
Bugh.. Bagh..
Duagh.. Duagh..
Sreekkk.. Kreekkk..
Jleb.. Jleb..
Ctas.. Ctas..
Brukk.. Brukk..
Terjadinya perkelahian antara kelompok Saga dan kelompok Ricky melawan kelompok dari orang-orang yang sudah membunuh Ariel, membuat Jasmine duduk di kursi roda dan mengincar nyawa Adam. Kelompok orang-orang yang mengincar nyawa Adam yang awalnya berjumlah 300 orang. Kini tersisa sekitar 25 orang. Baik kelompok Saga maupun kelompok Ricky memberikan tendangan, pukulan, sayat-sayatan, cambukan yang begitu brutal kepada setiap anggota-anggota musuhnya.
Para anggota-anggota musuhnya itu mati dengan sangat mengerikan dengan luka sayatan, luka tusukan, luka tebasan dan lain sebagainya. Kelompok Saga dan kelompok Ricky tidak memberikan kesempatan kepada kelompok musuh untuk melakukan pembalasan.
Disaat kelompok Saga dan kelompok Ricky sedang membantai habis semua tanpa ada yang selamat anggota-anggota yang dimiliki oleh laki-laki yang berstatus Paman dari Saga sekaligus laki-laki yang sudah membunuh Ariel, membuat Jasmine duduk di kursi roda dan mengincar nyawa Adam. Di sisi lain dimana laki-laki tersebut bersama satu tangan kanannya sedang berada di sebuah rumah kecil.
Laki-laki itu sudah mengetahui bahwa ada dua kelompok yang mana satu kelompok itu diduga kelompok milik keponakannya sedang menyerang markasnya yang sudah dia bangun selama 8 tahun sejak kejadian pembantaian pertama.
Laki-laki menggeram marah ketika mengetahui bahwa markasnya diserang oleh kelompok keponakannya dan dibantu dengan kelompok yang sudah terkenal di dunia setelah kelompok Kartel. Laki-laki itu sangat tahu bahwa dia kelompok itu kelompok yang sangat kejam dalam menghabisi musuh-musuhnya.
"Brengsek! Aku tidak menyangka jika Saga benar-benar ingin menghabisiku atas apa yang terjadi pada ayahnya. Aku pikir dia hanya seorang anak yang tidak bisa apa-apa selain menghamburkan uang kedua orang tuanya. Namun aku sudah salah menilainya. Ternyata dia sama licik seperti ayahnya." laki-laki itu berbicara sembari memikirkan kejadian-kejadian yang dia alami sejak dia membunuh Sahil dan juga hendak membunuh Saga.
"Dan aku heran, kenapa Saga bisa dekat dengan kelompok Toggo? Sejak kapan Saga kenal dengan kelompok kejam itu?"
"Bos!"
"Ada apa?"
"Ini berita buruk untuk kita Bos."
"Katakan!"
"Pertama, kita sudah tidak memiliki anggota lagi. Hanya tersisa kita berdua saja. Kedua, semua kelompok yang ada di dunia ini tidak akan mau diajak kerjasama atau dengan kata lain tidak akan memberikan bantuan kepada kita. Bahkan mereka sudah menandai kita sekali pun kita dalam penyamaran."
Mendengar laporan dari tangan kanannya membuat laki-laki itu benar-benar marah. Kedua tangannya mengepal kuat.
"Brengsek kau Saga! Berani sekali kau melakukan hal ini kepadaku!"
Tanpa diketahui oleh laki-laki tersebut bahwa Saga, Adam dan orang-orang telah mengetahui keberadaannya saat ini. Dan mereka akan datang untuk menyergap dirinya dan tangan kanannya.
***
Adam saat ini bersama anggota keluarganya di ruang tengah. Disana juga ada Saga serta sahabat-sahabatnya Adam dan sahabat-sahabat para kakaknya Adam.
Mereka sedang membahas penyergapan Pamannya Saga dan tangan kanannya di sebuah rumah kecil yang disewa oleh laki-laki itu untuk beberapa hari. Alasan laki-laki itu menyewa sebuah rumah kecil agar semua rencanannya tidak diketahui oleh anggota keluarganya terutama adik perempuannya.
"Apa lo sudah siap, Dam?" tanya Ricky.
