THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kembali Menyalahkan Diri Sendiri



Adam, Danish, Ardi, Harsha dan Vigo berada di Kampus. Kini mereka tengah berada di ruang latihan Taekwondo. Di ruang itu juga ada para sahabat-sahabat mereka.


Mereka saat ini tengah membahas masalah keluarga Kalyani dan keluarga Adiyaksa serta membahas cara untuk membalas kedua keluarga itu.


"Vigo," panggil Crisan.


Vigi melihat kearah Crisan. "Apa rencanamu? Apa kau sudah memikirkan untuk membalaskan kematian ayahmu?"


"Belum Crisan. Aku benar-benar bingung saat ini. Aku tidak tahu harus memulai dari mana untuk membalaskan kematian Papa."


Memang benar? Vigo tidak tahu harus memulai dari mana untuk membalaskan kematian ayahnya. Saat ini yang ada di pikiran Vigo adalah ayahnya. Vigo sangat merindukan ayahnya.


Mereka semua menatap iba Vigo. Semenjak kematian Levi, sang Ayah. Vigo banyak diam. Vigo akan bicara jika salah satu sahabatnya, salah satu sahabat Danish atau salah satu sahabatnya Adam mengajaknya bicara. Vigo yang sekarang tidak seperti Vigo mereka kenal.


Para sahabatnya tahu apa yang dirasakan Vigo saat ini. Ini adalah yang kedua kalinya Vigo merasakan kehilangan. Pertama, Vigo kehilangan adiknya. Adiknya meninggal karena kecelakaan mobil. Ketika itu usia adiknya masih dua puluh tahun. Dan sekarang disusul oleh ayahnya. Ayahnya meninggal karena dibunuh.


Persahabatan Vigo dengan sahabat-sahabatnya sudah terjalin sekitar 10 tahun. Jadi semua sahabat-sahabatnya sangat mengetahui sifat Vigo luar dalam. Begitu juga dengan keluarga Vigo.


Berita kematian ayahnya Vigo juga sampai terdengar di telinga para orang tua dari sahabat-sahabatnya, termasuk ayahnya Cakra Gariyan Loka. Maka dari itulah, ketika jenazah ayahnya dibawa pulang ke rumah keluarga Abimanyu semuanya tampak hadir.


Ketika Semuanya tengah mengobrol dan juga menghibur Vigo. Adam yang sedari tadi hanya diam. Dirinya hanya mendengar dan menatap satu persatu wajah-wajah para kakak-kakaknya.


Arka yang peka akan keadaan sekitarnya dan melihat kearah Adam yang sedari tadi hanya diam langsung bersuara.


"Adam. Kau kenapa? Kenapa hanya diam saja? Apa ada masalah? Atau ada yang kau pikirkan?" tanya Arka.


Mendengar pertanyaan dari Arka. Mereka semua dengan kompak langsung melihat kearah Adam. Dan benar saja. Adam hanya diam sembari bersandar di sofa dengan kepala menyender di kepala sofa. Danish, Ardi, Harsha dan Vigo menatap khawatir Adam.


Gala yang kebetulan duduk yang tak jauh dari Adam langsung menepuk pelan punggung tangan Adam.


Mendapatkan tepukan di punggung tangannya, Adam pun tersadar. Adam menatap kearah Gala.


"Ada apa kak?" tanya Gala.


"Hah! Akhirnya kau kembali Dam," sahut Gala.


Mendengar perkataan dari Gala membuat Adam menatap Gala bingung dengan alis yang ditautkan.


Sementara Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan yang lainnya tersenyum gemas melihat wajah bingung Adam.


"Sudah. Jangan terlalu dipikirkan apa yang barusan sibantet itu katakan," ucap Sakha yang seenak jidatnya.


Mendengar perkataan kejam dari Sakha. Gala langsung menatap horor Sakha dan jangan lupa bibirnya yang mengeluarkan sumpah serapah untuk Sakha.


Danish berpindah duduk di samping Adam. Setelah itu, Danish mengangkat tangannya untuk mengelus lembut rambut adiknya.


"Ada apa, hum? Jika ada yang kau pikirkan. Katakan pada kakak. Jangan diam seperti ini. Kakka tidak kau jatuh sakit lagi," ucap Danish lembut.


"Banyak yang aku pikirkan kak," jawab Adam dengan menatap sendu kakaknya.


Mendengar jawaban dari Adam membuat mereka menjadi sedih. Mereka benar-benar kasihan melihat keadaan Adam beberapa hari ini. Baik Adam maupun Vigo, keduanya sama-sama dalam keadaan yang tidak baik.


***


Nico saat ini berada di ruang kerjanya. Saat ini Nicolaas tengah sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya.


