THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Perang Mulut Adam Dan Harsha



Adam maupun Danish sudah berada di Kampus. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Adan yang sedang mengobrol dengan Robin dan Lino di lapangan Basket.


"Dam. Apa kau tidak ingin kembali bermain Basket? Bukannya kau hobi sekali bermain Basket?" tanya Robin.


"Iya, nih. Semenjak Rektor dan Dekan mengangkat dirimu sebagai pelatih Taekwondo, kau sudah jarang bergabung dengan klub Basketmu. Walau pun kau ini mahasiswa pindahan, tapi kau sudah bergabung dengan kami sudah lumayan lama. Dan sekarang kau sudah tidak melatih Taekwondo lagi semenjak kejadian foto antara kau dan Sonia."  Lino berucap.


"Dan tidak ada alasan lagikan untuk kau kembali ke klub Basketmu, Dam." Robin berbicara sambil menatap wqjah Adam.


"Eeemmm. Aku akan pikirkan," jawab Adam tersenyum.


"Kami berharap jawabannya, IYA!" seru Robin dan Lino bersamaan.


"Ya, sudah. Kalau begitu aku kekelas dulu," ucap Adam dan berlalu pergi meninggalkan lapangan Basket.


Saat Adam sedang berjalan menuju kelasnya tanpa disengaja Adam maupun Danish saling berpapasan. Adam yang sendirian dan Danish bersama dengan kelompoknya.


Mereka saling menatap satu sama lain. Tatapan mata Danish mengartikan tatapan kerinduan seorang kakak pada adiknya. Beda dengan tatapan mata Adam. Tatapan tersebut mengartikan sebuah tatapan kebencian.


Dari kejauhan Ardi dan yang lainnya melihat Adam yang sedang berhadapan dengan kelompok Bruizer.


"Kak, itukan Adam. Kenapa Adam ada disini? Bukannya Adam mengatakan pada kita kalau dia tidak masuk kuliah!" seru Harsha sambil menunjuk kearah Adam.


"Tuh ngapain lagi kelompok Bruizer masih saja mengganggu Adam. Apa mereka belum puas dengan pertarungan dua minggu yang lalu?" kata Gala.


Saat Ardi hendak menghampiri Adam karena dirinya benar-benar khawatir terhadap adiknya itu, tapi tangannya ditahan oleh Arka.


"Tunggu, Di! Aku rasa kali ini Danish tidak berniat ingin menyakiti Adam. Lihatlah cara dia menatap Adam. Tatapan matanya sangat beda dengan tatapan yang biasanya dia berikan pada Adam." Arka berbicara sambil melihat kearah Adam dan kelompok Bruizer.


Adam dan Danish masih saling menatap satu sama lain. Tak ada yang bersuara. Keduanya membisu. Berlahan Danish mendekatkan dirinya pada Adam.


Kini posisi Danish sudah tepat di depan Adam. Danish berdiri di hadapan adiknya.


"Mau apa kau?!" bentak Adam dan mundur satu langkah ke belakang.


Dan beberapa detik kemudian, Danish langsung memeluk tubuh Adam.


Mendapat pelukan yang tiba-tiba dari Danish membuat Adam terkejut. Tidak jauh beda dengan Ardi, Harsha serta yang lainnya. Mereka juga terkejut ketika melihat Danish yang tiba-tiba memeluk Adam. Bahkan mahasiswa dan mahasiswi yang melihatnya juga dibuat terkejut atas apa yang mereka lihat.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" teriak Adam yang memberontak melepaskan pelukan dari Danish.


"Biarkan seperti ini untuk beberapa menit. Aku sangat merindukannya." Danish berbicara lembut tepat di telinga Adam. Dan tanpa diketahui oleh Adam. Danish menangis ketika memeluk adiknya.


Entah bisikan datang dari mana, Adam tidak menolak apa yang diminta oleh Danish yang jelas-jelas berstatus sebagai musuhnya. Adam membiarkan tubuhnya dipeluk oleh Danish. Perasaannya kini bercampur aduk. Matanya juga sudah memerah menahan tangis.