"Siap tidak siap. Gue harus siap. Gue harus bertemu dengan laki-laki itu untuk membalas apa yang sudah dia lakukan terhadap Ariel dan Jasmine. Dan dia juga berniat ingin membunuhku," jawab Adam dengan ekspresi wajah yang dingin.
Melihat tatapan tajam dan wajah dingin yang diperlihatkan oleh Adam membuat semuanya menatap dirinya khawatir, terutama kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya.
Utari yang kebetulan duduk di samping Adam, tangannya seketika terangkat untuk mengusap-usap lembut kepala belakang putra bungsunya itu. Begitu juga dengan Evan.
Evan dan Utari di diantara Adam. Jika Utari duduk di sebelah kanan, maka Evan duduk di sebelah kiri. Keduanya memberikan semangat dan dukungan kepada putra bungsunya dengan usapan lembut dan ciuman di pucuk kepalanya.
"Papa minta sama kamu jangan sampai kamu terluka. Pergi dalam keadaan baik-baik saja, pulang juga harus dalam keadaan baik-baik saja."
"Begitu juga dengan Mama. Mama tidak ingin terjadi sesuatu sama kamu. Kamu harus dalam keadaan baik-baik saja."
Evan dan Utari menatap kearah Ricky dan Saga secara bergantian. Baik Utari, Evan maupun semua anggota keluarganya sudah menganggap orang-orang terdekat Adam sebagai anggota keluarganya.
"Untuk kamu Ricky dan kamu Saga. Kalian juga harus hati-hati dan pulangnya harus dalam keadaan baik-baik saja," ucap Evan.
Seketika Ricky dan Saga tersenyum ketika mendengar ucapan dari ayahnya Adam. Hati mereka sangat nyaman saat ini dikarenakan mereka memang sudah tidak memiliki sosok ayah lagi.
"Baik, Paman!" Ricky dan Saga menjawab bersamaan.
"Adam," panggil Danish, Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.
Adam langsung melihat kearah kakak-kakaknya itu dengan tatapan sendunya.
"Kenapa?" tanya Adam.
"Kita ikut sama kamu ya?" mohon Danish.
Danish tidak rela membiarkan adiknya itu pergi tanpa dirinya maupun yang lainnya. Adam hanya pergi bersama Ricky, Saga dan beberapa anggota Saga dan anggota Ricky.
"Nggak. Kalian tetap di rumah. Seperti yang sudah disepakati dan sudah direncanakan kalau yang pergi itu hanya aku bersama Ricky dan Saga.
"Tapi Dam....." perkataan Vigo terhenti karena Adam langsung memotongnya.
"Sekali tidak tetap tidak. Jika kalian tetap memaksa, maka aku akan memusuhi kalian," sahut Adam.
Deg..
Mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Adam membuat Danish, Ardi, Harsha dan Vigo terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak menyangka jika Adam akan berbicara seperti itu.
Ketika Adam serta yang lainnya sedang membahas penyergapan Pamannya Saga, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.
Tanpa membuang-buang waktu lagi, Adam pun segera menjawab panggilan dari Jasmine.
"Hallo, Dam!"
Terdengar suara sapaan di seberang telepon. Suara yang Adam dengan begitu lirih. Adam
"Iya, Jasmine. Ada apa, hum?"
"Maaf sebelumnya. Boleh aku nanya sesuatu sama kamu?"
"Kamu mau nanya apa? Tanyakanlah."
"Tapi kamu jangan marah ya?"
"Tidak akan. Sekarang tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan."
"Apa benar kamu akan pergi menyergap laki-laki yang sudah bunuh Ariel dan yang sudah membuat aku duduk di kursi roda?"
Deg..
Adam seketika terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Jasmine. Di dalam hatinya Adam berkata, dari mana Jasmine tahu hal itu.
"Kamu tahu dari mana? Siapa yang beritahu kamu?"
"Reres! Aku tahu dari Reres. Reres sudah cerita semuanya padaku."
"Dam!"
"Iya, Jasmine! Aku memang akan pergi untuk menyergap laki-laki itu. Aku pergi bersama dengan Ricky dan Saga."
