
Di sebuah markas milik SCORPION yang kini sudah tidak berpenghuni dimana baik ketua dan anggotanya sudah dibantai habis oleh kelompok Zelo.
Di markas itu Nicolaas dan Vigo serta sahabat-sahabat Vigo sedang memberikan penyiksaan kepada orang yang sudah membuat hancur keluarga Adiyaksa yang kini berubah menjadi Bimantara.
Orang itu adalah Liam Dennis Adiyaksa mantan keluarga dari Liam Levi Bimantara.
Dennis mendapatkan pukulan, tendangan, ukiran-ukiran indah di seluruh tubuhnya dan juga beberapa luka tusukkan di kedua lengan, bahu dan ke dua pahanya.
Sementara untuk istrinya sudah tewas akibat tembakkan dari Vigo karena istri Dennis sempat melakukan perlawanan dan juga menghina Celena, ibu dari Nicolaas dan Vigo.
BUGH.. BUGH..
DUAGH..
SREETT..
Keadaan Dennis saat ini tidak bisa dikatakan baik-baik saja. Kondisi sudah sangat-sangat buruk. Seluruh tubuhnya penuh luka-luka akibat siksaan yang diberikan oleh Nicolaas dan Vigo. Begitu juga beberapa siksaan dari para sahabatnya Vigo.
"Brengsek! Bunuh aku sekarang!" teriak Dennis.
"Oh, tentu. Itulah tujuanku dan adikku membawamu ke tempat ini. Di tempat ini lah kau menyekapku dan papaku. Dan di tempat ini juga kau membunuh papaku." Nicolaas menatap tajam kearah Dennis.
Nicolaas dan Vigo masih terus menyiksa Dennis dengan pukulan dan tendangan di seluruh tubuh Dennis. Hanya terdengar teriakan kesakitan dari Dennis di dalam markas tersebut.
Ketika Nicolaas dan Vigo sedang bermain-main dengan Dennis. Salah satu sahabat Vigo yaitu Omar Carlo Meidiawan mendapatkan telepon dari adiknya yaitu Zahir Gala Meidiawan. Carlo yang mendapatkan telepon dari adiknya langsung menjawabnya.
"Hallo, Gala. Ada apa?"
"Hallo, kakak. Apa urusan di sana sudah selesai?"
"Belum. Vigo dan kak Nicolaas masih terus menghajar bajingan itu. Kenapa?"
"Suruh mereka menyelesaikan pekerjaan mereka. Dan segeralah ke rumah sakit."
"Rumah sakit? Kenapa? Apa yang terjadi? Siapa yang terluka, Gala?"
"Adam! Adam mendapatkan tembakkan tepat di dada kirinya. Sekarang Adam berada di ruang operasi."
"Apa? Adam terkena tembakkan!" teriak Carlo.
"Sekarang katakan kepada kak Nicolaas dan kak Vigo. Percepatan pekerjaan mereka."
"Baiklah."
Setelah itu, Gala langsung mematikan panggilannya. Begitu juga dengan Carlo.
Mendengar teriakan dari Carlo membuat mereka semua menatapnya termasuk Nicolaas dan Vigo. Keduanya berhenti dan ikut menatap Carlo.
"Carlo. Apa barusan yang kau katakan? A-allan tertembak?" tanya Vigo.
"Iya, Go! Barusan Gala mengatakan bahwa Allan tertembak tepat di dada kirinya dan sekarang Allan di ruang operasi."
Mendengar penuturan dari Carlo seketika tubuh Nicolaas dan Vigo melemah. Mereka menangis ketika mengetahui kondisi adiknya. Walau Allan hanya adik angkatnya. Tapi mereka sudah terlanjur menyayangi Allan. Apalagi sekarang hubungan mereka makin dekat karena mereka adalah saudara sepupu.
"Go. Lebih baik selesaikan pekerjaanmu. Bunuh laki-laki brengsek itu sekarang biar kita bisa segera ke rumah sakit," ucap Danest.
Vigo melihat kearah kakaknya. Nicolaas yang mengerti langsung mengangguk. Nicolaas dan Vigo menatap penuh amarah kearah Dennis.
Nicolaas dan Vigo langsung mengarahkan senjatanya kearah Dennis. Mereka secara bersamaan menekan pematik senjatanya.
Dan...
DOR.. DOR.. DOR..
DOR.. DOR.. DOR..
Nicolaas dan Vigo memberikan masing-masing tiga tembakkan ke kepala dan dada kiri Dennis. Tubuh Dennis ambruk dan tewas seketika.
"Minta maaflah kau kepada papaku ketika kau bertemu dengannya disana," ucap Nicolaas.
***
Anggota keluarga Abimanyu dan keluarga Bimantara beserta para semua sahabatnya sudah berada di rumah sakit. Mereka semua tampak khawatir dan juga sedih.
