
Saat ini Danish, Ardi dan Harsha sahabat-sahabat mereka tengah di jalan. Mereka mengendarai sepeda motor. Motor yang mereka pakai adalah motor Sport. Mereka membawa motor secara berboncengan.
Lalu tiba-tiba Danish menghentikan motornya. Hal itu sukses membuat semua ikut menghentikan motor mereka. Mereka menatap Danish.
"Ada apa, Danish?" tanya Prana.
"Aku kepikiran Adam. Aku takut terjadi sesuatu padanya," jawab Danish.
"Sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Semoga Adam baik-baik saja," hibur Cakra.
"Tapi perasaanku tidak bisa dibohongi, Cakra! Aku benar-benar khawatir padanya. Apalagi Adam pergi dalam keadaan emosi dan marah setelah bertengkar dengan sibrengsek kurus itu." Danish enggan untuk menyebut nama Vigo. Hatinya sangat sakit atas apa yang diperbuat oleh Vigo pada adiknya.
Seketika ingatan kejadian pertengkaran Allan dan Vigo berputar-putar di kepala Danish
"Vigo Liam Adiyaksa," jawab Allan dengan menatap wajah Vigo.
PLAKK!
"Aakkhh." Allan meringis saat merasakan pedih di wajahnya.
"Brengsek itu telah berani menampar adikku," ucap Danish.
"Apa yang dikatakan kak Danish benar? Aku tiba-tiba juga merasakan hal aneh. Aku kepikiran Adam," ujar Harsha.
"Hei, sudahlah. Kenapa jadi parno begini, sih? Kita berdoa saja. Semoga Adam baik-baik saja dan tidak terjadi sesuatu padanya," sela Arka yang jengah akan sikap khawatir Danish dan Harsha.
Jujur! Di dalam hatinya, Arka memang benar-benar sangat amat mengkhawatirkan Adam. Tapi dirinya berusaha menepis akan hal itu.
"Semoga kau baik-baik saja, Dam!" batin mereka semua.
***
Disisi lain, Allan juga sedang mengendarai motor sport miliknya. Setelah beberapa jam berada di Taman Kota. Allan pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Dan sampai di rumah Allan berniat ingin langsung istirahat. Dan dirinya tidak akan mau berbicara untuk beberapa hari dengan kakaknya yaitu Vigo. Hatinya sudah terlanjur sakit dan terluka akan sikap kasarnya.
Saat sedang fokus mengendarai motornya. Tiba-tiba rasa sakit di kepalanya menyerang kembali.
"Aaakkkhhh!" erangan kecil lolos keluar dari bibirnya. "Kenapa sakitnya datang lagi? Sebenarnya apa yang terjadi padaku?"
Lalu terlintas bayangan-bayangan yang sama sekali tak dikenalnya berputar-putar di pikirannya.
FLASHBACK ON
Di gudang yang kumuh dan kotor dimana Adam disekap.
"LEPASKAN AKU BRENGSEK!" teriak Adam.
"Melepaskanmu itu sama saja kami cari mati. Kami diperintahkan untuk membunuhmu. Tapi sebelumnya kami akan bermain-main denganmu manis," seringai salah satu suruhan Dhira.
SREETT!
BUUGGHH!
"AAKKHHH!" Adam menjerit dan kepalanya mengeluarkan darah.
"Bagaimana? Apa ingin lagi, hum?" tanya pria itu tangannya mengelus pipi mulus Adam.
"Jangan sentuh aku brengsek! Aku tidak sudi disentuh oleh manusia iblis sepertimu," bentak Adam.
PLAAKKK!
"AAAKKKHHH!" Adam meringis kesakitan saat pria itu menamparnya sangat keras. Pipinya benar-benar panas.
"Seperti nya kau ingin bermain-main dengan kami rupanya."
FLASHBACK OFF
"Apa itu barusan? Apa yang terjadi padaku?" Allan terus berpikir tentang bayangan yang barusan saja muncul di pikirannya.
Allan kembali fokus mengendarai sepeda motornya, walau rasa sakit di kepala masih terasa. Tapi sayangnya, fokus Allan kembali terusik. Bayangan tentang masa lalunya muncul kembali di pikirannya
FLASHBACK ON
"Bangunkan dia!"
BYUURRR!
Adam tersentak dan mengerjakan matanya yang wajahnya baru saja disiram dengan air dingin. Dan hal pertama yang dapat dilihat olehnya adalah beberapa orang yang berdiri di hadapannya dan seorang wanita. Dan selebihnya berjaga di luar.
"Cukup tidurnya anak manis. Ayo, kita bermain-main dan bersenang-senang," ucap Dhira dengan senyum sinisnya.
"Mau apa kau perempuan gila. Jangan macam-macam kau sialan!" teriak Adam. Sedangkan Dhira hanya tersenyum penuh seringai.
"Pedas sekali mulutmu manis. Bagusnya aku apakan ya dirimu, hum?"
"Hei, kalian! Apakah kalian berminat dengan bocah ini?!" teriak Dhira pada orang suruhannya.
"Bagaimana kalau kami bermain-main dengan tubuhnya saja Bos!" seru salah satu pria disana dan mengundang lapar pria-pria lain.
