THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Ketakutan Para Karyawan



Adam saat ini berada di ruang tengah. Dirinya duduk sembari memangku sebuah laptop. Adam tengah mengerjakan beberapa tugas kuliahnya.


Adam di rumah besar itu hanya ditemani beberapa pelayan dan juga beberapa penjaga. Sedangkan para anggota keluarga sudah pergi untuk melakukan kewajibannya masing-masing di luar rumah.


Setelah beberapa menit Adam berkutat dengan laptop miliknya. Adam pun selesai dengan semua tugas-tugas kuliahnya.


"Selesai juga!"


Adam mematikan laptopnya setelah menyimpan tugas-tugas yang telah dia buat. Setelah laptopnya dalam keadaan mati, Adam menutup laptop tersebut.


"Sepi banget rumah. Cuma gue doang," ucap Adam dengan menatap sekelilingnya.


Dan detik kemudian..


"Bagaimana kalau aku ke perusahaan Papa?! Aku ingin melihat reaksi dari karyawan dan karyawati Papa ketika melihatku. Selama ini mereka belum tahu dan belum pernah bertemu denganku," ucap Adam.


Setelah memantapkan hatinya, akhirnya Adam pun bersiap-siap. Dirinya akan ke perusahaan ayahnya. Dan dari sana barulah Adam akan langsung ke Kampus.


***


Evan saat ini tampak tengah sibuk. Terlihat beberapa berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Semua berkas-berkas itu harus segera dirinya cek, baca dan tanda tangan.


Ketika Evan sedang fokus dengan berkas-berkas kerjanya, tiba-tiba terdengar suara pintu ruang kerjanya dibuka seseorang.


Cklek..


"Permisi Bos!"


Evan langsung melihat keasal suara. Dan dapat Evan lihat sekertaris sudah berdiri di hadapannya.


"Iya, ada apa?"


"Bos sudah ditunggu di ruang meeting."


Evan melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya.


"Pukul 9 pagi."


Setelah itu, Evan menatap wajah sekertarisnya itu sembari berdiri dari duduknya.


"Ayo," ucap Evan.


Evan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dan diikuti oleh sekretarisnya di belakang.


^^^


Adam sudah sampai di depan sebuah gedung besar dan mewah. Gedung tersebut adalah perusahaan milik ayahnya.


Setelah Adam memarkirkan mobilnya, Adam pun keluar dari dalam mobilnya. Dirinya sudah tidak sabar bertemu dengan ayahnya hanya untuk sekedar berbincang-bincang dan mengobrol antara ayah dan anak.


Adam datang dengan membawa paper bag yang isinya adalah makanan kesukaan ayahnya.


Adam sudah berada di dalam perusahaan ayahnya. Tatapan matanya menatap kagum akan indah, besar dan mewah perusahaan milik ayahnya.


Kemudian Adam melangkahkan kakinya menuju resepsionis dengan tersenyum manis.


"Permisi kak."


"Iya, tuan! Ada yang bisa saya bantu?"


"Saya ingin bertemu dengan ayah saya."


"Ayah? Siapa nama ayahnya tuan?"


"Evan Hara Bimantara."


Mendengar Adam menyebut nama sang Bos, wanita yang berstatus sebagai resepsionis itu menatap Adam intens. Tatapan mata wanita itu menatap Adam dari atas sampai bawah.


"Bagaimana kak? Bisa saya bertemu dengan ayah saya?" tanya Adam.


"Lebih baik tuan pergi dari sini. Tuan Evan nya sedang ada meeting. Jadi beliau tidak bisa diganggu."


"Oh, begitu ya?"


"Iya!"


"Baiklah. Saya akan menunggu ayah saya sampai selesai Meeting."


Adam melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi yang terletak tidak jauh dari hadapannya. Setelah sampai disana, Adam menduduki pantatnya di kursi tersebut.


"Akhirnya kita berhasil mendapatkan tanda tangan tuan Evan!"


"Iya. Aku senang sekali mendapatkan tanda tangan tuan Evan?"


"Sebenarnya lagi perusahaan ini akan menjadi milik kita berkat tanda tangan itu."


Adam yang sedang fokus dengan ponsel terkejut ketika mendengar tiga suara yang berbeda membicarakan ayahnya. Yang membuat Adam terkejut adalah orang-orang itu menyebut berhasil mendapatkan tanda tangan tuan Evan.


Adam seketika melihat keasal suara tersebut. Tatapan matanya melihat ada tiga pria yang berjalan sembari memegang map di tangannya.


Adam berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri ketiga pria itu. Dan detik kemudian, Adam menarik map yang dipegang oleh ketiga pria itu secara bersamaan.


Setelah mendapatkannya, Adam memundurkan langkahnya sedikit menjauh dari ketiga pria itu.


Sedangkan ketiga pria itu seketika membalikkan badannya lalu menatap kearah Adam.


"Siapa kau?"


"Kembalikan map itu kepada kami!"


Adam tidak mempedulikan ucapan dan teriakan dari ketiga pria itu. Justru saat ini Adam tengah mengecek dan membaca isi dari ketiga map tersebut.


Setelah selesai membaca isi dari tiga map yang dipegang olehnya, Adam pun melihat kearah tiga pria itu dengan tatapan matanya yang menajam.


