
Dan saat ini, baik Gala maupun Carlo sudah duduk di sebuah bangku yang ada di Taman Kota tersebut.
"Aku merindukanmu, Dam! Apa kabarmu di sana? Kau pasti sudah sangat bahagia ya? Kau jahat, Dam! Kau pergi tanpa pamit padaku," lirih Gala dan air matanya pun mengalir.
Carlo yang mendengar lirihan yang keluar dari bibir adiknya menjadi tidak tega. Carlo kemudian menarik pelan tubuh adiknya dan membawanya ke dalam dekapannya. Mengelus lembut punggungnya dan mengecup kepala sang adik.
"Kakak tahu perasaanmu, Gal! Dan kakak juga tahu bagaimana kedekatanmu dengan sahabat-sahabatmu itu, terutama Adam." Carlo berucap sembari tangan masih terus mengusap-ngusap punggungnya.
"Aku merindukannya, kakak! Sangat merindukannya. Andaikan waktu bisa diputar kembali, baik aku maupun yang lainnya akan selalu menjaganya dan tidak akan membiarkan terjadi sesuatu padanya," sahut Gala.
"Iya. Kakak tahu itu. Tapi itu semua sudah terjadi dan kau harus tetap kuat dan semangat untuk menjalani hidupmu. Kalau kau seperti ini, itu akan membuat Adam di atas sana juga ikut menangis. Adam memang telah pergi. Tapi Adam akan selalu ada di hati kita, terutama di hatimu." Carlo masih terus menghibur adiknya.
Setelah dua puluh menit mereka berada di Taman Kota. Mereka memutuskan untuk pulang ke rumah. Dikarenakan waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Gala dan Carlo melangkahkan kaki menuju ke mobil mereka.
Namun Gala tiba-tiba menghentikan langkahnya dan matanya tak sengaja melihat sesosok pemuda yang lima bulan ini dia rindukan. Gala menangis saat melihat sosok pemuda tersebut. Dan hal itu sukses membuat Carlo sang kakak terkejut dan Carlo pun melihat kearah pandangan adiknya.
"A-adam!" seru Gala dengan suara lirihannya.
"Allan," ucap Carlo.
Tanpa pikir panjang lagi. Gala pun berlari kearah Allan sembari berteriak memanggil nama Adam.
"Adam!"
Sedangkan Allan yang melihat seseorang yang berlari kearahnya hanya diam membeku.
GREB!
Gala langsung memeluk tubuh Adam dan menangis di pelukannya.
Gala melepaskan pelukannya dari Allan dan menatap wajah Allan. Tangannya terulur mengelus lembut wajah Allan.
"Dam. Ini kakak. Kak Gala. Kau selama lima bulan ini ke mana saja? Kenapa tidak pulang? Kau tahu tidak Bibi Utari, Mamamu setiap hari menangisimu. Kedua kakak sepupumu kak Ardi dan Harsha, mereka juga sering menangis. Kedua kakak kandungmu juga. Kita semua menangisimu. Kita semua merindukanmu." Gala berbicara heboh dengan berlinang air mata.
"Gala," panggil Carlo yang datang dengan nafas terengah-engah mengejar Gala.
"Kakak Carlo. Ini Adam, kak. Orang yang aku rindukan selama ini," ujar Gala dengan raut kebahagiaan.
"Allan," sapa Carlo.
"Kakak Carlo," balas Allan.
"Gala. Ini namanya Allan. Dia adiknya Vigo, sahabat kakak. Dan Alllan ini juga kuliah di Kampus yang sama dengan kita," ucap Carlo.
"Tidak kak. Tidak! Ini Adam adikku," sela Gala. "Dam. Kita pulang ya. Aku yakin keluargamu pasti akan sangat bahagia jika melihatmu." Gala berbicara sembari memegang tangan Allan.
