THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Perang Mulut



Allan sedang duduk santai di sofa ruang tengah dengan ponsel di tangannya. Allan sedang asyik bermain game di ponsel miliknya.


Saat Allan tengah asyik dan serius dengan gamenya, ditambah lagi dirinya akan memenangkan permainan tersebut. Tapi tiba-tiba saja suara notifikasi secara bertubi-tubi masuk keponselnya.


TING!


TING!


TING!


TING!


TING!


"Yak! Sialan! Yah.. yaaahhhh! Kalah dech! Ini pasti gara-gara si Mingtem sialan itu," gerutu Allan.


Alla akhirnya keluar dari permainannya dan mengecek notifikasi tersebut. Dan ternyata notifikasi tersebut adalah dari grup barunya.


[Grup The Trouble Makers]


Melky : Woi, siluman kelinci.


Sakti : Siapa tuh siluman kelinci?


Marcel : Wah, bahaya. Apa benar di grup ini ada siluman?


Wahyu : Siapa? Siapa?


Eril : Hei, hitam. Katakan padaku. Siapa dia? Bisa bahaya, nih!


Juna : Kalau siluman kelincinya imut dan lucu, aku tidak masalah. Aku suka yang imut-imut dan yang lucu-lucu.


Melky : Hahaha. Siluman kelinci yang satu ini memang benar-benar lucu dan imut, Junn Kau pasti menyukainya.


Juna : Benarkah?


Melky : Eemm!


Sakti : Katakan padaku, siapa dia? Jangan buatku penasaran.


Eril : ^ 2


Marcel : ^ 3


Wahyu : ^ 4


Allan benar-benar terkejut saat membaca isi dari grup tersebut.


"Yak! Apa-apaan si hitam manggil gue seperti itu digrup. Monyet tuh anak. Sialan, kampret!" teriak Allan.


Mendengar teriakan Allab membuat Nicolaas dan Vigo terkejut. Mereka pun melihat kearah Allan.


"Allan. Kau kenapa berteriak seperti itu?" tanya Nicolaas heran melihat adiknya.


"Heheha. Maaf kak Nicolaas. Ini temanku sikedelai hitam. Seenaknya aja ngatain aku siluman kelinci. Dan ditambah lagi dia dengan teganya ngumuminnya di grup," jawab Allan tanpa sadar mulutnya menyebut kata siluman kelinci.


Nicolaas dan Vigo saling lirik dan detik kemudian.


"Hahahaha." mereka tertawa.


Allan merengut dan membelalakkan kedua matanya menatap kedua kakaknya itu.


"Kalian benar-benar menyebalkan, kak!"


"Apa yang dikatakan oleh temanmu itu ada benarnya? Kau itu setengah manusia dan setengahnya lagi siluman kelinci," sahut Nicolaas.


"Yap! Betul tuh, kak Nicolaas! Hahahaha." Vigo kembali tertawa.


"Terserah kalian," jawab Allan pasrah.


Nicolaas dan Vigo tersenyum kemenangan, karena sudah berhasil membuat adiknya kesal.


Hening..


Nicolaas melirik ke arah Allan. "Sudah. Jangan ditekuk begitu wajahnya. Jelek tahu."


"Bodo amat," jawab Allan yang matanya fokus pada ponsel miliknya.


"Siamat jangan dibawa-bawa. Ntar emak bapaknya marah," goda Vigo.


"Aish." Allan mendengus kesal.


Allan beranjak dari duduknya, lalu melangkahkan kakinya menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Mau kemana?!" teriak Vigo.


"Mandi, lalu bersiap-siap ke kampus!" teriak Allan balik.


***


Saat ini anggota seluruh keluarga Abimanyu tengah berkumpul di ruang tengah, kecuali ketiga makhluk tampan yaitu Ardi, Harsha dan Danish. Mereka semua kini tengah memikirkan ucapan-ucapan dari ketiga kesayangan mereka mengenai pemuda yang mirip dengan sibungsu kesayangan mereka.


"Papa sudah yakin dari awal. Pemuda itu adalah cucu papa."


"Aku juga sudah mulai yakin kalau pemuda itu adalah Adam keponakanku. Apalagi saat Ardi, Harsha dan Danish menceritakan semuanya pada kita," sahut Bagas.


"Kalau putraku masih hidup lalu siapa yang kita kuburkan saat itu?" tanya Utari.


"Dari pada kita bingung dibuatnya. Besok kita gali kuburan itu. Kita lakukan otopsi atau tes DNA. Biar kita tahu siapa yang telah kita kuburkan itu," sela Davan.


"Papa setuju!" seru Yodha.


