
[BINUS UNIVERSITY]
Adam sudah berada di kampus. Saat ini dia duduk sendirian di sebuah bangku tempat biasa dia duduk dengan Melky. Adam sesekali melirik ke samping seolah-olah ada seseorang disana.
"Perasaanku mengatakan bahwa aku pernah duduk disini dengan seseorang. Tapi siapa?" batin Adam.
Adam seketika memijat keningnya yang sedikit berkedut. Kepalanya tiba-tiba pusing.
Disaat Adam sedang duduk sendirian. Tanpa Adam sadari sekitar enam belas orang tengah menatapnya dengan tatapan lapar. Dengan kata lain, keenam belas orang itu akan memberikan sedikit pelajaran kepada Adam.
"Kebetulan dia sendiri. Ini kesempatan kita untuk menghajarnya sampai mampus," ucap Agha.
"Ya. Ini kesempatan sangat bagus untuk membalas kekalahan kita tempo lalu," sahut Aziel.
"Bagaimana dengan kalian, kak?" tanya Dayan kepada Kishan sang kakak kelas yang tak lain adalah musuhnya Gala dan Harsha.
Kishan dan teman-teman juga sakit hati akan kekalahan dan teman-teman ketika melawan Gala dan Harsha. Jadi, Kishan dan teman-temannya membalas sakit hatinya kepada Adam yang berstatus sebagai adik sepupunya Harsha.
"Kami setuju!" seru Kishan dan kelima teman-temannya
"Baiklah. Tunggu apalagi. Ayo kita serang dia!"
Adam yang tidak tahan pusing di kepalanya memutuskan untuk pergi menuju ruang kesehatan.
Namun ketika kakinya hendak melangkah, tiba-tiba beberapa orang menghadangnya.
Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang melihat beberapa mahasiswa yang menghadang jalannya Adam. Mereka kasihan dengan Adam yang diganggu oleh keenam belas teman kampusnya itu, padahal kalau dilihat-lihat Adam dalam keadaan tak baik-baik saja.
"Aku kasihan sama Adam. Coba lihat, sepertinya Adam lagi tidak enak badan."
"Iya, benar! Sesekali Adam memijit-mijit keningnya. Mungkin kepala Adam sakit."
"Kalau Adam nya sakit begini. Sudah pasti Adam bakal kalah melawan mereka semua."
"Ya, sudah begini saja. Kalian bertiga panggil kakak-kakaknya Adam. Dan kami berdua akan panggil ketujuh sahabat-sahabatnya Adam."
"Baiklah!"
Setelah mengatakan itu, mereka pun berlari untuk mencari keberadaan kakak-kakaknya dan ketujuh sahabat-sahabatnya Adam.
"Mau kemana, hum?" tanya Aziel.
Adam menatap datar orang-orang yang ada di hadapannya. Tatapan matanya mengisyaratkan kebingungan.
"Aku tidak punya urusan dengan kalian."
Setelah mengatakan itu, Adam melanjutkan langkahnya untuk menuju ruang kesehatan.
Namun baru beberapa langkah, Rohan memberikan tendangan tepat di punggung Adam.
Duagh..
"Aakkhhh!"
Adam seketika meringis merasakan sakit di punggungnya akibat tendangan dari salah satu teman kampusnya.
Adam membalikkan badannya dan menatap nyalang kearah Rohan. Tangannya mengepal kuat.
"Dasar banci. Kalau menyerang seseorang dari depan bukan dari belakang," ucap Adam.
Rohan menatap remeh Adam. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tidak peduli mau dikatakan banci, pecundang atau lain sebagainya. Selama ada kesempatan yang bagus, maka mereka akan pergunakan dengan baik.
"Nggak peduli," ucap Rohan dengan aksen mengejeknya.
"Lo sendirian sekarang. Jadi, gue dan kita semua bakal menang melawan lo," ucap Aziel.
Adam tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan Aziel.
"Jangan banyak omong. Ayo, maju!"
Adam berucap sambil memberikan tatapan menantang terhadap orang-orang yang ada di hadapannya yang siap menerkam tubuhnya.
"Brengsek! Serang!" seru Aziel dan Kishan bersamaan.
Aziel kesembilan teman-temannya dan Kishan dan kelima teman-temannya langsung menyerang Adam secara bersamaan. Sementara Adam hanya sendirian melawan mereka semua.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Srekk..
Krett..
Bagh.. Bugh..
Duagh..
Adam berhasil membuat lima teman kampusnya tumbang dengan beberapa pukulan dan tendangan tepat di dada dan perut kelima teman kampusnya itu sehingga membuat kelimanya tersungkur di tanah.
Bruk..
Bruk..
"Sial! Dia hanya sendirian. Tapi dia masih bisa mengalahkan lima sekaligus sampai tumbang," batin Aziel.
"Salut gue. Bela dirinya benar-benar luar biasa," batin Kishan.
"Kishan, bela dirinya luar biasa. Tak jauh beda dengan Harsha kakak sepupu. Begitu juga dengan Gala," ucap Shafig.
"Ya. Gue juga sependapat sama lo. Bela dirinya benar-benar luar biasa," jawab Kishan.
