THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Balasan Langsung Dari Ardi



"Bagaimana?" tanya Adam kepada Gino.


Saat ini Adam bersama ketujuh sahabat-sahabatnya di kelas. Mereka tengah mengerjakan beberapa tugas sebelum Dosen pembimbing masuk.


"Mama sudah kembali pulang ke rumah," jawab Gino.


Mendengar jawaban dari Gino membuat Adam, Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando tersenyum. Mereka bahagia mendengarnya.


"Aku senang mendengarnya," sahut Adam.


"Kita juga senang mendengarnya!" seru Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando bersamaan.


Gino menatap wajah Adam. Dirinya penasaran akan perkataannya ketika berbicara dengan ibunya di telepon.


"Dam," panggil Gino.


Mendengar namanya dipanggil, Adam langsung melihat kearah Gino. Dapat Adam lihat dari tatapan mata Gino bahwa sahabatnya itu ingin mengetahui apa yang dirinya bicarakan dengan ibunya di telepon.


"Kamu ingin mengetahui tentang apa yang aku bicarakan pada ibu kamu, kan?" tanya Adam.


"Iya. Kenapa kamu mengatakan pada Mama kalau Papa akan mengakhiri hidupnya jika Mama, kak Farel dan aku akan pergi meninggalkan Papa?"


"Karena memang seperti itu yang dikatakan oleh Paman Yoga kepadaku," jawab Adam.


"Kapan Papa mengatakan hal itu kepada kamu, Dam?" tanya Gino.


"Saat aku masih kuliah di Amerika dulu. Kamu masih ingat waktu kamu ngajak aku ke perusahaan Papa kamu yang ada di Amerika?"


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Gino seketika teringat tentang dirinya yang pernah mengajak Adam mengunjungi perusahaan ayahnya di Amerika.


"Iya, aku ingat."


"Dan kamu ingat ketika kamu pergi meninggalkan aku dan Paman Yoga untuk memesan makanan di kantin yang ada di perusahaan Paman Yoga?"


"Iya."


"Nah! Ketika kamu ninggalin aku berduaan bersama Paman Yoga. Aku seketika curhat kepada Paman Yoga tentang kerinduanku akan sosok ayah kandungku yang tidak pernah aku kenal sejak lahir. Ketika aku melihat kamu dan Paman Yoga yang begitu dekat. Aku merasakan kecemburuan. Aku ingin kayak kamu yang memiliki seorang ayah. Melihat hal itu, ayah kamu langsung memberikan pelukan hangatnya kepadaku. Paman Yoga langsung paham akan perasaanku. Dari situlah aku meminta kepada Paman Yoga untuk tidak membuat kamu seperti aku yang kehilangan sosok ayah. Begitu juga dengan Bibi Maya. Aku meminta Paman Yoga untuk selalu bersama Bibi Maya, kak Farel dan kamu."


Adam menatap wajah Gino yang saat ini juga menatap dirinya. "Apa kamu mau tahu jawaban dari ayah kamu?"


"Iya! Katakan padaku Dam!"


"Seperti yang sudah aku katakan sebelumnya. Paman Yoga sangat mencintai Bibi Maya. Paman Yoga sangat menyayangi keluarganya. Paman Yoga tidak ingin kehilangan kalian bertiga karena bagi Paman Yoga kalian adalah penyemangat hidupnya dan kebahagiaannya. Jika kalian pergi meninggalkan Paman Yoga, maka berakhirlah hidupnya. Itu yang dikatakan Paman Yoga kepadaku."


Seketika air mata Gino jatuh membasahi wajahnya ketika mendengar ucapan sekaligus cerita dari Adam tentang ayahnya. Dirinya tidak menyangka jika ayahnya akan melakukan hal itu jika dirinya, ibunya dan kakaknya benar-benar pergi meninggalkannya sendiri di rumah itu.


"Itulah alasanku kenapa mengatakan bahwa Paman Yoga nggak salah dan meminta kamu pulang ke rumah. Aku juga meminta kamu untuk tidak meninggalkan Paman Yoga," ucap Adam.


"Hiks... Maafkan aku. Aku anak yang tidak berguna sama sekali. Seharusnya aku tidak meninggalkan Papa ketika... Hiks... Papa mendapatkan masalah besar dalam hidupnya. Apalagi masalah tersebut menyangkut rumah tangganya," ucap Gino disela isakannya.


Puk..


Zio yang duduk di sebelah Gino langsung menepuk pelan bahu Gino lalu mengusap-usapnya lembut.


"Sudahlah. Kamu jangan merasa bersalah seperti itu. Kamu melakukan itu karena terkejut ketika mendengar ucapan dari perempuan itu. Sebenarnya di hati kecil kamu. Kamu percaya terhadap ayah kamu," ucap Adam yang berusaha menghibur Gino.


"Iya, Gino! Apa yang dikatakan oleh Adam benar. Sebenarnya kamu itu percaya dan juga sayang sama ayah kamu. Hanya saja kemarin itu hanya kekecewaan kamu yang membuat kamu enggan untuk mempercayai ayahmu," ucap Diego.


"Tapi setelah mendengar ucapan dari Adam dan sedikit dari kita. Kamu langsung memutuskan untuk pulang ke rumah. Itu berarti kamu tidak ingin terjadi sesuatu terhadap ayah kamu," ucap Leon menambahkan.


Adam melihat kearah Adam yang juga tengah menatap dirinya. Seketika Adam tersenyum tulus padanya.


"Apa yang harus aku lakukan terhadap perempuan itu Adam?" tanya Gino.