"Kami juga setuju!" seru Dzaky, Rafiq, Reza dan Juan.


"Baiklah," sahut Utari dan Evan.


"Hei, kalian sudah mau berangkat ke Kampus!" seru Alin saat melihat putra dan dua keponakannya menuju ruang tengah lengkap dengan pakaian kampus mereka.


Semua mata tertuju pada mereka. Lalu tiba-tiba saja Utari menangis. Ingatannya tertuju pada saat putra bungsunya berangkat kuliah bersama kedua keponakannya Ardi dan Harsha.


"Kalian bertiga mengingatkan Mama dengan adik bungsu kalian," lirih Utari.


Berlahan Danish mendekati ibunya dan menghapus air mata sang ibu. "Aku berjanji pada Mama akan membawa Adam kembali pulang ke rumah ini. Karena aku yakin, Allan adalah Adam adikku. Putra Mama."


Utari tersenyum, lalu mengecup kening putra keduanya itu. "Terima kasih, sayang!"


"Ya, sudah kalau begitu! Kami berangkat kuliah dulu Pa, Ma, Kakek, kak." Danish, Ardi dan Harsha berpamitan.


Setelah berpamitan, mereka pun pergi meninggalkan anggota keluarga mereka.


***


Allan saat ini sudah berada di lobi kampus. Dirinya duduk disana sembari fokus dengan ponselnya. Sedangkan Vigo sudah ditarik oleh sahabatnya ke kelas karena ada tugas yang harus mereka selesaikan.


Saat sedang asyik dengan ponselnya, Allan dikejutkan oleh beberapa orang yang menghampirinya. Salah satunya Melky.


"Allan!" teriak Melky.


BUGH!


Allan melempari Melky dengan bungkus snack. Dan lemparannya tepat mengenai wajah tampan Melky.


"Hahaha." yang lainnya tertawa.


"Jadi kau yang bernama Allan," ucap Marcel. "Kenalkan namaku Marcel." Marcel mengulurkan tangannya pada Allan.


Allan tersenyum dan menerima uluran tangan dari Marcel. "Aku Allan Liam Adiyaksa."


Dan mereka semua pun ikut memperkenalkan diri pada Allan, kecuali Marcel dan Melky. Mereka saling ngobrol dan bersenda gurau satu sama lainnya. Bahkan mereka pun saling bertukar nomor ponsel.


"Ternyata kau asyik juga ya, Allam!" seru Sakti.


"Ternyata apa yang dikatakan Melky benar tentangmu," ucap Eril.


Allan menatap Eril. Sedangkan Melky sudah mengumpati Eril dalam hatinya.


"Dasar kurus. Mulut ember," batin Melky.


Eril menyadari tatapan Melky. Tapi Eril memilih acuh dan terus berbicara dengan Allan.


"Memangnya si hitam ini ngomong apa saja padamu dan juga pada kalian?" tanya Allan.


"Banyak," jawab Eril.


"Salah satunya adalah si hitam ini mengatakan pada kami bahwa kau adalah seekor kelinci yang manis dan menggemaskan." itu Juna yang menjawabnya.


"Si hitam ini juga mengatakan pada kami kalau kau itu ketus, jutek, galak, songong, blagu, bodoh dan masih banyak lagi. Itu baru sebagiannya saja!" seru Sakti.


Allan melotot dan menatap tajam kearah Melky.


"Melky!"


Melky menggelengkan kepalanya cepat. "Yak, Allan! Kau jangan percaya pada iblis pencabut nyawa seperti mereka ini. Aku tidak pernah mengatakan hal itu pada mereka," sahut Melky.


"Kalau kami iblis pencabut nyawa. Sudah kami lakukan dari tadi," jawab Eril.


"Kalian memang iblis pencabut nyawa. Kalian mencabut nyawaku tidak secara langsung, tapi secara berlahan-lahan. Buktinya kalian lihat sendiri, bagaimana mata siluman kelinci ini menatapku. Seakan-akan siluman kelinci ini ingin memakanku hidup-hidup." Melky berbicara dengan nada kesal.


Mereka yang mendengarnya tersenyum gemas melihat wajah kesal Melky dan wajah marah Allan yang saat ini tengah menatap Melky.


"Mau sampai kapan lo natap gue kayak gitu, hah?! Lo udah kuliahkan. Lo bukan bocah lagi. Masa lo percaya pada omongan para tikus-tikus ini," sahut Melky sembari melirik kearah sahabat-sahabatnya itu.


Sedangkan mereka yang dikatakan tikus-tikus oleh Melky memberikan tatapan horor kepada Melky.