"Gue jadi penasaran. Dia dan kakak sepupunya itu belajar bela diri dimana? Pengen gue belajar dan hebat seperti kakak adik sepupu itu," sahut Fikar.
Kishan, Shafig dan Fikar berbicara sambil terus memberikan pukulan dan tendangan kepada Adam. Begitu juga dengan Aziel dan kesembilan teman-temannya.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
"Uhuukk!"
^^^
Brak..
Pintu dibuka paksa oleh seseorang sehingga penghuni yang ada di dalam ruangan tersebut terkejut.
"Maafkan saya, prof!"
Mendengar perkataan maaf dan melihat wajah lelah dari mahasiswa itu membuat Danish, Ardi, Vigo dan yang lainnya menjadi tidak tega.
"Tidak apa-apa. Ada apa?" ucap dan tanya Kenzie lembut.
"Saya kesini ingin memberitahu bahwa Adam adiknya Prof. Danish dan Prof. Ardi sedang bertarung."
Mendengar perkataan dari mahasiswa membuat Danish dan Ardi langsung berdiri. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Siapa mereka?" tanya Ardi.
"Mereka yang selalu mencari masalah dengan Adam dan musuhnya kak Harsha dan kak Gala."
"Brengsek! Mereka bersekongkol mengeroyok Adam," ucap Danish marah.
Setelah itu, Danish pergi meninggalkan ruangannya dan diikuti oleh Ardi dan para sahabatnya.
Danish saat ini benar-benar mengkhawatirkan adiknya. Apalagi adiknya saat ini dalam keadaan tak baik-baik saja sejak kecelakaan itu.
^^^
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Sreekk..
Kreekk..
Pukulan demi pukulan, tendangan demi tendangan serta pelintiran di tangan menggema di lapangan.
Adam saat tidak sendirian lagi, melainkan bersama ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka datang tepat waktu ketika melihat kondisi Adam yang saat itu terdesak dan juga tengah menahan rasa sakit di perutnya.
Baik Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando berlari lalu menyerang orang-orang yang hendak menyerang Adam secara brutal.
"Dam, lo nggak apa-apa?" tanya Melky dan Leon bersamaan.
Sementara Adam hanya diam tak menjawab pertanyaan dari dua sahabatnya.
[Woi, kelinci bongsor! Ngapain lo?]
[Kakak sayang kamu. Jangan pernah kamu lupakan hal itu. Kamu satu-satunya adiknya kakak]
"Ingatan apa tadi? Sepertinya aku pernah mengalami hal itu. Tapi kapan?" batin Adam.
"Melky, Leon! Kalian bawa Adam ke ruangan kesehatan. Adam saat ini benar-benar butuh istirahat!" teriak Gino.
"Baiklah!"
"Kalian hati-hati!"
Ketika Leon dan Melky hendak pergi. Empat temannya Aziel yaitu Aditya, Hasan, Rafif dan Raynan langsung menyerang Melky dan Leon yang sedang memapah Adam.
Duagh..
Brukk..
Seketika tubuh Leon dan Melky tersungkur ke tanah. Sementara Adam terduduk akibat tak sengaja terdorong oleh tangan Leon dan Melky akibat terkena tendangan dari Aditya, Hasan, Rafif dan Raynan.
Ketika Aditya, Hasan, Rafif dan Raynan hendak kembali menyerang Adam, Leon dan Melky. Danish, Ardi dan Vigo datang dan langsung memberikan tendangan kuat di punggungnya
Duagh.. Duagh..
Duagh.. Duagh..
"Aakkhhh!"
Brukk..
Aditya, Hasan, Rafif dan Raynan tersungkur di tanah dan seketika tak sadarkan diri.
Sementara para sahabatnya menyerang secara membabi-buta Aziel dan teman-temannya yang lain. Serta Kishan dan kelima teman-temannya.
"Adam, kamu dengar kakak? Kita ke ruangan kesehatan ya. Kakak khawatir sama kamu," ucap Danish sembari tangannya mengusap lembut kepala adiknya.
"Kalian tidak apa-apa?" tanya Vigo dan Ardi sembari membantu Leon dan Melky untuk berdiri.
"Kami baik-baik saja, kak!" jawab Leon dan Melky bersamaan.
"Kak Danish, lebih baik bawa Adam ke ruangan kesehatan sekarang. Adam berulang kali mendapatkan tendangan di punggung dan di perutnya. Bahkan aku juga melihat Adam merasakan sakit di kepalanya!" seru Melky.
Mendengar perkataan dari Melky membuat Danish, Ardi dan Vigo menatap khawatir Adam. Seketika Danish menangis ketika melihat wajah pucat adiknya itu.
Dan detik kemudian....
Brukk..
Tubuh Adam jatuh tak sadarkan diri di pelukan Danish.
"Adam!" teriak Danish, Vigo dan Ardi bersamaan.
Tolong angkat tubuh Adam dan naikkan ke atas punggungku," ucap Danish.
Vigo dan Ardi langsung mengangkat tubuh Adam dan meletakkannya di atas punggung Danish.
Setelah merasa aman, Danish pun berdiri dan membawa adiknya ke ruangan kesehatan. Diikuti oleh Vigo dan Ardi.