Cakra dan teman-temannya ikut terharu bahkan ikut menangis melihat kakak beradik ini berpelukan. Mereka dapat melihat dari tatapan keduanya. Yang satu sudah menangis melepaskan kerinduan. Dan yang satunya berusaha untuk tidak menangis.


"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu," ucap Danish yang masih memeluk Adam.


Berlahan air mata Adam jatuh membasahi pipinya putihnya. Adam yang sedari tadi menahan tangisnya, kini hancur sudah. Air matanya lolos begitu saja.


Danish melepaskan pelukannya dari Adam, lalu menatap wajah tampan adiknya.


"Wajah yang sangat tampan," batin Danish. "Terima kasih karena kau sudah memberikanku izin untuk memelukmu, Dirandra Adamka Bimantara!" ucap Danish.


Adam membulatkan matanya mendengar ucapan Danish. "Dirandra Adamka Bimantara," batin Adam.


Danish mendekatkan wajahnya ke telinga Adam, lalu membisikkan sesuatu di telinga Adam.


"Aku merindukanmu, adikku!"


Setelah mengatakan hal itu di telinga Adam. Danish pergi meninggalkan Adam yang masih mematung di tempatnya. Kini tinggallah Adam sendiri.


Ardi, Harsha dan yang lainnya datang menghampiri Adam.


"Dam," panggil Arka.


Sementara Adam masih diam di tempat dengan pikiran melayang ntah kemana.


Tidak mendapatkan respon apapun dari Adam, tiba-tiba terlintas ide jahil di otaknya Harsha.


Harsha tiba-tiba memberikan kecupan tepat di pipi Adam dan hal itu sukses menyadarkan Adam dari lamunannya.


"Yak! Ekawira Harsha Abimanyu sialan, otak kotor. Beraninya kau mencium pipiku!" teriak Adam menggema dipenjuru kampus. Adam menatap tajam Harsha.


"Beraninya kau mengumpat kakakmu yang tampan ini dan mengatai kakak kotor. Dasar buntelan kelinci laknat." Harsha membalas dengan mengejek dan mengumpati adik sepupunya itu. Harsha tak terima.


"Percaya dirimu terlalu tinggi, kak! Bagiku kau itu tak lebih dari makhluk alien yang nyasar ke bumi. Keberadaanmu di bumi sangat tidak jelas." Adam menjawab perkataan kakak sepupunya itu dengan penuh kekesalan.


"Dasar adik durhaka, gila."


"Dasar kakak jangkrik.. bau kambing."


"Kelinci asem, kemoceng"


"Dasar alien busuk, kain pel, kecoak bunting, otak udang."


"Kelinci gembul."


"Alien gosong.. otak IQ jongkok.."


"Kelinci sinting."


"Alien dungu kelas kakap.. gila.. tidak tahu aturan."


Adam tidak tinggal diam. Dirinya masih ingin menjahili dan menggoda adiknya.


Saat ini Harsha sedang memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk membalas kelinci buntelnya ini?


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Harsha tersenyum menyeringai sembari menatap Adam. Dirinya sudah mendapatkan ide lagi untuk membalas adiknya.


"Mama Utari!" teriak Harsha sambil jarinya menunjuk seseorang.


Mendengar teriakan Harsha, mereka semua termasuk Adam mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk oleh Harsha.


Disaat Adam lengah, Harsha melakukan aksinya. Harsha kembali memberikan ciuman di pipi Adam. Dan hal itu benar-benar membuat Adam kesal.


Setelah memberikan ciuman di pipi Adam. Harsha sudah mengambil ancang-ancang untuk kabur agar terhindar dari amukan sikelinci buntelnya itu.


"Kakaaaakkk!" teriak Adam melengking.


Sementara Ardi dan yang lainnya langsung menutup telinga mereka masing-masing.


