apa," jawab Vando, Leon dan Zio bersamaan.


Adam dan Melky menatap nyalang kearah tiga teman kampusnya yang menyerang Vando, Leon dan Zio dari belakang. Ketiganya itu adalah Arza, Hasan dan Rafif.


"Kalian apa-apaan, hah?! Apa masalah kalian dengan kami? Kenapa kalian menghadang kami dan menyerang tiga teman kami?!" bentak Adam.


Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando menatap nyalang kesepuluh teman-teman kampusnya.


Mahasiswa yang bernama Aziel Dipta Karsha menatap tajam kearah Adam. Dirinya benar-benar dendam akan perlakuan tak adil dari Adam terhadap sepupunya.


"Lo dan sahabat-sahabat lo memang nggak ada masalah dengan gue dan teman-teman gue. Tapi lo sudah buat masalah dengan sepupu gue!" bentak Aziel.


"Mencari masalah dengan sepupu lo? Emangnya siapa sepupu lo tuh, hah?!" bentak Adam balik.


"Paling sepupunya itu adalah siluman kingkong," sahut Zio dengan tersenyum menyeringai menatap kearah Aziel dan teman-temannya.


"Hahahahaha."


Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando tertawa keras ketika mendengar ucapan kejam dari Zio.


"Diam lo!" bentak Aziel marah.


"Oooppss!" Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando seketika menutup mulutnya seolah-olah mereka takut akan bentakan dari Aziel.


Adam masih menatap Aziel dan kesembilan teman-temannya dengan tatapan tajamnya.


"Memangnya siapa sepupu lo, hah?!"


"Ronny! Ronny Dirga Karsha!" jawab Aziel.


Seketika terukir senyuman di sudut bibirnya Adam ketika mengetahui nama sepupu dari Aziel.


"Oh! Jadi sepupu lo itu adalah anak sok jagoan dan sok berkuasa di kampus ini ya? Kenapa? Apa dia merengek sambil nangis-nangis sama kedua orang tuanya agar bisa kuliah lagi, hum? Jangan-jangan...."


Adam sengaja menghentikan perkataannya dengan menatap mengejek kearah Aziel.


"Jangan-jangan apa, hah?!" bentak Aziel.


"Sepupu lo yang udah nyuruh lo buat nyamperin gue dan sahabat-sahabat gue. Segitu kangennya ya sepupu lo itu sama gue sehingga dia nyuruh lo datengin gue. Hahahaha."


Aziel mengepal kuat tangannya ketika mendengar ucapan dari Adam. Dirinya tidak terima Adam menghina sepupunya.


"Brengsek! Jangan ucapan lo itu!" teriak Aziel.


Aziel langsung menyerang Adam dan diikuti oleh teman-temannya. Dan dengan gerakan cepat Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando memberikan tendangan kuat tepat di perut serta pinggang Aziel dan kesembilan teman-temannya secara bersamaan.


Duagh.. Duagh..


Duagh..


"Aakkhhh!


Brukk.. Brukk..


Brukk..


Terdengar teriakan dari mulut Aziel dan kesembilan teman-temannya akibat mendapatkan tendangan tak main-main dari Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.


Aziel dan kesembilan teman-temannya tersungkur di tanah sembari memegang perut dan pinggangnya.


Baik Adam, Melky maupun Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tersenyum menyeringai menatap kearah Aziel dan kesembilan teman-temannya.


"Belajar lebih giat lagi baru ngajak bertarung orang," ejek Vando.


"Bela diri yang dimiliki masih amatiran. Udah sok mau melawan kita-kita," ejek Diego.


Adam menatap nyalang kearah Aziel. "Lo udah salah mencari masalah dengan gue. Seperti yang gue katakan pada sepupu lo. Jika lo dan teman-teman lo udah nggak betah kuliah di kampus ini. Silahkan angkat kaki dan tinggalkan Kampus ini. Kampus ini hanya menerima mahasiswa-mahasiswa yang otaknya nggak kotor seperti kalian."


Setelah mengatakan itu, Adam pun pergi. Dan diikuti oleh Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando sembari mereka mengacungkan jari tengahnya kearah Aziel dan teman-temannya.