Allan memandangi wajah Gala. Keningnya mengkerut. Pikirannya kacau. Lagi-lagi ada orang yang memanggilnya dengan sebutan yang sama yaitu Adam. Allan berusaha untuk mengingat wajah pemuda yang kini berdiri di hadapannya. Jika memang dia mengenalinya, pasti dia akan ingat dengan pemuda tersebut. Tapi hasilnya nihil. Allan sama sekali tak ingat sama sekali.
"Maaf. Siapa kau? Kenapa memanggilku dengan sebutan Adam?" tanya Allan.
DEG!
"Dam. Apa-apaan ini? Kau lagi bercanda kan? Ini kakak, Dam! Kakak Gala," ucap Gala.
"Sekali lagi aku minta maaf. Aku Allan bukan Adam. Permisi!" Adam langsung pergi meninggalkan Gala dan Carlo.
"Adam! Adam!" teriak Gala.
Gala berlari mengejar Allan. Tapi tangannya ditahan oleh Carlo.
"Kakak, lepaskan aku. Aku ingin mengejar Adam. Aku tidak mau kehilangannya lagi kak," tangis Gala pun pecah.
Carlo menarik tubuh adiknya ke dalam pelukannya. Carlo merasakan sakit di hatinya saat melihat adik kesayangannya menangis seperti ini. Ini yang kedua kalinya Carlo melihat adiknya menangis seperti ini. Dulu saat kepergian Adam. Sekarang saat bertemu orang yang mirip dengan Adam.
"Hiks.. aku yakin dia Adam, adikku kak. Dia Adam bukan Allan.. hiks." Gala terisak.
"Aku akan cari tahu kebenarannya. Kalau benar apa yang dikatakan adikku. Allan itu adalah Adam sahabat baiknya. Berarti Vigo Liam Adiyaksa sudah berbohong padaku dan yang lainnya soal Allan. Dan aku akan meminta penjelasan darinya. Kalau perlu aku akan membuatnya berkata jujur soal Allan." Carlo berbicara di dalam hatinya.
"Kakak berjanji akan mengembalikan kebahagiaanmu, Gal." Carlo berucap dengan memeluk adiknya.
"Kebahagiaanku hanya ingin bersamamu, kak Ammar dan juga Adam. Aku ingin Adam juga kembali padaku," lirih Gala.
"Kakak akan mengabulkannya. Berikan kakak waktu. Kakak akan menyelidiki masalah ini," jawab Carlo.
Gala melepaskan pelukan dari kakaknya. Lalu menatap wajah tampan sang Kakak.
"Benarkah, kak?"
"Eeemmm." Carlo mengangguk.
Carlo menghapus air matanya adiknya. "Sekarang kita pulang ya. Hari sudah sore. Pasti Mama dan Papa sudah mengkhawatirkan kita di rumah."
Gala hanya mengangguk. Lalu mereka pun melangkahkan kaki menuju kearah mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
***
Para pelayan sedang menyiapkan sarapan pagi untuk penghuni keluarga Adiyaksa. Sedangkan di nyonya rumah Celina menata makanan di atas meja.
"Aish. Ini sudah jam berapa? Kenapa para keempat jagoanku belum bangun juga?" monolog Celina.
Akhirnya Celina pergi menuju kamarnya dan suaminya.
CKLEK!
Pintu di buka dan dilihatnya kalau suami tercinta sama berada dialam mimpinya.
"Dasar tukang tidur."
Celina mendekati suaminya yang masih memejamkan matanya. Lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "Hei, tukang tidur. Kalau kau tidak bangun juga. Aku akan bakar semua koleksi jam tanganmu," ucap Celina dengan nada mengancam dan itu sukses membuat suaminya Levi seketika membuka matanya. Suaminya langsung duduk dan menatap wajah cantiknya.
"Kau terlalu kejam, sayang." Levi mengajukan protes kepada istrinya.
