
Utari duduk di samping ranjang Adam. Tangannya menggenggam tangan putrnya dengan lembut. Sesekali Utari mencium tapak tangan putranya itu.
"Bangunlah, sayang. Buka matamu. Apa kamu masih marah sama Mama? Mama minta maaf, sayang." Utari berbicara sambil meneteskan air matanya.
"Eeuugghh." terdengar lenguhan dari bibir Adam.
Mendengar hal itu, mereka semua melihat ke arah Adam dengan senyuman mengembang di bibir mereka masing-masing.
"Adam!" seru mereka semua.
Berlahan Adam membuka matanya. Dapat dirinya lihat semua anggota keluarga dan teman-temannya berada di hadapannya.
"Ternyata aku masih hidup. Tadinya aku berharap kalau aku mati," ucap Adam dingin.
"Adam jaga ucapanmu itu. Tidak baik kau bicara seperti itu. Kalau ucapanmu itu menjadi kenyataan, bagaimana, hah?!" bentak Bagas.
"Kalau itu terjadi, itu akan lebih baik untukku. Jadi penderitaanku berkurang," jawab Adam ketus.
"Sayang. Jangan bicara seperti itu. Mama ingin kau tetap bersama Mama. Mama tidak ingin kau pergi meninggalkan Mama. Mama menyayangimu, Nak!" Utari langsung memeluk putranya.
"Aakkhh! Mama sa-sakit," lirih Adam saat ibunya memeluknya dan menyentuh luka di perutnya. Dan hal itu membuat Utari langsung melepaskan pelukannya dari ibunya.
"Ma-maafkan Mama, sayang." Utari berucap dengan mimik wajah bersalah.
"Barusan Mama mengatakan padaku kalau Mama tidak ingin aku pergi meninggalkan Mama. Dan Mama juga mengatakan padaku bahwa Mama sangat menyayangiku. Mama datang kesini untuk menjengukku apa untuk menyakitiku?" tanya Adam dengan wajah yang ditekuk.
"Mama datang kesini memang benar-benar ingin menjengukmu, sayang. Kamu kan anaknya Mama," jawab Utari.
"Lalu tadi apa? Mama menyakitiku barusan," ucap Adam dengan bibir yang dimajukan yang membuat semua makhluk yang ada di dalam ruang rawatnya gemas melihatnya.
"Menyakitimu? Kapan, sayang? Mama tidak menyakitimu sama sekali," elak Utari.
"Mama memelukku dengan kencang sampai Mama menyentuh luka di perutku. Itu berarti Mama sudah menyakitiku," jawab Adam yang suasana hatinya masih buruk.
Semua yang melihat kelakuan lucu Jungkook hanya bisa tertawa. Mereka semua tertawa.
"Hahahaha."
"Kau benar-benar lucu, Dam!" seru Gala.
"Kalian semua memang menyebalkan. Aku disini sedang sakit. Tapi kalian semua malah menertawakanku. Dan kau kak Gaka bantet. Memang aku bayi yang dikatakan lucu," tutur Adam yang masih dalam suasana buruk.
"Maafkan Mama ya. Mama tidak sengaja menyentuh luka di perutmu," ucap Utari sambil membelai rambut Adam dengan lembut.
"Tidak, apa-apa? Aku tidak marah pada Mama. Aku menyayangi Mama. Aku sangat menyayangi Mama," balas Adam yang tiba-tiba saja air matanya mengalir di pipinya.
Utari tersenyum bahagia mendengar ucapan yang keluar dari mulut putranya. Dan berlahan tangannya menyentuh pipinya dan menghapus air mata yang membasahi pipi putranya dengan lembut.
"Terima kasih, sayang." Utari dan mengecup kening putranya.
Suasana di dalam ruang rawat Adam sangat damai dan bahagia. Dikarenakan hubungan antara Adam dan ibunya sudah membaik. Mereka yang menyaksikan momen-momen itu turut bahagia.
"Ini adalah momen yang sangat langka. Dimana seorang Dirandra Adamka Abimanyu mengakui bahwa dirinya memang benar-benar sangat menyayangi ibunya. Dan tidak mau kehilangan ibunya. Ini harus dirayakan!" seru Kenzie.
"Tidak ada perayaan," jawab Adam ketus.
"Yaah. Dam! Pelit amat, sih." Kenzie memanyunkan bibirnya.