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Cukup kamu dan kedua orang tuamu masuk ke dalam permainan perempuan itu. Aku sangat yakin jika perempuan itu akan kembali untuk menemui ayah kamu. Dan juga yakin jika perempuan itu percaya jika ibu kamu akan bercerai dengan ayah kamu. Jadi dari sana kamu dan kedua orang tua kamu akan tahu kebohongannya."


Mendengar perkataan dari Adam membuat Gino langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando.


"Kamu juga tidak perlu khawatir. Aku sudah meminta beberapa anggota dari Zelo untuk mengawasi setiap pergerakan dari perempuan itu."


Mendengar perkataan dari Adam membuat Gino terkejut. Dirinya tidak menyangka jika Adam sudah bertindak.


Adam tersenyum ketika mendengar ucapan dari Gino. "Coba tebak dari siapa aku mendapatkan foto selingkuhan ayah kamu itu, hum?" tanya Adam sembari membuat Gino kesal.


"Aish! Dia bukan selingkuhan Papaku, Dam!" jawab Gino dengan nada kesal.


"Lah! Kalau bukan selingkuhan Paman Yoga? Lalu siapa yang tiba-tiba datang ke kediaman Gennaro dan langsung mengatakan bahwa dia hamil anak dari seorang Prayoga Gennaro!" Adam berbicara sambil menaiki turunkan kedua alisnya.


Gino *******-***** kertas sambil berbentuk bulat, lalu remasan kertas tersebut langsung dilempari ke wajah Adam.


"Sialan lo! Kemaren lo percaya sama Papa gue. Dan sekarang lo malah mojokin Papa gue. Manusia nggak jelas lo!" Gino berucap dengan nada dan wajah super kesal.


"Hahahaha!"


Adam, Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando seketika tertawa keras ketika mendengar ucapan dan kekesalan dari Gino.


***


Ardi saat ini berada di sebuah cafe. Beberapa menit yang lalu Ardi baru selesai melakukan pertemuannya dengan dua rekan kerjanya untuk pertama kalinya.


Setelah selesai dengan urusannya dan selesai menghabiskan minumannya, Ardi pun memutuskan untuk kembali ke perusahaan.


Ketika Ardi baru beberapa langkah melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, tiba-tiba datang seorang gadis dari arah berlawanan dan langsung menabrak tubuh Ardi sehingga membuat gadis itu terjatuh.


"Aakkhhh!"


Gadis itu kesakitan sembari mengusap-usap pantatnya akibat terjatuh.


Melihat gadis itu kesakitan membuat Ardi menatap gadis itu iba. Kemudian Ardi hendak menolong gadis tersebut, namun tiba-tiba datang seseorang langsung mendorong tubuhnya sehingga membuat tubuh Ardi terhuyung ke belakang.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?"


"Sakit tahu," jawab gadis itu.


Setelah itu, gadis itu berdiri dari jatuhnya dengan dibantu oleh kekasihnya.


Yah! Seseorang yang datang lalu mendorong tubuh Ardi adalah kekasih dari gadis yang terjatuh di lantai.


"Lo apain cewek gue, hah?!" bentak laki-laki itu.


"Santai bung. Cewek anda yang menabrak saya duluan. Bukan saya yang menabrak cewek anda. Apalagi menyakitinya."


Ardi menatap kearah gadis yang berdiri di hadapannya. "Dan untuk lo. Kalau jalan pake mata. Bukan pake dengkul. Tuh lo lihat. Gara-gara lo jalan nggak pake mata, cowok lo jadi nyalahin gue! Bahkan cowok lo berani dorong gue. Padahal niat gue baik mau nolongin lo!" bentak Ardi.


Mendengar perkataan dan juga bentakan dari pemuda yang berdiri di hadapannya membuat gadis itu terkejut dan ketakutan.


Sementara pemuda yang berstatus sebagai kekasihnya menatap tajam kearah Ardi. Dirinya tidak terima jika kekasihnya dibentak.


"Berani sekali lo membentak kekasih gue!" bentak pemuda itu.


"Yah, beranilah. Memangnya dia siapa? Dan lo juga siapa? Gue nggak kenal kalian berdua. Gue nggak mengusik kalian berdua. So! Nggak ada alasan buat gue takut sama kekasih lo dan lo." Ardi menjawab perkataan dari pemuda yang ada di hadapannya.


Mendengar perkataan dari Ardi. Ditambah lagi ketika melihat wajah menantang yang diberikan oleh Ardi membuat pemuda itu mengepalkan kuat tangannya.


Dan detik kemudian...


Pemuda itu melayangkan pukulan kearah wajah Ardi. Dan dengan gerakan cepat, Ardi langsung menahan tinjuan dari pemuda itu dengan telapak tangannya.


Melihat adegan tersebut membuat penghuni cafe terkejut dan syok. Mereka menatap takjub akan kecepatan tangan Ardi.


Ardi meremat pergelangan tangan pemuda itu sehingga membuat pemuda itu meringis. Terlihat dari raut wajahnya.


"Mau memukulku, hum? Lo tidak akan bisa memukul wajahku. Gue nggak akan membiarkan siapa pun menyentuh wajah gue," ucap Ardi dingin.


Setelah itu, Ardi menghempaskan kuat tangan pemuda itu. Dan tatapan matanya menatap tajam kearah pemuda itu lalu beralih menatap kearah gadis di sebelah pemuda itu. Terlihat jelas oleh Ardi bahwa gadis itu ketakutan.


"Semoga kita tidak bertemu lagi," ucap Ardi.


Setelah mengatakan itu, Ardi pun pergi meninggalkan cafe tersebut untuk segera menuju perusahaan miliknya.