Mereka semua mendapatkan kabar dari Ardi dan Arka. Ketika mendengar kabar dari Ardi dan Arka membuat dunia mereka semua hancur. Mereka berharap tidak kehilangan Adam untuk yang kedua kalinya.
"Hiks... Adam sayang. Mama mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan Mama lagi. Kamu baru kembali ke pangkuan Mama. Mama tidak ingin kamu pergi lagi... Hiks," isak Utari.
GREP!
Evan langsung memeluk tubuh istrinya. Dan berusaha menenangkannya. "Adam sayang! Papa mohon bertahanlah. Kau putra Papa yang kuat, Nak!" batin Evan.
Evan saat ini dalam keadaan menangis. Dirinya juga dalam keadaan tak baik-baik saja, namun dirinya berusaha kuat demi istri dan kedua putranya yang lain.
"Adam kesayangannya kakak. Jangan tinggalkan kakak. Berikan kesempatan untuk kakak supaya kakak bisa lebih memberikan kasih sayang, perhatian dan menuruti semua keinginan kamu." Danish berucap pelan dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Garry menarik tubuh adiknya ke dalam dekapannya. Garry memeluk erat adiknya.
"Hiks... Ini semua salahku kak. Seharusnya aku yang berada di dalam bukan Adam. Senjataku itu sengaja aku isi satu peluru karena aku sangat yakin jika Yohanes, kakak laki-laki wanita murahan itu akan menembakku terlebih dahulu. Setelah itu, baru brengsek itu menembak Adam. Ketika dia menembak Adam dari situ dia baru sadar jika dia kehabisan peluru. Jadi dengan begitu Adam yang akan membunuhnya. Tapi rencanaku gagal. Justru Adam menjadikan tubuhnya untuk melindungiku kak... Hiks."
Mendengar ucapan dari Danish membuat mereka semua menangis. Mereka tidak menyangka jika Danish akan melakukan hal itu.
"Kamu tidak salah Danish. Kamu adalah kakak terbaik yang dimiliki Adam. Karena kau adalah kakak terbaiknya, makanya Adam melakukan hal itu," ucap Garry.
CKLEK!
Terdengar pintu ruang operasi di buka. Mereka semua melihat kearah pintu tersebut. Mereka semua dapat melihat wajah lelah Dokter itu.
Dokter itu mendekati anggota keluarga, para sahabat dan para kakaknya Adam. Dokter itu menatap satu persatu orang-orang yang ada di hadapannya.
"Dok. Bagaimana putra saya? Putra saya baik-baik saja kan? Dokter berhasil menyelamatkan putra saya kan?" tanya Evan.
"Sebelumnya saya minta maaf tuan. Saya dengan sangat menyesal mengatakan bahwa pasien telah meninggal."
Mendengar ucapan dari Dokter tersebut membuat mereka semua terkejut. Mereka semua menangis. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
"Tidak. Anda jangan bercanda Dokter. Putraku tidak akan pergi meninggalkanku. Cukup sekali aku kehilangannya. Dan aku tidak ingin kehilangannya lagi!" teriak Utari.
"Tidak. Adam!" teriak Danish lalu berlari memasuki ruang operasi.
"Danish!" teriak Garry langsung mengejar Danish dan diikuti yang lainnya.
Beberapa menit kemudian, Vigo dan Nicolaas datang bersama para sahabatnya Vigo.
"Mama," panggil Nicolaas.
"Nicolaas, Vigo." Celena berucap lirih.
"Bagaimana, Ma? Semuanya baik-baik sajakan? Allan selamat kan?" tanya Nicolaas.
"Hiks... Hiks..." Celena seketika terisak.
"Ma. Ada apa? Katakan padaku ada apa?" tanya Vigo.
"Vigo, kak Nicolaas. Adam... Adam telah pergi meninggalkan kita semua," ucap Rafiq.
"Mak-maksud kakak Rafig apa?" tanya Vigo.
"Adam memilih menyerah. Adam meninggalkan kita semua untuk selamanya."
Seketika tubuh Vigo dan juga Nicolaas terhuyung ke belakang. Mereka benar-benar terkejut dan juga syok tentang apa yang mereka dengar.
Begitu juga dengan para sahabatnya Vigo. Mereka menangis mendengar meninggalnya adik manis mereka. Mereka semua sudah sangat menyayangi Adam. Mereka tidak memiliki adik. Ketika mereka bertemu dengan Adam. Mereka semua menyayangi Adam layaknya adik mereka sendiri, apalagi Carlo.
"Mereka semua saat ini berada di ruang operasi," sahut Reza.
Vigo, Nicolaas dan para sahabatnya langsung berlari menuju ruang operasi. Dan kini tersisa hanya para orang tua, para kakak dan beberapa anggota Zelo.