"Hubungan Adam dan Mama Utari sudah membaik. Berarti hubungan kita juga ikutan membaik dong? Jadi kau sudah tidak marah lagi dengan kami, Dam?" tanya Ardi.
"Siapa bilang hubungan kita sudah membaik? Dan siapa juga yang mau memaafkan kesalahan kalian berdua? Aku belum memaafkan kesalahan kalian padaku," tutur Adam dengan memperlihatkan wajah masamnya.
"Yaah, Dam! Kau tega sekali pada kami. Kami ini kakak-kakak kamu," protes Harsha.
"Bodo amat," balas Adam dengan menjulurkan lidahnya.
"Kasihan sekali nasib kalian berdua. Terima saja Di, Sha!" Arka berbicara dengan nada mengejeknya, disertai tawa orang-orang yang ada di dalam ruang rawat Adam.
"Hahahahaha."
Ardi dan Harsha hanya menunjukkan wajah pasrah mereka.
***
Di kediaman keluarga Bimantara, tepatnya di sebuah kamar. Terlihat seorang perempuan yang tengah tersenyum bahagia. Perempuan itu bahagia karena mengetahui putranya melukai teman kampusnya. Perempuan itu mengetahui dari orang suruhan. Orang suruhannya itu bekerja untuk memata-matai Danish anak tirinya itu.
"Aku tidak menyangka kalau ternyata Danish bisa nekat seperti ini. Dia melukai adiknya sendiri. Eemm! Ini peluang bagus untukku. Aku tinggal menambahkan bumbu didalamnya agar permusuhan mereka berujung kematian!" seru perempuan itu dengan senyuman sinisnya.
Perempuan itu mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah pesan kepada orang suruhannya.
From : 0877 3333 xxxx
Kirim orang ke rumah sakit. Buat kecelakaan kecil pada Adam. Apabila ketahuan dan tertangkap. Katakan saja ini ulah dari kelompok Bruizer. Bilang saja kelompok Bruizer yang memberikan perintah. Sebisa mungkin jangan sampai berurusan dengan polisi. Mengerti!
To : Andez
Baik!
***
Adam tertidur saat setelah selesai makan siang dan meminum obat. Dan ditemani oleh Harsha. Sedangkan yang lainnya sedang kuliah. Harsha merengek pada keluarganya untuk tidak kuliah hanya untuk bisa menemani Adam di rumah sakit. Dan hal itu berhasil dia dapatkan. Anggota keluarganya mengizinkannya.
Beda dengan Ardi. Ardi sedikit tidak terima. Ia justru harus kuliah karena dirinya juga sama dengan Harsha ingin menjaga Adam di rumah sakit.
Harsha sedang duduk di sofa dengan ponsel di tangan. Sesekali matanya melirik ke arah Adam hanya untuk memastikan bahwa adiknya tidur dengan nyaman. Tiba-tiba ada yang mengganggu dirinya yaitu sebuah panggilan alam, lalu Harsha pun buru-buru masuk ke kamar mandi.
Saat setelah Harsha masuk ke dalam kamar mandi. Pintu kamar rawat Adam dibuka oleh seseorang. Seorang pria yang memasuki ruangan itu. Pria itu menghampiri ranjang Adam dan tersenyum menyeringai. Tanpa berpikir panjang lagi, pria itu dengan tega menekan kuat luka di perut Adam dan mengakibatkan Adam mengerang kesakitan.
Adam membuka matanya dan dapat ia lihat seorang pria sudah berdiri di hadapannya dengan tangan pria itu masih menekan lukanya tersebut.
"Si-siapa kau?" tanya Adam yang meringis kesakitan di perutnya.
Pria itu hanya tersenyum sinis. "Kau tidak perlu tahu siapa diriku? Aku datang kesini hanya ingin bermain-main denganmu," ucap pria itu yang tangannya masih menekan luka di perut Adam.
"Aaaakkkhhh!" teriakan Adam yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit di perutnya.
"Hei, siapa kau?!" teriak Harsha yang keluar dari dalam kamar mandi. Dan tanpa aba-aba lagi Harsha langsung menyerang pria itu.
DUUAAGGHH!
Harsha memberikan tendangannya ke pinggang pria itu. Saat pria itu ingin membalas Harsha. Harsha dengan lihai menangkisnya dan Harsha langsung memberikan pukulan kedua pada perut pria itu.
BUUGGHH!
Harsha menarik pria itu keluar dari ruang rawat Adam.