Setelah itu, mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Saat Levi ingin mencium bibir istrinya, sang istri terlebih dahulu menutup mulut suaminya dan mendorong mundur wajah suaminya itu.
"Jangan mencuri kesempatan. Sekarang cepat bangun lalu pergi mandi. Bukankah kau ada rapat dengan perusahaan ternama di Jakarta. Kau tidak lupakan kan sayang? Ini sudah jam tujuh pagi loh."
"Astaga. Kau benar sayang. Aku benar-benar lupa kalau hari ini ada mitting dengan salah satu perusahaan ternama di Jakarta yaitu perusahaan EVN Corp," sahut Levi dan langsung pergi ke kamar mandi.
Sedangkan Celina geleng-geleng kepalanya melihat kelakuan suaminya.
Setelah membangunkan suaminya. Celina menuju kamar putra sulungnya. Saat Celina keluar dari kamarnya, dirinya melihat putra sulungnya keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan rapi. Celina pun tersenyum.
"Paling tidak berkurang satu pekerjaanku," batin Celina.
"Nicolaas," panggil Celina.
Nicolaas mengalihkan pandangannya melihat kearah ibunya.
"Iya, Ma."
"Bisa bantu Mama, sayang?"
"Bisa. Apa itu, Ma?"
"Bangun Allan dan Mama akan bangunkan Vigo."
"Baiklah." Nicolaas pun pergi menuju kamar Allan.
Nicolaas sudah berada di dalam kamar adiknya. Dapat dilihat olehnya, adiknya masih tertidur lelap dengan selimut yang menutupi tubuhnya.
Nicolaas pun mendekati ranjang Allan dan menarik pelan selimut yang menutupi tubuh adiknya itu. Dirinya tersenyum melihat wajah tampan, imut dan manis sang adik.
"Hei, Allan. Bangunlah. Ini sudah jam berapa? Apa kau tidak kuliah hari ini, hum?"
Allan menggeliat-geliatkan tubuhnya dan makin mengeratkan pelukannya pada guling kesayangannya.
"Yak! Bukannya bangun. Ini malah tambah nyenyak tidurnya," kesal Nicolaas.
Nicolaas berpikir sejenak, tiba-tiba terlintas ide jahil di otaknya. Nicolaas mendekatkan telinganya pada telinga Allan.
"Kalau dalam dua menit kau tidak bangun juga. Kakak akan mencium bibirmu, Allan Liam Adiyaksa!"
Berlahan Allan membuka kedua matanya dan langsung memposisikan tubuhnya untuk duduk, walau matanya masih sedikit terpejam.
Sedangkan Nicolaas tersenyum gemas melihat wajah Allam saat bangun tidur.
Nicolaas menarik pelan tangan Allan agar adiknya itu segera beranjak dari tempat tidurnya. Kalau tidak begitu, adiknya bisa-bisa tidur lagi.
"Sekarang buruan kamu mandi. Setelah selesai, segera turun ke bawah. Mama dan Papa sudah menunggu di bawah," sahut Nicolaas.
"Hmm," jawab Allan dan langsung melangkah menuju kamar mandi.
^^^
Semua telah berkumpul di meja makan. Mereka menikmati sarapan pagi dengan nikmat.
"Makan yang banyak sayang. Mama tidak ingin kalian sakit."
"Iya, Mama." mereka menjawab bersamaan.
"Pa," panggil Nicolaas.
"Apa, sayang?" jawab Levi.
"Papa tidak lupakan kalau hari ini ada rapat dengan perusahaan EVN Corp milik pengusaha ternama Evan Hara Bimantara?" tanya Nicolaas.
Saat Levi ingin menjawab, istrinya sudah terlebih dahulu menyambar.
"Awalnya Papamu itu lupa sayang. Tapi Mama yang mengingatkan Papamu itu."
"Aish. Kau ini." Levi mencebik kesal.
Sedangkan ketiga putranya terkekeh melihat kelakuan kedua orang tua mereka.