Pria tersebut mendekati Adam dan menyentuh pipi mulus Adam. "Lihatlah. Dia sangat cantik padahal dia laki-laki. Ditambah lagi bibirnya yang merah itu pasti membuat milik kita hangat berada dalam mulutnya!" seru pria yang lainnya.
"KALIAN GILA!" teriak Adam.
"Bahkan tubuhnya begitu waww dan eeemm.. sangat indah!"
"LEPASKAN AKU BRENGSEK!"
FLASHBACK OFF
"Aaakkhhh! Sial. Kepalaku sa-sakit sekali."
Tapi Allan terus berusaha untuk tetap fokus pada tatapan ke depan. Saat tiba di tikungan dan saat Allan hendak berbelok. Allan tidak bisa menjaga keseimbangan motornya. Ditambah lagi rasa sakit di kepalanya kian menjadi. Lalu detik kemudian penglihatan menjadi buram dan...
BRAAKKK!
BRUUKK!
Motor yang dikendarai Allan jatuh dan menabrak tiang listrik. Sedangkan Allan terhempas dan tubuhnya berguling-guling di jalanan.
^^^
Danish dan yang lainnya masih dalam perjalanan. Mereka semua memutuskan untuk pulang. Lebih tepatnya para sahabat dari Ardi, Harsha dan Danish ingin main ke rumah keluarga Abimanyu.
Saat mereka semua sedang fokus dengan kendaraan mereka. Dua diantara mereka yaitu Gala dan Arya melihat ada seseorang yang tergeletak di pinggir jalan saat mereka berada di tikungan.
Gala dan Arya menghentikan motor mereka. "Hei, lihatlah disana!" teriak Gala dan Arya.
Lalu yang lainnya menghentikan motor mereka dan menatap arah tunjuk Arya dan Gala.
Detik kemudian, mereka semua turun dari motor dan langsung berlari menuju arah seseorang yang tengah tergeletak di pinggir jalan.
Danish mengangkat tubuh orang itu dan meletakkan di pahanya. Kemudian tangannya membuka helm yang dipakai oleh orang itu dibantu oleh Ardi.
Saat helm itu terbuka. Alangkah terkejutnya mereka semua.
"Adam!" teriak mereka semua.
Air mata Danish, Ardi dan Harsha pun berjatuhan saat melihat kondisi adik mereka yang tak sadarkan diri dengan luka di kepalanya dan jangan lupa darah yang mengalir dari luka tersebut.
Danish menepuk-nepuk pelan pipi adiknya itu. Berharap adiknya mau bangun.
"Adam... ini kakak.. Hiks."
"Taxi!" teriak Rayan saat melihat taxi melintasi mereka. Rayan menghadang taxi tersebut.
"Danish. Kita harus membawa Adam ke rumah sakit!" seru Kavi.
Danish, Kavi dan Cakra mengangkat tubuh Adam dan membawa masuk ke dalam mobil taxi itu.
"Harsha. Kau masuklah dulu," suruh Ardi. Dan Harsha pun langsung masuk ke dalam mobil taxi tersebut.
Setelah Adam berada di dalam bersama Harsha. Danish dan Ardi pun masuk ke dalam mobil taxi itu. Danish di belakang dan Ardi di depan.
Sedangkan yang lainnya menyusul di belakang menggunakan motor mereka.
***
Saat ini mereka tengah menunggu di depan ruang UGD dengan wajah panik dan khawatir. Mereka semua menangis. Dan yang paling sedih diantara mereka adalah Harsha karena dari mereka kecil, Harsha selalu menemani Adam. Walau otak greseknya yang jahil. Sering memulai keributan dengan kelinci nakal kesayangannya itu, tapi Harsha sangat-sangat menyayangi Adam. Harsha selalu ada untuk Adam, adiknya itu.
Sedangkan Danish. Dirinya saat ini tampak kacau. Dirinya duduk dan bersandar di dinding. Yang ada di pikirannya hanya adiknya. Cakra dan Kavi juga ikut duduk masing-masing di sampingnya berusaha memberikan ketenangan padanya.
"Kakak Ardi... Hiks," isak Harsha.
Ardi langsung memeluk tubuh Harsha dan mengusap lembut punggungnya. "Tenanglah, Sha! Semoga kelinci manis kita itu baik-baik saja."
DRTT!
DRTT!
Suara ponsel milik Harsha berbunyi. Ardi yang mendengarnya langsung melepaskan pelukannya. "Ponselmu bunyi. Siapa tahu dari rumah?"
Harsha langsung merogoh ponselnya yang ada di saku celananya. Saat ponsel ada di tangannya, Harsha melihat nama kontak 'Mama Sayang' di layar ponselnya. Ardi yang berada di samping juga dapat melihatnya.
"Sudah, angkat saja. Katakan apa adanya." kata Ardi saat melihat Harsha yang hanya menatap ponselnya.
"Hm," jawab Harsha, lalu menekan tombol hijau.
"Hallo, Ma."
"Hallo, Harsha sayang. Kamu dan kedua kakakmu ada dimana? Kenapa belum kembali ke rumah?"
"Hiks... Hiks." anggota keluarganya dapat mendengar dengan jelas suara isakan Harsha.