Sementara para karyawan dan karyawati yang mendengar ucapan dan teriakan dari tiga pria yang mereka kenal sebagai rekan kerjanya perusahaan BIman1Tara Corp terkejut.


"Aish! Kenapa dia buat masalah dengan tiga rekan kerja itu?" tany wanita yang berstatus resepsionis itu.


Wanita itu kemudian berjalan menghampiri Adam dengan menatap tak suka kearah Adam.


"Hei, kau!"


Adam langsung melihat kearah wanita yang tadi tidak memberikan izin padanya untuk bertemu dengan ayahnya.


"Ada apa?" tanya Adam dengan menatap tajam wanita itu.


Adam seketika berubah menjadi dingin dan menakutkan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan langsung ketakutan. Termasuk wanita yang menolak Adam.


Yah! Wanita itu seketika takut disaat melihat tatapan mata Adam yang tidak seperti beberapa menit yang lalu.


"Kenapa diam? Ada apa?" tanya Adam .


"Lebih baik anda pergi dari sini. Tolong jangan buat keributan. Kami para karyawan dan karyawati ingin bekerja dengan tenang."


Mendengar perkataan dari wanita tersebut  membuat Adam seketika menyeringai sehingga membuat wanita itu takut.


"Kau mengusirku? Apa kesalahanku sehingga kau berani mengusirku dari sini!" bentak Adam.


Mendapatkan bentakan dari Adam membuat tubuh wanita itu seketika tersentak. Tubuh wanita itu juga bergetar.


Semua karyawan dan karyawati yang mendengar suara Adam langsung menghentikan pekerjaannya. Mereka semua melihat kearah Adam, wanita itu dan tiga pria.


Sekarang ini semua telah ramai berkumpul di Aula akibat teriakan dari Adam.


"Aku datang kesini baik-baik. Aku juga sudah melapor padamu dan mengatakan bahwa aku ingin bertemu dengan ayahku. Bahkan aku juga sudah menyebutkan nama ayahku. Tapi kau masih saja tidak memberikan izin padaku!" teriak Adam dengan menatap marah wanita itu.


Adam menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di sekitarnya dengan tatapan matanya yang mengerikan sehingga orang-orang yang ada di Aula tersebut seketika merinding ketika melihat tatapan mata Adam.


"Siapa diantara kalian yang bersedia memanggil atasan kalian untuk datang kemari jika kalian juga tidak mempercayaiku kalau aku adalah putra dari Evan Hara Bimantara?!" teriak Adam.


Deg..


Semua karyawan dan karyawati tersebut seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari pemuda yang berdiri di hadapannya yang mengatakan dia adalah putra dari atasannya.


Adam seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika melihat tidak ada satu pun para karyawan dan karyawati yang bersedia memanggil ayahnya.


"Baiklah kalau itu mau kalian. Jangan salahkan aku jika terjadi hal yang tidak diinginkan dengan kalian."


Setelah mengatakan itu, Adam langsung mengambil ponselnya di saku celananya.


Ketika ponselnya sudah berada di tangannya, Adam langsung menghubungi ayahnya. Dan Adam tak lupa meloadspeaker panggilannya itu agar semua karyawan dan karyawati ayahnya bisa mendengar terutama wanita yang berstatus resepsionis itu.


"Hallo sayang. Ada kamu menghubungi Papa?"


Deg..


Semua karyawan dan karyawati termasuk wanita yang telah menolak Adam bahkan menatap tak suka Adam seketika terkejut ketika mendengar suara dari atasannya.


"Hallo Papa. Aku sekarang berada di bawah."


"Di bawah? Maksud kamu apa sayang?"


"Aku sekarang di perusahaan Papa."


"Yang benar kamu sayang?"


"Iya, Pa!"


"Lalu kenapa kamu tidak langsung ke ruangan Papa?"


"Aku bukan tidak ingin langsung kesana. Aku melakukan hal ini karena ingin menghormati pekerjaan para karyawan dan karyawati Papa. Aku bersikap layaknya seorang tamu ketika mendatangi perusahaan."


Evan tersenyum ketika mendengar ucapan dari putra bungsunya itu. Dirinya benar-benar bangga akan sikap putranya itu.


"Terima kasih sayang. Tapi kamu tidak perlu melakukan hal itu. Cukup kamu mengatakan bahwa kamu putra Papa dan ingin bertemu Papa. Mereka akan langsung mengantarkan kamu ke ruangan Papa."


"Aku sudah melakukan hal itu beberapa menit yang lalu."


"Apa? Ja-jadi kamu....."


"Ya! Aku sudah satu setengah jam menunggu Papa disini, tapi karyawan dan karyawati Papi tidak mengizinkan aku untuk bertemu Papa. Bahkan mereka juga tidak berusaha untuk menghubungi Papa."


"Brengsek! Berani sekali mereka!"


Seketika semua karyawan dan karyawati terutama wanita yang menolak Adam ketakutan ketika mendengar teriak dan amarah dari atasannya.


Sementara Adam tersenyum penuh kebahagiaan ketika melihat wajah ketakutan semua karyawan dan karyawati tersebut (karyawan dan karyawati bagian lantai satu).


"Segera Papa turun dan temui karyawan dan karyawati Papa yang berada di lantai satu. Aku menunggu Papa disini. Dan aku juga ada informasi yang penting untuk Papa."


"Baiklah sayang. Papa segera turun untuk menemuimu."


Tutt..


Tutt..