"Dam... Hiks... Aku takut jika dia menyakiti kamu seperti dia menyakiti aku dan Ariel. Dam, aku tidak ingin ada yang pergi lagi. Aku sudah kehilangan kedua orang tua aku, aku sudah kehilangan sepupu sekaligus sahabat terbaikku. Aku tidak ingin kehilangan kamu juga. Aku ingin kamu tetap baik-baik saja."
Tes..
Seketika air mata Adam jatuh membasahi pipinya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Jasmine.
"Aku sudah dalam keadaan tak baik-baik saja sebelum penyergapan itu dilakukan Jasmine! Aku tidak tahu apakah aku akan baik-baik saja setelah pulang dari sana. Beberapa hari ini aku selalu merasa pusing bahkan sakit kepala yang luar biasa," batin Adam.
"Sayang," ucap Evan dan Utari bersamaan dengan tangannya mengusap lembut kepala belakang dan punggung putranya.
"Cukup kamu doakan aku dari sana agar aku baik-baik saja dan dalam lindungan Tuhan. Bukankah doa dari pujaan hatinya itu adalah sangat mujarab, hum?"
Mereka semua tersenyum ketika mendengar ucapan dari Adam yang menyebut doa dari pujaan hatinya. Begitu juga dengan Jasmine yang berada di seberang telepon.
"Tentu aku selalu memberikan doa yang terbaik untuk kamu. Aku juga memberikan doa untuk orang-orang yang pergi bersama kamu."
Adam tersenyum. "Terima kasih. Apa kamu baik-baik saja disana?"
"Eemm... Dam!"
"Ada apa?"
"Aku hampir lupa satu hal."
"Apa itu?"
"Ini mengenai kedua kaki aku."
Seketika raut wajah Adam berubah berseri ketika mendengar Jasmine menyebut kakinya.
"Ada apa? Kenapa dengan kaki kamu? Semuanya baik-baik saja kan?"
Jasmine tersenyum di seberang telepon seketika mendengar pertanyaan-pertanyaan dari Adam. Jasmine meyakini bahwa Adam tengah ketakutan.
"Kaki aku baik-baik saja. Justru aku mau bilang kalau aku sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit. Aku sudah terlanjur menggunakan kursi roda lagi. Aku menggunakan tongkat sekarang."
Seketika terukir senyuman manis di bibir Adam. Dirinya benar-benar bahagia mendengar hal itu. Gadis yang baru dua minggu jadi pacarnya sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit.
Melihat Adam yang tersenyum membuat anggota keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para sahabat-sahabat kakaknya menyakini bahwa Jasmine memberikan berita bahagia.
"Benarkah, Jasmine? Kau tidak sedang membohongiku kan?"
"Tidak Adam. Aku bersungguh-sungguh. Maka dari itu, pulanglah dalam keadaan baik-baik saja setelah selesai melakukan pembalasan terhadap laki-laki itu. Jangan sampai terluka dan jangan sampai sakit karena aku tahu siapa kamu setelah sejak kejadian satu tahun yang lalu."
Jasmine sudah tahu perihal kesehatan Adam yang menurun. Adam yang sekarang berbeda dengan Adam yang dulu. Jika Adam yang dulu jarang sakit dan selalu dalam keadaan baik-baik saja. Berbeda dengan Adam yang sekarang. Adam yang sekarang sering sekali jatuh sakit, bahkan sering pingsan jika kondisi tubuhnya tak baik-baik saja. Adam yang sekarang jika sudah kelelahan pasti ujung-ujungnya jatuh sakit.
Sementara Adam terkejut ketika mendengar ucapan Jasmine yang terakhir. Dirinya dibuat bingung oleh Jasmine. Gadisnya itu tahu dari mana?
"Baiklah. Aku janji padamu dan semua orang-orang terdekatku kalau aku akan baik-baik saja."
Mendengar ucapan dan janji Adam membuat Jasmine di seberang telepon tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Utari, Evan dan anggota keluarga lainnya. Begitu juga dengan sahabat-sahabatnya dan para sahabat-sahabat kakaknya.
"Oke, aku pegang janji kamu. Ingat Adam, kamu janji akan bawa aku ke Jakarta setelah aku bisa jalan lagi."
"Iya, aku ingat janji itu. Aku akan menepatinya."
"Baiklah. Kalau begitu aku tutup teleponnya. I Love You."
"I Love You To."