"Berani sekali kau melukai adikku, hah!" murka Harsha dan memberikan pukulan bertubi-tubi di wajah dan diperut pria itu.
BUUGGHH! BUUGGHH!
Saat perkelahian itu terjadi, Ardi dan yang lainnya datang dan mereka terkejut melihat Harsha yang menyerang seorang pria di depan ruang rawat Adam.
"Harsha!" teriak Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala bersamaan.
Ardi dan lainnya langsung berlari dan mencegah perkelahian itu.
"Harsha. Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menghajar pria ini? Ini di rumah sakit, Sha!" bentak Ardi.
"Kau mau tahu apa yang sudah dilakukan oleh bajingan ini, kak?" tanya Harsha tanpa menghentikan pukulannya.
"Apa yang sudah dilakukan oleh orang ini?" tanya Ardi.
"Bajingan ini masuk ke ruangan Adam dan menyakiti Adam," jawab Harsha.
Arka, Kenzie, Sakha dan Gala langsung masuk ke ruang rawat Adam.
BRAAKK!
Pintu ruang rawat Adam dibuka paksa oleh Arka. "Astaga, Adam!" teriak Arka.
Sakha langsung menekan tombol yang ada di ruang rawat Adam.
Tidak butuh waktu lama, Dokter dan dua orang perawat datang. Dokter itu langsung memeriksa Adam dan matanya tertuju pada bercak darah di bagian perut Adam, lalu Dokter tersebut mengangkat baju Adam yang menutupi luka itu. Dokter itu terkejut melihat luka di perut Adam.
"Kenapa bisa begini? Apa yang terjadi?" tanya Dokter itu.
"Kami juga tidak tahu, Dok. Tapi dari pengakuan adik kami ada seseorang yang masuk ke ruangan ini dan menyakiti adik kami," jawab Arka.
"Kalau begitu silahkan kalian tunggu diluar. Saya akan menjahit kembali luka di perut adik kalian ini," ucap Dokter itu
"Baiklah, Dok." mereka pun keluar dari ruang rawat Adam.
"Apa yang terjadi pada Adam, kak Arka?" tanya Ardi.
"Luka di perut Adam terbuka dan Dokter itu menjahit kembali luka di perut Adam," jawab Arka.
BUUGGHH!
Ardi memberikan pukulannya pada perut pria itu. "Brengsek! Kau apakan adikku, hah? Kau lihat hasil perbuatanmu. Adikku harus merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Seharusnya adikku sudah boleh pulang, tapi karena perbuatanmu itu. Adikku harus dirawat untuk beberapa hari lagi di rumah sakit."
Saat Ardi ingin memberikan pukulannya kembali, Arka dengan cepat menangkis tangan Ardi.
"Sudahlah, Di. Kau lihat dia. Dia sudah babak belur oleh Harsha. Apa kau akan menghajarnya juga," tutur Ardi lembut.
"Tapi bajingan ini sudah menyakiti Adam, kak." Ardi berucap.
"Kakak tahu, Di. Bukan kau saja yang marah. Kakak juga marah. Apa dengan kemarahan akan menyelesaikan masalah?" hibur Arka.
"Kita serahkan saja pada polisi. Biar polisi yang mengurusnya," sela Gala.
"Aku setuju usulan, Gala. Cebloskan saja dia ke penjara," ucap Kenzie.
Yang lainnya mengangguk tanda setuju. "Aku akan menelpon polisi dan menyuruh polisi untuk datang kesini!" seru Sakha.
Lalu tiba-tiba pria itu bersimpuh di kaki Harsha. "Jangan laporkan aku kepolisi. A-aku hanya menjalankan perintah," ucap pria itu ketakutan saat hendak dilaporkan ke polisi.
"Perintah! Jadi maksudmu ada orang yang menyuruhmu untuk menyakiti adikku?" tanya Harsha.
"Iya! Aku memang diperintahkan untuk menyakiti adik kalian. Awalnya aku tidak mau, tapi orang itu terus mengancamku," ucap pria itu.
"Siapa yang menyuruhmu?!" bentak Sakha.
"Kelompok Bruizer," jawab pria itu.
"Berengsek!" teriak Ardi.
"Sakha. Hubungi polisi!" seru Ardi.
"Baik, kak." Sakha langsung menghubungi polisi.
Ardi menatap tajam pria itu. "Kau pikir kami ini bodoh, hah! Dengan kau mengaku, kami akan membebaskanmu begitu saja. Itu tidak akan mungkin terjadi," tutur Ardi.