
Kondisi Adam saat ini sudah dalam baik-baik saja. Hanya menunggu pemulihan luka di perutnya akibat tusukan yang dilakukan oleh Torrik Pamannya Saga.
Saat ini yang menemani Adam di rumah sakit adalah semua kakak-kakaknya, baik kedua kakaknya maupun kakak-kakak sepupunya, ketujuh sahabat-sahabatnya, dan para sahabat kakak-kakaknya. Dan tak lupa Saga dan Reres yang juga turut hadir menemani Adam.
Adam saat ini dalam keadaan duduk di tempat tidur. Dirinya saat ini tengah memakan buah apel yang mana buah apel tersebut dikupas dan dipotong-potong kecil oleh Garry kakak sulungnya. Bahkan sesekali Danish dengan isengnya menyuapi adiknya itu dengan bubur rumah sakit sehingga membuat Adam memberikan pelototan kepadanya.
"Kakak, aku nggak makan bubur!"
"Sedikit saja ya. Tiga suap juga tidak apa-apa. Sejak tadi kamu tidak ada makan," ucap Danish.
"Aku mau makan, tapi nggak mau bubur rumah sakit." Adam tetap menolak membuka mulutnya.
Adam langsung melihat kearah kakak sulungnya dengan tatapan memelas. Dirinya ingin meminta sesuatu dari kakaknya itu.
Garry yang menyadari bahwa adiknya itu tengah menatap dirinya langsung menghentikan kegiatannya mengupas buah apel. Tatapan matanya langsung menatap wajah tampan adiknya itu.
"Ada apa, hum?"
"Aku nggak mau makan bubur rumah sakit," rengek Adam.
"Terus kamu mau makan apa?"
"Eeemmm... kak, aku mau makan bubur ayam yang ada di pinggir jalan itu. Bubur ayam yang biasa kakak beli itu. Aku suka bubur ayam itu."
Garry tersenyum ketika mendengar keinginan adiknya akan bubur ayam favoritnya tersebut. Dirinya tidak menyangka jika adiknya akan nyandu ketika pertama kalinya mencoba bubur ayam favoritnya itu.
"Baiklah. Kakak akan belikan untuk kamu."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Adam ketika mendengar jawaban dari kakak sulungnya. Dirinya benar-benar bahagia kakak sulungnya itu langsung mengabulkan keinginannya tersebut.
Melihat senyuman Adam membuat Garry, Danish, Ardi, Harsha, Vigo serta yang lainnya ikut tersenyum. Mereka semua merasakan kebahagiaan ketika melihat Adam yang tersenyum ketimbang bersedih.
Adam melihat kearah Danish, kakak keduanya itu. Kemudian tatapan matanya menatap kearah Vigo.
"Aku mau kakak Danish dan kakak Vigo yang pergi membelikan bubur ayam itu untukku. Kalian mau nggak?"
"Tentu!" Danish dan Vigo langsung menjawab pertanyaan dari Adam.
"Benarkah?"
"Hm!" Danish dan Vigo berdehem sembari menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih. Kalian yang terbaik. Kakak Garry juga," sahut Adam bersamaan dengan tatapan matanya menatap kearah Garry. "Kakak berikan uangnya kepada kakak Danish."
"Baiklah."
Garry langsung mengeluarkan dompetnya. Setelah dompetnya berada di tangannya, Garry mengambil beberapa lembar uang seratus. Garry kemudian memberikannya kepada Danish.
"Jangan beli bubur ayam aja. Belikan makanan dan minuman juga untuk yang ada disini," pinta Adam.
"Oke!" Danish dan Vigo menjawab bersamaan.
Adam kembali tersenyum ketika mendengar jawaban kompak dari kedua kakaknya. Dia benar-benar bahagia hari ini.
Setelah itu, Danish dan Vigo segera pergi untuk membelikan apa yang diinginkan oleh adik kesayangannya itu.
***
Danish dan Vigo sudah berada di tempat orang yang menjual bubur ayam yang biasa dikunjungi oleh kakaknya.
Setibanya disana, Danish dan Vigo langsung turun dari dalam mobilnya dan langsung berjalan menghampiri bapak penjual bubur ayam tersebut.
Namun langkah keduanya tiba-tiba terhenti ketika melihat beberapa orang preman datang mengganggu penjual bubur ayam tersebut.