Beberapa menit kemudian, Nicolaas pun selesai memeriksa, mengecek, membaca dan menandatangani semua berkas-berkas itu. Nicolaas melihat ke samping. Terdapat bingkai foto keluarganya. Di dalam foto itu terlihat dirinya sedang dipeluk oleh ayahnya. Seketika air matanya pun lolos membasahi wajah tampan nya.


"Papa. Aku merindukanmu. Apa kabar Papa disana? Apa baik-baik saja?"


"Pa. Aku berjanji sama Papa untuk menjadi putramu yang kuat. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi Mama, Vigo dan Allan. Selama aku masih bernafas. Selama itulah aku akan menjaga dan melindungi mereka. Pa! Aku akan bekerja keras untuk memajukan Perusahaan keluarga kita. Aku juga akan mengajarkan Vigo tentang cara berbisnis sehingga Vigo juga bisa ikut andil dalam memajukan perusahaan. Papa baik-baik saja di atas sana."


Setelah selesai berbicara dengan menatap foto ayahnya. Nicolaas mengecup foto ayahnya.


"Aku menyayangi Papa. Selamanya!"


Lalu Nicolaas meletakkan kembali bingkai foto itu ke tempat semula sembari tersenyum menatap foto keluarganya.


Ketika Nicolaas tengah membereskan berkas-berkas yang sudah di tandatangan olehnya ke samping, tiba-tiba pintu ruang kerjanya di buka secara paksa oleh beberapa orang yang tidak dikenal.


BRAAKK!


Nicolaas yang melihat pintu ruang kerjanya di buka paksa dan melihat beberapa orang yang sudah berada di dalam ruang kerjanya menjadi terkejut.


"Maaf, Bos!" seru asistennya.


"Tidak apa-apa. Kau kembalilah ke ruanganmu," ucap Nicolaas lembut.


"Baik, Bos."


Asistennya itu pun pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dan kini tinggal Nicolaas dengan empat orang berpakaian hitam.


"Siapa kalian?!" bentak Nicolaas.


Lalu tiba-tiba munculnya seorang pria paruh baya memasuki ruang kerjanya. Nicolaas langsung terkejut ketika melihat wajah orang itu. Nicolaas menatap tajam kearah orang tersebut.


"Brengsek! Mau apa lagi kau Liam Dennis Adiyaksa?! Berani sekali kau menginjakkan kakimu ke Perusahaan Papaku! Apa belum puas setelah kau menculikku dan Papa dan berakhir kau membunuhnya?!" bentak Nicolaas.


Ya! Pria yang menampakkan dirinya di hadapan Nicolaas adalah Dennis. Saudara angkat dari ayahnya dan juga pelaku yang sudah membunuh ayahnya itu.


"Tenanglah Nicolaas. Paman kesini hanya ingin mengambil sesuatu darimu. Eehh, maaf! Maksud Paman. Paman ingin merebut apa yang sudah direbut oleh ayahmu dulu."


Dennis berbicara dengan angkuhnya dengan tatapan matanya yang menajam menatap Nicolaas.


"Itu memang benar. Tapi karena kehadiran ayahmu itu sudah membuatku gagal mendapatkan apa yang aku inginkan selama ini. Bahkan situa bangka itu lebih percaya dengan ayahmu dibandingkan aku yang jelas-jelas cucu kandungnya. Tapi situa bangka itu lebih memilih ayahmu yang berstatus cucu angkat!" bentak Dennis.


"Kenapa kau harus marah dengan Papaku? Jika kau merasa iri, cemburu dan juga ingin marah. Maka marahlah dengan Kakek Adiyaksa. Dialah yang sudah membuatmu seperti ini bukan Papaku," jawab Nicolaas dengan menatap tajam Dennis.


"Sudah cukup berdebatnya bocah. Sekarang aku akan memberitahumu. Perusahaan yang kau pimpin saat ini bukan lagi Perusahaan milikmu atau milik ayahmu. Perusahaan ini sudah resmi menjadi milikku sekarang!" bentak Dennis.


"Jangan bicara sembarangan kau, sialan! Sampai kapan pun Perusahaan ini adalah milik ayahku. Kau tidak akan bisa merebutnya!" bentak Nicolaas.


"Tapi sayangnya itu semuanya sudah terlambat keponakanku sayang. Perusahaan ini sudah resmi menjadi milikku. Papamu sudah menyerahkan Perusahaan ini menjadi milikku. Jika kau tidak percaya. Lihatlah ini." Liam Dennis Adiyaksa berbicara dengan melemparkan sebuah map kearah Nicolaas Liam Adiyaksa.


Nicolaas membuka map tersebut lalu membaca isi dari map itu. Seketika tubuhnya terhuyung ke belakang ketika membaca isi dari map itu.


"Tidak, Papa!" batin Nicolaas menangis.


"Bagaimana Nicolaas sayang? Kau sudah percayakan bahwa Perusahaan ini sudah menjadi milikku, hum?"


