THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Menyelesaikan



Seperti yang sudah direncanakan oleh Adam dan yang lainnya untuk menjebak kakak sepupu dari Olaf Jordan Pramana yaitu Ringga Ardana Pramana membuat pesta besar-besaran di dua tempat.


Jika tempat pertama diadakan di kediaman Olaf Jordan Pramana. Sementara tempat kedua diadakan di depan Kampus. Tepatnya diluar Kampus.


Rencana tersebut sudah dijalankan. Sekarang ini para anggota dari KARTEL dan CAMORRA sedang berjaga-jaga dan mengawasi sekelilingnya dengan memakai pakaian biasa bukan pakaian hitam yang biasa mereka pakai.


***


[KAMPUS]


Adam dan keenam sahabatnya yaitu Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando saat ini di kelas. Sedangkan Melky berada di kediaman Abimanyu.


Adam meminta kepada Melky dan keluarganya tetap berada di kediaman Abimanyu. Sementara untuk Gerard bisa bebas keluar rumah karena dari hasil penyelidikan bahwa Ringga sang Paman tidak mengetahui bahwa Gerard masih hidup.


Sedangkan untuk Danish, Ardi, Harsha, Vigo beserta para sahabatnya sedang berada di kelas masing-masing karena tengah memberikan materi kuliah kepada para mahasiswa.


Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya sudah berstatus sebagai Dosen sekarang.


Adam dan keenam sahabatnya mengerjakan dan mempelajari beberapa soal dan materi yang akan diberikan oleh Dosen nya sembari mengobrol kecil. Mereka melakukan itu agar tidak bosan. Apalagi saat ini Dosen belum menampakkan batang hidungnya sama sekali.


"Dam," panggil Leon.


"Iya," jawab Adam.


"Bagaimana persiapan untuk menjebak orang itu?" tanya Leon.


"Sudah dipersiapkan. Dan sekarang tinggal pelaksanaannya saja," jawab Adam.


"Apa kira-kira orang itu bakal keluar dari persembunyiannya?" tanya Gino dengan menatap wajah Adam.


Mendengar pertanyaan dari Gino seketika Adam menghentikan acara menulisnya. Begitu juga dengan Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando.


Adam menatap wajah Gino, terutama tatapan matanya. Terlihat kekhawatiran di tatapan matanya itu.


"Percayalah! Semuanya akan baik-baik saja. Semoga orang itu keluar dari persembunyiannya. Dan semoga juga orang itu tidak curiga. Positif thinking aja," ucap Adam sembari menepuk pelan bahu Gino.


"Aku takut Dam," ucap Gino seketika.


Adam masih menatap wajah Gino. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Apa yang kau takutkan?" tanya Adam.


"Takut kalau rencana kita gagal."


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"


"Aku tidak tahu Dam. Tapi perasaanku sejak tadi tak nyaman."


Adam seketika mematung. Tubuhnya menegang ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban dari Gino. Berlahan rasa takut menggerogoti tubuhnya.


***


Raafe Maroun saat ini berada di markas Kartel. Mereka tengah mempersiapkan rencana kedua sebagai rencana cadangan jika rencana pertama gagal.


"Kita harus mempersiapkan rencana cadangan untuk menggantikan rencana pertama jika rencana itu gagal," sahut Raafe Maroun dengan menatap wajah Zelo.


"Aku juga berpikir seperti itu. Sejak tadi perasaanku tak enak. Aku berpikir kalau rencana pertama tersebut akan gagal," ucap Zelo.


Ketika mereka tengah memikirkan tentang rencana pertama dan juga tengah mempersiapkan rencana kedua. Ponsel milik Raafe Maroun tiba-tiba berbunyi menandakan panggilan masuk.


Raafe Maroun langsung mengambil ponselnya dan melihat nama salah kepercayaannya di markas CAMORRA yang saat ini berada di Australia.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Raafe Maroun langsung menjawab panggilan dari kepercayaannya itu.


"Hallo."


"Hallo King. Saya ingin memberitahukan bahwa laki-laki yang bernama Ringga bersama satu tangan kanannya dan 300 anggotanya yang tersisa saat ini sudah mendapatkan bala bantuan."


"Kelompok mana yang akan mereka jadikan sekutu? Dan berapa kelompok?"


"Tiga kelompok mafia, King! Mereka berasal dari kelompok mafia nomor 10 dan kelompok mafia nomor 13."


Mendengar jawaban dari kepercayaannya itu membuat Raafe Maroun seketika tersenyum.


"Eemm... Mau bermain-main denganku ternyata ya. Baiklah!"


"Apa dua kelompok itu dan laki-laki bajingan itu sudah melakukan pergerakan?"