Brak..
Tiga dari enam preman-preman tersebut langsung menendang kursi yang kosong sehingga membuat para pembeli ketakutan.
"Bagi duit lo pak tua!" bentak pria pertama.
"Ma-maafkan bapak, nak! Bapak belum dapat pemasukan hari ini. Bapak baru buka."
"Brengsek! Berani lo sama gue!" bentak pria itu.
"Kalau lo tidak mau memberikan uang lo sama gue dan rekan-rekan gue. Lo harus serahkan anak gadis lo!" bentak pria kedua.
"Pak!"
"Tidak. Saya tidak akan memberikan anak perempuan saya kepada kalian," ucap bapak penjual bubur ayam itu.
Dua dari enam pria itu berjalan menghampiri anak perempuan penjual bubur ayam itu dengan tatapan nafsu. Serta dengan mulut yang seolah-olah hendak menerkam anak gadis penjual bubur ayam tersebut.
"Bapak!"
"Jangan sentuh anak perempuan saya," mohon penjual bubur ayam itu.
Bapak tua itu ingin menghampiri anak perempuannya, namun dihalangi oleh empat preman sehingga bapak tua itu tidak bisa berbuat apa-apa.
"Jangan sentuh anak perempuan saya," mohon penjual bubur ayam itu dengan berlinang air mata.
Ketika kedua pria itu sedikit lagi menggapai anak perempuan penjual bubur ayam itu, sebuah tendangan mendarat di pinggang kedua pria itu.
Duagh..
Duagh..
Brukk.. Brukk..
"Aakkhhh!" keduanya berteriak kesakitan.
Kedua pria itu tersungkur di aspal dengan tubuh bergerak-gerak karena kesakitan di pinggangnya.
Tersangka yang memberikan tendangan terhadap kedua preman itu adalah Vigo.
Melihat kedua rekannya tersungkur di Aspal. Keempat preman lainnya seketika marah. Kemudian keempatnya itu menyerang Vigo, namun gerakan keempat sudut terlebih dulu dihentikan oleh Danish dengan menahan bahu dua preman bersamaan dengan tendangan kuat kearah kedua preman lainnya.
Duagh.. Duagh..
Brukk.. Brukk..
Kedua preman tersebut tersungkur di aspal dengan memegang punggungnya.
Sementara dua preman yang masih di pegang bahunya oleh Danish hendak melawan, namun Vigo melayang pukulan ke wajah kedua preman itu sehingga membuat kedua preman itu meringis kesakitan.
Danish dan Vigo tersenyum jahat menatap kedua preman tersebut sehingga membuat kedua preman itu ketakutan.
Setelah beberapa detik Danish menahan kedua preman tersebut, Danish dengan tak berperasaan langsung menarik kasar kedua preman itu menjauh dari penjual bubur ayam tersebut. Kemudian Danish mendorong kuat tubuh keduanya sehingga tersungkur di aspal.
"Pergi kalian dari sini. Jika aku mendapatkan kabar bahwa kalian masih memalak bapak ini dan anak perempuannya, maka saya akan pastikan kalian akan tidur di rumah sakit selama berbulan-bulan," ucap Danish.
Mendengar ucapan pemuda di hadapannya membuat keenam preman tersebut seketika ketakutan. Kemudian mereka berdiri sembari memegang bagian anggota tubuhnya yang sakit.
Setelah mereka berdiri, mereka langsung pergi meninggalkan penjual bubur ayam tersebut.
Danish dan Vigo langsung melihat kearah bapak penjual bubur ayam itu dan anak gadisnya. Dapat Danish dan Vigo lihat keduanya masih ketakutan.
"Bapak tidak apa-apa?" tanya Danish.
"Sa-saya baik-baik saja, nak! Terima kasih."
"Terima kasih tuan," ucap anak gadis penjual bubur ayam itu.
"Sama-sama. Oh iya! Apa bubur ayamnya masih ada?" tanya Danish.
"Masih, nak! Mau berapa?"
"Buatkan 10 bungkus," jawab Vigo.
"Baiklah, nak! Tunggu sebentar."
"Silahkan duduk dulu tuan," ucap gadis itu.
"Baik."
Danish dan Vigo langsung menuju kursi. Setelah itu, Danish dan Vigo pun menduduki pantatnya di kursi.