THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Kehilangan



Dhira melihat kearah jam tangannya. Lalu dirinya tersenyum.


"Sebentar lagi," batin Dhira.


"Dhira. Aku mohon hentikan semua ini. Aku mencintaimu dan aku juga mencintai Utari. Kalian berdua sangat berharga dalam hidupku. Aku kembali pada Utari, bukan berarti aku tidak peduli lagi denganmu. Kita akan tetap bersama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dhira! Aku mohon lepaskan Adam. Dia tidak bersalah." Evan memohon pada Dhira.


"Tapi permainannya sudah dimulai, Van! Dan aku tidak bisa menghentikannya," jawab Dhira.


"Masih ada waktu tiga menit lagi danĀ  istrimu ini bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan putramu sendiri. Tapi...!" perkataan Dhira terhenti.


"Tapi apa, Dhira?" tanya Evan.


"Aku tidak yakin kalau istrimu ini akan berhasil masuk ke dalam," jawab Dhira santai.


DEG!


Mereka semua terkejut mendengar penuturan Dhira.


"Kau tidak akan berhasil menyelamatkan putra kesayanganku, Utari!" batin nista Dhira.


"Aku akan melakukannya. Aku akan menyelamatkan putraku!" seru Utari.


"Baiklah. Silahkan masuk ke dalam gudang itu. Dan segera selamatkan putramu," sahut Dhira tersenyum.


Utari melangkahkan kakinya menuju ke arah gudang dimana putranya disekap. Sedangkan Dhira sudah mulai menghitung mundur.


3


2


1


DUUAAAARRRRR!


"Adaaaammmmm!" teriak histeris mereka semua.


Gudang tersebut meledak dengan ledakan yang amat dahsyat.


"TIDAAAKK! ADAAAAMMMM!" teriak Utari saat melihat gudang tersebut meledak dan terbakar. Utari jatuh terduduk lemah di tanah.


"Tidak. Putraku tidak mungkin meninggalkanku. Dia tidak mungkin pergi. Adam!" tangis Utari pecah.


Ardi dan Harsha menghampiri Utari dan memeluknya erat. Mereka menangis histeris.


"A-adaaaammm! Tidaaakkk!" tangisan Garry dan Danish pecah. Mereka jatuh lemah bersimpuh di tanah.


"Adam... hiks." Ardi dan Harsha menangis terisak.


Mereka semua menangis. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri karena telah gagal menyelamatkan adik kesayangan mereka.


PLAAKK!


PLAAKK!


SREEKK!


Evan menampar keras pipi Dhira dan juga menarik kuat rambutnya. Evan menatap nyalang padanya.


"Berani sekali kau melakukan itu, Dhira! Dasar perempuan murahan sialan. Perempuan tidak tahu diri. Aku menyesal sudah menikahimu. Aku pikir kau perempuan yang baik dan mau menerima kekuranganku. Ternyata aku salah. Kau dengan tega membunuh putra bungsuku dengan cara seperti ini. Dimana otakmu, hah?!" bentak Evan.


Evan mendorong kuat tubuh Dhira sehingga tubuh Dhira tersungkur. Setelah itu Evan menghampiri Utari, istrinya.


Ardi dan Harsha pun melepaskan pelukannya dari Utari. Lalu Evan langsung memeluk Utari, istrinya.


Dhira tersenyum sinis. Dan matanya menatap kearah Utari dan Evan yang sedang berpelukan. Lalu Dhira mengeluarkan pistolnya yang ia sembunyikan di belakang bajunya. Lalu ia mengarahkan moncong pistol itu ke arah Utari.


DOR! DOR!


Dua peluru itu bersarang di dada kiri dan di perut Dhira. Pelaku penembakan itu adalah ibu kandung dari Evan yaitu Amirah.


"Dhira/Mama!" teriak Evan, Utari, Garry dan Danish.


"Kau sudah berani-beraninya membunuh cucuku. Dan kau ingin membunuh menantuku juga. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi lebih baik kau saja yang pergi dari dunia ini!" teriak Amirah saat melihat tubuh Dhira yang sudah tak bernyawa.


"Nenek," lirih Garry dan Danish.


Evan menghampiri ibunya lalu kemudian mengambil pistol yang masih di pegang oleh sang ibu. Pistol itu disembunyikan di belakang tubuhnya. Kemudian Evan memeluk ibunya.


"Tidak apa-apa? Semuanya akan baik-baik saja," ucap Evan saat melihat tangan ibunya bergetar.