"Sepertinya belum King. Mereka masih membuat rencana. Ditambah lagi pria itu tidak memberitahu siapa yang akan menjadi lawannya. Saya yakin jika kedua kelompok itu tahu kalau lawannya adalah kelompok mafia kita, maka kedua kelompok itu berpikir seribu kali menjadi sekutu pria itu."


"Baiklah! Sekarang dengarkan aku. Temui kedua kelompok itu dan katakan untuk mundur. Jika kedua kelompok itu tetap maju, maka habisi mereka semua."


" Baik, King!"


Pip..


Raafe Maroun langsung mematikan panggilannya lalu kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


"Ada apa?" tanya Zelo.


"Pria itu sudah tahu kalau Melky dan keluarganya sudah tidak di Australia lagi. Pria itu juga tahu kalau para anak buahnya yang dia tempati di lima kecamatan besar di Jakarta sudah menghilang tanpa jejak." Raafe Maroun menjelaskan semuanya kepada Zelo.


"Terus apa yang pria itu lakukan ketika mengetahui semua itu?" tanya Zelo.


"Pria itu meminta bantuan dengan dua kelompok mafia. Pria itu mengajak dua kelompok mafia itu untuk melawan kelompok mafia CAMORRA."


Zelo seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar jawaban dari Raafe Maroun.


"Apa mereka pikir bisa mengalahkan kelompokmu?" tanya Zelo.


"Menurut mereka mungkin bisa."


"Dari kelompok mana?" tanya Zelo.


"Kelompok mafia nomor 10 dan kelompok mafia nomor 13," jawab Raafe Maroun.


Zelo seketika tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar jawaban dari Raafe Maroun.


Drtt..


Drtt..


Tiba-tiba ponsel milik Zelo berbunyi.


Mendengar bunyi ponselnya, Zelo langsung mengambilnya lalu melihat nomor tak dikenal tertera di layar ponselnya.


Raafe Maroun yang melihat Zelo yang tidak langsung menjawab panggilan tersebut dan hanya menatapnya saja menjadi bingung.


"Kenapa? Siapa?"


"Nomor tidak dikenal."


"Angkat saja. Siapa tahu penting."


"Baiklah."


Setelah itu, Zelo pun langsung menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenal itu.


"Hallo."


"Hallo, maaf jika saya mengganggu anda. Saya Diego salah satu anggota Vagos yang juga sahabat dari kelompok Brainer."


"Ach, iya! Saya kenal dan kita pernah bertemu ketika ingin menghancurkan keluarga Kalyani dan keluarga Adiyaksa."


"Benar sekali."


"Ada apa?"


"Segera selesaikan masalah ini setelah anda mendengarkan apa yang saya sampaikan. Saya melakukan ini semua demi Adam. Dia terlihat tertekan akan masalah yang menimpa salah satu sahabatnya."


"Saya mengerti. Saya juga ingin menyelesaikannya. Tapi pria brengsek itu terlalu licik dan licin seperti belut."


"Anda tidak perlu khawatir. Saya bisa menjamin bahwa pria brengsek itu tidak akan bisa pergi kemana-mana lagi. Saya sudah mengetahui keberadaannya saat ini. Pria itu hanya sendirian tanpa anak buah dan tanpa tangan kanannya. Pria itu hanya memiliki satu tangan kanan saja dan saat ini tengah berada di tempat lain."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Zelo ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Diego anak Vagos.


"Katakan padaku dimana bajingan itu sekarang?"


"Pria itu menyewa sebuah rumah kecil yang letaknya tak jauh dari BINUS UNIVERSITY. Dan pria juga dalam penyamaran. Pria itu menggunakan kaca mata tebal dan kumis. Sementara untuk pakaiannya, pria memakai jaket hitam."


"Baiklah. Aku dan beberapa anggotaku akan segera bergerak kesana. Terima kasih informasinya."


"Sama-sama. Semoga berhasil."


Tutt..


Tutt..


Panggilan langsung dimatikan oleh Diego.


"Sudah waktunya kita bermain-main. Kita sudah menemukan keberadaan bajingan itu. Dia menyewa rumah di sekitar BINUS UNIVERSITY. Jika ingin keluar, dia memakai jaket hitam, kumis dan kaca mata tebal.


Raafe Maroun menganggukkan kepalanya lalu tersenyum menyeringai.


"Ayo!"


Zelo dan Raafe Maroun langsung pergi meninggalkan markas KARTEL untuk menuju lokasi tempat tinggal Ringga. Keduanya membawa anggota masing-masing sebanyak 30 anggota.


Raafe Maroun saat ini menghubungi anggotanya yang berada di kediaman keluarga Pramana. Raafe Maroun meminta anggota-anggotanya itu untuk menuju kampus.


Sementara Zelo memberitahu salah anggotanya untuk bersikap biasa saja. Jangan terlalu mencolok, walau penampilan mereka sudah seperti orang pada umumnya. Salah satu berpakaian pesta