"Tidak... Tidak! Ini tidak mungkin. Papa tidak mungkin menyerahkan Perusahaannya pada pria brengsek sepertimu!" bentak Nicolaas dengan menatap tajam Dennis.


Dennis melihat kearah empat anak buahnya. Kemudian meminta anak buahnya untuk mengusir Nicolaas dari Perusahaan.


"Seret dia keluar dari Perusahaan ini!"


"Baik, Bos!"


Kedua anak buahnya Liam Dennis Adiyaksa kemudian menarik paksa Nicolaas Liam Adiyaksa dan menyeret tubuhnya keluar dari Perusahaan.


"Brengsek kau Dennis! Kau tidak bisa melakukan ini padaku dan keluargaku. Perusahaan ini milik ayahku!" teriak Dennis.


Mendengar teriakan dari Nicolaas membuat para karyawan menjadi tidak tega. Mereka semua menatap iba Nicolaas. Tapi mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka semua berharap dan berdoa agar masalah ini cepat selesai. Dan Pemimpin mereka kembali ke Perusahaannya. Untuk saat ini yang bisa mereka lakukan adalah tetap bekerja agar Perusahaan tetap berkembang, walau pemimpin mereka bukanlah Nicolaas.


Sementara Liam Dennis Adiyaksa dengan bahagianya duduk di kursi kebesaran milik Liam Levi Bimantara yang seharusnya diduduki oleh Nicolaas.


***


Celena saat ini sedang di rumah sendirian. Sejam yang lalu Celena baru pulang dari butik miliknya. Kini Celena sedang berada di dapur. Celena sedang menyiapkan makan siang untuknya dan ketiga putranya yaitu Nicolaas, Vigo dan Allan. Malam ini Allan akan menginap di rumahnya.


Mendengar bahwa Allan akan menginap di rumahnya. Baik Celena, Nicolaas maupun Vigo merasakan kebahagiaan di hatinya. Allan akan menginap selama satu minggu di rumahnya.


Ketika Celena sedang fokus dengan pekerjaannya di dapur, tiba-tiba terdengar suara suara putra sulungnya di ruang tengah.


"Mama," panggil Nicolaas.


Celena yang mendengar panggilan tersebut langsung menghentikan pekerjaannya dan langsung menghampiri putra sulungnya yang saat ini sudah duduk di sofa.


"Sayang. Kenapa su..." ucapan Celena terhenti ketika melihat wajah putranya.


"Astaga, Nico! Kamu kenapa sayang? Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu penuh luka seperti ini?" Celena benar-benar khawatir akan putra sulungnya.


"Mama... Hiks," isak Celena.


Celena kembali terkejut ketika mendengar isakan dari putranya.


"Ada apa Nicolaas? Katakan pada Mama. Kenapa denganmu?"


"Mama... Hiks. Aku gagal. Lagi-lagi aku gagal... Hiks." Nicolaas berucap sembari terus terisak.


"Gagal? Apa maksudmu sayang? Mama benar-benar tidak mengerti."


"Pertama, aku gagal melindungi Papa sehingga membuat Papa pergi meninggalkan kita. Kedua, aku gagal mempertahankan Perusahaan Papa... Hiks."


"Nicolaas. Apa maksudmu, Nak? Kenapa dengan Perusahaan kita?"


"Bajingan itu telah berhasil merebut Perusahaan Papa. Aku seperti ini karena habis bertarung dengan anak buahnya."


"Ma! Maafkan aku. Aku putramu yang tidak berguna," lirih Nicolaas.


Mendengar perkataan dari putra sulungnya membuat hati Celena benar-benar sakit. Belum sembuh luka hati putra sulungnya akan kejadian dimana ayahnya dibunuh. Dan sekarang putra sulungnya kembali mendapatkan luka baru ketika gagal mempertahankan Perusahaan ayahnya.


GREP!


Celena menarik pelan tubuh putra sulungnya itu dan membawanya ke dalam pelukannya. Setelah itu, Celena mengusap-ngusap lembut punggungnya.


"Mama mengerti perasaanmu sayang. Jadi Mama mohon jangan menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi. Ini bukan salahmu. Mama paling tidak suka mendengar kata-katamu itu." Celena menangis. Dirinya benar-benar hancur kala melihat putra sulungnya kembali menyalahkan dirinya.


"Maaf Nyonya," tiba-tiba seorang pelayan datang.


Celena melepaskan pelukannya. Baik Celena maupun Nicolaas sama-sama melihat kearah sang pelayan.


"Ada apa, Bi?" tanya Celena.


"Ada tamu di depan Nyonya,"


"Tamu? Siapa Bi?"


"Saya tidak tahu Nyonya."


"Baiklah."


Setelah itu, Celena dan Nicolaas pun pergi untuk menemui tamu itu.