Adam langsung berlari mengejar kakak aliennya itu denga wajah kesal yang begitu jelas di wajahnya.


Sementara Harsha tak hentinya mengejek Adam dengan menjulurkan lidahnya. Harsha terus berlari menghindari amukan sikelinci buntelnya dan berakhir Harsha menabrak seseorang.


BRUUKK!


"Aww!" Harsha terjatuh dan pantatnya mendarat sempurna di tanah.


Adam yang melihat kejadian itu langsung berhenti dari aksi mengejar Adam. Matanya melihat kearah Harsha yang sudah terduduk di tanah.


Beberapa detik kemudian..


"Hahahahaha." Adam tertawa keras.


Tidak jauh beda dengan kakak-kakaknya yang lainnya. Mereka juga ikut tertawa ketika melihat Harsha yang kesakitan akibat menabrak seseorang.


"Hahahahaha."


"Kakak! Bagaimana rasanya? Sakit tidak setelah gagal mendarat dengan sempurna?" ejek Adam.


"Aish! Dasar kelinci sialan," batin Harsha mengumpat.


"Ekawira Harsha Abimanyu," panggil seseorang yang menjadi korban tabrakan itu.


"Pa-pak!" sapa Harsha terbata.


"Kenapa berlari-lari seperti ini, Harsha?" tanya dosen itu lembut.


"Maafkan aku pak. Aku berlari seperti ini karena ingin buru-buru ke kaar mandi," jawab Harsha bohong.


"Kakak, kau memang makhluk yang teraneh, lucu. Hahahahaha." Adam berbicara disertai tawa mengejeknya.


"Ya, sudah. Sana buruan ke kamar mandi. Jangan ditahan lagi," ucap Dosen tersebut


Setelah itu, Dosen itu pergi meninggalkan Harsha.


"Huuff." Harsha membuang nafasnya lega karena dosennya tidak memarahinya.


Sedangkan kelompok Bruizer yang menyaksikannya adegan kelompok Brainer tersenyum. Mereka sangat bangga dan kagum melihat kekompakan kelompok Brainer. Tak terkecuali Danish sendiri. Dirinya sangat bahagia melihat kedekatan adiknya dengan saudara sepupunya.


"Kakak berjanji, Dam. Mulai detik ini kakak akan mengawasimu selama di kampus. Kakak akan melindungimu dan menjagamu," batin Danish.


Mereka masih terus menyaksikan kelompok Brainer yang tengah berperang mulut. Mereka semua geleng-geleng kepala melihat kelakuan para kelompok Brainer.


"Teruslah tertawa kelinci nakal. Senang ya melihat orang lain menderita, hah!" gerutu Harsha yang kesal melihat Adam yang masih menertawai dirinya.


"Salah kakak sendiri. Itu hukuman untuk kakak karena telah mencuri ciuman di pipiku. Yang boleh mencium pipiku ini hanya Mama," jawab Adam tanpa dosa.


"Hah! Terpaksa deh sampai di rumah aku harus mandi dengan bunga kembang tujuh rupa untuk menghilang bekas ciumanmu yang ada di pipiku ini," tutur Adam dan itu sukses membuat Harsha membelalakkan matanya mendengar ucapan Adam.


Tidak jauh beda dengan yang lainnya. Mereka sebisa mungkin menahan tawa mendengar apa yang dikatakan Adam.


"Yak! Dasar adik kurang ajar. Kelinci laknat.. kelinci sialan! Kau pikir kakak ini apa?" kesal Harsha.


"Kakak itu adalah..." perkataan Adam terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.


"Dirandra Adamka Abimanyu," panggil seorang mahasiswa.


"Ya. Ada apa?" tanya Adam.


"Kau dipanggil oleh Dekan ke ruangannya."


"Sekarang?"


"Iyaa."


"Ada apa ya?" batin Adam.


"Oke."


"Kakak. Aku ke ruangan Dekan dulu," pamit Adam dan langsung pergi meninggalkan para kakak-kakaknya.