Amirah menatap putra dan menantunya sendu. "Maafkan ibu. Maafkan ibu. Lagi-lagi ibu membuatmu berpisah dengan putra bungsumu, Van! Kau baru saja bertemu dengannya dan sekarang kalian berpisah lagi. Tapi kali ini...!" tangis Amirab pecah. Amirah menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah putra dan menantunya.


"Bu," panggil Utari dan tangannya menyentuh dagu Amirah dan mengangkatnya agar bisa melihat wajah ibu mertuanya itu." Sudahlah. Ibu tidak perlu meminta maaf berulang kali padaku. Aku sudah memaafkan ibu dari dulu. Aku tidak pernah membencimu," ucap Utari dengan air matanya yang membasahi wajah cantiknya.


"Tapi kau sudah kehilangan putramu, Utari dan itu kesalahan ibu," lirih Amirah.


Saat Utari ingin membalas ucapan mertuanya. Danish sudah terlebih dahulu memotongnya.


Danish berdiri dan menatap kearah Amirah sang Nenek.


"Ya. Ini memang kesalahan, Nenek! Kau yang menyebabkan semua ini terjadi. Kau sudah merenggut kebahagiaanku dari kecil. Kau memisahkanku dari ibu kandungku dan adikku. Kau yang sudah membuatku menjadi orang jahat di luar sana. Kau yang sudah membuatku selalu memberontak pada Papa. Dan sekarang aku kehilangan adikku. Itu semua gara-gara kau.. hiks!" teriak Danish sambil menunjuk kearah Amirah. Tangis Danish pun pecah.


Semuannya hanya bisa diam membisu mendengar keluh kesah dan kekecewaan dari Danish. Tak terkecuali Evan. Biasanya dia yang selalu marah pada Danish putranya, setiap putranya itu berlaku tidak sopan pada ibunya. Tapi kali ini dirinya diam dan membenarkan apa yang diucapkan oleh putranya itu.


"Aku membencimu.. Aku membencimu. Dan aku tidak akan pernah sudi memaafkanmu. Dan mulai hari ini kau bukan nenekku lagi. Dan aku bukan cucumu!" teriak Danish.


Setelah mengatakan hal itu, Danish pun pergi meninggalkan mereka semua. Danish benar-benar sangat membenci neneknya. Dirinya tidak akan pernah memaafkan kesalahan neneknya itu. Kemarin dirinya sudah bisa menerima dan memaafkan kesalahan neneknya. Tapi kebencian itu kembali muncul ketika melihat adik kesayangannya pergi untuk selamanya. Dan itu disebabkan oleh nenek dan ibu tirinya.


"Danish!" teriak teman-temannya dan mereka semua mengejar Danish.


"Adam!" lirih Arka, Kenzie, Sakha dan Gala. Mereka menangis.


Arka, Kenzie, Sakha dan Gala benar-benar terpukul atas apa yang menimpa Adam. Mereka sudah sangat menyayangi Adam. dan kini mereka harus berpisah untuk selamanya dengan Adam.


"Pa, Ma! Lebih baik kita pulang. Kita hubungi polisi untuk mengurus masalah ini dan untuk membawa pulang jenazah Adam." Garry berbicara tersendat karena menahan tangisnya.


Mereka semua dengan langkah kaki yang lemah dan air mata yang masih setia mengalir pergi meninggalkan lokasi tersebut. Utari sang ibu melihat ke belakang.


"Adam, putra kesayangannya Mama. Maafkan Mama, sayang. Maafkan Mama. Mama berjanji, kau akan selalu ada di hati Mama. Mama tidak akan pernah melupakanmu dalam setiap doa Mama. Selamanya!" lirih Utari.


"Adam, putra Papa sayang. Papa janji padamu akan selalu mengingat namamu dalam setiap hari-hari Papa. Papa janji padamu akan menjaga Mamamu dan tidak akan membuatnya menangis lagi. Papa akan menjadi suami yang baik untuk perempuan yang begitu Adam sayangi. Selamat jalan sayang."


Evan menangis kala mengatakan kata-kata itu. Hatinya kembali hancur untuk yang kedua kalinya dimana dirinya harus kembali berpisah dengan putra bungsunya. Dan perpisahan kali ini adalah untuk selamanya.


"Adam... hiks!" Ardi dan Harsha menangis terisak.


Mereka semua pergi meninggalkan lokasi penyekapan Adam dengan berurai air mata dan menggumam kata-kata sayang dan kata-kata selamat jalan untuk orang yang begitu mereka sayangi.


...TAMAT...


...SEASON 1...